Namaku Mirawati, teman teman sekolahku memanggilku dengan panggilan Mira.
Saat ku masih duduk disekolah setingkat SMP, aku banyak menerima perhatian dari Siswa baik seangkatan maupun kakak kelasku. Beberapa Siswa kerap mendekatiku bahkan mereka secara terang terangan bersaing cari perhatian, semuanya menyatakan perasaannya, namun diriku selalu menolaknya. Bukan itu saja diluar dari sekolahpun ada beberapa pria yang bisa dibilang sudah dewasa mendekatiku.
Waktu itu sedikitpun tidak terpikir olehku untuk pacaran, mengingat usiaku masih muda masih anak sekolahan, yang terpikirkan olehku saat itu hanyalah fokus sekolah dan mengejar sebuah prestasi. Namun semuanya berubah, bermula ketika ada Siswa yang sangat berprestasi di kelasku menunjukan sikap angkuh dan nampak seperti tidak menyukaiku, setiap kali bertemu dia selalu memalingkan wajahnya seakan enggan melihatku, seakan akan aku ini gadis yang menjijikan. Saat itu aku selalu memikirkan apa yang salah dariku sehingga dia sebegitu tidak sukanya padaku, namanya Mukhsi. Entah kenapa aku merasa galau dengan sikapnya itu, hatiku yang awalnya tidak pernah terpengaruh, namun Siswa yang bernama Mukhsi berhasil membuat hatiku tidak nyaman dan kacau. Tanpa di sadari hari demi hari semakin nampak sikapku dan sikapnya sama menunjukan kebencian, aku tidak tahu alasan kenapa dia membenciku, sementara aku membencinya karena sikapnya yang dia mulai dari awal menghindariku bersikap cuek bahkan sinis padaku, itulah sebabnya aku berbalik membencinya.
Suatu ketika entah kebetulan atao gimana, aku memergoki dirinya sedang menatapku lekat lekat, namun ketika dia menyadari aku melihatnya, dia berusaha mengalihkan pandangannya. Aku semakin keheranan dengan sikapnya itu.
Di lain waktu sekolahku mengadakan kegiatan perkempingan, tentu saja akupun tidak ketinggalan mengikuti kegiatan tersebut. Di malam yang dingin beberapa kesempatan aku dan dia terlibat intraksi hingga terjadi sebuah percakapan, untuk pertama kalinya dia berbicara manis dan sopan, membuatku benar benar merasa senang, dan bahkan aku benar benar mengaguminya.
" Mira,, mau gak kalo jadi pacarnya pak Adzam?" seorang guru muda honorer bernama pak Adit, tiba tiba mencandaiku, pak Adzam tersenyum terkekeh kekeh.
" Atau sama bapak saja mau gak?" tanyanya.
Akupun tersenyum, namun di situ aku melihat Mukhsi nampak tak suka bahkan berlalu begitu saja.
Pak Adzam, Pak Adit dan Pak Yudha adalah teman seangkatan ketiganya sama sama menjadi guru honorer disekolahku, mereka belum lama lulus dari sekolah tingkat SMA hingga wajar saja ketiganya masih suka candain para Siswi bahkan masih suka menjajaki atao mendekati prempuan yang di anggapnya menarik bagi mereka, ketiganya termasuk anak kuliahan waktu itu atao disebut seorang Mahasiswa.
Di Sekolah seperti biasanya aku selalu mendapat perhatian dari beberapa siswa terutama kakak kelas, sebuah hadiah pemberian kakak kelaskupun aku terima, ya tentu saja aku tidak pernah menolak jika ada yang memberiku sesuatu, sepanjang itu mereka berikan tanpa syarat, namun ketika ada yang berusaha menembakku maka saat itu jg aku selalu menolakmu, alhasil mau mereka itu menjauhiku atao terus berbaik hati padaku itu urusan mereka, bagiku terpenting aku sudah berusaha untuk jujur.
Dari kantor sekolah nampak Mukhsi memandangiku ketika aku menerima sebuah pemberian, saat aku menengok ke arahnya, sikapnya kembali berubah padahal aku sudah senang ketika dia bersikap manis dan sopan pada saat perkemahan.
