Dua tahun berlalu, aku menimba ilmu di Sekolah tingkat SMP. Hubunganku dengan Mukhsi semakin menjadi jadi, kami seperti tidak saling mengenal, hubunganku dengan Pak Adzam juga begitu rumit penuh liku. Aku dan Pak Adzam kerap bertengkar, aku dan dirinya sama sama jaga imeg, sama sama egois dan terkesan saling menyakiti.
Kecemburuan Pak Adzam begitu tinggi, namun dirinya enggan mengakui dan terkesan tertutup, begitu halnya dengan diriku, yang kerap di buatnya menangis karena perbuatan Pak Adzam yang selalu sengaja mendayu rindu dengan banyak wanita, bahkan dengan sengaja mendekati teman temanku dan menggodaku, sedangkan terhadapku begitu acuhnya dan dingin.
Sebuah pertikaian itu bermula ketika aku menyebut nama Pak Adit dan memujinya, waktu itu sebenarnya aku dan dirinya sama sama bercanda.
" Apa kamu suka sama Adit?"
" Ya tentu saja suka, siapa pun wanita yang mengenal Pak Adit pasti menyukainya, sudah tampan, baik, sopan, berwibawa dan tampilannya selalu memukau," celotehku dengan gaya manjaku.
"Ooohhh teruz sama si Viton gimana, katanya dia selalu mengirimimu surat dan memberimu hadiah!" ucapnya masih nampak biasa dan terkesan santai.
" Kalao Kak Rian, aku udah bilang untuk berhenti berharap, tapi kukuh tidak mau menyerah kataku" sekenanya tanpa memperdulikan perasaan sosok Pak Adzam yang saat itu sudah menjadi kekasihku.
" Ada salam mau di terima gak" selorohnya.
" Dari siapa?".
" Dari Muhdi".
"Siapa itu, aku tidak kenal".
"Saudara Sepupuhku, dia pernah melihatku, dia jarang di rumah, kuliahnya jauh, Kakaknya Mukhsi", jawabnya.
" Teeegggg hatiku terusik sosok Mukhsi, aku diam terpaku,".
" Kenapa diam?",tanyanya.
" Aku tidak kenal dan tidak mau mengenalnya, ngapain kamu ngomongin saudaramu?", sahutku.
" Karna dia menyukaimu",jawabnya.
" Terus apa aku harus menerima saudaramu itu," rasanya hatiku mulai kesal padanya.
" Ya terserah kamu Mira" sahutnya lagi.
"Apa maksudmu, kenapa kamu tidak bilang ke saudaramu kalao aku ini pacarmu",.
Pak Adzam tetegun mendengar nadaku agak meninggi emosi.
" Kenapa kamu se emosi itu, kamu bisa menyukai Adit kenapa kamu tidak bisa menyukai yang lain, saudaraku tidaklah kalah tampat dari Adit".
" Ya bedalah kenapa Aku menyukai Pak Adit, sudah jelas aku mengenal Pak Adit, sementara dengan saudaramu aku tidak mengenal sama sekali bahkan aku tidak tahu yang mana orangnya", sahutku.
Tiba tiba saja sesosok laki laki melintasi depan kami, dia terlihat marah dan kesal.
" Adzam jangan jadi pecundang kamu, kalau kamu laki laki gentel man temui aku sekarang juga" hardik laki laki tersebut.
" Kamu tunggu disini Mira,,,".
"Apa maunya" gerutu Adzam hendak beranjak meninggalkanku.
" Biarkan saja dia, kenapa harus kamu ladenin dia", ucapku.
" Aku hanya ingin tahu z, apa maksudnya, apa menurutmu sikapnya itu sopan", dengan tatapan tajamnya seolah mengintimidasiku.
" Kenapa dirimu menatapku?" sahutku.
" Aku hanya ingin memastikan apa dirimu terlibat, aku yakin semuanya karena kamu bersamaku", hardiknya lagi.
" Jangan bawa bawa aku, aku tidak tahu apa apa", ucapku lagi.
" Jadi menurutmu mereka mereka yang dengan tiba tiba memusuhiku, karena mengejar ngejar dirimu, itu salahku. Apa menurutmu selama ini aku tuli tentang dirimu yang selalu dikelilingi laki laki macem mereka. Aku sudah lelah mendengar maki mereka, ancaman mereka, itu karena kamu yang selalu memberi harapan palsu".
Tegggg...
Hatiku bagai tercabik cabik mendengar kata kata itu.
