Di malam pernikahan mantan pacar, aku hamil. Aku baru menyadari nya tadi pagi setelah melakukan tes dengan alat tes kehamilan. Benar muncul dua garis merah.
Kaget? tentu saja, bahkan saat itu aku merasa dunia seakan runtuh dan berhenti berputar. Aku Sampai bingung dan termenung resah.
Aku adalah anak yatim piatu, yang tumbuh dewasa di panti asuhan. Setelah dewasa dan sudah bisa hidup mandiri, aku bekerja di sebuah swalayan dan menyewa kost, dan tidak tinggal lagi di panti asuhan.
********
Aku begitu bahagia ketika suatu hari mas Andri, supervisor ku menyatakan cinta padaku. Aku yang mempunyai perasaan yang sama, tentu menerima mas Andri sebagai kekasihku.
Aku begitu bahagia saat itu, karena mas Andri memilihku sebagai kekasihnya. Dari yang aku tahu, banyak perempuan yang menyukai mas Andri, bahkan ada beberapa yang begitu agresif.
Tapi akhirnya Mas Andri memilih diriku sebagai kekasih nya.
Sejak itu kami menjalin kasih. Tapi itulah bodohnya aku, berkali-kali mas Andri memesrai ku hampir melewati batas, aku tidak pernah curiga. Tapi aku selalu berhasil mempertahankan milik ku yang paling berharga.
Sampai suatu hari, aku bisa menjadi tidak sadar, setelah meminum minuman yang diberikan Andri. Andri membawaku ke Hotel. Akhirnya mahkota yang selalu ku lindungi berhasil diambil Mas Andri.
.
Ketika menjelang pagi saat terbangun, aku hanya bisa menangis tersedu-sedu menyesali sudah kehilangan kehormatan ku yang paling berharga.
Aku sebenarnya yakin kalau minuman ku sudah diberi obat, tapi aku tidak punya bukti..
Mas Andri menghiburku dan berkata, "Jessy jangan khawatir, toh suatu hari aku juga akan menikahi mu, sekarang atau nanti kan sama saja!"
Akhirnya aku berusaha menerima kenyataan ini, apalagi mas Andri berjanji akan menikahi ku kalau posisinya dan hidupnya sudah mapan. Lagipula nasi sudah menjadi bubur, aku hanya bisa memegang janji nya saja.
Dan juga aku memiliki perasaan cinta pada mas Andri.
********
Aku menjadi tidak tenang, ketika berhari-hari Andri tidak kelihatan datang lagi ke swalayan.
Aku bagai disambar petir ketika mendapat kabar kalau mas Andri akan menikah.
Ternyata Andri adalah putra ke dua dari pemilik swalayan tempat aku bekerja. Bukan aku saja yang kaget, bahkan pegawai-pegawai yang lain juga kaget, karena selama ini mas Andri menyembunyikan identitasnya.
Tenagaku terasa hilang semua saat mendengar kabar itu, akhirnya aku ijin pulang, bahkan sampai dua hari aku absen kerja.
Selama dua hari aku merenungi nasibku yang tidak beruntung sejak lahir, tapi beruntung nya aku mempunyai sifat yang optimis.
"Kehilangan kehormatan bukanlah segalanya, aku tetap harus menjalani hidup dengan semangat walaupun tanpa Andri!", tekad ku.
********
Sayangnya tekad ku yang sudah bulat mendapat cobaan lagi. Aku sering merasa mual dan kurang nafsu makan, dan akhirnya kecurigaan ku benar, kalau ternyata aku sudah hamil.
Bertepatan dengan tanggal pernikahan Andri aku mengetahui kehamilanku. Betapa hancur nya hatiku.
Bahkan aku sempat berpikir untuk menggugurkan kandungan ku.
Untung akhir nya aku sadar kalau itu adalah dosa, apalagi aku seorang yatim piatu, yang menurut cerita ibu panti asuhan ku, sewaktu masih bayi aku diletakkan di gerbang pintu asuhan, saat aku bertanya kepada ibu panti, siapa orang tuaku.
Bagaimanapun aku tidak ingin menjadi calon ibu yang tidak bertanggung jawab.
Akhirnya aku memutuskan tetap akan melahirkan dan merawat anak ku, walaupun hanya menjadi single parent kelak.
