Alex hanyalah anak kecil yang suka sekali bermain didepan rumahnya, setiap ada kesempatan dia selalu keluar rumah dan bermain, entah itu bermain sendiri atau bermain bersama tetangganya.
Hari itu sangat cerah, hari yang sangat baik untuk Alex bermain. Saat itu Alex bermain layang layang seorang diri. Lalu layang layang itu masuk di sebuah rumah.
Alex mencoba mengambil layang layang itu, dan ternyata rumah itu sudah ada penghununya, sudah cukup lama rumah itu kosong.
"Permisi, permisi. Alex mau abil layang layang. Permisi"
Alex sedikit mengeraskan suaranya agar ada yang mendengar. Tak lama kemudian, seorang gadis kecil yang cantik keluar dari rumah itu. Alex kecil sangat terpesona melihatnya.
"Ada apa ya?" Jawab anak itu.
"Oh, itu. Alex mau ambil layang layang yang masuk ke rumahmu."
Gadis kecil itu mengambil layang layang Alex dan mengembalikannya.
"Terimakasih. Oh iya, nama kamu siapa?"
"Aku Tasya" Jawab gadis kecil itu
"Mau ikut bermain bersama? Alex mau bermain disana sama teman teman. Kamu mau ikut?"
Gadis itu melihat ke arah yang ditunjuk Sam, dan sepertinya Tasya tertarik untuk bermain.
"Sebentar yaa Alex, aku bilang mama dulu"
Tasya kembali masuk untuk meminta ijin mamanya, sedang Alex menunggu di depan. Tak lama Tasya kekuar dari rumahnya dan membuka pagar rumahnya.
"Aku sudah bilang mama. Ayo"
Mereka bermain bersama hati itu. Haripun berlanjut sampai mereka bersekolah ditempat yang sama, namun ketika SMP mereka beda sekolah.
Saat SMA pun tiba. Saat dimana para remaja sedang dimabuk cinta. Dan mereka berdua sama sama merasakan cinta.
Alex adalah kapten tim basket sekolah yang sangat ditakuti oleh sekolah lain saat Alex bermain atau bertanding. Sedang Tasya adalah ketua Osis juga murid teladan di sekolah itu, Tasya juga sangat pandai bermain basket tidak kalah dengan Alex. Satu sekolah sudah mengetahui tentang hubungan mereka berdua. Dan tidak ada hal yang lebih menghebohkan sekolah dibandingkan dengan pertengkaran antar Tasya dan Alex.
Meskipun mereka bersahabat, namun saat mereka bertengkar sekolah pun ikut dihebohkan. Masalahnya ketika mereka bertengkar selalu saja pertandingan basket solusinya. Siapa yang kalah dialah yang harus meminta maaf.
Hari itu, Tasya sedang kesal karena event yang seharusnya sudah mulai dipersiapkan, namun anggotanya tidak mempersiapkannya dengan baik.
Dan Alex mengetahui hal itu, bukannya menghibur, Alex malah menggoda Tasya sampai Tasya mengamuk
"Aleexx.. Ku hajar kamu yaa.. Sini kamu" Teriak Tasya.
Alex mengambil bola basket dan melemparkannya kepada Tasya. Lagi lagi satu sekolah heboh dengan mereka. Alex menunjukkan kebolehannya bermain basket sambil mengejek Tasya. Tasya tidak terima dengan perlakuan Alex dan membalas Alex dengang menunjukkan kebolehannya juga.
Teriakan penonton menambah suasana seru pertandingan itu. Dan kali ini Alex dikalahkan oleh Tasya.
"Jangan main main kamu sama aku. Aku ini setrees tahu kamu"
Tasya membanting bola basketnya dan meninggalkan Alex dengan kesalnya. Alex hanya tertawa melihat keimutan Tasya saat mengamuk.
Beberapa bulan setelahnya ketika Mereka sudah hampir lulus SMA. ketika malam datang Alex mengunjungi Tasya.
"Tasya.. Tasya.. Main yuk. Bosen nih"
Cara Alex memanggil Tasa seperti bocah umur lima tahun mengajak bermain tetangganya. Tak lama Tasya keluar dengan tawa kecil diwajahnya.
"Biasa aja dong manggilnya, selalu kayak anak keci. Sini masuk"
Alex dan Tasya bercerita apapun yang ada dikepala mereka, tak jarang juga mereka bercanda bersama. Alex melihat banyak sekali bintang dilangit malam ini.
"Tasya. Lihat deh bintangnya. Banyak yaa."
