"Di malam pernikahan mantan pacar, aku hamil"
"Ugh."
Kupikir aku sedang gak enak badan saja, karna setiap hari bawaannya selalu lelah, ngantuk, pusing dan juga kadang mual.
Sudah ku kasih obat maag namun tak ada reaksi apa pun, dan semakin hari keluhanku semakin parah. Bahkan aku kadang tanpa sadar tertidur ditempat kerja ku.
"Ya Ampun entah kenapa rasanya neg banget dan gak bisa makan nasi, kenapa keluhanku begitu parah ya." kusandarkan kepalaku disandara kursi untuk mengusir dan meringankan rasa lelah ku.
"Emang kenapa Ta? Kok belakangan ini kamu kelihatan lesu banget?" Sandra mendekati ku dan bertanya tentang keadaan ku yang belakangan jadi tak begitu bisa fokus dalam bekerja.
"Entahlah San, rasanya tubuh ku seolah tak bertenaga. Dan jika bekerja keras sedikit langsung capek banget rasanya, dan juga tak bertenaga dan tak ada selera makan nasi."
Keluhku pada teman kerja ku sandra, yang begitu baik dan perhatian sama aku sejak dari aku masuk kerja di rumah sakit ini.
"Hah? Kayak keluhan orang hamil kamu, karna waktu aku hamil dulu juga begitu keluhannya, tak bisa makan nasi dan mudah sekali lelah."
Jelas sandra padaku, yang membuat aku kepikiran dan jadi ingat kalo bulan ini aku belum dapat.
Aku terdiam dan mencobak mengingat - ingat kejadian yang aku lakukan dengan mas dimas, dan seingat ku kami melakukan hubungan hanya sekali dan itu pun karna kami mabuk.
Sesampainya di rumah aku langsung melihat kalender, dan ternyata bulan ini sudah lewat 31 hari.
Dengan hati yang bergetar aku melakukan tes urin dengan tes kehamilan yang sudah aku sambil di rumah sakit saat aku pulang kerja tadi.
"Hah?! Garis dua, artinya aku hamil?"
Ku tatap lekat alat mendeteksi kehamilan itu dengan sangat lama.
"Jadi aku benar - benar hamil." aku tersenyum kecut dengan keadaanku saat ini.
Aku mencobak menenangkan diri sendiri, karna aku telah menerima kesalahan yang kami perbuat saat kami mabuk, dan besok mas dimas akan menikah dengan anak pemilik rumah sakit tempat kami bekerja. Karna mereka berdua dijodohkan oleh kakek mereka yang bersahabat.
Brrrt brrt
Panggilan masuk dari mas dimas yang membuat aku bingung harus berbuat apa, haruskah aku cerita ataukah aku diam saja.
"Halo mas ada apa?" aku menjawab dengan sedikit rasa berat dihatiku
"Halo Ta, bisakah kita bertemu sebentar karna tadi aku lihat kamu lesu banget saat di rumah sakit." ajaknya dan langsung aku iyakan.
Disebuah restoran dekat dengan rumah kontrakan ku kami bertemu dan berbincang, sampai pada intinya aku pun menceritakan padanya apa yang telah ku alami.
"Kamu kenapa Ta? Katakan apa yang membuat mu merasa tak enak?" bujuk mas dimas padaku yang masih merasa ragu untuk cerita.
"Mas, sebenarnya aku.. Aku hamil mas." ucapku akhirnya dengan membulatkan tekad.
"Apa!? Apa kamu gila Ta? Bagaimana mungkin bisa, kita melakukannya hanya sekali dan itu pun kita tak sadarkan diri." jawabnya dengan sangat terkejud.
"Jadi maksud mas Dimas itu tak benar? Tapi aku beneran sedang hamil mas." aku berusaha menegaskannya.
"Tidak mungkin dalam sekali melakukan bisa langsung jadi Ta, kita adalah orang medis dan kita tau persis bagaimana peroses dari semua itu. Jadi tidak mungkin kalo itu anak ku, bisa saja kamu juga melakukannya dengan orang lain yang kamu tak menyadarinya."
Jelas mas dimas panjang lebar yang ku tangkap intinya dia tak mau mengakui kalo anak yang ku kandung adalah anaknya dan darah dagingnya.