Pak Adzam adalah guru olah ragaku, beliau sosok yang harmonis namun terkenal play boy.
Karena sikapnya yang suka dekatin cewek cewek membuatku tidak begitu menyukainya, aku pun tidak pernah berusaha bercanda dengan beliau berbeda halnya dengan para Siswi lainnya.
Pada saat ada kegiatan main Voly, aku datang terlambat aku pun mendapat hukuman dengan berlari beberapa puteran, namun ketika aku merasa keletihan akupun mengajukan untuk diberi keringanan, namun betapa tidak nyamannya hatiku saat itu merasakan sakit dan kecewa, dimana dia memarahiku depan teman temanku otomatis Mukhsi juga ikut menyaksikan, dengan serta merta aku melakukan pembelaan, namun beliau begitu cueknya padaku dan kembali menghukumku dengan menyuruhku melakukan tekhnik bola voly yang dimaksudnya, lagi lagi aku tidak bisa melakukannya, bagai disambar petir aku bener benar kecewa sebab beliau bukannya memberiku contoh malah serta merta kembali memarahiku seakan akan aku muridnya yang tidak tao diri, beliau menyuruhku untuk mengulang dan meleparkan bola Voly ke arahku, namun karena hatiku terlanjur sakit, entah keberanian dari mana datangnya, seketika dengan nadaku yang tinggi aku mengatakan pada beliau kalao aku tidak mau, dan bola Voly yang aku pegang, dengan sengaja aku lempar tanpa arah, setelahnya aku meninggalkan tempat itu dan tidak mengikuti pembelajarannya.
Hubunganku dengan Mukhsi semakin menjadi jadi, menjadi lebih saling tidak menyukai, apalagi setelah prilaku Pak Adzam padaku, ketidak sukaanku pada Mukhsi semakin tinggi, aku merasa keduanya sangat menyebalkan, sok jaga imeg.
"Mir, kenapa kamu sama Mukhsi seperti musuh?" tanya santi temenku.
"Bener itu kalian selalu saling menghindar", sahut Rani.
Aku hanya mengangkat kedua telapak tanganku dan bahuku, karena memang aku tidak tahu.
"Mira,,, sini kamu," suara menggelegar memanggilnya dari pintu kantor.
Pak Adzam memanggilku, beliau melambaikan tangannya dan aku tertegun.
"Mir sepertinya Pak Adzam mau menghukum kamu lagi, mungkin tersinggung pas itu," bisik Santi pelan.
" Cepetan kamu kesana".
Dengan malas akupun menghampiri Pak Adzam.
"Iya Pak ada apa".
"Masuk kamu dan duduk" Pak Adzam.
"Kerjakan soal itu untuk mengganti nilai praktikmu kemaren" ucapnya tidak profesional sebagaimana dirinya harus bersikap seorang guru.
Akupun melihat menelusuri setiap soal yang diberikan beliau padaku.
" Saya tidak bisa Pak, " jawabku enteng.
"Kamu ya Mira, di suruh praktek kamu tidak bisa, datang terlambat dan sekarang disuruh isi soal, kamu masih tidak bisa, bisamu apa?, apa cuman pacaran yang kamu bisa," Pak Adzam memarahiku.
Diluar kendali aku semakin sakit hati dimarahin beliau, sontak aku berdiri dan melempar soal ke atas meja.
"Saya tidak bisa, memang tidak bisa karena Saya belum mempelajari mengenai pelajaran yang Bapak soalkan, terserah Bapak mau memberi saya nilai atao tidak saya tidak perduli" Aku pun berlalu keluar kantor dan meninggalkan beliau.
Hari hariku di Sekolah menjadi tidak lagi nyaman, karena harus bertemu mahluk seperti Pak Adzam dan temenku Mukhsi.
"Mira sini sebentar" Pak Yudha melambaikan tangannya dari depan kantor sekolah.
Akupun bergegas menghampirinya.
