Di hari yang begitu cerah, Luca bersama keponakannya bernama Jena, tengah menikmati bersantai di sebuah taman yang terletak di pusat kota.
Di saat tengah asik memperhatikan Jena yang tengah asik bermain dengan teman sebayanya. Tiba-tiba ada sebuah tangan kecil yang menepuk lembut pundak Luca.
Pria dengan potongan undercut itu menoleh dan mendapati seorang wanita cantik dengan rambut sebahu serta menggunakan gaun sebatas lutut tengah tersenyum manis kepadanya.
Wanita cantik itu meminta izin untuk duduk di samping Luca.
Luka yang notabenya anti sosial tentu akan menolak siapapun duduk di sampingnya sekalipun gadis itu bagaikan bidadari sekaligus.
Namun, untuk pertama kalinya ia tak bisa menolak permintaan wanita itu, dan membiarkan gadis itu terduduk di sampingnya.
Keduanya saling terdiam, hanya semilir angin yang menemani kesunyian mereka, hingga Jena datang menghampiri Luka, namun wanita itu sudah menghilang tanpa jejak.
Sejak saat itu, entah kenapa ia begitu terngiang-ngiang dengan wajah wanita itu? Padahal biasanya ia tak seperti ini.
Saat menjelang malam, tiba-tiba kaca jendelanya dilempari oleh sebuah batu kecil.
Luca pun beranjak dari ranjangnya dan melihat keluar, betapa terkejutnya ia melihat wanita tadi tengah melambaikan tangannya seraya tersenyum cerah kearahnya. Dia bahkan memintanya untuk turun.
Seakan bukan dirinya, pria itu dengan anehnya langsung menuruti permintaan wanita itu.
Sesampainya di depan wanita itu, tiba-tiba tanpa memberinya aba-aba, tangan wanita itu langsung menarik tangannya kesebuah bukit yang terletak di belakang kompleks. Dan sekali lagi, anehnya Luca menurut saja dan tak memberontak sama sekali, padahal dia tak mengenal sama sekali wanita itu.
Sesampainya di atas bukit, pria itu begitu terpana dengan pemandangan yang di suguhkan oleh bukit itu, di mana ia bisa melihat kerlap kerlip cahaya lampu yang menyerupai hamparan bintang di langit.
" Mau nyium aku nggak? " tanya gamblang wanita itu.
" Hah? Apa kamu bercanda? "
Wanita itu menggelengkan kepalanya sebagai menjawabnya
" Maaf, aku tak mengenalmu, dan aku tak bisa mencium wanita sembarangan. "
Mendengar jawaban yang terlontar dari mulut Luca membuat wanita itu terkekeh, seraya mengatakan bahwa pria itu tak berubah sama sekali, dingin bagaikan kulkas.
Kedua alis Luca mengernyit heran. " Apa kita pernah saling mengenal? " Tanyanya. " Maaf, jika aku tak mengenalmu, karena aku mengalami amnesia. "
Wanita itu menoleh, namun tak menjawab pertanyaan dari Luca, dia malah menunjuk kearah matahari terbit dengan wajah riang.
Luca pun mengikuti arah telunjuk itu, dan benar saja cahaya terbitnya matahari begitu indah, saat menoleh, wanita itu sudah menghilang. Membuat Luca penasaran, siapa gerangan gadis itu?
Sesampainya di rumah, dia bergegas mencari album photo, berharap bisa menemukan sebuah photo dari wanita itu, namun sekeras apapun ia mencari, ia tak pernah menemukan apapun tentang wanita itu sehingga membuatnya frustasi.
Jika saja dia tak amnesia karena kecelakaan yang menimpanya, mungkin dia tak akan seperti ini.
Seakan tak mengenal kata menyerah, ia pun mencoba mencari tahu melalui teman-temannya dan juga keluarganya. Namun semua temannya bertingkah aneh, seperti tengah menyembunyikan sesuatu.
Saat itu ia pulang dengan tangan hampa, karena penasarannya yang tinggi ia pun kembali pergi ke bukit. Dan bertanya secara langsung kepadanya.
Sesampainya di sana, wanita itu terlihat tengah menunggu kedatangannya.
" Akhirnya datang juga. " kata wanita itu seraya berlari dan memeluk tubuh Luca.
" Kamu menungguku? "
" Tentu, ayo kita pergi, dan menjelajahi danau? "
Sama seperi sebelumnya, wanita itu tanpa memberinya aba-aba langsung menarik tangannya dan membawanya kesebuah danau yang berada di bawah bukit.
Sudah terdapat perahu apung di sana. Yang seakan-akan sudah di siapkan sejak awal.
Dengan antusias wanita itu menaiki perahu itu seraya menarik tangan Luca.
Salah satu sudut bibir Luca terangkat sebelah melihat tingkah lucu wanita itu, tangannya begitu gatal ingin mencubit pipi itu.
" Siapa namamu? " Tanya Luca di selanya mendayung.
Namun lagi-lagi wanita itu tak menjawab pertanyaannya, dia malah menariknya lagi kesebuah taman, di sana mereka tak berbicara sama sekali, hanya menikmati keindahan bunga yang di tanam di sana.
