"Senior Chen ...." Huanran memasuki ruang yang bersebelahan dengan kamarnya. Ia membawa nampan berisi susu dan diletakkan di atas nakas.
Pemuda yang tengah terpejam itu lantas membuka matanya. Ia merasa tergerak saat mendengar nama Chen dipanggil.
Sejak satu minggu lalu ia sudah terbiasa dengan panggilan Chen untuknya. Meski pemuda itu sendiri tak yakin bahwa ia bernama seperti yang gadis itu sebut.
Semua karena kecelakaan yang membuat Chen mengalami hilang ingatan dan melupakan identitasnya. Beruntung Huanran dan sang nenek menemukan Chen, dan memberinya tempat untuk tinggal.
"Senior Chen, apa kepalamu masih sakit?" Kening Huanran mengerut. Nampak kekhawatiran saat melihat kepala Chen yang masih terbalut perban.
"Ya, ini agak terasa sakit," Chen sedikit meringis merasakan sisa sakit di bagian kepalanya. "Huanran, kau benar-benar mengenalku kan?" tanya pemuda itu penasaran. Huanran yang memang mengenal sosok Chen langsung mengangguk pelan. "Bagus, kalau begitu kau tau kan dimana tempat tinggalku?" Kali ini Huanran menggeleng mendengar pertanyaan Chen. Dahi Chen pun mengerut. "Hah? Bagaimana mungkin?"
"Aku bukan seseorang yang dekat denganmu di masa lalu, Senior Chen. Jadi aku tidak tau dimana kau tinggal," ujar Huanran yang langsung membuat wajah Chen berubah murung, "Tapi, aku tau dimana kau bersekolah dulu," lanjutnya. Huanran masih ingat betul kenangan mereka di sekolah delapan tahun lalu.
Mendengar ada harapan, wajah layu Chen kembali bersemangat. Ia lantas mencengkram kedua lengan Huanran dan mengguncang keras tubuh gadis berambut panjang itu. "Benarkah?" Chen membelalak menatap mata Huanran. Gadis itu hanya mengangguk seraya melontar tatapan terkejut akan sikap Chen. "Ah, akhirnya!" Chen lantas memeluk Huanran secara tiba-tiba. Tubuh Huanran pun menegang dan wajahnya berubah merona. "Ah, ya, berikan susunya padaku, Huanran," ujar Chen setelah melepas dekapannya dari gadis yang kini sedang merasa malu.
Huanran yang salah tingkah, tergesa mengambil segelas susu di atas nakas, "Minumlah susunya, Senior," ujarnya dengan menunduk malu.
Chen meneguk susu putih buatan Huanran. Suara cairan yang mengalir dalam tenggorokan Chen membuat Huanran menegakkan wajahnya. Ia terkesima, tak bisa menyembunyikan kekagumannya pada wajah tampan Chen yang tak pernah berubah.
"Ah!" Chen merasa segar setelah menghabiskan susunya. Ia menangkap netra Huanran yang terpaku lama menatapnya. Huanran semakin salah tingkah dan langsung menundukkan wajahnya kembali. "Terimakasih, Huanran," ucap Chen tersenyum.
"Sama-sama, Senior Chen."
"Ran-ran ... jika Chen sudah meminum susunya, ayo segera sarapan." Terdengar suara nenek Huanran memanggil dari luar.
"Baik, Nek," teriak Huanran. "Senior, ayo kita sarapan. Nenek sudah memanggil." Chen tersenyum dan mengangguk mengiyakan ajakan Huanran.
...
Malam harinya, Huanran menceritakan bagaimana perkenalannya dengan Chen dulu. Ia mengatakan bahwa Chen adalah senior tingkat akhir yang sangat di puja di Ghuangzhou School. Ghuangzhou School merupakan sekolah tingkat atas yang sangat populer di kota Jiggling.
