Di dalam cafe...
Di tengah kota besar itu duduklah dua pria keren dalam satu cafe tren masa kini, sedang membicarakan sebuah pekerjaan. Mereka berdua adalah Randi dan Ari. Randi yang dengan serius mendengarkan sahabatnya Ari berbicara, tangannya mengaplikasikan ucapan itu pada laptop yang iya ketik. Sambil meminum kopi yang dipesan diatas meja, sesekali mereka terlihat santai dan tertawa.
"Kali ini ceritanya harus kau buat dengan menarik. Aku yakin pasti meledak nantinya." Ujar Ari pada Randi sahabatnya itu.
"Makanya kau harus koreksi ceritaku dan kasi masukan juga. Kalau tidak ada kau sebagai penasihatku, Aku enggak bakal jadi sukses seperti yang sekarang ini." Balas Randi sambil meminum kopinya.
"Tenang bro, terkadang masa lalu itu sebagai kunci sukses kita. Apa lagi karena dia."
"Dia? Maksudmu siapa? Aku kurang paham apa yang kau maksud." Jawab Randi sambil mengernyitkan dahinya akibat bingung.
"Akh sudahlah. Ayo lanjutkan ending ceritanya."
Randi adalah seorang penulis terkenal dikota metropolitan ini karena karya tulis romantisnya meledak,membuat semua orang membacanya terhanyut akan cerita itu. Sedangkan Ari adalah sahabat terbaiknya yang selalu mendukungnya sejak lama, bahkan saat ia terpuruk karena seseorang hingga menjadikannya penulis terkenal seperti sekarang.
TING....
Bunyi bel pintu tanda seseorang memasuki cafe tren itu. Perempuan tinggi cantik, rambut hitam panjang memakai kacamata dengan gaya modis masa kini masuk dengan santainya.
Ia duduk dibelakang Ari tepat menghadapkan wajahnya ke arah Randi yang tengah serius menatap layar laptop hitam itu.
"Kopi hitam panas original ya mas, enggak pakai gula." Ucapnya pada pelayan yang sudah siaga menuliskan pesanan pada pelanggan yang baru datang.
Ari mendengar suara perempuan yang memesan kopi tanpa gula, seakan suara itu tak asing baginya. Ia menoleh kebelakang dan benar saja, perempuan itu adalah orang yang ia kenal.
Ia terkejut dan mengernyitkan dahinya lalu langsung membalikkan wajahnya kembali kehadapan Randi dengan rasa cemas. Ia takut perempuan itu mengenali Randi.
"Ran..." Panggilnya pada sahabatnya itu yang lagi fokus menulis.
"Haa..." Jawab Randi tanpa melirik Ari dan matanya tetap tertuju ke laptop hitam itu.
"Apa kau melihat perempuan yang baru datang barusan?"
"Enggak." Jawabnya dan masi tetap fokus nulis.
"Boleh aku membahas masa lalu?" Tanya Ari dengan hati-hati takut sahabatnya bingung.
"Aduh coy, jangan ganggu aku. Lagi fokus ni buat ending ceritanya,entar aku buyar liat muka petak kau itu."
"Ok aku tunggu selesai kau menulis. Aku mau godain cewek deh kalau gitu."
"Ya... pergi lah kau dan jangan kenalkan ke aku kalau kau gagal." Jawabnya seakan ia tak ingin diganggu.
"Ok."
Ternyata perempuan itu melihat mereka saat Randi berbicara kesal dengan ari. Ia mengenali wajah pria itu dan terkejut seakan sesuatu yang ia cari-cari selama ini ada didepan matanya. Ia segera bangkit dari tempat duduknya dan akan mendatangi mereka berdua. Namun langkahnya terhenti saat Ari beranjak dari kursinya dan mendatanginya.
"Tetap disitu nona manis, jangan ganggu manusia dibelakangku."
"Ari!" Ucapnya sedikit keras karena terkejut melihat wajah Ari yang ia kenal.
"Duduk!"
Perempuan itu pun duduk mengikuti perintah Ari yang seakan instruksinya tegas dan serius.
"Kenapa kau ada disini Nisa? Apa kau mau menghancurkan hidupnya lagi setelah apa yang kau perbuat di masa lalu?" Tanya Ari sedikit kesal.
"Bukan itu maksudku Ari. Aku hanya ingin menemuinya dan menanyakan kabarnya." Jawab Nisa sedikit memelas.
"Jangan dekati dia. Apa kau mengerti!"
"Tapi Ari, aku ingin berbicara padanya."
Perempuan itu tiba-tiba jadi berubah drastis saat awal dia memasuki cafe itu dengan wajah angkuh lalu menjadi wajah yang kasihan.
Nisa tetap ingin berdiri dan menghampiri Randi dengan perasaan yang tak bisa dijelaskan. Tapi lagi-lagi ia dihentikan oleh Ari karena tangannya dicengkram sangat kuat.
"Lepaskan aku Ari aku ingin meminta maaf padanya.Tolonglah ari aku mohon." Pintanya dengan ekspresi sedih.
"DUDUK SELAGI TANGANKU TAK MELAYANG KE WAJAHMU!" Jawabnya sambil matanya melotot.
Nisa mengikuti perintah itu dengan ketakutan.
"Kau dengarkan baik baik perkataanku."
