Di malam pernikahan mantan pacar, aku hamil...
Brakk
Aku menjatuhkan semua barang-barang yang ada di atas meja rias ku. Aku tidak percaya ini, aku tidak percaya kalau ternyata laporan medis ku menunjukkan kalau aku tidak sakit. Tapi aku hamil.
"Tidak mungkin... hiks...hiks... ini tidak mungkin!" teriak ku dengan sangat kencang.
Ceklek
"Kamu kenapa dek?" tanya kakak ku Santi.
Dia memelukku dan mencoba menenangkan aku.
"Kenapa kamu menangis, dokter bilang apa?" tanya nya lagi. Karena memang sudah dua hari ini kondisi badan ku rasanya kurang sehat.
Tadi pagi aku memeriksakan diri ke dokter, aku bahkan sudah cuti dari pekerjaanku selama tiga hari. Tapi aku sama sekali tidak menduga kalau ternyata aku hamil.
"Tika sayang, kenapa gak di jawab. Gak ada yang serius kan, selama ini kamu selalu menjalankan pola hidup sehat, selama 20 tahun kamu bahkan jarang sekali sakit, Tika?" tanya kakak ku dengan lembut.
Aku hanya bisa memeluk kak Santi, aku tidak berani mengatakan ini padanya. Karena dia pasti akan sangat kecewa, kami sejak kecil hanya hidup berdua saja, orang tua kami sudah tidak ada. Lalu bagaimana kak Santi akan menanggung akibat perbuatan ku ini. Padahal sebentar lagi dia juga akan menikah.
Karena tak kunjung mendapat kan jawaban. Kak Santi kemudian meraih kertas laporan medis yang ada di lantai. Dia membacanya, aku sangat takut tapi mau bagaimana lagi.
"Tika...!" lirihnya.
"Kamu hamil?" tanya nya sambil menutup mulutnya tak percaya.
Aku hanya bisa mengangguk pelan, membenarkan apa yang kak Santi katakan.
"Anak Hendrik?" tanya nya lagi.
Dan lagi-lagi aku mengangguk. Wajah kak Santi berubah emosi.
"Ayo kita temui Hendrik, dia harus tahu tentang ini. Dia harus bertanggung jawab!" seru kak Santi sambil menarik tangan ku.
Dia sangat emosi, dia ingin mengajak ku menemui Hendrik dan meminta pertanggungjawaban nya. Tapi itu sama sekali tak bisa aku lakukan.
Aku menahan tangan kak Santi, membuatnya terlihat bingung.
"Ayo Tika!!" ajak nya lagi dengan nada suara yang kian meninggi.
Aku menggelengkan kepala ku berkali-kali.
"Tidak bisa kak, tidak mungkin!" lirih ku sambil terisak.
"Kenapa, kalian baru putus sebulan yang lalu kan. Dia tidak akan mengelak nya!" jelas kak Santi.
"Bukan karena itu...!"
"Lalu kenapa Tika??" tanya kak Santi yang sudah mulai sangat emosi.
"Dia menikah malam ini!" lirih ku dengan tangisan yang semakin menjadi-jadi.
Kak Santi terjatuh ke lantai, dan kertas laporan medis itu terlepas dari tangannya. Air matanya ikut tumpah.
"Apa... Tika! kenapa jadi seperti ini? Kenapa kamu begitu bodoh Tika!!" teriak Kak Santi.
Aku terdiam, aku hanya bisa menangis. Aku juga tidak tahu harus berbuat apa. Aku memang sangat bodoh. Kenapa juga aku harus mau di bujuk oleh Hendrik hingga melakukan perbuatan seperti itu, dan ketika kami putus, tidak butuh waktu lama sampai dia menemukan perempuan pengganti ku. Aku memang begitu bodoh.
Tapi apapun yang terjadi, aku akan tetap merawat dan membesarkan anak ini. Aku hanya berharap, diluar sana tidak akan ada lagi wanita sebodoh aku. Yang mau melakukan hubungan seperti itu sebelum menikah.