" Bahkan kamu seberaninya membicarakan hal baik baik, mengenai laki laki lain di depanku dan bahkan bisa mengatakan kamu suka sama Adit, kamu sadar si Adit itu temanku ", bentaknya, kali pertamanya aku melihat dia semarah itu.
" Kamu tahu Mira, aku merasa tidak dirimu hargai, bahkan aku merasa disepelekan oleh dirimu yang masih ingusan", ucapnya lagi penuh amarah, raut wajahnya mulai menunjukan sisi keras kepala.
Aku berupaya menjelaskan, semuanya tidak seperti dia pikirkan, aku memang menyukai Pak Adit dari sebelum dekat dengannya, mengenai laki laki lain, aku sudah berusaha selalu jujur pada setiap laki laki kalao aku tidak bisa menerima mereka, bahkan dari awal aku selalu memberitahunya. Tapi kenapa sekarang dirinya malah mepermasalahkan itu.
Aku terus mencoba menjelaskan, tapi dirinya kukuh tak berkenan diam membisu, hingga aku merasa lelah entah dengan cara membujuknya, setiap kali ku mencoba menggenggam tangannya, di kibaskanlah tanganku, akhirnya aku merasa sedikit menyesali kenapa aku harus membicarakan Pak Adit, dan kenapa laki laki itu harus muncul dan memancing emosinya.
Banyak orang berlalu lalang disekitar kami, aku berusaha menyembunyikan kecemasanku dan mencoba agar tetap terlihat santai, menghindari kecurigaan setiap orang yang berlalu di sekitar kami, aku hanya tidak ingin orang sampai mengetahui kalao aku sedang bertengkar dengannya.
Setelah satu jam suasana hening, dirinya tak sedikipun bergeming membuka suara, akhirnya aku lelah selelah lelahnya dan pasrah.
" Ya sudah jika dirimu tidak mau memaafkanku, dan merasa aku sepelekan, aku menyerah saja, terserah kamu mau ngapain, bahkan jika dirimu mau memutuskan hubungan jg tidak apa apa, aku terima." ucapku lirih, sebisa mungkin aku kuat dan tidak memperlihatkan kesedihan, meski sebenar benarnya hatiku rapuh.
Teringat diriku akan kata yang pernah dia katakan padaku, mengenai pengalamannya saat menjalin hubungan dengan wanita lain sebelumnya, pastinya wanita dewasa yang sepadan dengannya, bukan gadis ingusan seperti diriku.
Dirinya mengatakan dulu dirinya sempat menjalin hubungan dengan wanita bernama Dewi, namun karena hal sepele yang membuat wanita itu sedikit kecewa terhadap dirinya, hingga wanita itu marah dan sempat tidak mau menemuinya, akhirnya dirinya pulang, dan semenjak itu dirinya memutuskan hubungan dengan wanita itu, meskipun wanita itu memohon untuk tetap bertahan tapi kenyataannya mereka kandas, Adzam kekasiku tidak mau memaafkan wanita itu. Hal serupa seolah sedang menimpaku, aku pun taklah berharap banyak, tekad ku bulat akan menerima dengan lapang dada, jika dirinya memutuskanku.
Aku menghela napas panjang,
" Ya sudah, sekarang kamu boleh putusin aku, aku mohon katakanlah jika dirimu mau kita putus, aku tidak mau dirimu menggantung hubungan kita tanpa arti yang pasti", ucapku lirih dan berat hati. Karena dirinya tetap tak bersuara, sesaat kemudian aku hendak beranjak pergi, namun sontak tangannya menggenggam tanganku.
"Siapa yang akan mutusin kamu, aku tidak akan memutuskan dirimu" dirinya melingkarkan tangannya keleherku.
" Sudahlah-,,, sekarang aku antar kamu pulang saja".
Suasana nampak hening aku berjalan beriringan, namun hati entah kenapa berasa ada kekosongan sangat hampa.
Di Kediaman rumah, aku duduk termenung, aku merasa seakan hatiku sulit menjangkau hatinya Adzam kekasihku. Semenjak kejadian itu aku selalu dibuat menangis, begitu banyak kabar miring yang berhembus tentang Adzam kekasihku. Adzam pria humoris dirinya di juluki priaplay boy, sebenarnya bukanlah hal asing aku medengar kata play boy tersebut, namun begitu sakitnya ketika terdengar bahwa dirinya kerap dekat dengan beberapa wanita, bahkan sempat jalan bareng dan juga suka mengunjungi wanita yang menjadi incarannya.