"Maaf Ta, pertemuan itu kita lakukan dengan semua orang, bisa saja kamu juga melakukannya dengan orang lain selain dengan ku. Dan besok aku sudah menikah, aku gak mau semuanya ada masalah, sebenarnya aku datang untuk menenangkan kamu dan memintak maaf atas segalanya" jelasnya sambil menyodorkan selembar cek dengan nominal 10 juta.
Mendengar itu aku bagai disambar petir, orang yang kuncintai dan ku pacarai selama 3 tahun dan orang yang sangat aku percaya justru telah meragukan ku dan membayarku atas semua waktu 3 tahun yang ku habiskan dengannya.
"Kalo begitu terima kasih ya mas, dan maaf aku gak akan ganggu mas Dimas lagi, semoga pernikahan mas besok berjalan lancar. Selamat tinggal."
Aku bangkit dan meninggalkan mas dimas di restoran itu, tanpa menoleh lagi kebelakang, karna hatiku telah sangat sakit dengan perkataan mas dimas pada ku.
Ke esokan paginya aku telah menulis dan menyerahkan surat pengunduran diriku dari rumah sakit, karna aku akan keluar dari rumah sakit dan tak ingin bertemu lagi dengan mas dimas yang ternyata menolak anak ku dan bukan orang yang baik untuk ku.
Aku memutuskan untuk pergi keluar kota dan mengabdikan diri di desa pelosok, namun sebelum aku berangkat aku mendatangi acara pernikahan mas dimas yang kulihat dari jauh dia tersenyum bahagis bersama dengan pempelai wanita disampingnya.
Aku memasukkan amplop yang berisikan cek pemberiannya kemaren, setelah itu aku pergi dan tanpa menulis nama.
"Kamu akan menyesal nanti mas, dan aku tak akan mau memberikan anak ku untukmu. Saat kau tak mau menerimanya maka kamu telah tiada bagi kami."
"Kamu akan merasakan bagaimana rasanya menginginkan sesuatu namun kamu tak bisa memilikinya."
"Kesedihan terdalam adalah saat anak mu tak menginginkan mu, dan mereka bisa berdiri serta bahagian tanpa dirimu. Pada saat itu tiba, maka penyesalanmu tak ada arti bagi kami."
Aku menyumpai mas dimas atas apa yang telah dia berikan dan lakukan pada ku, sebelum aku pergi meninggalkan pesta pernikahan yang megah itu dan langsung berangkat ke kota Lombok.
﹏﹏﹏
6 tahun telah berlalu
Berkah yang ku dapat begitu besar, dengan keputusan ku untuk membesarkan menjaga kandunganku aku pun diberikan 2 jagoan yang sangat lincah dan pintar.
Bara Pratama dan Bagas Pratama dua jagoanku yang sangat cerewet dan juga lebih dewasa dari pada usianya. Mereka adalah penguat dan penyemangat dalam hidupku.
"Ibu Anita akan ada tugas untuk dinas luar selama 1 bulan di kota Jakarta dan kami semua berharap ibulah yang mau berangkat ke sana sebagai perwakilan dari tempat kami." ucap bu Amber kepala rumah sakit tempatku bekerja di kota lombok.
Dan dengan berat hati aku pun berangkat ke Jakarta, sebagai perwakilan dari rumah sakitku. Karna sekarang aku adalah dokter anak, sejak aku meninggalkan Jakarta aku telah menyelesaikan kulia kedokteranku dan aku lanjut mengambil sepesialis anak.
Anita aku tak menyangka kalo kamu telah menjadi wanita yang hebat sekarang, kamu sungguh luar biasa. Dan ini para jagoan yang kamu ceritakan padaku? Mereka sangat luar biasa tampan dan juga sangat lucu." Sandra berkata dan bertanya tanpa henti pada ku yang baru saja sampai dan langsung ke rumahnya.
"Ya, mereka adalah Bara dan Bagas." jawabku sambil tersenyum.
"Tunggu, jika kamu tak menikah lalu mereka ini?" Sandra berkata dengan ragu.
