Umurku 22 tahun di bulan January ini. Bulan dimana seharusnya Roy, mantan pacarku berencana akan datang kerumah dan melamarku setelah 4 tahun menjalin hubungan.
Tetapi, seperti kata pepatah, manusia boleh merencanakan tetapi Tuhanlah yang menentukan. Ternyata diakhir masa perkuliahan kami, Roy menjalin hubungan lain dibelakangku. Yang tidak pernah aku sangka adalah Wina, sepupuku sendiri. dimana Wina selalu ada dan ikut jika aku hangout dengan Roy dan teman-teman.
Sebulan kemudian, setelah putusnya hubunganku dengan Roy, aku mendengar kabar dari mama dan papa bahwa Wina dan Roy akan melangsungkan pernikahan. Aku yang sudah hancur karena pengkhianatan mereka berdua, semakin merasa terpuruk.
Seminggu berlalu semenjak aku tahu akan rencana perkawinan tersebut, aku kehilangan semangat hidup. Aku merasa pusing dan mual serta kehilangan nafsu makan. Mama dan papa mengira aku stress akibat putus cinta. Akupun mengira demikian, aku merasa aneh dengan badanku yang terasa beda serta emosi yang naik turun. Hingga akhirnya pada Sabtu sore, aku pingsan, papa dan mama langsung membawaku ke rumah sakit terdekat.
Di ruang UGD
"Keluarga pasien Riana Hartanti", panggil perawat.
Mama dan papa langsung menghampiri dokter jaga dan mengecek kondisiku saat itu.
"Bagaimana dengan anak saya dok?" tanya papa.
"Anak bapak sepertinya banyak kekurangan nutrisi dan mengalami dehidrasi, ini sangat disayangkan karena akan berdampak buruk bagi janinnya, apalagi usia kandungannya masih sangat muda", jelas dokter Andre yang bertugas jaga di UGD saat ini.
"Apaaaa???!!! Apa saya tidak salah dengar ini, Dok??? Janin apa maksudnya?!" teriak papa secara tidak sengaja.
Mama dan papa sepertinya sangat terkejut mendengar hal tersebut. Menolak percaya bahwa putri satu-satunya hamil diluar nikah.
Aku yang sudah tersadar dari pingsan langsung menangis mendengar kata-kata dokter Andre.
"Ironis sekali nasibku ya Tuhan. Kenapa harus aku??", jeritku dalam hati.
Aku mendengar langkah kaki mama dan papa menuju tempat tidurku.
Mama langsung memelukku dan menangis. Papa memandangku dengan pandangan penuh kekecewaan dan amarah serta sedih.
Hatiku hancur melihat kedua orang tua yang selalu menyayangiku penuh kasih dan selalu memberikan kepercayaan penuh serta memberikan dukungan penuh untuk segala hal yang aku lakukan.
Aku telah mengecewakan mereka.
"Maafkan Riana, Pa, maakan Riana, Ma. Riana salah, Riana berdosa", ucapku memohon maaf dalam tangis.
Mereka hanya terdiam tanpa kata. Hanya helaan nafas papa dan tangisan mama yang terdengar di telingaku.
Kemudian Papa pergi keluar ruangan tanpa berkata apapun. Aku tahu, papa pasti merasa kecewa sekali dengan ku.
"Ma, maafkan Riana, ma. Riana juga tidak tahu jika hamil ma. Riana harus bagaimana ma?" ucapku dengan penuh kebingungan.
"Kita bicarakan nanti ya, Ri. Mama akan mengurus kamarmu terlebih dahulu. Beri papamu waktu, ini diluar dugaan kita semua", jawab mama sembari mengelus pundakku dan meninggalkanku sendiri untuk mengurus keperluan rumah sakit.
