Pisah juga kita akhirnya. Ku perhatikan wajahmu yang indah. Kau tahu, bukan? Wajah seseorang sedap di pandang mata, ketika ia tengah bahagia. Jadi, selamat berbahagia, Tegar.
Nindi, wanita yang bersama mu, adalah wanita yang berhasil mengambil dirimu dari ku. Wanita yang dulu kau anggap teman, akhirnya kau jadikan dia pendamping mu dan melepaskan aku.
Meski kau sangat ku cintai, aku yang menghendaki kita berpisah. Bukan mendahului kehendak Tuhan, tapi aku merasa kau tak bahagia bersama ku. Kalaulah Asmara itu ibarat belati yang di tancapkan, maka ada dua pilihan apabila ia hendak dilepaskan. Dicabut dengan seketika, atau ditarik perlahan, aku pilih yang kedua. Mudah-mudahan sakitnya tak begitu terasa untukku. Ibarat siang yang berganti malam. Tak kita sadari datangnya kelam.
Kepada ku suatu hari kau bisikkan satu rahasia. Rahasia yang membuat ku bermuram durja. Kau mohon kepada ku agar aku berusaha mencintai orang lain. Ya, berusaha. Sebab asmara bukanlah perkara yang boleh dipaksa. Kau ingin, aku mencintai orang lain. Dan tak mencintaimu. Sebab kau tak ingin lagi bersama ku dan lebih ingin bersamanya. Seperti yang ku saksikan hari ini.
Mungkin kau baru menyadari, Kau telah menaruh hati padanya. Tapi kau tahu, kau masih milikku. Akhirnya ku melepaskan mu. Aku mengalah untukmu. Dibandingkan Tegar,aku memang lebih sering mengalah. Sering aku mengalah, menghadapi egoisnya Dirimu. Sering kau mengabaikan ku karenanya.
"Maaf,tadi lagi nge-game jadi lupa bales Pesan mu." Sebaliknya,tak pernah aku berucap."Maaf, balesnya lama." Tak pernah.
Pelan-pelan aku mulai menjauhi mu. Aku pura-pura lupa membalas pesan mu. Aku pura-pura sibuk,tak ada waktu. Aku mulai berbuat hal yang terbiasa tanpa kabarmu. Aku ingin kau mengerti bagaimana perasaan ku. Mencari ku jika aku tak ada kabar, seperti aku mencari mu jika kau tak ada kabar. Tapi tidak, kau tak mencari ku. Tak sama sekali. Mungkin ku tahu. Cintamu perlahan memudar untukku, semenjak kau ungkapkan keinginan mu kepada ku. Mungkin aku menganggap tingkahmu yang seperti bukan dirimu itu ialah sekedar rasa jemu yang biasa muncul dalam perjalanan asmara yang panjang.
Aku tersiksa. Aku benar-benar ingin kita berpisah. Namun aku tak sanggup. Aku masih mencintaimu. Terpikir oleh ku untuk mencabut pisau dengan tarikan yang seketika. Mungkin akan sangat menyakitkan bagiku. Tapi lepas itu, selesai. Terlintas oleh ku untuk langsung mengatakan kepadamu, "Tegar, kenapa sikap mu berubah padaku,Apa kau tak lagi mencintaiku? Apa kau memiliki wanita lain selain aku.?" Tapi,itu tak mungkin. Karena aku belum siap. Kehilanganmu.
Kau pun sepertinya tak benar-benar tak mencintai ku. Kau hanya merasa jemu. Pernah ku bertanya, "kenapa kau tak berterus terang saja?"
"Berterus terang apa?"
"Apa kau tak lagi mencintaiku.Apa ada wanita lain di hatimu?"
"Aku masih mencintaimu.Aku hanya merasa jemu. Percayalah pada ku. Aku hanya sedang mengusir rasa jemu itu."
"Baiklah aku percaya padamu. Jika benar ada wanita lain di hatimu, berbicaralah."
Walau kau berbohong, aku tetap percaya pada waktu. Apa yang tak dapat dilumatkan oleh waktu? Aku yakin suatu hari nanti aku akan kehilanganmu. Maka, terus ku buat jarak denganmu. Terus semakin jauh.
Sampai suatu ketika....
"La,aku ingin kita berbicara."
Aku tak bisa menghindar. Entah bagaimana caranya aku bisa menegarkan hatiku nanti.
"Aku ingin kita berpisah."
Aku diam. Aku menatap jauh.
"Apa Salah ku?"
"Tak. Kau tak ada salah." Ia menjawab.
"Lalu apa salahku? Apa karena rasa jemu kau ingin kita berpisah? Bukakankah rasa jemu itu hanya sebuah ujian" Suaraku meninggi.
"Apa ada wanita lain di hatimu? Apa rasa jemu yang membuat dirimu membuka hati untuk orang baru? Kurang apa aku?"
Kau diam. Kau masih menimbang-nimbang apa yang akan kau katakan. Aku tahu kau tak lagi mencintai ku.