Chen juga sempat menyumbang beberapa dari tiga tingkat medali untuk berbagai cabang non akademik. Kharisma Chen semakin terpancar saat dirinya benar-benar menunjukkan sikap baik kepada siapapun tanpa memandang perbedaan.
Hal itu Huanran ungkap saat mengingat Chen yang tidak pernah segan berbicara akrab dengan para staf bawah, termasuk dirinya yang hanya penjaga kantin. Bukan kalangan siswa seperti Chen.
"Oh, jadi kau bukan adik tingkatku, Huanran?" tanya Chen memastikan.
"Ya, begitulah. Tapi jika aku melanjutkan sekolahku mungkin saat itu aku telah menjadi siswa tahun kedua." jawab Huanran memamerkan senyum manisnya.
"Hemb, begitu rupanya. Tapi syukurlah jika dulu aku tidak berperilaku buruk padamu. Jika tidak, mungkin sekarang aku sudah malu."
"Tenang saja, Senior, kau orang yang baik."
"Huanran ... jangan memanggilku Senior lagi. Panggil aku Chen saja."
Mendadak Huanran dibuat tercengang. Ada rasa canggung setelah mendengar permintaan Chen. Pipinya kembali bersemu dengan helaan napas yang kini terasa berat, "Baiklah ... Che-en," ucapnya gugup.
Chen pun tersenyum senang." Lalu, kapan kau bisa mengantarku ke Jiggling?"
Huanran terdiam. Ia takut jawabannya akan membuat Chen kecewa untuk kedua kalinya setelah pagi tadi. "Sebenarnya, jarak menuju kota Jiggling sangat jauh. Aku bisa saja mengantarmu, hanya saja sekarang aku belun memiliki uang yang cukup. Uangku hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari, apalagi sekarang nenek sakit. Aku juga harus membeli obat untuk nenek. Maafkan aku, Senior ... eh, maksudku, Che-en." Huanran tertunduk penuh rasa bersalah. Ia tau pasti Chen sangat menginginkan kembali ke keluarganya. Hanya saja Huanran benar-benar tak mampu melakukannya sekarang karena keterbatasan ekonomi.
"Tidak papa, Huanran. Kalau begitu, besok aku akan ikut kau bekerja. Aku akan mengumpulkan uangku sendiri, agar uangmu tetap bisa kau gunakan untuk keperluanmu dan nenek."
"Tapi, Chen ...."
Chen segera menempelkan telunjuknya di bibir Huanran. Wajahnya mendekat hingga sekian senti. Dia tak ingin gadis itu membantah. "Jangan tolak permintaanku, Huanran!" ucap Chen dengan tatapan tajam.
DEG!
Hati Huanran seakan ingin meledak. Mendengar jawaban Chen yang begitu ambigu dengan tatapan mematikan dari jarak yang sangat dekat. Rasanya Huanran ingin meleleh saat itu juga.
Chen pun seakan tenggelam dalam kilauan mata Huanran yang terdiam terpaku. Kedua manik mata yang indah. Terbingkai oleh bulu mata lentik nan tebal. Semua itu bagai Sihir yang membuat wajah Chen kaku sebelum akhirnya mendekat.
Jarak mereka semakin dekat. Semakin dekat hingga keduanya bisa merasakan hembusan nafas satu sama lain.
Cup!
Chen tiba-tiba menempelkan bibirnya pada bibir merah gadis itu selama beberapa detik. Entah ia melakukannya dengan kesadaran penuh atau tidak.
"Terima kasih, Huanran," ucap Chen setelah memundurkan kepalanya.
Huanran menyentuh bibinya tak percaya. Ia menatap Chen cukup lama dengan wajahnya yang bersemu merah. "Seni-or ...." Huanran yang malu langsung mengambil langkah seribu meninggalkan ruang kamar Chen.
