Aku tumbuh tanpa pernah merasakan kasih sayang seorang ayah. Aku selalu bertanya tanya. Dimana ayahku. Apakah aku dibuang oleh ayahku, atau ayahku tidak menginginkanku? Ibuku hanyalah seorang cleaning service di salah satu perusahaan besar. Namun aku tetap bangga pada ibuku, dia selalu memberikan yang terbaik dari dirinya untukku.
Aku tidak mau mengecewakannya, aku selalu giat belajar tanpa kenal lelah karena aku ingin membahagiakan ibuku. Dari SD aku selalu menjadi yang pertama. Mendapatkan nilai yang tertinggi dan ketika aku masuk SMP aku mendapatkan beasiswa penuh. Ibu ku sangat bangga padaku, akupun bangga pada diriku sendiru yang mampu membuat ibuku bangga padaku.
Ibuku selalu menceritakan tentangku kepada seluruh teman temannya. Meskipun hanya seorang cleaning service, namun aku anak yang membanggakan bagi ibuku. Itulah yang selalu diceritakan kepada orang orang.
Suatu hari, saat pengambilan raport kelas dua SMP, ibuku dalam perjalanan menggunakan sepeda motor tuannya dan sangat bangga sekali ibuku karena aku mendapat peringkat pertama dan nilai tertinggi.
Aku pulang dengan ibuku untuk merayakan hari ini. Saat dalam perjalanan, kami tertabrak oleh mobil, dan segera dibawa ke rumah sakit. ketika aku bangun, mataku sudah diperban dan aku tidak bisa melihat karena gelap. Aku bangun dan memanggil ibuku.
"Mama.. mama dimana ma?"
Namun yang menyambut tanganku adalah seorang susuter.
"Mbak, ibunya mbak sedang di kamar sebelah mbak. istirahat dulu yaa, nanti saya antar ke ibunya mbak"
Aku menuruti perkataan suster itu dan berbaring.
Mengapa aku diperban? Akapak aku buta? Apakah aku tidak bisa melihat lagi?
Aku memikirkan hal yang buruk pada diriku sendiri.
Suatu ketika, dokter datang dan membuka perbanku
"Kalau saya lepas perbanyya, kamu coba buka matanya pelan pelan yaa.. Awalnya sakit karena mata tiba tiba menerima cahaya, tapi nanti akan terbiasa"
Dokter membuka perban mataku dan aku melakukan hal yang dikatakan dokter itu.
Hal pertama yang ku cari setelah aku membuka mataku adalah ibuku.
"Dokter, mama saya dimana ya?"
Dokter itu terdiam dan melihta ke arah kuar kamarku. Saat ini mama kanu sudah tidak bisa melihat lagi. Dia kehlangan oenglihatannya karena kecelakaan itu. Aku terkejut mendengar itu, aku menangis. Mengapa ibuku bisa bernasib malang seperti ini?
.****flash back****
Di kantor dokter, ibuku masuk dengan darah yang menepel pada baju dan perban pada kepalanya.
"Dokter, tolong selamatkan anak saya, ambil mata saya untuk anak saya dok. Tolong anak saya"
Ibuku menangis hari itu. Dan operasi dijalankan hari itu, ibuku merelakan matanya agar aku bisa terus melihat dunia yang luas ini.
***Kembali ke hari ini***
Dokter tidak meberitahuku kalau ibuku memberikan matanya padaku karena ibuku melarangnya. Hari itu aku menangis dan memeluk ibuku. Mengapa ini semua harus terjadi pada ibuku.
Satu tahun kemudian aku lulus SMP karena beasiswa, dan sekolah membantuku mendapatkan beasiswa di SMA karena mengetahui kondisi keluargaku. Aku awalnya menolak, aku ingin bekerja saja membanti ibuku. Dari pada sekolah, lebih baik aku menggantikan ibuku bekerja.
"Lala, jangan begini nak, mama masih bisa bekerja meskipun mama buta. Kamu harus jadi anak yang hebat, supaya hidup kamu tidak seperti mama sayang"
Aku menangis mendengar kata kata ibuku. Apakah aku masih menjadi anak yang membanggakan? Aku tidak bisa melakukan apapun saat ibuku sedang susah, ibuku malah harus berjuang untukku dengan keadaannya yang seperti ini.
Aku menuruti keinginan ibuku dengan terus belajar agar selalu menjadi nomer satu. Karena hanya itu yang bisa kuberikan pada ibuku. Sebuah kebanggaan memanggilku seorang anak yang ointar dan baik.
Waktu berlanjut sampai aku kuliah, banyak teman teman yang menghinaku karena aku miskin dan ibuku buta, namun aku tak peduli semua itu, hanya belajar dan belajar yang ada di kepalaku untuk terus membuat ibuku bangga padaku.
Aku lulus dari perkuliahan dan menyandang gelar Sarjana Ekonomi, dan aku diterima di perusahaan yang baim dengan gaji yang cukup tinggi.
Setiap orang yang memandangku selalu iri denganku, karena aku mampu suskses dengan cukup mudam Mereka tidak tahu apa saja yang kulalui untuk sampai kr titik ini, bagaimana ibuku terus memeras keringan dalam kondisinya yang seperti ini dan aku hanya anak bodoh yang tidak bisa membantu ibuku sama sekali.
Malam itu aku pulang kerja cukuo larut. Jam sepuluh malam aku sampai rumah. Ku dengar ibuku sedang bertelepon dengan saudaranya yang saat ini berada ditempat yang jauh.
"Iyaa kak, anakku sudah jadi orang hebat sekarang, dia anak yang sangat membanggakan, tidak pernah membuatku kecewa sedikitpun. Akulah ibu yang tidak becus dan bodoh yang tidak bisa membahagiakan anakku."
Hatiku sedih mendengar itu semua. Ibuku adalah ibu terhebat diseluruh dunia, baru aku akan memeluk ibuku, namun ibuku mengatakan hal yang sangat mengejutkanku.
"Kak, sebenarnya, aku mendonorkan mataku untuk Lala, aku ingin dia terus melihat dunia dan agar tidak diejek oleh teman temannya. Aku tidak apa apa kalau buta, atau pincang sekalipun. Asal jangan anakku yang dihina oleh orang lain."
Semakin sakit hatiku mendengar itu semua. Akulah yang merebut penglihatan ibuku. Akulah tabg mengambil dunia ibuku. Ibuku sudah berjuang sampai seperti ini.
Selesai ibuku berbicara dengan saudaranya, aku datang dan memeluk ibuku.
"Mama.. kenapa mama nggak perbah bilang sama Lala? Kenapa mama merahasiakan semuanya? Kenapa mama berkorban terlalu banyak? "
.Aku menangis di pangkuan ibuku, ibuku hanya membelai rambutku dengan penuh kasih sayang sambil menangis
"Apapun mama lakukan asal kamu bahagia nak. Maaf hanya ini yang bisa mama berikan untuk Lala, hanya sepasang mata yang menuntun Lala."
Aku terus menangis mengingat pengorbanan ibuku yang sangat besar ini. Aku janji pada diriku, sampai akhir hayatnya aku akan membuatnya bahagia telah melahirkanku dan akan membuatnya bangga menyebutku anaknya.
~TAMAT~