Aku tidak ingin anak ku bernasib sama sepertiku, dibuang oleh orang nya tua sendiri.
********
Ketika aku menyalami mas Andri di pesta pernikahan nya, mas Andri terlihat biasa saja dan seakan sama sekali tidak pernah mengenal ku.
Bahkan mas Andri terlihat begitu tenang dan sama sekali tidak merasa bersalah sudah memberikan janji kosong kepada ku.
Saat itu lah aku sadar, kalau aku sudah menyukai pria yang salah.
Perlahan-lahan dalam hatiku yang memiliki rasa cinta berubah menjadi benci, bahkan boleh dibilang menjadi dendam.
Aku bahkan menyumpahi mas Andri dalam hati,
"Semoga hidup pernikahan mu tidak akan bahagia. Laki-laki terkutuk! Suatu hari aku akan melihat kesengsaraan mu. Aku akan menunggu saat itu, melihat mu menderita!"
********
"Menikah lah denganku, aku tidak akan meminta apa pun dari mu. Aku hanya tulus ingin membantu mu. Aku sama seperti mu, sama-sama anak yatim piatu. Aku bersedia menjadi ayah yang baik untuk anakmu kelak!", ujar mas Ridwan menatap pada ku dengan muka serius.
"Benar apa yang kamu katakan? Apakah kamu tidak membenci ku setelah apa yang aku lakukan pada mu dulu?", tanyaku ragu
"Tidak, aku tidak pernah membenci mu, aku lah yang bersalah terlalu memaksakan keinginan ku waktu itu!", ujar mas Ridwan tegas meyakinkan aku.
********
Mas Ridwan adalah pria yang menyukai ku waktu aku duduk di bangku SMA.
Mas Ridwan berwajah lumayan tampan, walaupun tidak setampan mas Andri. Satu kekurangan Ridwan adalah kakinya yang pincang.
Sedangkan saat itu, aku termasuk primadona di sekolah ku, memiliki wajah cantik, tubuh yang ideal, dan otak yang lumayan encer, walaupun aku hanya anak panti asuhan.
Mas Ridwan suka mendekati ku dan sering berkata menyukai ku, tapi aku tidak pernah memperdulikan nya. Aku selalu menghindari nya.
Sampai suatu hari aku tidak tahan lagi saat teman-teman menggodaku, karena mas Ridwan selalu membuntuti ku ke mana-mana, akhirnya aku mengeluarkan kata yang tidak sepantasnya.
"Sampai di dunia ini hanya ada satu laki-laki saja, dan kalau laki-laki itu adalah kamu, aku lebih baik tidak menikah selamanya!", ujar ku yang saat itu terbawa emosi.
Sejak itu mas Ridwan tidak pernah mendekati aku lagi. Sebenarnya aku cukup menyesali ucapan ku yang terbawa emosi itu. Tapi aku terlalu gengsi untuk mengucapkan kata "maaf".
********
Aku tidak pernah menyangka sesudah aku bekerja, mas Ridwan juga bisa kebetulan tinggal di rumah depan kost ku. Entah dia tinggal di rumah siapa.
Tapi kami tidak pernah saling menyapa, kadang aku berpikir jangan-jangan mas Ridwan sudah tidak mengenal ku.
Bahkan mas Ridwan juga pernah melihat mas Andri saat aku masih menjalin kasih dengan mas Andri.
Sampai suatu hari saat aku pulang kerja, belum sempat aku masuk ke kamar kost ku, aku tiba-tiba tidak sadarkan diri setelah merasa kan kepalaku yang begitu sakit.
Ketika bangun, ternyata aku sudah berada di rumah sakit. Aku tidak menyangka ternyata mas Ridwan yang sudah menolongku dan membawaku ke rumah sakit.
Ternyata aku mengalami tekanan darah rendah dan kecapaian, hingga aku pingsan, untung saja kehamilan ku tidak bermasalah.
Karena kejadian itu, akhirnya mas Ridwan mengetahui kehamilan ku.
"Di mana bapak anak mu?", tanya Ridwan.
"Aku akan menghubungi nya dan memberitahu keadaan mu", sambung mas Ridwan.
Aku sempat tertegun dan bingung beberapa saat.
"Aku belum menikah. Dia sudah menikah dengan perempuan lain", jawab ku jujur akhirnya.