Jam menunjukkan pukul 6 sore. Aku menatap langit-langit kamar tempatku dirawat. Pikiranku kacau, duniaku serasa terbalik, hancur, remuk entah apalagi yang kurasakan. Aku teringat Roy. Hari ini, saat ini, dimalam pernikahan mantan pacarku, aku hamil tanpa kusadari. Marah kepada diriku sendiri dan meratapi keadaanku. Memang ini salahku, aku yang bodoh menyerahkan mahkotaku begitu saja hanya karena percaya akan janji manisnya. Janji yang mengatakan akan melamar dan menikahiku setelah kami lulus kuliah.
"Bodoh sekali!!!! Kamu sungguh bodoh Riana!!" jeritku merutuki diri sendiri.
Ceklek..
Pintu kamar terbuka dari luar. Papa dan mama masuk menghampiriku. Aku tahu inilah saatnya mereka akan memberikan vonis untukku dan aku siap menerimanya.
"Riana, papa dan mama mau berbicara denganmu. Apakah kau melakukan hal tersebut dengan Roy?" tanya papa sambil menatapku dengan raut wajah yang tidak bisa ditebak.
"Jawab pertanyaan papa, Riana. Sudah bukan saatnya kamu sembunyikan hal sebesar ini dari kami", tegas papa kepadaku.
Aku hanya sanggup menganggukkan kepalaku dan tidak berani menatap kedua orang tuaku.
"Ya Tuhan, Riana!!! Kemana akal sehatmu nak?? Apakah kamu kira dengan seperti ini dia akan kembali padamu?!" teriak mama kepadaku.
"Apakah kamu lupa bahwa hari ini dia sudah menikah dengan Wina??" teriak mama lagi.
Aku hanya bisa menangis dalam diam. Kedua orang tuaku sungguh kecewa terhadapku. Tapi nasi sudah jadi bubur, mau tidak mau harus kuhadapi dan kujalani.
"Maafkan Riana, ma. Riana tidak bermaksud seperti ini", jawabku dengan lirih menahan tangis.
"Lalu, apa rencanamu Ri? Dengan masa depanmu dan kehidupanmu selanjutnya?" tanya papa kepadaku.
"Riana belum tahu pa. Riana bermaksud menghilangkan bayi ini. Riana belum mau punya anak, apalagi Riana belum menikah, Pa", sambil menangis kujawab pertanyaan papa.
"Apa??? Tidak boleh Riana, kamu sudah melakukan dosa besar, jangan kamu berbuat dosa yang lebih besar lagi. Janin yang ada di perutmu saat ini tidak bersalah", mama membentakku dengan penuh emosi.
Papa menenangkan mama, mengingat saat ini mereka berada di rumah sakit.
"Sekarang sudah malam, Ri. Istirahatlah dahulu, tenangkan pikiranmu karena jika kamu stress akan berdampak buruk pada janinmu", ucap papa lembut kepadaku.
"Papa akan kembali besok pagi, mama dan bik Na akan menemanimu malam ini di rumah sakit. Kamu perlu memulihkan tenaga agar besok bisa berpikir jernih dan bisa pulang kembali kerumah", ucap papa kembali.
Sebelum tidur, mama mengajakku berdoa. Memohon ampun kepada Tuhan dan meminta petunjuk yang terbaik bagi diriku dan janin yang kukandung ini.
Esok harinya, setelah melalui pemeriksaan dokter kandungan, aku diperbolehkan pulang.
Sesampainya dirumah, papa sudah menungguku diruang keluarga. Ingin tahu apa rencanaku kedepannya.
"Ayo Riana, kita bicara. Hal ini tidak bisa ditunda karena perutmu akan semakin besar dan tidak bisa kita sembunyikan", kata papa kepadaku.
"Baiklah pa, ma, Riana sudah berpikir dan mengambil keputusan. Riana akan hadapi ini semua. Akan Riana rawat. Tapi Riana perlu papa dan mama untuk terus mendukung dan berada disisi Riana" jawabku dengan penuh keyakinan dan entah bagaimana, ada perasaan hangat mengalir begitu saja. Tanpa sadar tanganku mengusap perutku yang masih rata. Aku ingin mengatakan kepada calon anakku bahwa dia tidak sendirian.
