Ketika semua ibu akan melakukan apapun untuk membuat anaknya bahagia meski harus mengorbankan dirinya sendiri, karena kasih sayangnya tak ada batasnya. Namun sebagai seorang anak apakah kita sudah membalas cinta kasihnya atau malah mendurhakainya?
Aku adalah seorang anak dari keluarga yang tidak lengkap, ayahku pergi entak kemana meninggalkanku bersama ibuku dan seorang adikku yang masih sangat kecil. Aku hidup di sebuah rumah yang terbilang sangat sederhana, ah iya itu bukan rumah, bisa di bilang itu hanya sebuah gubuk tempatku, ibu dan adikku berteduh. Kenapa dibilang sebuah gubuk? karena rumah yang hanya beralaskan tanah, berdinding anyaman bambu dengan atap dari ijuk. Sering sekali kami kebasahan dan kedinginan saat hujan karena atapnya bocor ataupun angin yang berhembus di sela-sela dinding yang tidak tertutup rapat. Gubuk kami berdiri di sebuah kebun milik seseorang yang cukup jauh dari pemukiman maka dari itu tak ada listrik untuk menerangi saat malam hari, kami hanya mengandalkan lampu pijar seadanya yang kami buat sendiri dari botol bekas.
Terkadang ketika bulan menunjukkan dirinya dan memancarkan cahayanya, kami memutuskan menggelar tikar lusuh di depan rumah dan memandangi langit yang di terangi cahaya bulan beserta bintang-bintang yang bertaburan. Walau hidup kami sederhana bahkan bisa di bilang penuh dengan kekurangan tapi aku tak pernah merasa menyesal telah di lahirkan oleh ibuku. Terkadang aku juga berpikir betapa teganya ayahku meninggalkan ibuku dan anak-anaknya yang tidak berdosa, entah demi apa ayah meninggalkan kami? Apakah dia sudah tak menginginkan kami? atau dia telah menemukan orang pengganti ibuku?
Akupun sering bertanya kepada ibu namun ibu tak pernah memberikan jawaban pasti kenapa ayah meninggalkan kami? ibu hanya berkata, mungkin suatu saat nanti ayah akan kembali dan tinggal bersama kami. Tapi aku tak percaya, mungkin itu hanya angan-angan kosong belaka untuk menghibur hatinya sendiri karena setiap ibu berkata seperti itu, aku melihat raut wajahnya yang berubah menjadi raut wajah kesedihan yang terlihat jelas dari matanya yang memerah dan berkaca-kaca.
Sebenarnya aku tidak menyesal hidup seperti ini namun terkadang aku merasa kenapa hidup ini tidak adil. Banyak di luar sana yang hidup dengan mewah, rumah nyaman dan bisa membeli apapun yang mereka mau. Tapi Aku untuk sekedar makan saja susah, baju yang sudah lusuh dan robek serta rumah yang jauh dari kata nyaman. Ada saat dimana kami hanya dapat makan 1 kali dalam sehari, adikku selalu menangis ketika perutnya mulai kelaparan. Ibu sering sekali memberikan jatah makannya padaku dan adikku sehingga dia seharian tidak makan apapun hanya meminum air putih untuk mengisi kekosongan perutnya.
Jangan harap tubuh kami sehat, tubuh kami hanya seperti tulang di balut kulit, kami makan hanya untuk bertahan hidup bukan untuk memenuhi gizi tubuh kami. Ibu sering sekali merasakan sakit di tubuhnya namun dia hiraukan demi kelangsungan hidup kami. Kami bertahan hidup dengan mengumpulkan barang bekas, aku selalu membantu ibuku dan adikku selalu dalam gendongan ibuku walau ia kesusahan membawa barang bekas beserta adiku sekaligus.