"Biarlah mas Ridwan menghina ku, aku sudah siap menerima nya, bagaimana pun dulu aku pernah menyakitinya", pikir ku dalam hati.
Mas Ridwan memandang ku sejenak, sesudah itu tidak berkata apa-apa lagi. Aku tidak menyangka bukan nya menghina ku, mas Ridwan bahkan membantu ku sampai keluar dari Rumah sakit.
Bahkan sejak itu mas Ridwan sering mengunjungi ku dan selalu membawa makanan untuk ku,
"Kamu harus makan makanan yang bergizi, kamu sedang hamil!" ujar Ridwan.
Tapi tidak pernah sekali pun mas Ridwan masuk ke kamar ku, mas Ridwan selalu berdiri di depan pintu saja, dan sesudah mengantarkan makanan, mas Ridwan langsung pulang.
Aku benar-benar terharu dan kagum pada sifat mas Ridwan yang sepertinya sama sekali tidak membenciku setelah kejadian itu.
Aku sendiri yang merasa bersalah pada mas Ridwan, tapi aku tidak pernah bisa mengungkapkan kata maaf ku.
Setiap aku ingin minta maaf pada Ridwan, lidahku terasa kelu dan bingung harus memulai dari mana.
Akhirnya aku hanya bisa menyimpan perasaan bersalah dalam hati ku.
********
Tidak memerlukan waktu yang lama, aku akhirnya memutuskan menerima lamaran mas Ridwan. Kami mengadakan pernikahan kami dengan sederhana, saat itu usia kandungan ku sudah berjalan 4 bulan. Lagi pula kami berdua adalah anak panti asuhan, tidak memiliki sanak saudara
Mas Ridwan memboyong ku ke rumah nya. Ternyata rumah di depan tempat kost ku adalah milik mas Ridwan.
Selama ini mas Ridwan tinggal sendiri.
Aku tidak pernah menyangka kalau mas Ridwan sudah sukses di karier nya.
Mas Ridwan adalah seorang programmer di suatu perusahaan ternama.
Setelah menikah, mas Ridwan tidak mengijinkan aku bekerja lagi. Melihat rasa keberatan ku untuk berhenti kerja, mas Ridwan akhirnya merenovasi rumah nya dan mendirikan sebuah toko kecil untuk aku berjualan.
Aku begitu bahagia, setidaknya aku tidak kesepian dan bisa melakukan sesuatu saat mas Ridwan pergi bekerja.
Sangking bahagia nya tanpa sadar aku mengecup pipi mas Ridwan tanpa sadar. "Terimakasih mas Ridwan", ujar ku bahagia
Tampak mas Ridwan terdiam sejenak, tapi seperti biasa mas Ridwan terlihat tenang dan tidak berkata apa-apa.
Aku sendiri yang menjadi salah tingkah dan malu saat sadar.
"Aku siapkan makan untuk mas dulu ya", ujar ku mengalihkan rasa malu ku, untung saja saat itu bertepatan dengan jam makan malam, sehingga aku bisa kabur dari suasana kaku itu.
********
Sejak menikah dengan mas Ridwan kami tidak pernah melakukan kontak fisik, bahkan Ridwan tidur di kamar yang terpisah dengan ku.
Aku pun tidak pernah mengajukan protes, bahkan aku bersyukur dalam hati, tidak perlu melayani mas Ridwan di tempat tidur. Sampai kadang aku berpikir mengapa mas Ridwan begitu baik hati bersedia menikahi ku, perempuan yang sudah hamil duluan dengan pria lain.
Karena merasa berhutang budi, aku pun melayani semua keperluan mas Ridwan dengan telaten, dari menyediakan pakaian kerja mas Ridwan, sarapan, makan malam.
"Tidak perlu melayaniku seperti itu, yang penting kamu jaga kesehatan mu dan bayi mu, jangan sampai kelelahan", ujar mas Ridwan ketika melihat aku melayani nya dengan telaten.
"Kamu tahu, aku kan seperti kamu, dari kecil sudah belajar hidup mandiri", sambung nya.
Aku hanya tersenyum, tapi tetap melakukan nya setiap hari, akhirnya lama-lama mas Ridwan pun terbiasa dan sudah tidak protes lagi.