Ia segera berlari ke kamarnya sendiri dan menutupi tubuh dengan gulungan selimut. Huanran berguling-guling tak percaya. Ia mengingat kembali kejadian beberapa menit lalu. Mendadak aliran darahnya kembali berdesir.
Untuk pertama kalinya hal ini terjadi. Tak percaya bahwa senior yang pernah dikaguminya delapan tahun lalu akan memberinya kecupan singkat malam ini.
...
Seperti kemauan Chen, Huanran mengajaknya bekerja. Mereka bekerja sebagai pemetik buah di kebuh. Awalnya Huanran sedikit tak tega melihat Chen melakukan pekerjaan itu. Terlebih perawakannya yang tampan dan atletis membuat Chen lebih cocok menjadi seorang model. Namun melihat kegigihan Chen yang ingin berjuang untuk segera kembali, Huanran hanya bisa pasrah.
Satu bulan berlalu. Chen mendapatkan gaji pertamanya. Begitu juga Huanran, tapi ini bukan merupakan yang pertama untuk Huanran, karena sejak pengunduran dirinya sebagai penjaga kantin di Ghuangzhou tiga tahun lalu, inilah pekerjaan baru seorang Huanran.
"Akhirnya aku mendapatkan uangku." Chen tertawa bahagia melihat beberapa lembar uang RMB di tangannya. "Ran-ran, kau mau makan apa, aku akan mentraktirmu. Jika kau ingin membeli pakaian, belilah. Aku yang akan membayarnya." Begitulah kini Chen memanggil Huanran.
"Tidak usah, Chen. Kau simpan saja uang itu untuk pergi ke Jiggling." Terbesit kesedihan di mata Huanran mengingat kepergian Chen pasti akan segera tiba.
"Tap ...."
"Chen, tidak ada tapi. Tujuanmu bekerja agar kau bisa kembali ke Jiggling kan? Simpan uangmu, ayo sekarang kita pergi ke pasar. Aku ingin belanja bahan makanan."
Chen tak bisa menolak Huanran. Kini keduanya menumpang mobil dari perkebunan untuk menuju pasar.
Setelah sampai di pasar, Huanran membeli beberapa kebutuhan pokok dan obat herbal untuk sang nenek. Tak lupa Huanran juga membelikan sebuah pakaian baru untuk Chen. Chen menolak keras, namun Huanran memaksa karena sudah tak tega melihat Chen selalu memakai pakaian bekas mendiang ayahnya. Chen hanya bisa pasrah sembari mengekor di belakang Huanran.
Kini keduanya sedang berada dalam perjalanan pulang. Mereka asik bercengkrama hingga tak menyadari sebuah sedan hitam diam-diam telah mengikuti angkutan umum yang ditumpangi Chen dan Huanran. Bahkan keduanya sudah ditargetkan sejak mereka berada di pasar.
Tok ... tok ... tok ...
Beberarapa saat setelah mereka pulang, tiba-tiba terdengar ketukan pintu rumah. Chen hendak bergegas membuka pintu, namun Huanran segera berlalu mendahului.
"Chen kau mandi saja, biar aku yang buka pintu." Chen tak membantah, ia segera bergegas ke kamar mandi begitu Huanran mendekati pintu.
"Permisi, Nona. Bisa panggilkan Tuan Chen." Dua orang pria muda berjas hitam lengkap dengan kacamata hitam berdiri di depan pintu rumah Huanran.
Huanran terkejut bagaimana mereka tau keberadaan Chen di rumahnya. Ia takut bahwa keduanya bukan orang baik. "Chen siapa yang kau maksud?"
Salah satu dari pria tersebut membuka kacamatanya. Ia mengeluarkan ponsel miliknya dan menunjukkan foto Chen.
Mata Huanran membelalak. Ternyata Chen yang dimaksud benar-benar Chen yang tinggal dengannya.