"Syukurlah Riana, itu adalah keputusan yang kamu pilih, nak", kata mama dan papa kepadaku dengan penuh kelegaan.
"Kami akan selalu ada ada untukmu, Ri. Yang sudah kamu lakukan adalah dosa besar", ucap papa kepadaku.
"Ri ingin bertemu dengan Roy, pa. Ijinkan Ri bertemu dengannya untuk terakhir kali. Ri ingin Roy tahu bahwa saat ini Ri sedang hamil anaknya", pintaku kepada papa.
"Untuk apa Riana? Dia sudah milik orang lain, nak", kata mama dengan penuh tanda tanya.
"Roy berhak tahu bahwa ini adalah anaknya, darah dagingnya. Riana tidak akan meminta pertanggung jawabannya, Ma. Riana hanya mau Roy tahu yang Riana alami dan hadapi saat ini dan agar suatu saat jangan sampai ada kata-kata bahwa Riana melakukan hal tersebut dengan orang lain bukan dengan Roy", jelas ku kepada papa dan mama.
Akhirnya, 3 hari setelah keluar dari rumah sakit dan 3hari setelah pernikahan mereka, aku bertemu dengan Roy di salah satu cafe tempat kami menghabiskan waktu bersama. Dia tampak terlihat bahagia, semakin membuatku merasa hancur. Aku harus kuat, demi diriku sendiri dan bayi yang kukandung.
"Apa kabarmu Ri?" tanya Roy sambil memandang kearah ku saat kami duduk berhadap-hadapan.
"Aku ucapkan selamat ya Roy untukmu dan Wina. Aku hanya minta waktu mu sebentar saja" jawabku dengam lugas dan tanpa basa basi.
"Aku ada sesuatu untukmu, bukalah Roy" kataku sambil menyodorkan amplop kecil berisi USG 3dimensi, dan diagnosa dokter berapa usia kandunganku saat ini.
Wajah Roy mendadak pias "Ini tidak mungkin Riana. Kamu mau menipuku Ri?" tanya Roy dengan gemetar.
Aku sungguh ingin menampar dan memukulinya saat itu juga.
"Untuk apa aku menipumu?" jawabku sambil menahan emosi.
"Apa kamu mau minta aku untuk bertanggung jawab akan anak ini Ri??" tanya Roy lagi.
"Bukankah sudah terlambat kalau aku memintamu untuk bertanggung jawab?! Aku hanya ingin memberi tahu padamu, bahwa saat ini aku sedang hamil anakmu. Aku tidak akan pernah memintamu untuk bertanggung jawab. Aku hanya ingin dan berharap sampai akhir hidupmu nanti kamu akan mengingat bahwa ada satu jiwa yang kamu sia-siakan. Dan kamu jelas tahu bahwa aku tidak pernah berhubungan dengan siapapun selain dirimu", jelasku panjang lebar dan penuh penekana n.
"Dan ingat satu hal lagi, aku akan merawat anak ini dan bagiku serta bagi anakku, kamu sudah mati", ucapku dengam tegas dan tanpa basa basi lagi, kuambli USG 3dimensi dan diagnosa dokter dari tangannya, lalu aku berjalan keluar dari cafe itu dengan kepala tegak, tanpa menoleh kembali ke belakang dan tidak menghiraukan panggilan dan teriakan Roy kepadaku.
Ya inilah aku. Aku adalah Riana. Hkdupku sudah berubah 180°, dan entah apalagi yang akan menantiku didepan sana. Tapi, satu hal yang pasti, aku akan merawat anak ini dengan baik karena dia mahkluk yamg tak berdosa, hadir karena kesalahan oramg tuanya.