" Ada apa apa?" tanyaku yang kemudian aku melihat sesosok yang menyebalkan di dalam kantor bahkan ada kepala sekolah, terlihat nampak berbincang, aku merasa sedikit kesal ketika sosok menyebalkan melihat ke arahku.
"Mira kamu bertengkar sama Pak Adzam " nada Pak Yudha sedikit menertawakan dan bernada pelan.
" Entahlah"jawabku dengan mengangkat kedua bahuku.
" Gampang Mira, supaya Pak Adzam tidak marah, kamu rayu aja pasti baik lagi" leluconnya.
" Ehhh Mira", tiba tiba Kepala Sekolah keluar dari kantor.
"masuk saja Mira" Seru Kepala Sekolah sambil berlalu meninggalkan kantor.
"Ayo masuk Mira" Pak Yudha menimpali.
Dengan malasnya aku memaksakan diriku tuk masuk kantor mengikuti Pak Yudha.
"Miraaaa kenapa atuh dengan Mira ", Pak Adit dengan santainya bertanya penuh ke isengan.
" Yuukkk duduk Mira" Pak adit.
Akupun duduk sesuai arahan Pak Adit, beliau adalah Wali kelasku, sosok guru yang sangat berwibawa dan paling tampan, bahkan aku sendiri sangat kagum padanya.
" Miraaa, saya dengar dengar kamu sama Pak Adzam ada sesuatu ya, hemmm" tanyanya sambil tersenyum.
Sementara di sampingnya Pak Adzam dengan santainya malah sedikit terkekeh seolah olah ada hal yang lucu. Tidak jauh dari jarak mereka Pak Yudha yang sedang asyik membuat kopi ikut menimpali," biasa urusan hati memang susah, hihihiii".
Mendengar celotehan pak Yudha dan melihat sikap Pak Adzam yang menyebalkan, membuatku benar benar tidak mengerti, namun apa dayaku hanya bisa diam tanpa ekspresi jauh dari lubuk hatiku sangat dongkol.
" Coba jelaskan Mira, masalahnya kenapa?, apa ada masalah pribadi sama Pak Adzam?, kalao iya sebaiknya di selesaikan diluar jangan sampai di bawa bawa kesekolah jadinya rameee" ucap Pak Adit serasa semakin memojokan, meskipun kata katanya begitu santai namun begitu mengena di hati semakin membuat hatiku tidak mengerti.
" Saya tidak ada masalah Pak sama Pak Adzam, Pak Adzamnya saja yang bersikap sentimentil terhadap saya".
akupun menceritakan bagaimana hubunganku dengan Pak Adzam yang seperti saling memusuhi, Semua berawal dari telambatnya datang saat jam pelajarannya berlangsung, sampai adanya hukuman, dan sikap cara Pak Adzam yang tidak profesional menunjukan bahwa hal tersebut tidaklah pantas untuk sosok seorang guru, dengan penuh kekesalku pada Pak Adzam, aku katakan "Seharusnya Pak Adzam bisa bersikap bijaksana dan memberikan contoh yang baik, bukan menindas muridnya," ucapku.
" Betul itu Pak Adzam, dengarkan" sahut Pak Yuda namun nadanya tetap tak nampak serius, seperti lelucon bagiku.
Pak Adzam lagi lagi hanya terkekeh.
"Hmmm berarti Pak Adzam yang salah ya Mira?" celoteh Pak Adit begitu tenang, santai dan tersenyum.
" Pak Azdam, sekarang Anda yang harus bertanggung jawab dan menyelesaikan semuanya".
"Sebaiknya perseteruan Pak Adzam dan Mira di sudahi saja, malu kalo sampai terdengar keluar sekolah, dan Pak Adzam harus minta maaf sama Mira," tegas Pak Adit.
" Apaan sih ko jadi saya" sahut Pak Adzam senyam senyun.
" ya sudah saya minta maaf, tapi setelah nanti pulang sekolah, kamu jangan dulu pulang, temui saya di kantor, saya tunggu kamu disini," ekspresinya dingin dan acuh.
" Sekarang Mira boleh kembali" saya rasa sudah cukup ucap Pak Adit.