Oh iya, saat ini umurku baru 8 tahun dan adikku 3 tahun, aku tidak sekolah di usiaku sekarang. Untuk anak-anak seusiaku biasanya mereka sudah masuk sekolah dasar, yah harus bagaimana lagi, kehidupanku yang membuatku tak memungkinkan untuk masuk kedunia pendidikan seperti yang seharusnya. Terkadang ketika melihat anak-anak lain memakai seragam, terlintas di pikiranku ingin memakainya juga. Tapi itu hanya angan-angan semata yang mungkin tidak akan pernah terwujud sampai kapanpun.
Hari sudah beranjak sore, kami memutuskan untuk pulang dengan hasil yang tidak terlalu banyak. Ibu menimbang hasil kerjanya dan hanya mendapatkan uang Rp 10.000 saja. Ibu membeli sekilo beras dan sebungkus garam untuk kami makan malam ini. Segitu juga kami masih bersyukur karena kami masih bisa makan malam ini dan esok hari, begitulah kami menjalani kehidupan ini.
Suatu hari tingkah ibu sangatlah aneh, dia memandikan aku dan adikku dengan sangat bersih. Mendandani kami dan memakaikan kami dengan pakaian paling bagus yang kami punya, ibu menyisir rambut kami dengan sangat rapi, mencium kepala kami bergantian dan mengusap wajah kami dengan senyuman namun airmata terurai di pipinya. Akupun bertanya-tanya kenapa ibu melakukan itu kepada kami, tak seperti biasanya?
Kami selesai didandani dengan rapi oleh ibu lalu ibu mengajak kami kesuatu tempat yang katanya bisa makan kapan saja, bisa memakai seragam sekolah serta akan banyak teman-teman yang ingin bermain dengan kami. Aku dan adikku akan tinggal di rumah yang nyaman, akan tidur di kasur yang empuk dan tak perlu lagi mengumpulkan barang bekas. Mendengar itu, aku dan adikku pun merasa sangat senang, aku mengikuti ibuku dengan hati yang bahagia karena cerita ibuku yang membuat kami bersemangat.
Tak berapa lama tibalah kami di sebuah rumah yang cukup besar yang di depannya terpampang papan yang cukup besar pula, aku tak tahu apa tulisan yang tertera disana yang jelas memang di sana banyak sekali anak-anak yang bermain dengan ceria dan menggunakan pakaian bagus bahkan lebih bagus dari pakaian yang kami pakai sekarang, yang kami anggap pakaian paling bagus bagi kami.
Ibu mengajak kami masuk kesebuah ruangan yang disana ada seorang wanita paruh baya menyambut kami dengan penuh senyuman. Kami di suruh duduk di kursi panjang yang ada di sana sedangkan ibu berbicara berhadapan dengan wanita paruh baya tersebut, ibu seperti menulis sesuatu disana. Iya ibuku bisa membaca dan menulis karena ibu pernah sekolah walau hanya sampai kelas 3 sekolah dasar. Aku tidak tahu apa yang ibu tulis disana yang terlihat jelas dia menulis itu sambil sesenggukan tanda jika dia menangis.
Tak butuh waktu lama sampai ibu selesai menulis, ia menyerahkan kertas itu kepada wanita paruh baya tersebut. Lalu ibu menghampiri kami, lagi-lagi ibu mencium kepala kami bergantian sambil mengelus kedua pipi kami bergantian. Aku tak tahu namun sekarang ibu memeluk kami secara bersamaan dan kembali mencium kepala kami bergantian beberapa kali, isak tangis terdengar walau aku tak melihatnya. Ibu berkata kepada kami, untuk baik-baik disini, jangan rewel ataupun mencarinya. Ibu berkata jika dia akan pergi sebentar lalu akan kembali lagi untuk menjemput kami. Aku percaya dengan perkataan ibu dan berjanji sesuai dengan yang ibu katakan, aku dan adikku melihat kepergian ibu kami dengan senyuman karena yang kami tahu ibu akan kembali menjemput kami.
