Tit..tit..tit..tit..tit.. bunyi suara Elektrokardiograph (EKG) terdengar jelas di ruangan itu. Ruangan bernuansa putih yang berbau karbol. Di ruangan itu seorang pria berumur 65 tahun sedang berbaring lemah tak sadarkan diri. Sudah seminggu lamanya kondisinya seperti itu.
Pak Hendra Atmaja adalah pemilik kekayaan nomer lima di negaranya, isterinya bernama Magdalena seorang artis terkenal. Pak Hendra Atmaja mempunyai dua anak perempuan yang cantik-cantik bernama Nathania dan Kasandra.
Saat ini disaat orang seusianya mempunyai seorang cucu, Pak Hendra Atmaja malah sebaliknya, dia hanya ditemani sepi. Isterinya malah sibuk dengan dunia sosialitanya dan kedua anak perempuannya juga sibuk dengan kehidupan bebasnya.
Hari ini Pak Hendra Atmaja akhirnya terbangun dari komanya. Ketika ia terbangun yang berdiri disampingnya adalah Dokter Erlangga. A, Sp.JP.
Dokter itu tersenyum menatapnya, dan menanyakan apakah ada yang sakit. Hendra Atmaja hanya menggelengkan kepalanya. Dia melihat sekeliling ruangan, tidak diketemukan baik isteri maupun anak-anaknya. Pak Hendra Atmaja hanya bisa menghela nafas.
Dia lalu berkata kepada Dokter Erlangga, apakah dokter punya waktu sebentar untuk mendengar kisahnya. Dokter lalu mengatakan dia punya waktu, karena hari ini kunjungan terakhirnya adalah Pak Hendra Atmaja.
Sebelum bercerita dia menanyakan apakah Dokter Erlangga sudah berkeluarga, Dokter menjawabnya sudah, Dia dan isterinya sedang menunggu anak pertama mereka lahir. Mendengar hal itu matanya berkaca-kaca.
Anak-anakku tidak ada yang perduli padaku, begitu pula isteriku. Aku mereka anggap ada hanya karena uangku. Ada satu hal yang aku sembunyikan selama ini. Sebenarnya aku 30 tahun yang lalu mempunyai seorang isteri siri, namanya Murni.
Dokter Erlangga mendengarkan dengan serius, ia tahu ini adalah salah satu terapi yang baik untuk pasien, oleh karena itu ia bersedia mendengarkannya, tadi ia sudah menelepon isterinya untuk tidak khawatir, karena ia akan pulang sedikit terlambat dari biasanya.
Pak Hendra Atmaja meneruskan ceritanya. Murni adalah wanita yang sederhana, tidak pernah mengeluh, dia juga seorang wanita dengan budi bahasa yang halus, waktu itu pekerjaannya tidaklah semapan sekarang, dia hanyalah seorang karyawan rendahan sebuah perusahaan.
Sampai pada akhirnya ia bertemu dengan Magdalena, seorang artis terkenal. Magdalena menyukainya karena wajahnya yang tampan. Mereka sering bertemu diam-diam, dia terlena dengan bujuk rayu Magdalena, dibandingkan dengan murni yang sederhana, Magdalena lebih menggoda.
Pada akhirnya ia meninggalkan Murni setelah setahun berumah tangga. Ia masih ingat, Murni hanya menitikkan air mata, dia mendoakan semoga aku bahagia. Tidak ada lagi kata yang terucap selain itu. Aku meninggalkan uang untuk modal hidupnya, dan berlalu tanpa melihat dirinya. Kalau aku ingat, aku tahu aku adalah orang yang kejam.
Aku menjadi orang yang sukses karena dukungan dari Magdalena, karena dia seorang artis, dia mempunyai banyak relasi. Sampai suatu saat terbongkarlah kebusukannya, selama ini dia adalah seorang simpanan pengusaha terkenal, dia tidak setia. Dari situ aku baru tahu Nathania bukanlah anak kandungnya, begitu pula Kasandra.
Dia tidak bisa marah, kehidupannya sekarang ini adalah berkat Magdalena, dari awal dia sudah terjebak. Pada saat itulah ia teringat dengan Murni, wanita sederhana yang mencintainya dengan setulus hati, wanita yang mencintainya dengan segala ke kurangannnya. Ia lalu mencarinya, ya selama dua puluh tahun ia mencarinya, tapi usahanya sia-sia, Murni seperti menghilang di telan bumi.