********
Kehidupan ku bersama mas Ridwan berjalan tenang, kami seperti teman yang kebetulan tinggal bersama, dan saling membantu.
Aku juga merasa bahagia selama tinggal bersama Ridwan.
Ketika saat mau melahirkan, mas Ridwan memandang ku dengan wajah khawatir. Itulah pertama kali nya aku melihat mimik muka mas Ridwan yang berbeda dari biasa nya.
Mas Ridwan bahkan untuk pertama kali nya melakukan kontak fisik dengan ku. Dia menggenggam tanganku dan berkata pada ku,
"berdoa ya, semoga semua berjalan lancar. Aku juga akan berdoa untuk mu."
Aku benar-benar terharu dengan kebaikan Ridwan yang rasa nya sampai kapan pun tidak sanggup aku bayar.
Untung selama proses melahirkan aku tidak mengalami kesulitan yang berarti, kebahagiaan ku bertambah ketika aku melahirkan bayi cantik yang kuberi nama Bella.
Aku selalu bersyukur pada Tuhan yang sudah memberiku kehidupan yang indah lewat mas Ridwan, setelah aku melakukan kesalahan besar dalam hidupku.
Aku merasa mas Ridwan bagaikan Malaikat tak bersayap bagi ku.
********
Sudah 2 tahun aku menikah dengan mas Ridwan, kami menjalani kehidupan pernikahan kami dengan tenang, bahkan boleh dibilang sama sekali tidak ada pertengkaran dalam keluarga kami.
Ridwan juga menyayangi Bella, bahkan setiap libur dia membawa kami berdua jalan-jalan. Tapi selama 2 tahun menjadi istri mas Ridwan, tidak pernah sekali pun kami berhubungan suami istri. Bahkan berkontak fisik saja sangat jarang, kecuali tidak sengaja.
Kadang sedang melamun, aku sering berpikir mengapa mas Ridwan tidak pernah meminta hak nya sebagai suami. Apakah mas Ridwan merasa jijik pada ku? Tapi kalau iya, apa tujuan mas Ridwan menikahi aku?
Kalau pikiran ku sudah sampai ke sana aku cepat-cepat menghilangkan pikiran jelek ku itu, agar tidak meracuni kehidupan pernikahan kami yang sudah berjalan tenang ini.
Aku langsung merubah pikiran negatif ku dengan rasa syukur pada Tuhan yang sudah mengirimkan seorang pria berhati malaikat di dalam hidupku
********
Ternyata ketenangan hidup keluarga ku, suatu hari mengalami cobaan. Saat itu sudah menjelang sore, jam sudah menunjukan pukul 17.00 lebih
Seperti biasa aku membuka toko sembako ku. Usahaku tidak terlalu ramai, tapi selalu ada saja pembeli setiap hari. Lagi pula aku membuka toko hanya untuk mengisi waktu sambil menjaga Bella agar tidak kesepian saat Ridwan bekerja.
Mas Ridwan memasang bel di depan etalase toko, agar pembeli memencet bel jika ingin membeli, jadi aku tidak perlu menjaga di depan toko terus.
Ridwan memang selalu perhatian, walaupun jarang berbicara.
Ketika sedang memasak aku mendengar orang memencet bel, segera aku mematikan kompor gas dan berjalan cepat ke depan toko.
"Mau cari apa pak....?", tanyaku, langsung tertegun melihat pria yang berdiri di depan toko ku.
Pria itu juga tertegun melihatku.
"Jessy .....", ujar Andri mengambang.
Aku melihat penampilan Andri dari atas ke bawah, Andri tampak lebih kurus dibanding dulu dan di dagu nya tampak sudah mulai tumbuh kumis. Penampilan nya sungguh berbeda dengan dulu, dulu selalu terlihat bersih, tampan dan terawat.
"Maaf pak, mau beli apa?", tanyaku berlagak tidak mengenal Andri
Aku sendiri heran dengan ketenangan ku, ternyata kehadiran nya sudah sama sekali tidak mempengaruhi hati ku.
"Jessy! kamu jangan berlagak tidak mengenal ku. Aku tadi ke tempat kost mu, ternyata kamu sudah pindah di sini. Untung aku mau beli korek, akhirnya bisa bertemu dengan mu lagi!", ujar Andri.