Nisa diam sambil melirik wajah Randi yang masi serius dengan tidak menghiraukan keadaan sekitarnya.
"Saat kau pergi tanpa mengatakan apapun padanya dan kau mematikan semua kontakmu,sebelum dia mengatakan hal yang ingin dia katakan. Dia merasa dirinya telah hancur berkeping-keping seakan dunia ini kosong saat terlihat dari matanya yang menghitam."
"Apa maksudmu Ari?" Tanya Nisa bingung.
"Bahkan dia tak kenal lagi pada dirinya sampai dirinya pingsan dan kepalanya terbentur meja saat ia jatuh lalu koma selama seminggu akibat memikirkanmu."
Nisa terdiam dan wajahnya mulai berubah lalu matanya berkaca-kaca.
"Apa kalian semua perempuan ingin seratus persen dimengerti haa! Kau pikir dirimu itu orang yang paling penting didunia ini? Sialan kau." Ucap Ari sangat kesal tapi tetap menjaga suaranya agar tidak membuat keributan.
"Maafkan aku, aku tak bermaksud membuatnya beigtu. Aku hanya ingin sendiri waktu itu."
"Sendiri, karena dirinya menyukaimu dan kau tau itu lalu kau coba menjauhi juga melupakannya?"
"Bukan begitu Ari." Nisa perlahan mulai menangis.
"Dan kau sekarang datang saat dia mulai memiliki segalanya? Kenapa saat dia belum menjadi apa-apa kau menghindarinya. Kau jijik melihat dirinya dulu karena menyukaimu?"
"Jangan memarahiku Ari." Jawabnya dan tangisnya mulai menjadi namun Randi tetap tak menghiraukan mereka.
"Anak itu sampai lebih mementingkanmu dari pada sahabatnya. Dia juga rela berhenti meninggalkan pekerjaannya demi pergi mencarimu dan meminta maaf padamu."
"Sadar diri kau! Kau itu dulu hanya wanita kampung yang tak tau apa-apa dengan kota besar ini. Kalau bukan karena dia kau tak jadi manusia sekarang. Padahal kau sendiri yang ingin mengikutinya dengan melanjutkan pendidikanmu sampai kau memiliki penghasilan.Dia hanya ingin meminta maaf karena kesalahan kecilnya."
Nisa makin menjadi tangisannya sambil memandangi wajah Randi.
"Jangan kau muncul dihadapannya lagi, bahkan nafasmu juga tak boleh menghirup udara didekatnya."
Nisa berdiri dan ingin menghampiri Randi dengan menangis yang mulai memecahkan suasana di cafe itu hingga orang-orang memperhatikan mereka. Namun tangannya masi di cengkram oleh Ari.
" Sudah kuperingatkan kau jangan mendekatinya. Jika kau bersikeras, aku tak bertanggung jawab apa yang akan keluar dari mulutnya."
Nisa tak perduli dan tetap bersikeras ingin mendekati Randi. Randi yang saat itu rupanya telah selesai dengan tulisannya lalu mulai memandangi perempuan yang berjalan kearahnya.
" Woi biawak, ayo kekantor aku udah sele.... " Ucapannya terhenti melihat perempuan menangis yang mulai mendekat ke arahnya.
"Randi... Ini aku Nisa, maafkan aku telah membuatmu tersiksa. Jangan jauhi aku, aku mohon. Aku sudah menerima hatimu dan ternyata hatiku juga menyukaimu." Ujar Nisa duduk di depannya menangis sambil memegang tangannya
Randi hanya diam dan bingung tiba-tiba hatinya mulai sakit dan dirinya sangat kesal walaupun dia tak tahu sama sekali siapa perempuan itu.
Tangannya perlahan menjauhi dari genggaman Nisa dan mulai beranjak dari tempat itu.
"MAAF AKU TAK MENGENALMU NONA." Jawab Randi dan pergi meninggalkan tempat itu.
"Randi jangan pergi aku mohon." Pintanya menangis sambil memegang tangan Randi seraya memohon agar tidak pergi.
Randi tak perduli dan menghempaskan tangan wanita itu lalu menghampiri Ari untuk bergegas pergi dari tempat itu.
"Ri, kenapa rasanya dadaku sesak ya, bahkan aku tiba-tiba jadi emosi saat melihat perempuan yang nangis tadi. Bukannya kasihan malah aku begitu, padahal aku tak mengenalnya."Tanya Randi pada Ari di dalam mobil sedan silver yang dikendarainya.
" Akh, jangan kau pikirkan hal yang akan membuatmu sakit. Ikuti saja apa kata hati berbicara. "Jawab Ari sambil memainkan jari pada handphonenya.
"Hem... Ok." Jawabnya yang masi bingung tapi segera ia buang pikirannya tentang rasa penasaran itu.
KLING....
Bunyi pemberitahuan pesan masuk sosial media pada handphone Nisa yang masi duduk sambil menangis didalam cafe tadi. Ia segera melihat pesan itu dan ternyata adalah Ari.
"Kau ingin dia tersenyum dan bahagia? Ingat, jangan kau perlihatkan dirimu lagi padanya kalau kau ingin meminta maaf padanya." Kata Ari dalam pesan obrolan itu.
Nisa menutup laya handphonenya lalu memandangi jalanan dibalik kaca dari dalam cafe itu sambil tersenyum meneteskan air matnya.