"Ya, mereka anak mas Dimas. Tapi karna kehadiran mereka tak diinginkan dan ditolak maka mereka telah menjadi anak ku saja." jawabku dengan kesal kalau ingat waktu itu.
"Apa kau tau Dimas sekarang..."
"Aku tak perlu tau, karna aku telah mempunyai kehidupanku sendiri." jawabku memotong kalimat sandra temanku.
"Ceritakan tentangmu saja." tanyaku mengalihkan pembicaraan.
"Aku adalah janda, suamiku dan putriku meninggal dalam sebuah kecelakaan." jawab Sandra terlihat sedih.
"Maafkan aku, aku tak bermaksud membuatmu sedih." ku peluk Sandra dengan erat.
"Kenapa momi dan tante menangis?" tanya Bara yang melihat kami menangis
"Bara kau ini, tentu saja karna mereka saling terharu sudah lama gak ketemu." jawab Bagas.
"Sayang mau kah kalian menjdi anak angkatku?" tanya Sandra pada kedua putraku.
"Tentu saja, kami harus panggil apa?" tanya Bagas polos
"Bagas kita panggil Bunda saja." saran bara pada bagas, dan mereka pun memeluk Sandra dengan mesrah.
Hal yang harus ketemu tetap akan bertemu walau bagaimana pun aku menghindarinya, dan setelah 3 bulan aku di Jakarta akhirnya aku bertemu dengan mas dimas di sebuah mol saat aku, sandra dan kedua jagoanku sedang asyik main di timezoon.
"Anita? Ternyata benar kamu Anita. Apa kamu baik? Kenapa waktu itu kamu mengundurkan diri dari rumah sakit? Dan sedang apa kamu duduk di sini sendirian?" mas dimas bertanya banyak pada ku saat dia melihat alu sedang duduk disebuah kursi taman kecil didalam area timezoon.
"Ah, hallo tuan, maaf saya tak ada urusan dengan tuan, saya permisi dulu." jawabku dan langsung bangkit melangkah meninggalkan dia.
"Hey, siapa kamu!? Kenapa mengganggu momiku.?!" teriak bara yang melihat mas dimas mencekal tanganku dan dengan paksa menghentikan aku.
"Eh, siapa anak ini?" tanya mas dimas padaku.
"Apakah dia anak yang waktu itu?" sambunhnya lagi.
"Maaf kami harus pergi." aku menepis tangan mas dimas dan meninggalkan dia.
Setelah kejadian itu mas dimas hampir setiap hari menemui aku dan sudah 1 minggu dia terus datang menemui aku ke puskesmas tempatku bertugas.
Entah apa yang direncanakan oleh mas dimas dengan datang menemui aku setiap hari, karna dia hanya datang mengantarkan makanan lalu pergi.
"Momi...!" teriak Bagas yang datang menemui aku di puskesmas.
"Dimana kakakmu kenapa sendirian, kesini sama siapa?" tanyaku yang langsung menggendongnya.
"Bara masih beli makan di kantin sama bunda, dan aku ke sini tanya sama orang - orang, terus om itu yang mengantar ku." tunjuk bagas pada mas dimas yang sudah berdiri didepan pintu ruanganku.
"Tuan Dimas? Kenapa Tuan Dimas ke sini lagi. Bukankah aku sudah bilang jangan temui aku lagi karna kita tak ada hubungan yang dekat." ketusku pada maa dimas.
"Tidak apa, setidaknya usahaku tak sia - sia." ucap mas dimas dan langsung pergi setelah meletakkan makanan yang dia bawah untuk ku.
"Wah tak terasa ya Ta kamu uda selesai dan mau pergi lagi, tidakkah kamu ingin tinggal di sini saja?" Sandra mulai merengek pada ku saat aku uda mau pergi meninggalkan Jakarta lagi.
"San terima kasih atas semuanya, dan tolong jangan beritau siapa pun aku tinggal dimana." aku berpesan pada Sandra dan melanjutkan perjalananku bersama dengan jagoanku.
Brrrt
Saat aku baru saja sampai tiba - tiba teleponku bergetar dan itu adalah nomor Sandra.
"Halo San ada apa?"
"Anita, dimana kau sekarang? Kenapa kau pergi membawah anak ku, katakan dimana kau!?" teriak mas dimas dari balik telpon.