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi, anggap saja kita tidak pernah mengenal", ujar ku sambil mengambil korek yang dia cari.
"Ini pak korek nya, harganya 3.000 rupiah", ujar ku sambil menyerahkan korek itu ke Andri.
Tapi aku tidak menyangka kalau mas Andri tiba-tiba menarik tanganku dan memohon pada ku,
"Jessy! dengarkan aku dulu! ada yang ingin aku bicara kan dengan mu!", ujar Andri
"Aku ingin kamu kembali padaku! Aku sudah 6 bulan ini mencari mu! Aku ingin memperbaiki kesalahan ku!", ujar Andri masih tidak mau melepaskan tangan ku.
"Lepaskan aku! Sungguh tidak tahu malu! Mau dikemanakan istri mu! Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan di antara kita!", omel ku berusaha menarik tangan ku agar lepas dari genggaman nya.
"Jessy sudah berkata lepaskan. Ayo lepaskan!", ujar Ridwan yang entah sudah sejak kapan berada di dalam toko, dan menyaksikan pembicaraan aku dan Andri.
Mas Ridwan biasanya suka masuk dari pintu samping toko. Mas Ridwan masih membawa tas, seperti nya baru pulang dari kantor.
Melihat mas Ridwan hati ku langsung berdetak kencang, aku khawatir kalau mas Ridwan akan salah sangka.
Sedangkan mas Andri yang melihat mas Ridwan datang, langsung melepaskan tangan ku dan pergi meninggalkan toko kami tanpa berkata apa pun. Bahkan korek yang dia cari tertinggal di atas etalase
"Dasar laki-laki pengecut, mengapa dulu aku bisa mencintai nya. mataku sungguh sudah buta. Aku harus menjelaskan apa pada Mas Ridwan agar dia tidak salah sangka", sesal ku dan mulai merasa khawatir.
********
Aku segera menutup toko, memang setiap mas Ridwan pulang aku biasa nya langsung menutup toko.
Aku sudah berjanji dalam hati akan melayani mas Ridwan sebaik-baiknya. Rasa nya kebaikan nya padaku tidak pernah bisa ku balas sampai kapan pun juga.
Walaupun hanya untuk berkumpul bersama, makan bersama, menonton telivisi bersama, aku selalu berusaha mendekatkan hubungan kami berdua.
Tapi mas Ridwan yang sekarang dengan mas Ridwan saat sekolah sudah berbeda, mas Ridwan yang sekarang jarang berbicara dan terlihat tenang.
Bahkan setelah menikah dengan mas Ridwan selama 2 tahun kami tidak pernah mengobrol santai, hanya berbicara kalau untuk urusan penting saja. Bahkan mungkin mas Ridwan lebih banyak berbicara dengan Bella bila dibandingkan dengan aku.
Terkadang aku ingin sekali ngobrol dengan mas Ridwan, agar lebih mengenal nya. Tapi aku kebingungan sendiri, harus memulai dari mana. Padahal mas Ridwan cukup perhatian pada ku.
Aku merasa segan ketika melihat mas Ridwan yang pendiam.
Karena itu, aku bahkan kadang berpikiran yang tidak-tidak.
"Jangan-jangan Mas Ridwan menyesal sudah menikahi ku? seorang perempuan yang hamil di luar nikah, bahkan Bella bukanlah benih mas Ridwan."
********
Aku menyiapkan makan malam mas Ridwan seperti biasa, dan mas Ridwan juga seperti biasa, sesudah selesai mandi, duduk di meja makan dan kami makan bertiga.
Bella yg tadi baru bangun dari tidur siang nya sesudah jam 6.00, terlihat segar dan semangat sesudah aku mandi kan. Bahkan Bella makan dengan lahap saat aku menyuapi nya.
Aku diam-diam mencuri pandang ke arah mas Ridwan sambil menyuapi Bella makan. Tapi aku tidak bisa menebak isi hati mas Ridwan, dengan mukanya yang datar itu.
Bahkan mas Ridwan menggantikan ku menyuapi Bella makan, dan menyuruhku untuk makan.
"Koq kamu gak makan sambil menyuapi Bella, malah hanya menyuapi Bella saja. Ayo kamu makan dulu, sini makanan nya Bella, biar aku yang suapi", ujar mas Ridwan padaku setelah dia selesai makan.