" Salaman dong kalao sudah baikan hihihiii" sahut Pak Yudha.
Aku tak menghiraukan gurauan Pak Yudha, aku langsung pamit keluar Kantor.
Seperti permintaan Pak Adzam sebelumnya, usai mengikuti pelajaran terakhir, akupun menemui Pak Adzam di kantor, namun disana hanya ada Pak Adit.
"Masuk saja dulu Mira, Pak Adzamnya sedang berada diluar, nanti juga datang" titah Pak Adit lrmbut.
Akupun masuk dan duduk tanpa menunggu perintah Pak Adit.
Ku lihat Pak Adit sedang sibuk merapikan buku buku juga lembaran lembaran kertas, begitu pandangannya ke arahku, aku mencoba memalingkan ke arah lain seolah olah aku tidak sedang melihatnya.
"Santai saja Mira, sebentar lagi mungkin Pak Adzam datang, Saya mau pulang duluan," sahut Pak Adit, beliau berlalu meninggalkan kantor setelah mengucapkan salam.
"Assalamu alaikum, " tiba tiba dari luar terdengar ucapan salam Pak Adzam.
Akupun membalas ucapan salamnya dengan ekspresiku yang serba kikuk.
" Maaf sudah menungguku" begitu santainya dan tidak ada sedikitpun wibawa darinya.
" Kenapa masih marah ya", Pak Adzam tersenyum tanpa rasa bersalah.
" Jangan dimasukin kedalam hati, aku hanya bercanda denganmu".
" Tak lucu"balasku, sembari menyunggingkan bibirku,
" Idih masih juga marah" tanya nya lagi.
" Bapak ini kenapa, waras apa gimana, ya pasti marah lah, di perlakukan dan di bentak di depan teman teman." sahutku penuh emosional yang tertahankan.
" Ya sudah jangan disini ngobrolnya, gimana klo aku antar kamu pulang, lagian sekolah sudah mulai sepi, kamu kerumah ku saja" ucapnya begitu cuek.
Aku yang mendengar itu tak percaya, aku melongo sejadinya, benar benar tidak mengerti apa maksud Pak Adzam.
" Ayooo, kamu kerumahku saja,," titahnya.
Akupun melangkahkan kakiku dengan gontainya hatiku terus bertanya tanya mencari jawaban, aku berjalan dan terdiam mengikuti langkah Pak Adzam dari belakang.
Kediaman Pak Adzam.
Rumah Pak Adzam tidaklah jauh dari tempatku bersekolah, tidak butuh waktu lama, cukup berjalan kaki, tidak hanya itu saja rupanya Pak Adzam dan mukhsi masih memiliki hubungan keluarga bahkan rumahnyapun berdekatan.
Ketika aku hendak menuju rumah Pak Adzam, sejenak aku tertegun dan dadaku terasa sesak seakan berhenti berirama sesaat, bagaimana tidak, aku harus melewati rumah Mukhsi dan parahnya saat itu mukhsi berada di tera, begitu melihatku mengikuti Pak Adzam ekspresi Mukhsi berubah seperti tidak menyukaiku, membuatku benar benar tidak nyaman. Namun aku berusaha tidak menghiraukannya dan tetap berlalu mengikuti Pak Adzam sampai rumahnya.
" Silahkan duduk Mira, kamu mau minum apa, santai saja nanti aku antar pulang", sikap Pak Adzam begitu hangat namun susah di artikan, semakin membuatku bingung. Akupun mencoba menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Tidak lama kemudian Pak Adzam membawakan minuman brrwarna merah, membuat tenggorokan tergiur karena memang aku merasa kehausan saat itu.
"Minumlah, apa kamu mau makan?"
" Tidak" Aku menggelengkan kepalaku.
Pak Adzam mendekatiku,
" Apa kamu masih marah?" tanyanya lagi.
Teg Teg Teg, aku dibuat kelimpungan tidak mengerti apapun, hatiku semakin tak karuan dengan sikap Pak Adzam yang bersikap seperti pria biasa bukan sosok seorang guru.
" Mira,,, jujur aku marah sama kamu, aku cemburu sama kamu".