"Huanran, siapa mereka?" Chen mendadak muncul dengan tubuh basah dan terlilit handuk. Salah seorang pria yang telah membuka kacamatanya terbelalak melihat penampilan Chen yang begitu berani dan tidak berhati-hati.
Huanran meminta Chen untuk berpakaian terlebih dahulu. Tak lupa ia meminta agar Chen memakai pakaian yang baru dibelikannya barusan. Setelah itu Huanran mempersilahkan kedua tamunya untuk duduk.
Beberapa saat kemudian, Chen sudah kembali dengan pakaian rapi. Mereka berempat pun duduk bersama.
"Kalian siapa? Ada apa mencariku?" tanya Chen membuka obrolan.
Kedua pria itu saling menatap. Kemudian salah satu diantara mereka membuka suara. "Tuan Chen, aku Mu Wuzhwang, asistenmu. Bagaimana kau bisa lupa padaku?" Pria bernama Mu Wuzhwang itu kemudian menatap Huanran seolah menginginkan penjelasan.
"Sebenarnya dia hilang ingatan. Aku menemukannya di aliran sungai bawah bukit, tak jauh dari tempat mobil yang hangus terbakar. Mungkin itu mobilnya," ucap Huanran menjelaskan.
Mu Wuzhwang menghela napas kasar. Ia lantas melihat kearah Chen, "Tuan, untung aku segera menemukanmu. Keluargamu sangat terpukul saat mendengar kau hilang. Hari ini aku akan membawamu kembali ke Jiggling," ungkap Mu Wuzhwang.
Huanran tercengang mendengar penuturan pria itu. Mendengar Chen yang tiba-tiba dijemput secara mendadak, ia merasa tak rela.
Setelah melakukan pembicaran panjang, Chen setuju untuk kembali ke Jiggling bersama Mu Wuzhwang. Namun sebelum pergi, Chen meminta agar sang asisten dan supirnya menunggunya hingga selesai berpamitan pada Huanran dan sang nenek.
"Nek, terimakasih sudah mau menerimaku disini. Maaf aku sudah tidak bisa membantu merawatmu lagi. Orang tuaku sudah mengutus orang untuk menjemputku, Nek," ucap Chen lembut. Ia bersimpuh di samping ranjang tempat pembaringan nenek Huanran.
"Tidak papa, Chen. Pulanglah, mereka pasti merindukanmu. Jika sempat jangan lupa untuk datang lagi kemari, ya," pinta Nenek Huanran yang terbaring di atas tempat tidur.
"Iya, Nek. Aku pasti akan mengunjungi kalian lagi nanti."
Huanran menatap keduanya di ambang pintu kamar sang nenek. Air mata sudah menggenangi pelupuk matanya.
Hati Huanran hancur karena perpisahan itu akhirnya datang. Jarak dirinya dan sang Senior yang di damba sudah akan semakin panjang. Huanran segera menyeka air matanya sebelum tumpah dan membekas.
"Huanran, ikut aku sebentar." Chen menarik Huanran ke kamarnya. Huanran hanya bisa pasrah tanpa bisa menolak.
"Ada apa, Chen?" tanya Huanran berusaha bersikap biasa saja. Namun Chen sudah menangkap kesedihan dari mata Huanran yang berkaca.
"Ambillah uang ini, gunakanlah untuk kau bisa pergi ke Jiggling saat nenek sembuh nanti." Chen memberikan uang hasil bekerjanya selama satu bulan yang baru didapatnya siang tadi.
"Tidak, Chen. Aku tidak bisa menerimanya," tolak Huanran.
"Huanran, terimalah." Chen kembali memindahakan uang itu ke tangan Huanran. "Aku tidak tau seperti apa keluargaku, apa yang terjadi di keluargaku sebelum aku hilang ingatan. Aku takut tidak bisa kembali menemuimu. Jadi kau datanglah ke Jiggling. Pakailah uang ini."
"Chen ...."