Saat itu aku mengambil kesimpulan kalau mas Ridwan tidak memperdulikan kejadian mas Andri yang menarik tanganku di toko.
Aku pun bersyukur dan bisa menarik nafas lega akhir nya.
********
Aku tidak menyangka dugaan ku kali ini salah, saat aku menidurkan Bella, Ridwan mengetuk kamarku dengan Bella. Aku memang tidur sekamar dengan Bella, sedangkan mas Ridwan tidur di kamar nya sendiri.
"Ada apa mas?", tanya ku sambil membuka pintu kamar.
"Bella sudah tidur?", tanya Ridwan.
"Sudah mas, baru saja tertidur, mungkin tadi bangun terlalu sore!", ujar ku sambil tersenyum, samar-samar aku mencium bau rokok, padahal yang aku tahu mas Ridwan sangat jarang merokok, bahkan hampir tidak pernah.
"Aku ingin bicara dengan mu Jessy, ayo kita bicara di ruang keluarga saja, agar tidak mengganggu Bella!", ujar mas Ridwan.
"Baik mas", sahut ku mengangguk sambil berjalan keluar dari kamar, mengikuti langkah mas Ridwan menuju ke ruang keluarga, dengan hati yang mulai tidak tenang.
********
"Duduklah Jessy!", ujar mas Ridwan ketika melihat ku masih berdiri.
Entah mengapa, aku merasa seperti orang yang akan disidang karena telah melakukan kesalahan.
"Baik mas", ujar ku menurut dan segera mengambil tempat duduk yang agak menyamping, aku tidak berani duduk di depan mas Ridwan.
"Apakah tadi pria yang datang di toko adalah ayah nya Bella?", tanya mas Ridwan langsung.
"Iya mas", jawab ku jujur.
"Apakah dia ingin kamu kembali pada nya lagi?", tanya mas Ridwan lagi sambil menatap ke arah ku.
"Aku tidak tahu mas, mas Andri kebetulan sedang ingin membeli korek, dia tidak menyangka bertemu dengan ku", sahut ku menghindari pertanyaan mas Ridwan.
"Aku sudah mendengar semua pembicaraan mu dengan nya, dari yang aku tangkap dia ingin kamu kembali pada nya Jessy", ujar mas Ridwan dengan suara datarnya.
"Kalau mas Ridwan sudah tahu mengapa masih bertanya padaku. Aku tahu, aku adalah perempuan yang pernah berbuat kesalahan", sahut ku mulai melantur karena perasaan ku yang mulai tidak tenang.
Aku sungguh tidak bisa menebak apa yang mau dilakukan mas Ridwan. Boleh dibilang aku sama sekali tidak mengerti sifat mas Ridwan, walaupun kami sudah menikah selama 2 tahun, karena mas Ridwan sangat tertutup dan tidak pernah banyak bicara.
"Aku sudah berpikir Jessy, aku ingin melihat mu bahagia. Aku merelakan mu untuk ikut dengan laki-laki itu. Aku segera akan mengurus perceraian kita, agar kamu bebas lagi", ujar mas Ridwan bangun dari tempat duduk nya, dan berjalan tertatih-tatih dengan kaki pincang nya.
Aku terdiam mendengar perkataan mas Ridwan, hati ku bagaikan diremas-remas, bahkan kali ini hatiku terasa lebih sakit dibanding kan dengan ketika mendengar mas Andri akan menikah dengan perempuan lain.
Tanpa sadar aku menangis tersedu-sedu, padahal aku termasuk perempuan yang memiliki hati yang keras, dan jarang menangis karena hidup ku yang keras sejak kecil.
Aku baru tahu sekarang rasanya sakit hati karena cinta, dan aku baru sadar kalau aku sudah mencintai mas Ridwan
Mungkin kali ini balasan untuk ku sudah tiba, aku akhirnya merasakan sakit nya hati ku karena ditolak, bukan ditolak, tapi di buang.
Mungkin mas Ridwan juga merasakan hal yang sama saat aku menolak nya dengan kata-kata yang menusuk.
Benar! Ternyata pembalasan lebih kejam.
********
Ridwan menghentikan langkah kaki nya tepat di jalan keluar ruang keluarga, saat mendengar tangisan yang begitu memilukan.