"Aku mau,kita terus bersama.kita menikah."
Kau tersentak. Tapi segera kau netralkan.
Dengan sengaja kau terus diam. Aku menatap mu,namun kau berpaling. Kau biarkan aku terus berbicara..
"Tegar, jawablah..."
Hening lagi. Hanya suara kendaraan dan angin.
Tapi lebih bergemuruh suara-suara dalam rongga dada. Kau tahu, kau hanya diam. Menunggu.
"Sampai kapan kau seperti ini?" Aku berucap lagi. Kita sudah dekat kepada ujung.
Lima hingga enam menit kita tak berbicara.
"Kalau tak terus jelas begini...." Ku tahan ucapanku sejenak,lalu melanjutkan,
"Izinkan aku bersama yang lain...."
Suaraku lemah dan bergetar. Setiap perempuan menghendaki kepastian. Sengaja kah kau membuat ku menjadi ragu denganmu?.
"Kalau benar kau mencintaiku, manalah mungkin kau terus mengabaikan ku."
Pasti terbesit pikiran itu di benak ku. Ya, begitulah waktu Tegar.
Tampaknya,memang sudah suratan, sehingga yang semula kau sangka pelik ternyata sederhana juga akhirnya. Maka, sampailah kita kepada ujung jalan yang lama kau nantikan.
Tegar, lelaki yang kucintai. Berbulan-bulan menjauhi mu,aku pun belajar buat ikhlas melepaskan mu. Tak hanya mencabut belati di dadaku. Aku rasa,aku telah tiba pada ikhlas itu. Kau pun sepertinya telah siap melepaskan ku. Maka,kau tak lagi memalingkan wajah mu. Kau menatapku,Tegar.
"Lebih baik kita berpisah. Aku merasa kau tak lagi mencintai ku. Jika kau mencintai orang lain, kejarlah dia. aku tak akan menahan mu, kamu berhak memilih kebahagiaan mu."
"Maafkan aku.Aku telah mengabaikan mu. Tak seharusnya aku membuka hati untuk orang lain."
Aku tersenyum.Luka. tapi,tak akan pernah ku lihat luka itu.
Lekat kau menatapku. Tampak jelas duka di sini, di seluruh wajahku. Ku menangis. Itulah percakapan terakhir kita.
Selamat berbahagia, Lelaki yang kucintai. Apakah kau percaya kadang-kadang dapat melihat apa yang terjadi di masa yang akan datang? Tegar tampaknya tak percaya. Ku ikhlaskan dia tanpa tapi. Ku selalu berharap kita selalu menjalani hidup yang bahagia berdua.
Bahkan aku pernah mendesak nya untuk segera menikahi ku.
Tidak.kita tidak berjodohan. Aku tau itu. Ku tak ingin kau terluka,karena keegoisan ku.
Hanya satu cara yang terpikirkan olehku:
Menjauh darimu. Untuk itu aku perlu bantuan waktu. Wajah Bahagia mu di hari ini membuktikan aku berhasil. Sudah ku duga aku akan berhasil. Karena aku punya cinta yang tulus untukmu.
Mengapa aku mengalah, mengikhlaskan kepergianmu? Itulah ketulusan cinta ku. Aku tak ingin menggenggam orang yang hatinya tidak untukku. Katakanlah kau tak pernah bahagia denganku. Maka Akan ku relakan kau dengan dia. Walau kau tahu betapa remuk redam nya hati ini.
Kau tahu, kadang-kadang orang dapat berkelana keluar dari raganya? Tapi hari ini, di saat yang berbahagia ini, jiwaku lepas dari raga untuk mengunjungi kalian berdua. Sungguh aku terharu,kalian memilih hari jadi kita untuk mengucap janji setia.
(Backsong)
Yank...kemarin ku melihatmu
kau bertemu dengannya.
Ku..rasa sekarang kau masih memikirkan tentang dia..
Apa kurang nya aku di dalam hidup mu hingga kau curangi aku...
Katakanlah sekarang bahwa kau tak bahagia
Aku punya ragamu tapi tidak hatimu...
Kau tak perlu berbohong kau masih menginginkan nya...
Ku rela kau dengannya...
Asalkan kau bahagia....
Yank..Ku rasa sekarang kau masih memikirkan tentang dia..
Apa kurang nya aku di dalam hidup mu hingga kau curangi aku...
Katakanlah sekarang bahwa kau tak bahagia
Aku punya ragamu tapi tidak hatimu...
Kau tak perlu berbohong kau masih menginginkan nya...
Ku rela kau dengannya...
Asalkan kau bahagia....
oooouuuu...oooooo...uuuu
Katakanlah sekarang bahwa kau tak bahagia
Aku punya ragamu tapi tidak hatimu...
Kau tak perlu berbohong kau masih menginginkan nya...
Ku rela kau dengannya...
Asalkan kau bahagia....