Sakit tak berdarah aku rasakan, terkadang saat di sekolah diam diam aku menangis sejadi jadinya seorang diri di toilet, sesak menahan tangis, pedih menahan luka tak berirama, apa lagi ketika ada seseorang yang bertanya apa bener aku dan dirinya sudah putus?, sebab dirinya Adzam kekasihku mengatakan kalau dirinya sudah putus denganku, sakiiitttt.
" Kenapa jadi seperti ini" bathinku.
Dalam diamku tiba tiba seorang sahabat menghampiriku, dia sengaja datang kerumahku karena aku yang mengundangnya.
" Haiii Ran, sudah datang rupanya" sahutku.
"Iya Mir, kenapa kamu, masih mikirin Pak Adzam ya?", Rani.
" huk huk hukkk" aku menangis sejadinya sambil memeluk Rani.
"Sudahlah Mir, sebaiknya kamu temui Pak Adzam minta penjelasan", timpal Rani.
"Aku sudah mencobanya Ran, tapi setiap kali aku bertanya dia selalu mengelak, saat aku bertanya apakah bener dia bilang ke orang, klao aku dan dirinya sudah putus, dia malah jawabnya siapa yang bilang dan menyuruhku untuk tidak mendengarkan orang lain, tapi entah kenapa prasaanku sudah tak hangat lagi", jawabku.
"Mir,,, maaf sebelumnya, mungkin Pak Adzam sengaja mau menyakitimu, aku dengar Pak Adzam sampai brantem dengan laki laki bernama Reno, terus itu si Rian pindahan dari Jakarta, aku dengar juga memberi ancaman untuk tidak mendekati kamu, dia tidak akan menyerah untuk mendekati kamu, itulah kenapa mereka seperti sengaja ingin membuat Pak Adzam cemburu, mereka mendatangi Pak Adzam", ucap Rani.
"Apa bener itu Ran?", tanyaku.
"Kamu lihat saja Pak Adzam, kadang di sekolahpun dia suka sengaja dekatin dan candain cewek cewek , tapi kadang matanya mengawasi kamu jg", Rani.
*Aku tertegun, memang selama ini aku merasa, Pak Adzam seolah sengaja memanas manasi hatiku, bodohnya aku, kenapa aku tidak sadar, kenapa aku juga selalu dengan sengaja menerima bantuan laki laki lain di saat ada dirinya, sengaja mau di ajak makan lah, sengaja mau di antar pulang lah, ya ampun kenapa, kenapa jadi begini, hatiku rasanya kacau seakan penyesalan seumur hidup akan aku alami bersamanya, seakan aku tidak akan lagi dapat menggapai hatinya, seakan hilanglah kepercayaannya padaku, aku merasakan kehancuran hubunganku sebelum semuanya nyata, aku benar benar merasakan penyesalan seumur hidup*
Dadaku sesak memikirkan hubunganku dengan Pak Adzam, bahkan aku merasa malu saat aku mengetahui tentang Mukhsi.
Teman dekatnya Mukhsi menemuiku, dia mengatakan kalao Mukhsi sebenarnya menyukaiku dan pernah mau menyatakan prasaannya padaku, namun Mukhsi merasa tak berani karena mengetahui banyak yang menyukaiku, makanya Mukhsi menghindariku dan bersikap seperti tidak menyukaiku, sampai akhirnya Mukhsi mendengar kalao aku sudah jadian dengan Pak Adzam yang masih memiliki hubungan keluarga dengannya.
* Achhh bathinku hanya meronta tak berpijak, memiliki kekasih tapi selalu membuat hati tersiksa dan merana, Mukhsi juga tak dapat aku gapai karena terlanjur ku goreskan luka sebelum berlabuh, padahal akupun sangat mengagumi Mukhsi, bagai jatuh tertimpa tanpa semuanya menjadi sebuah penyesalan, apa arti dari di cintai dan mencintai apabila tak saling memiliki, apabila tidak dapat saling mengasihi, apalah artinya rasa sayang apabila untuk saling merenggangkan, jauh dari harapanku, untuk bisa hidup bersama orang yang ku cintai dan mencintai, apalah dayaku kini, kenyataan aku tidak merasakan kebahagiaan, yang ada kepedihan, kesedihan dan penyesalan*
*Aku meratapi masa mudaku yang masih panjang, akankah aku menemukan kebahagiaan, akankah aku bisa memperbaiki hubunganku dengan Pak Adzam, jika teringat Mukhsi sudah tidak lagi ada harapan, karena tidak mungkin aku mencoba meraihnya dimana dirinya tau kalao aku bermain hati dengan kerabatnya sendiri*