Sssrrrrr hatiku bagai disambar petir, aku merasa dadaku bergejolak tak karuan, gemetar dan nyaris tak percaya apa yang aku dengar, dan perasaanku saat itu benar benar diluar kendali, batinku bertanya tanya, kenapa Pak Adzam bersikap seperti itu dan apa maksudnya.
Aku diam seribu bahasa, Pak Adzam mendekatiku lebih dekat lagi," Kamu mau jadi pacar aku Mira,?"
Ya ampun tak dapat aku lukiskan bagaimana prasaanku saat mendengar itu, aku masih dalam diam.
" Aku sebenarnya marah padamu Mira, karena mendengar kamu sama Viton pacaran,kakak kelasmu anak baru disekolah."
" Haahhhh Viton?," aku bertanya dengan ekspresiku penuh penekananan karena aku merasa asing mengdengar nama Viton.
" Maaf Pak Aku tidak mengenal Viton , dan aku tidak merasa pacaran dengannya,"
"Ya aku yakin itu, kamu tidak mungkin sama dia, tapi anak itu berani beraninya menyuruhku untuk tidak mendekatimu",
Aku semakin keherananan, bahkan aku sendiri sama Pak Adzam selama ini tidak saling mengenal, kami bertemu sesekali pada saat jam pelajaran berlangsung, dan selama itu pun kami cuek tidak saling mengenal, justru aku melihat Pak Adzam ini dekat dengan murid murid yang lain ketimbangku, terlebih dekat dengan para siswi, karena Pak Adtam sosok humoris sedangkan aku pendiam, jadi bagaimana bisa dengan tiba tiba Pak Adzam mengatakan cemburu dan menyukaiku, sesuatu yang aneh memang.
" Kenapa diam Mira, apa kamu tidak ingin jadi pacarku,?" tanya Pak Adzam.
"Apa Pak?" Aku kaget karena sedari tadi aku hanya diam saja.
""Apa kamu tidak ingin jadi pacarku?" ulangnya lagi.
"Akuuu, Aku bingung Pak, masalahnya begitu cepat, Mira belum kenal Bapak," sahutku.
" Jangan panggil Bapak, aku belum menjadi Bapak Bapak " guraunya.
"Ya tapi aku tidak mengenalmu sebelumnya," ku beranikan diriku berkata layaknya sesama.
" Masa kamu tidak mengenalku Mira,"Pak Adzam
"Maksudku tidak mengenal kepribadianmu", jawabku.
"Ohhh gampang itu, nanti kalou kamu jadi pacarku, kamu pasti mengenalku, dan pasti menyukaiku, tapi aku tidak suka kalao kamu sampai pacaran sama kakak kelasmu yang bernama Viton" ucapnya tegas.
"Apa kamu mau pulang sekarang, aku antar?" sahutnya.
" Baiklah sambil ku anggukan kepalaku".
"Apa kamu mau pamit dengan Ibuku,?" tanyanya.
Dengan segera aku memberi kode kalao aku tidak mau, aku merasa malu, aku berharap tidak ada yang tahu kalao aku ada dirumah itu, apalagi setelah tahu alasan Pak Adzam memintaku kerumahnya.
Di perjalanan pulang, sebelum aku menemukan kendaraanku yang bisa mengantarku kerumah, dengan diamku, aku berjalan beriringan dengan Pak Adzam suasana hatiku menjadi berbeda ada prasaan aneh dalam hatiku, gemercik percikan rasa yang berbaur memporak porabdakan hatiku menjadi galau, teringat sesaat saat ku melewati rumah Mukhsi, terbayang paras Mukhsi yang menyimpan kekecewaa.
Dug dug dug hatiku bergemuruh ada rasa sakit menyeruak dalam hatiku.
" Hai Cantikku" tiba tiba sebuah suara menghentikan langkahku, aku melirik ke arah Pak Adzam yang terdiam dan tenang.
" Mau pulang ya" dengan gaya nyeleneh dan sok akrab pria itu mendekatiku.
" Maaf Aku tidak mengenalmu" jawabku.