Sebetulnya Ridwan ingin segera menghindari Jessy, agar dia bisa melepaskan Jessy dengan rela.
POV Ridwan
Bagi Ridwan kebahagiaan Jessy di atas segala nya, tidak masalah dia tidak memiliki Jessy, walaupun hati nya sangat ingin.
Asal Jessy bahagia, sudah cukup bagi nya.
Semakin hari dia semakin mencintai Jessy setelah mereka hidup bersama.
Kadang ia harus menahan keinginan nya untuk memesrai Jessy, karena dia tidak ingin Jessy menjadi takut pada nya.
"Aku seperti punguk merindukan bulan, seorang yang dengan kaki yang pincang ingin memiliki perempuan secantik dan sebaik Jessy."
********
"Mengapa kau menangis Jessy? Aku ingin kamu bahagia", ujar Ridwan yang akhirnya tidak tahan untuk menghampiri Jessy, setelah mendengar tangisan yang begitu memilukan dan menyayat hati nya.
"Aku adalah orang yang tidak diinginkan sejak lahir, bahkan sampai sekarang aku pun selalu tidak di inginkan, bahkan suamiku sendiri!", sahut ku masih menangis tersedu-sedu sambil memandang ke Ridwan.
Ridwan terpaku mendengar perkataan ku. Dia tidak pernah menyangka kalau aku akan berpikir, kalau dia ingin membuang aku, dia tidak pernah menyangka kalau tindakan nya akan menyakiti hati ku
"Aku memang perempuan yang tidak berharga. Apalagi aku sudah pernah melakukan kesalahan dalam hidup ku. Pernah mencintai orang yang salah. laki-laki yang sudah memberi noda dalam hidup ku. Mungkin aku memang sudah tidak pantas mendapatkan cinta lagi. Apalagi aku sudah pernah menyakiti mas Ridwan dulu. Hari ini aku ingin meminta maaf pada mas Ridwan atas apa yang pernah kulakukan dulu.
Aku akan menerima kalau mas Ridwan ingin menceraikan ku. Aku memang tidak pantas buat mas Ridwan, mas Ridwan berhak mendapatkan yang lebih baik dari pada aku", ujar ku dengan suara bergetar.
"Tapi mas Ridwan tidak usah mengatur hidup ku. Tidak usah menyuruh aku kembali pada mas Andri! Aku bisa mengatur hidupku sendiri. Besok aku dan Bella akan pergi dari sini, kalau mas Ridwan sudah tidak ingin melihat kami lagi!", ujar ku telak.
Mas Ridwan yang dari tadi terpaku, akhir nya sadar. Bagaimana pun mas Ridwan adalah seseorang yang memiliki otak yang cerdas. Setelah menyaring perkataan ku, mas Ridwan akhirnya mengerti kalau aku merasa dia ingin membuang ku dan tidak menginginkan ku lagi.
Ridwan segera menghampiri ku dengan langkah tertatih, kemudian berjongkok, karena dari tadi aku sudah bersimpuh di lantai dan menangis tersedu-sedu.
Dengan jari- jari tangan nya ia menghapus air mata ku.
"Maafkan mas, Jessy. Kamu jangan berpikiran kalau mas ingin membuang mu. Kau dan Bella seperti permata di hati ku. Aku hanya ingin kau bahagia. Bisa kembali pada pria yang kau cintai dan Bella bisa bersama ayah kandung nya! Sama sekali aku tidak berniat membuang mu seperti yang kau pikirkan!", ujar Ridwan tegas.
"Mas Ridwan sok tahu. Memang mas Ridwan tahu aku mencintai siapa?", tanya ku.
"Mas sudah berbeda dengan dulu. Mas Ridwan jarang mau ngobrol bersama ku, kadang aku berpikir mas Ridwan merasa jijik padaku, atau masih dendam dengan perkataan ku yang menyakiti mas Ridwan. Tapi sampai sekarang aku tidak mengerti mengapa mas selalu menolong ku dan Bella", ujar ku mengeluarkan unek-unek ku selama ini.
"Jangan pernah berpikiran seperti itu, sampai kapan pun aku akan selalu mencintai mu", ujar mas Ridwan tanpa sadar mengusap bibir ku dengan jari nya. Sedangkan kedua telapak tangan nya memegang ke dua pipi ku, dan menatap wajah ku dengan intens.