Berjam-jam berlalu, berhari-hari berlalu bahkan berbulan-bulan pun berlalu namun ibu tak pernah menampakkan batang hidungnya sekalipun. Saat ini tubuhku dan adikku sudah sehat, warna kulit kami yang dulunya gelap pun sudah mulai bersih dan tampak putih. Kami tak lagi terlihat seperti anak-anak yang tidak terawat, kami banyak bermain, makan teratur dan juga aku sudah mulai sekolah kelas 1 sekolah dasar. Aku dan adikku tidak rewel seperti yang ibu pesankan kepada kami, aku belajar dengan giat dan berharap suatu saat nanti ibu akan menjemput kami.
Suatu hari saat usiaku sudah menginjak 10 tahun dan adikku yang sudah berusia 5 tahun didatangi oleh sepasang suami istri yang terlihat sangat ramah. Bu kepala (yang tadinya aku menyebutnya wanita paruh baya) mengantarkan kami ke hadapan mereka, ternyata mereka adalah orang yang akan mengadopsi kami sebagai anak mereka. Yang aku tahu mereka tidak memiliki anak selama 15 tahun pernikahan mereka, jadi kami yang akan di jadikan anak angkat mereka. Yang aku dengar kenapa mereka mengadopsi kami berdua karena kata ibu kepala, kami tak boleh di pisahkan satu sama lain itu adalah isi surat permohonan yang di tulis oleh ibuku beberapa bulan yang lalu.
Setelah semuanya selesai kami pun dibawa oleh mereka yang sebagai orangtua angkat kami, aku dan adikku merasa canggung ketika kami masuk kesebuah mobil mewah milik mereka. 40 menitpun berlalu, tibalah kami di sebuah rumah yang bisa di bilang cukup mewah, aku terpana menatap rumah itu yang memiliki taman yang cukup luas. Kami turun dari mobil setelah sampai di pintu depan rumah tersebut, aku dan adikku hanya melongo saja dan kami di ajak masuk oleh orangtua kami. Saat itu kami memanggil mereka dengan sebutan om dan tante namun mereka menyuruh kami untuk memanggil mereka mamah dan papah, walaupun canggung namun aku mencoba memanggil mereka dengan sebutan itu.
Bertahun-tahun pun berlalu, kini aku sudah lulus dari universitas sedangkan adikku masih menjadi maha sisiwa, aku bekerja di perusahaan yang papahku kelola, aku sibuk saat itu namun aku tak pernah melupakan ibu sekalipun. Semenjak aku beranjak dewasa, aku selalu mencari keberadaan ibu bahkan aku rela menyuruh orang untuk mencari ibuku. Sampai kapanpun aku dan adikku akan terus mencari ibu sampai kami bisa bertemu beliau kembali. Aku rindu, ssaaannngggaaatttt rindu, aku selalu menati beliau datang menjemputku walau memang itu sudah tidak mungkin karena memang ibu tak akan tahu keberadaan kami. Aku dan adikku mendatangi kebun dimana kami dulu tinggal namun tak ada jejak sedikitpun bahkan gubuk kamipun sudah tidak ada disana.
Aku berusaha mencari informasi kesana kemari namun kesulitan karena memang sudah berlalu belasan tahun yang lalu dan akupun tidak memiliki foto ibuku. Pada suatu waktu orang yang aku suruh memiliki informasi tentang keberadaan seorang wanita paruh baya yang ciri-cirinya persih seperti ibuku, orang itu berkata jika wanita ibu berada di sebuah rumah sakit daerah karena memiliki riwayat penyakit, wanita paruh baya tersebut sudah cukup lama berada di rumah sakit tersebut dan hanya mengandalkan bantuan sosial untuk membiayainya.