"Anak? Apa mas Dimas lupa, 6 tahun yang lalu bukankah mas Dimas sendiri yang bilang kalo aku melakukan hubungan dengan banyak orang dan bukan hanya mas Dimas saja? Lalu anak yang aku kandung bukanlah anak mas Dimas." jelasku panjang lebar mengingatkan.
"Tapi dari hasil tes DNA dia adalah anak ku Ta, darah daging ku." ucapnya lagi padaku dan itu membuatku terkejud, ternyata selama ini dia datang hanya untuk mengambil kesempatan untuk mengambil sampel buat tes DNA.
"Maaf semua tak ada artinya bagi ku, tolong jika memang anda memiliki hati nurani jangan ganggu dan jangan hancurkan kebahagian ku untuk yang kedua kalinya." tut ku akhiri panggilan telpon itu.
Setelah itu, entah bagaimana caranya mas dimas dapat menemukan aku, dia mencarik dan mendatangiku karna ingin bertemu dengan ananknya.
"Apa yang mas Dimas lakukan?!" teriak ku saat dia mau mengambil bagas dari ku.
"Dia adalah anak ku Ta?!" teriaknya di depanku.
"Anak? Tidak.! Dia anak ku." teriakku balik.
"Kita selesaikan dipengadilan." jawabnya dan meninggalkan aku.
Melihat itu bagas pun memelukku dan berjanji tidak akan meninggalkan aku. Dan malam harinya aku menceritakan kisah mereka ada dan sampai ke dunia ini pada kedua putraku.
"Jadi papa datang dan membuat momi menangis saat aku sedang tak ada di rumah tadi pagi?" tanya bara menghapus air mataku.
Ke esokan paginya aku dipanggil kepengadilan agama, di sana sudah ada mas Dimas dan juga keluarganya. Dalam pengadilan itu hak asuh ingin diambil alih oleh mas Dimas dan keluarganya.
"Emang anda mau mengambil siapa tuan. Aku?" tanya bara masuk kedalam ruang sidang.
"Atau aku?" Bagas juga masuk setelah bara masuk.
Bara dan Bagas datang bersama dengan sandra masuk kedalam ruang sedang dan mulai mengacaukan pikiran mas Dimas.
"Apa? Jadi mereka kembar?" mas dimas terkejud saat melihat kedua anak ku berjalan berdampingan.
"Jadi tuan Dimas tidak tau kalau anak tuan Dimas kembar? Lalu selama ini tuan ada dimana?" hakim bertanya pada mas dimas dan tak bisa dijawab.
"Aku gak mau ikut dia, dia bukan orang tua ku." ucap bagas dan memelukku.
"Iya, dia yang dulu tak menginginkan ku. Bagaimana dia bisa jadi papa ku, dia orang jahat aku gak mau ikut." teriak bara melengking di ruang sidang.
Dan setelah melihat dan mengoreksi akhirnya hak asuh bara dan bagas masih berada ditanganku.
"Mas Dimas boleh memiliki segalanya, bahkan bisa memiliki anak dari wanita lain. Namun aku yakin dalam hati terdalam mas pasti menyesal dan sedih karna anak dan darah daging mas tak mau mengakui mas sebagai ayahnya." cibirku saat aku mau keluar pengadilan dengan kedua jagoan ku yang hebat.
"Oh iya, kami tetap bisa bahagia walau tanpa kehadiran mas Dimas disisi kami. Aku juga bersyukur dulu aku memilih untuk melahirkan mereka, dan sekarang anak - anak ku adalah para jagoan yang hebat." sambung cibiranku dan langsung pergi melewati dia.
"Anita tolong maafkan aku, aku benar - benar menyesal Ta. Aku tak bisa lagi memiliki anak karna aku telah cacat dan anak ku dengan Niken bukanlah anak kandung ku." jelas mas dimas padaku, namun hatiku sudah terlanjur sakit saat dia menolak kehamilanku dulu.
"Maaf itu bukan urusan ku lagi." aku menepis tangannya dan langsung masuk kedalam taxi.
"Maafkan aku, aku memilih untuk balas dendam padamu dengan menjauhkan anak - anak dari mu." aku bergumam dalam hati.