Tasya memandang ke langit dan takjub, tidak biasanya langit malam dipenuhi bintang.
"Eh.. iyaa.. banyak bangey lex"
Tasya dan Alex saling menatap. Dan kali ini tatapan itu tidak biasa, tatapan mereka seperti remaja yang dimabuk cinta.
"Tasya, aku mau ngomong, sevelumnya maaf aku baru cerita ini ke kamu."
Tasya melihat Alex dengan tatapan penasaran, tidak biasanya Alex tmenyembunyikan sesuatu dari Tasya, hal kecil apapun itu pasti Alex cerita pada Tasya.
"Kenapa lex"
Alex mencoba untuk tenang dan mengambil napas panjang.
"Bulan depan, setelah kita lulus, aku dikirim ke Australi sama papa untuk belajar bisnis, dan kita nggak akan bertemu untuk waktu yang cukup lama."
Tasya terdiam mendengar hal itu dari Alex dan tidak percaya bahwa Alex akan meninggalkannya sendiri. Tasya merasa tidak bisa apa apa tanpa Alex, dari kecil Alex selalu melindunginya dan mendukung apapun yang dilakukan Tasya. Malam itu Tasya menangis, dia tidak oercaya bahwa Alex akan meninggalkan Tasya
"Kenapa baru bilang? Terus aku harus apa lex kalau nggak ada kamu? Aku nggak bisa apa apa. Tolong jangan pergi, aku butuh kamu"
Tasya menangis malam itu dan Alex memeluknya, hatinya sakit melihat Tasya menangis seperti itu. Alex memeluk Tasya sampai Tasya tenang sambil menepuk pundaknya.
"Kamu bisa Tasya, kamu mudah bergaul, kamu pintar, dan pasti kamu punya banyak teman dengan atau tanpa aku"
Alex meyakinkan Tasya dengan memegang kedua bahu Tasya.
"Kamu kihat bintang itu setiap kali kamu kangen sama aku, atau mungkin aku susah untuk dihubungi. Kamu lihat bintang itu. Bintang yang ajaib itu akan menjawab semua rasa kangenmu ke aku. Dan aku juga akan lihat bintang itu kalau lagi kangen sama kamu"
Sangat berat untuk mereka berdua saling berpisah. Hingga saat itu datang. Tasya ikut mengantar Alex bersama kedua orangtua Alex. Sesampainya dibandara Alex berpamitan dengan orang tuanya dan memeluk Tasya.
"Jangan nangis Tas, jelek banget kamu kalo nangis. Nanti kalo aku udah pulang, aku pasti kabarin. Jangan sampai aku tahu kamu pacaran sama laki laki lain. Jangan main gila kamu dibelakangku."
Alex mengungkapkan perasaannya dengan cara yang berbeda yang membuat Tasya tertawa dan berhenti menangis.
"Iyaa, aku nggak akan pacaran sama laki laki lain, aku tunggu kamu pulang"
Alex kembali memeluk Tasya dan orang tuanya. Lalu menyerahkan tiket pesawat dan masuk.
Tahun berganti tahun. Tasya menepati janjinya untuk tidak menjalin hubungan dengan laki laki manapun. Ketika Tasya sedang berada di kampus, ada seorang laki laki yang sangat menyukai Tasya dan memaksanya menjadi pacarnya.
"Tasya, kasi aku kesempatan, jangan terus menunggu yang tidak pasti. Aku bisa kasi kamu kebahagiaan asal kamu sama aku."
Tasya berusaha menghidar dari temannya yang memaksanya menjadi pacarnya, namun kedua tangan Tasya ditahan dan Tasya tidak bisa bergerak. Alex yang baru saja pulang turun dari mobil untuk memberi kejutan pada Tasya melihat kejadian itu dan Alex sangat marah
Alex mendatangi Tasya dan laki laki itu dan mendoring laki laki dan melindungi Tasya.
"Jangan sekali kali kamu dekati Tasya lagi. Tasya itu pacarku, dia milikku"
Alex memeluk Tasya didepan laki laki itu. Tasya terkejut dengan apa yang dilihatnya. Seperti mimpi rasanya.
"Alex, ini kamu kan? Kamu pulang? Kenapa nggak bilang aku?"
Tasya memeluk Alex saat itu karena terlalu senang.
Hari itu Tasya dan Alex kembali bersatu, namun bukan sebagai sahabat melainkan sebagai sepasang kekasih yang saling mencintai.
~TAMAT~