Dokter Erlangga menghela nafas, ia merasakan penderitaan yang dialami oleh pasiennya ini.
Setelah terdiam cukup lama, Pak Hendra Atmaja memegang tangan Dokter Erlangga sambil berkata, "hargailah apa yang kamu miliki sekarang, jangan pernah kamu lepaskan, akan ada banyak ujian dan cobaan yang akan kamu hadapi dalam berumah tangga, bertahanlah dan bersabarlah". Kemudian pengusaha itu tertidur, sepertinya beban dihatinya sudah sepenuhnya terangkat.
Dokter Erlangga perlahan-lahan meninggalkan kamar itu.
Setelah itu, selama seminggu kondisi Pak Hendra Atmaja berangsur-angsur pulih, Dokter Erlangga selalu meluangkan waktu hanya untuk sekadar berbincang-bincang dengannya. Baik itu membicarakan tentang bagaimana mempertahankan sebuah perusahaan sampai tentang apa saja makanan kesukaan Pak Hendra Atmaja.
Hari ini Pak Hendra Atmaja sudah boleh pulang, Dokter Erlangga hanya bisa mengucapkan kata-kata untuk selalu menjaga kesehatannya, serta jangan terlalu banyak pikiran. Pak Hendra hanya tersenyum sambil menepuk bahunya. Keluarganya tidak ada satupun yang menjemputnya, ia hanya pulang bersama supirnya.
Malam itu Dokter Erlangga sedang beristirahat di rumahnya, tiba-tiba ada telepon dari rumah sakit mengenai Pak Hendra Atmaja, Dokter Erlangga langsung menuju ke rumah sakit. Di sana ia menemukan kondisi Pak Hendra kritis. Dokter Erlangga dengan cepat melakukan tindakan. Tapi semuanya sudah terlambat nyawa Pak Hendra Atmaja sudah tidak tertolong lagi. Setelah jenazah dimandikan prosesi pemakaman akan dilaksanakan keesokan harinya tanpa dihadiri oleh keluarganya.
Di ruangan jenazah Dokter Erlangga termenung, air mata mengucur deras dari pipinya, Masih segar di ingatannya, ketika Ibunya akan pergi meninggalkan dirinya untuk selamanya, Ibunya berpesan untuk tidak pernah membenci ayahnya. Ya, Ibunya Dokter Erlangga bernama Murni. Wanita kuat yang selama ini membesarkan, menjaga serta merawatnya dengan penuh kasih sayang, uang yang diberikan oleh ayahnya, dimanfaatkan oleh Ibu untuk membuka toko kue kecil-kecilan, rumah yang dulu ditempatinya bersama ayah dijual, mereka akhirnya pindah ke suatu daerah di pinggir kota. Di sanalah ia dibesarkan.
Ketika ayahnya meninggalkan Ibunya, Ibunya ternyata sedang mengandung dirinya. Hidup dijalani Ibunya dengan penuh keikhlasan, belum pernah dia mendengar Ibunya mengeluh, Ibu selalu mengajarkan untuk menjadi yang pintar dan kuat.
Demi memberikan pendidikan yang terbaik untuk puteranya, Murni juga membuka usaha laundry di samping toko kuenya. Siang dan malam tak mengenal lelah ia bekerja, sedikit demi sedikit ia menabung untuk biaya pendidikannya. Erlangga adalah anak yang pintar dan berprestasi, apabila ada yang menanyakan dimana ayahnya, dia akan berkata bahwa ayahnya sedang mencari nafkah di luar negeri.
Ibunya tidak pernah mengajarkan untuk membenci ayahnya, Ibu sangat mencintai ayah, apapun kesalahan yang diperbuat ayah hanyalah kesalahan kecil yang biasa dilakukan setiap manusia karena pada akhirnya kita akan ditinggalkan dan meninggalkan, semua itu hanyalah masalah waktu, Bagi Ibu, kebahagiaanya adalah ketika ia melihat ayah dalam keadaan sehat tanpa kekurangan apapun.
Itulah sebabnya Dokter Erlangga Atmaja tidak pernah membenci ayahnya. Semua biaya rumah sakit ayahnya dialah yang melunasinya, hanya itulah yang bisa ia lakukan demi membalas jasa-jasa ayahnya. Setidaknya ia ingin Ibunya bangga melihatnya.
Tamat.
Sudahkah kamu mencintai kedua orang tuamu apa adanya? Sayangilah mereka ketika mereka masih ada. Dan doakanlah selalu jikalau mereka sudah meninggalkanmu.