Chen langsung mendekap Huanran begitu erat. Ia merasa berat hati meninggalkan gadis yang telah bersamanya satu bulan ini. Entah mengapa hatinya sakit, rasa tak rela muncul begitu saja. Chen yang tak paham isi hatinya sendiri memilih semakin mengeratkan pelukannya.
Huanran pun tak kuasa menahan air mata yang telah ditahannga sedari tadi. Ia menangis dalam dekap Chen. Kedua tangannya pun membalas depakan itu.
Chen melepas pelukannya. Ia beralih menatap netra berair Huanran. Hati Chen tak tahan lagi, ia tak tega melihat Huanran menangis. Namun lagi-lagi mata Huanran menyihirnya.
Chen mendekatkan wajahnya. Menyatukan kembali bibir mereka untuk yang kedua kali. Namun bukan kecupan singkat seperti dulu. Tapi kecupan yang sangat berhasrat. Bahkan Huanran tak segan membalas. Keduanya menyatu dalam kesedihan yang sama, dan rasa yang sama.
...
Tiga bulan kemudian, Keadaan Chen sudah membaik. Sedikit demi sedikit ingatannya kembali utuh. Ia mengingat bagaimana bisa berada jauh dari kota Jiggling dan mengalami kecelakaan. Ia juga mengingat hal yang memicu kejadian itu karena tak lain bentuk penolakannya terhadap perjodohan yang sudah diatur lama oleh keluarga. Kini Chen telah mengingat seluruh rentetan permasalahan hidupnya.
"Chen!" Ibu Chen berteriak. Ia marah besar saat Chen lagi-lagi menolak keras perjodohan yang telah diaturkan untuknya, sama seperti sikapnya empat bulan lalu. Ia tak berpikir Chen akan bahagia atau tidak dengan keputusannya yang sepihak. Tapi di matanya kejayaan perusahaan akan memberi kebahagiaan tak terhingga untuk masa depan Chen dan keturunan mereka.
"Ma, aku sudah dewasa. Aku berhak memilih. Apalagi aku sudah memiliki gadis pilihanku sendiri." Chen bersikeras menolak. Terlebih saat ini hatinya sudah memilih sosok Huanran sebagai labuhannya.
"Chen, mendengarmu kabur dan menolak perjodohan saja sudah membuat keluarga Ling marah! Apalagi jika mereka mendengar kau menyukai gadis lain. Kau lupa siapa mereka? Mereka—keluarga Ling, tidak akan segan menyakiti gadis itu. Bahkan, mama sendiri juga akan turun tangan memberinya pelajaran!" Mama Chen tak tinggal diam. Lantas memperlihatkan layar ponsel yang sudah terhubung dengan panggilan vidio anak buah utusannya. "Lihat! Lihat! Kau masih ingat kan rumah siapa ini?" sarkas mama Chen hingga membuat urat-urat dilehernya menonjol.
"Huanran." Chen berucap Lirih. Ia terkejut sang mama tak main-main dengan ucapannya. "Ma, apa itu? Untuk apa kau menyuruh preman datang kesana?" Chen memelototkan matanya. Ia tak bisa merelakan sesuatu terjadi pada Huanran dan neneknya.
"Keselamatan gadis ini dan neneknya ada di tanganmu, Chen. Jika kau menurut, Mama jamin mereka berdua akan baik-baik saja. Tapi jika kau bersikeras menolak, kau tau sendiri akibatnya." Wanita itu berbalik dan meninggalkan Chen dalam kegalauan. Chen berteriak kesal karena kini dirinya tak bisa berbuat apa-apa.
...
Tepat pukul 7 malam, Huanran berada di Ghuangzhou School. Setelah pagi tadi ia mendapat penolakan dari Staf yang menangani data siswa saat menanyakan alaman rumah Chen, Huanran masih diberi harapan dengan kabar adanya acara reuni malam ini. Reuni tiga angkatan dimana Chen termasuk didalamnya.