" Oohh iya kita belum kenalan"
" Namaku Rian, biasa aku suka dipanggil Viton".
"Degggg,,,"hatiku kaget
" Ooohhhh ini rupanya yang bernama Viton" bathinku.
Aku pernah melihatnya sesekali saat dirinya bermain Gitar dan nongkrong bersama teman temannya, namun kami tidak pernah bertutur sapa.
Aku kembali melilik ke arah Pak Adzam, yang mematung kemudian nampak ingin meninggalkan aku dan Viton.
"Maaf Kak Rian, aku mau pulang",
" Aku antar y, aku juga ingin mengenal keluargamu" .
"Bolehkan aku main kerumahmu" cerocosnya.
" Maaf Kak, tapi aku?".
"Kenapa, apa karena dia mau mengantarmu?" Rian tak segan segan menunjuk ke arah Pak Adzam, gaya dan nadanya begitu tak sopan, seperti menganggap satu level saja.
" Aku?" lagi lagi suaraku terhenti.
"Ayo Mira, sebuah tangan menarikku", aku menoleh dan menatap wajah Pak Adzam yang terlihat kesal, benar benar tak percaya.
"Tunggu Mira cantik, biar aku yang antar y sampai rumah,?" Viton menghalangi langkahku.
"Maaf Kak Rian, aku bisa pulang sendiri," jawabku.
"Terus dia kenapa bersamamu dan menarik tanganmu?" Rian menatap lekat wajah Pak Adzam yang sedari tadi diam saja.
" Euhhhh aku ada urusan sama Pak Adzam" .
"Urusan hati?".
" Udahlah Cantik, mending sama aku saja, dari pada dia seorang play boy, bisa bisa kamu disakitinya" ucap Rian.
" Ya sudah Mira,,, kalo kamu mau sama dia, silahkan saja,", celoteh Pak Adzam, kali ini dia bener berlalu pergi meninggalkan aku berdua dengan Rian.
" Maaf Kak, aku harus pulang, Pak Adzam hanya kedepan, aku pulang sendirian, tadi aku dan Pak Adzam asa sesuatu yang sedang kami diskusikan".
"Ok cantik, tapi aku antar sampai kedepan juga y, sampai kamu naik mobil?" ucapnya.
" Tidak usah Kak" jawabku sambil celingak celinguk kedepan, melihat punggung Pak Adzam yang berlalu semakin menjauh.
"Kak, aku pergi dulu y, sekali lagi maaf,".
" Baiklah cantik besok kita ketemu lagi y,".
" Insya Allah" jawabku.
Aku bergegas meninggalkan Rian, dan berusaha berjalan cepat menyusul Pak Adzam, setelah menjauh dari Rian dan mulai dekat dengan Pak Adzam, akupun memanggilnya dan menyebut nama Pak Adzam berkali kali, nanun yang ku panggil nampak acuk, lurus kedepan dan berhenti ketika sampai ke pinggir jalan raya.
"Pak Adzam tunggu" sahutku ngos ngosan.
Setelah sampai ke jalan Raya, mobilpun berlalu lalang, sesampainya dekat Pak Adzam, ku lihat Pak Adzam memberhentikan angkot,
" Pak tolong antar anak ini ya?" sahut Pak Adzam ke sopir angkot dan menujukku.
"Mira ayo cepat masuk, kamu hati hati ya".
" Pak sopir, ini ongkosnya," ku lihat Pak Adzam memberikan uang ke Pak sopir, sementara aku hanya diam penuh kepiluan, rasa tak karuan menyeruak begitu dalam, bahkan aku tidak diberi kesempatan tuk berbicara satu katapun oleh Pak Adzam. Aku menyaksikan sikap yang tidak aku pahami dalam diri Pak Adzam, aku menatapnya begitu lekat, begitu pun Pak Adzam, namun sesekalu memalingkan tatapannya.
Sepanjang dalam perjalanan, dalam angkot aku merasa seakan tubuhku begitu melayang, pikiranku terbang jauh, sikap Pak Adzam yang mengejutkanku, sikap Mukhsi yang membuat sesak hatiku, munculnya sosok Rian yang tidak aku kenal sama sekali.