Hatiku berdebar-debar mendapat perlakuan seperti itu, baru kali ini mas Ridwan bersikap mesra pada ku. Benar, ternyata aku sudah jatuh cinta pada mas Ridwan tanpa sadar.
Mas Ridwan yang terpengaruh keadaan, tanpa sadar mendekat kan wajahnya lalu mengecup bibir ku, aku yang memang sudah mencintai mas Ridwan menyambut kemesraan yang diberikan mas Ridwan dengan mengalungkan lenganku ke lehernya.
Akhirnya malam itu semua kesalahpahaman kami terurai.
Aku bahkan mendapat jawaban dari mas Ridwan, mengapa dia begitu mencintaiku.
"Kau masih ingat tidak waktu panti asuhan kita mengadakan camping? dan saat itu ada longsor, kaki ku terjepit batu longsoran itu.
Kamu menangis dan berusaha menggali tanah di sekitar kaki ku dengan ke dua tangan kosong mu sampai akhirnya kedua tangan mu terluka.
Sejak itu aku sudah berjanji akan selalu menjaga mu. Aku merasa di dunia ini hanya kau seorang yang begitu memperhatikan ku", ujar mas Ridwan.
"Sampai kapan pun aku tidak akan pernah bisa membencimu Jessy", sambung mas Ridwan sambil memeluk ku masuk dalam pelukan nya.
Aku sebenarnya sudah lama lupa kejadian itu, aku tidak menyangka kalau hal kecil yang aku lakukan itu, akhirnya membuat mas Ridwan begitu mencintaiku.
********
Setelah kesalahpahaman antara aku dan mas Ridwan terurai, akhirnya kami benar-benar menjadi suami istri yang sebenarnya, seperti pasangan lain nya.
Bahkan 3 bulan kemudian aku hamil kembali, mas Ridwan begitu bahagia saat mengetahui kehamilan ku.
Bahkan mas Ridwan sangat protektif, seperti saat aku hamil Bella.
Kali ini aku sudah tidak segan lagi pada mas Ridwan, saat dia memanjakan ku.
Suatu hari saat aku mengontrol kehamilan, aku bertemu dengan salah satu teman kerjaku di swalayan dulu. Rita juga sedang hamil, jalan 5 bulan.
"Wah suami mu begitu pengertian dan menyayangi mu sepertinya", ujar Rita, saat mas Ridwan meninggalkan ku agar aku bisa ngobrol bebas dengan Rita.
Aku hanya tersenyum mendengar perkataan Rita. Rita memang suka ngobrol dan teman nya banyak.
"Untung kamu akhir nya putus dengan Andri, wah kehidupan nya kacau sekarang. Padahal anak orang kaya, pemilik swalayan. Dengar-dengar istrinya sekarang bahkan menggugat cerai, karena sejak kecelakaan Andri dinyatakan mandul dan tidak bisa punya anak lagi", ujar Rita dengan gosip nya.
Sebenarnya aku cukup terkejut mendengar kabar itu, aku bahkan teringat sumpah serapah yang pernah aku ucapkan dulu saat mas Andri menikah.
Aku tidak pernah menyangka kalau sumpah serapahku pada mas Andri benar-benar terjadi.
Kalau dulu aku .mendengar berita itu, aku yakin aku pasti akan merasa senang dengan penderitaan mas Andri, karena rasa dendam ku.
Tapi saat ini mendengar hal itu, aku sama sekali tidak merasakan apa-apa lagi, bagaimana pun kehidupan mas Andri sekarang
sudah tidak mempengaruhi ku lagi.
Perasaan ku pada mas Andri benar-benar sudah tidak ada lagi sama sekali
Saat ini aku sudah hidup bahagia bersama mas Ridwan. Di hidupku selanjutnya aku hanya perlu memikirkan mas Ridwan, Bella dan calon anak di perut ku saja.
Aku sudah tidak mau lagi menengok ke masa lalu ku, aku hanya perlu menjalani hidupku yang sekarang, hidup yang bahagia bersama orang-orang yang benar-benar kucintai.
Aku hanya tahu satu hal, ternyata pribahasa "Apa yang kau tanam, itu yang akan kau tuai", kadang memang benar ada nya.
***Tamat***