" Tur kita berakhir di sini, sampai jumpa. " kata Wanita itu seraya bergegas pergi.
Akan tetapi. Seakan tak ingin melepaskan kesempatan, Luca meraih tangan wanita itu dan menghentikan langkahnya.
" Setidaknya beri tahu aku, siapa namamu? "
Kedua sudut bibir wanita itu terangkat, dia berjalan menghampiri Luca dan mengecup kilat bibirnya membuatnya tertegun.
Saat tersadar, wanita itu sudah menghilang lagi tanpa permisi.
Jantungnya berpacu dengan kencang, ia pun semakin penasaran tentang wanita itu.
Meski keluarga beserta teman-temannya selali bungkam perihal tentang wanita itu, membuatnya semakin penasaran akan sosok wanita itu yang membuatnya gila seperti ini.
Pada akhirnya ia pun menyusuri kembali kasus yang membuatnya hilang ingatan, secara diam-diam.
Di saat dirinya mulai buntu akan tentang wanita itu yang seperti sengaja di hapus jejak keberadaannya, Luca pun tiba-tiba menemukan sebuah kotak yang tersimpan di sudut kamarnya.
Seakan meminta untuk di buka, Luca pun akhirnya mengambil kotak itu yang di mana di dalamnya berisi buku catatan serta gelang pasangan.
Di ambilnya salah satu buku tersebut. Dan membacanya dengan tenang, tertulis di sana bagaimana ia menghadapi seorang wanita yang selalu mengganggu dirinya, namun akhirnya dia takluk juga. Tapi anehnya ia merasa bahwa nama itu terasa tak asing di telinganya, namun sayangnya ia tak bisa mengingat bagaimana rupanya.
Tak terasa ia pun sudah berada di ujung halaman. Lalu ditemukannya selembar poto yang menunjukkan dua orang yang tengah kasmaran.
Foto itu adalah dirinya dan juga wanita itu, seketika kepalanya berdenyut nyeri, kedua lututnya gemetar, tak mampu menahan berat badan hingga akhirnya membuat tubuhnya roboh
Tanpa sadar air matanya mengalir deras di kedua pipinya, ia pun sudah mengingat semuanya, tentang wanita itu yang ternyata merupakan calon istrinya, namun meninggal sebulan yang lalu akibat sebuah kecelakaan.
Saat itu dia bersama kekasihnya tengah merencanakan kencan romantis terakhir sebagai pasangan, namun karena kesalahpahaman. Membuat Wanita itu marah besar, dia berlari menjauhi Luka.
Namun sesuatu tak terduga, datang sebuah truk pengangkat kayu, yang blong dan akhirnya menabrak calon istrinya dan akhirnya merenggut nyawanya di saat itu juga.
Menurut seorang dokter, karena terlalu mendapat syok berat akhirnya membuat Luca amnesia.
Dengan tangan gemetar, ia berlari ke bukit dengan membawa selembar poto di tangannya.
Setibanya di sana, wanita itu tersenyum sendiri dengan menggunakan gaun pengantin yang mana, gaun itu akan di gunakan saat pernikahan mereka tiba.
Menyadari keberadaan Luca, wanita itu pun menoleh. " Kamu sudah ingat? " katanya.
Tanpa berkata, Luca pun langsung memeluk gadis itu, merengkuhnya dengan erat seraya mengatakan seribu maaf tanpa henti, ia begitu menyesali tentang semuanya.
Tak lama kemudian, wanita itu melepaskan diri dari dekapan Luca, lalu mengajak pria itu untuk menikmati malam berdua dengan kedua tangan yang saling menggenggam.
Saat hendak menjelang pagi. Wanita itu tiba-tiba berkata, bahwa Luca harus bahagia, meskipun wanita yang akan membuatnya di sampingnya sudah bukan dirinya lagi.
Namun pria itu menolak, ia menerangkan betapa hancurnya hidupnya saat kehilangan wanita itu, bahkan saking hancurnya orang tuanya bahkan membuatnya melupakan semua tentang wanita itu.
" Aku tahu, itu pasti sulit, tapi. . . Apa kamu akan membuatku gentayangan seperti ini? " ucapnya seraya mengeratkan genggamannya.
" Tapi. . "
" Dengar, meskipun aku sudah tak berada di sisimu, tapi aku akan selalu bersama mu di sini. Di hati mu." ungkapnya seraya menyentuh dada bidang pria itu " Jadi aku berharap, kamu bisa melepaskan ku sekarang. Bahagia mu adalah bahagia ku juga. " tambahnya.
Saat hendak menjawab kembali, tiba-tiba bibirnya di bungkam oleh sebuah ciuman.
Luca pun terisak, menerima ciuman itu. Seiring cahaya mentari terbit, tubuh wanita itu melebur dan pada akhirnya menghilang.
Tangisnya pecah seketika, ia pun menyadari bahwa di bukit itu terdapat sebuah batu nisan yang di sana terukir sebuah Laura yang meninggal sebulan yang lalu.