Ke esokan hari nya,.
Sosok Rian begitu agresifnya setelah berani menemuiku dan mengatakan sesuatu padaku, dia dengan percaya dirinya kalao dirinya jatuh cinta padaku.
Sementara dari kejauhan Pak Adzam menatapku penuh kewaspadaan, membuatku kikuk.
Hari itu sebenarnya tidak ada jadwal Pak Adzam namun Pak Adzam ada disekitar sekolah. Setahuku kalao tidak ada jadwal pelajarannya, beliau selalu braktifitas membuka Ruko di pasar.
" kenapa dia tidak kepasar?" bathinku.
Tiba tiba seorang gadis kecil menghampiriku.
" Kak Mira, ada yang memanggil di sana" sahut gadis kecil itu, suaranya begitu lembut dan pelan.
Aku menoleh ke arah yang di maksud gadis kecil itu, dan aku mengerti.
Tanpa menarik kecurigaan orang yang berada di sekitar, perlahan aku menghampiri sosok Pak Adzam yang berjarak dari Sekolah. Setelah ku sampai maka aku pun bertanya.
" Ada apa memanggilku", kali ini aku berusaha tidak formal padanya.
"Nanti pulang sekolah, aku tunggu dirumahku"
" aku malu" sambil mengernyitkan wajahku.
"Ibuku yang memintaku" jawabnya.
Hari semakin sore, Setelah jam kelas bubar, aku bergegas ke rumah Pak Adzam, tentu saja tanpa sepengetahuan teman temanku, aku mencari alasan untuk bisa lepas dari teman temanku, walaopun aku sendiri sudah mulai merasakan kalao ada di antara temenku yang mulai mencurigaiku.
Di rumah Pak Adzam, benar saja di sana ada Ibu nya Pak Adzam.
" Masuk nak Mira," Sahut ibunya, namun setelahnya aku masuk, ibunya Pak Adzam berlalu meninggalkan aku dan Pak Adzam, dan tidak kembali lagi.
Ku lihat Pak Adzam beranjak dari tempat duduk, berlalu pergi dan kembali sambil membawa nampan yang berisikan jus dan makanan ringan dalam toples.
"Diminum Mira, pasti kamu haus dan lapar, apakah kamu ingin sesuatu?," tanyanya.
Aku menggeleng.
" Bagaimana Mira, apakah sekarang kamu mau jadu pacarku, jangan membuatku menunggu kelamaan."
"Aku cemburu kamu di deketin laki laki lain".
" Ku mohon jawablah," sahutnya.
Sejenak aku diam terpaku, apakah aku harus menerimanya atao menolaknya, aku bener bener galau dibuatnya, kalau harus ku jujur, sebenarnya aku lebih condong menyukai Pak Adit yang begitu menawan, bijaksana, berwibawa, dan berkharisma, senyumannyapun manis mempesona, namun apa dayaku aku hanya dapat menyukainya dalam diamku, dan aku sadar kalao aku tidaklah pantas untuk seorang Pak Adit.
" Bagaimana, atai jangan jangan kamu menyukai Viton anak baru yang bandel itu?".
" Ya sudah, aku antar kamu pulang!", terlihat rautnya sedikit marah.
" Tunggu"selorohku.
"Baiklah, aku mau jadi pacar Pak Adzam".
"Yakin" tanyanya.
"Ya", jawabku.
Dengan serta merta Pak Adzam memelukku, dan mengecup keningku, lagi lagi aku dibuatnya melayang dan sedikit senang.
"Mulai sekarang kamu jangan lagi menyebutku Pak, atao Bapak, kecuali di sekolah saja. Ok?" pintanya sambil mengelus kepalaku.
" Baiklah" aku membalas pelukannya dengan erat, dan pelukan itu kembali di ulangnya, ada kehangatan yang menyeruak dalam hatiku, ada kenyamanan dalam jiwaku, yang tanpa aku sadari aku terjatuh dalam perangkap cintanya, ya aku dibuatnya jatuh cinta dan akhirnya akupun jatuh cinta.