Tanpa pikir panjang aku segera mendatangi rumah sakit itu sesuai infomasi yang aku terima untuk memastikan apakah benar itu ibuku atau bukan. Sesampainya disana aku di arahkan ke kamar 314 di mana orang yang aku tanyakan di rawat, aku menghampiri seseorang yang terbaring disana tak berdaya. Perlahan namun pasti, aku amat sangat terkejut dan terharu dengan siapa yang aku lihat. Dia yang berbaring di hadapanku ternyata memang adalah ibu kandungku yang selama ini aku cari-cari, tak terasa airmataku jatuh begitu saja tak tertahankan. Orang yang sangat aku rindukan kini aku bisa melihatnya kembali, dalam hati berkecamuk antara senang dan sedih sekaligus. Kenapa aku bisa langsung mengenalinya? Karena memang tidak ada perubahan dari raut wajahnya yang masih sama dimataku, yang berbeda hanya kulitnya yang mulai banyak kerutan dan sudah banyak tanda-tanda penuaan di tubuhnya.
Tak terasa tangisanku pecah, suaraku cukup keras terdengar sampai ibu terbangun dari tidurnya. Aku terus menangis sesenggukan tatkala ibu menatapku dengan kebingungan, aku tak bisa berkata-kata hanya menutup mulutku mencoba meredakan suara tangisanku. Ibu bertanya dengan lirih, siapa aku? aku yakin ibu tak mengenaliku karena aku dulu masih sangat kecil ketika ibu meninggalkanku di sebuah panti asuhan. Sambil mencoba meredakkan tangisanku, aku menenangkan diriku dan mencoba berbicara padanya. Aku berkata padanya dengan suara yang terbata-bata karena mencoba menahan tangisan jika aku adalah putranya yang saat itu ia tinggalkan di sebuah panti asuhan bersama adik perempuanku yang dulu masih sangat kecil. Mendengar itu, ibu langsung menangis dan aku memeluk ibu dengan rasa rindu yang teramat dalam. Aku dan ibu berpelukkan cukup lama dan menagis sejadi-jadinya, setelah itu ibu baru melepasku dan menanyakan keberadaan adikku.
Tanpa pikir panjang, aku langsung menghubungi adik perempuanku dan di balik telpon itu adikku sangat bahagia namun terdengar suara isak tangis. Adikku langsung mematikan telponnya mungkin ingin segera kesini untuk bertemu dengan ibu. Ternyata benar, tak butuh waktu lama adikku telah berada di hadapanku, dia terpaku sejenak dan airmatanya pun berlinang. Adikku menatap ibuku dengan penuh rasa sendu, adikku langsung menghampiri ibu dan memeluknya dengan sangat erat. Ibu kembali menangis ketika melihat anak keduanya tersebut, ibu memanggilku dan kami bertiga saling melepas rindu pada ibu.
Kami menatap ibu dengan rasa haru, kami bahagia karena kami dapat berkumpul kembali bertiga. Kami tak merasa dendam karena ibu telah meninggalkan kami di panti asuhan, malahan kami merasa bersyukur dengan ibu meninggalkan kami namun memberi syarat tidak memisahkan kami berdua sehingga kami masih bisa bersama.
Terimakasih ibu, aku mengerti ibu melakukan itu karena ibu menyayangi kami, aku mengerti ibu tidak ingin melihat kami sengsara, aku mengerti jika ibu ingin melihat kami hidup bahagia, aku mengerti jika ibu tak mampu memberikan kami hidup layang sehingga ibu berani menanggung hidup ibu sendiri yang sangat kekurangan. Rasa rinduku telah terobati, aku sayang ibu, pengorbanan dan jasamu tak akan pernah aku lupakan.
Terimakasih tuhan, masih memberikanku kesempatan untuk bertemu dengan ibu, membuatku masih bisa memberikan baktiku kepadanya. Aku tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk memberikan kebahagiaan dan kehidupan yang layak yang tak pernah ibu rasakan. Untuk ayah yang tak tahu dimana keberadaannya, kau telah menyia-nyiakan wanita yang sangat berharga namun aku berterimakasih kau tak membawa kami dan meninggalkan kami pada wanita yang sangat mulia ini. Sekali lagi dan sekali lagi, kami sayang ibu sampai kapanpun tak lekang oleh waktu.
Tamat........