Huanran memasuki aula Ghuangzhou yang disulap sedemikian rupa hingga menyerupai ballrom hotel bintang 5. Dengan gaun selutut biru muda dan putih serta rambut yang digerai rapi, Huanran terlihat begitu cantik.
Kedua netranya sibuk menyapu setiap sisi. Setiap wajah ia amati. Hingga akhirnya Huanran menemukan sosok yang dicarinya.
Tatapannya terpaku lama pada sosok berjas cokelat. Sosok yang saat ini sedang berbincang akrab dengan sekumpulan kawan lamanya. Dari jauh Huanran memandang tampak samping wajah tampan Chen yang dirindunya tiga bulan ini. Setelah menanti beberapa saat hingga Chen sendiri, Huanran mulai mendekatinya.
"Chen ...." Panggil Huanran lirih. Ia menyentuh bahu belakang Chen yang rindu ia liat setiap kali membantunya memetik buah di kebun.
Chen berbalik seketika. Tatap matanya tak bisa menyembunyikan keterkejutan. Chen tak menyangka hari ini akan bertemu Huanran, disini, disaat yang tidak tepat.
"Chen, siapa dia?" Seorang gadis tiba-tiba muncul di sisi Chen. Gadis itu bernama Liu, tak lain adalah tunangan Chen.
Huanran mendadak canggung dengan hadirnya orang ketiga diantara mereka. Terlebih saat melihat tangan Liu yang berkelit di lengan Chen, hati Huanran sedikit perih.
Apalagi melihat wajah Liu yang benar-benar cantik dengan tubuh yang indah, Huanran merasa sangat tak ada apa-apanya. Pikirannya mulai memburuk. Ia merasa takut mendengar kenyataan.
"Chen ... jawab aku! Siapa dia?" Liu kembali bertanya. Ia sangat dibuat penasaran dengan sikap Chen yang tiba-tiba membisu.
Huanran menatap kedua mata Chen. Ia seakan meminta Chen untuk bersuara.
"Dia ... aku tidak mengenalnya." Chen menjawab dan langsung memalingkan wajahnya begitu saja.
"Hah! Se-nior ... Chen ...." Lirih kata itu terucap dari bibir Huanran. Huanran membelalak tak percaya. Ia masih menatap wajah itu. Ia yakin wajah itu adalah wajah orang yang sama dengan yang ditolongnya empat bulan lalu. Ia yakin wajah itu pula lah yang memberinya kecupan dan membuat hatinya bergetar hebat. Huanran yakin wajah itu pula yang memberinya uang dan memintanya datang ke Jiggling. Dalam hatinya Huanran bertanya, apa yang terjadi? Mengapa sekarang Chen melupakannya?
"Chen kau yakin tak mengenal gadis ini? Tapi dia mengenalmu?" Liu mengarahkan wajah Chen agar menatapnya. Ia masih penasaran mengapa Chen membuang muka jika benar tak mengenal gadis itu.
"Aku bilang aku tidak mengenalnya, Liu. Kau puas sekarang?" jawab Chen dengan nada tinggi.
Seketika air mata Huanran jatuh. Dan saat itu pulalah ia berlari kencang meninggalkan aula Ghuangzhou. Huanran berlari hingga terjatuh dan tak sanggup untuk berdiri. Ia menangis karena sesak yang teramat dalam hatinya.
Huanran telah termakan harapannya setelah menunggu selama 3 bulan untuk bisa pergi ke Jiggling. Kini harapannya telah pupus. Huanran harus menyerah.
Namun tanpa Huanran tau, semua itu adalah kepedulian terbesar seorang Chen walau terwujud dalam bentuk yang sedemikian menyakitkan bagi Huanran.
Tanpa Huanran tahu semua Chen lakukan karena pengorbanan tertingginya. Demi dirinya, satu-satunya wanita yang telah Chen cintai, Huanran.
-TAMAT-