Di malam pernikahan mantan pacar, aku hamil...
Aku pikir kebodohan ini tidak akan membawa anugerah yang besar seperti ini. Ku elus lembut perutku yang masih datar dengan seulas senyum bahagia, aku akan mempertahankannya apapun keadaannya.
"Kuat ya didalam perut Ibu. Kita berjuang bersama, meskipun tanpa Ayah. Biarkan Ayah bersama yang lainnya, kita mencari kebahagiaan kita sendiri."
*****
Malam ini adalah malam pesta pernikahan mantan pacarku. Laki-laki yang memilih memberikan baktinya kepada orangtuanya dengan menikahi perempuan pilihan orangtuanya. Ya, aku membiarkannya. Gila bukan? Bagaimana bisa aku memaksanya untuk tetap bersama, jika surganya ada dibawah Ibunya dan kali ini aku berjalan anggun menuju pelaminannya bersama perempuan lain dengan senyum mengembang tanpa kesedihan.
"Selamat Tante dan Om. Semoga pernikahan Ardi membawa kebahagian untuk Tante dan Om." Ucapku memberikan selamat kepada orangtua mantan kekasihku.
"Terima kasih." Balas Orangtua Ardi dengan wajah tak enak sungkan kepadamu. Kuberikan seulas senyum untuk mereka.
Ku lanjutkan langkahku menuju kedua pengantin, yang sejak tadi juga memperhatikanku. Ku sunggingkan senyuman kepada mereka berdua.
"Selamat ya. Bahagialah, aku akan ikut bahagia."
"Bi.." Ardi memanggil namaku dengan nada bergetar, ku balas dengan gelengan dan senyuman menenangkan untuknya lalu ku langkahkan kakiku menuju kedua orangtua mempelai wanita yang juga sama kuberikan selamat.
Tugasku selesai malam ini, aku keluar dari gedung pernikahan ini dengan anggun tanpa memperhatikan orang-orang yang menatapku aneh atau kasihan, entahlah. Mungkin mereka sedang berpikir kenapa aku tidak berbuat onar dipesta pernikahan mantan pacaraku. Pikirku konyol.
Sesekali kuusap perut datarku sambil berbisik dalam hati "Sehat ya, Nak. Nanti kita bertemu lagi dengan Ayah lain waktu, jika kita berjodoh."
Malam ini juga aku akan berpindah ke Kota lain menata kehidupan baru bersama calon buah hatiku dan Ardi. Aku tidak memeberitahukan keberadaannya kepada Ardi. Belum, belum saatnya.
Jika takdir menuntun biarlah kami dipertemukan kembali dengan keadaan yang lebih baik dan penerimaan yang baik dari pihak manapun. Aku akan mendidik dia menjadi laki-laki yang penuh bakti seperti Ayahnya.
"Kamu adalah Semesta milik Ibu dan Ayah."
*****
"Ibu... Ibu... Ibu.... Mas Semesta pulang."
"Iya sayang, Ibu di dapur." Ku lihat anak usia 5 tahun berlari menghampiriku yang sedang membuatkannya makan siang. Anak laki-laki hebat yang aku beri nama SEMESTA ABIAN. Laki-laki mungil yang menemani hari-hariku dengan celoteh riangnya. Hari ini dia genap berusia 5 tahun.
"Ups.. ups. Calm down, boy!" Pintaku karena dia memelukku erat. "Ibu sedang memasak makanan favorite kamu. How's school? ok?"
"Sorry, Ibu." Jawabnya "Tadi disekolah Mas Semeata belajar alat musik, Bu. Mas Semesta pilih drum, biar keliatan keren." Ceritanya bersemangat
"Kenapa mau terlihat keren?" Tanyaku menanggapi ceritanya
"Supaya seperti Ayah. Kata Ibu, Ayah sangat jago bermain musik. Tapi tidak bisa bermain drum. Jadi, besok kalau Mas Semesta bertemu dengan Ayah kita bisa main musik bareng, biar lengkap. Ibu yang nyanyi ya."
Semesta selalu menggebu-gebu dan sangat semangat ketika menceritakan Ayahnya. Ya, aku tidak sekalipun menutupi siapa Ayahnya. Dia berhak tahu, meskipun Ayahnya belum juga mengetahui keberadaannya. Aku ingin dia mengenal Ayahnya, betapa berbaktinya Ayahnya kepada orangtuanya, akupun menceritakan kenapa Ayahnya tak bisa bersama dengannya. Satu hal yang kadang membuatku sedih tetapi juga bahagia, Semesta jauh lebih dewasa dan penuh pengertian.
"Duhhhh.. Hebatnya anak Ibu. Kita berdoa ya, semoga bisa bertemu dengan Ayah dalam keadaan sehat dan baik.
Selamat ulang tahun juga untuk Mas Semesta, semoga harapan Mas Semesta Tuhan kabulkan. Ibu sayang Mas Semesta."
"Amin. Amin. Amin. Mas Semesta juga sayang Ibu sebesar semesta. hehe. Terima kasih Ibu." Ucapnya sambil memelukku. Ku balas erat pelukannya seraya menciumi pucuk kepalanya dengan lantunan doa yang kupanjatkan kepada Tuhan untuk hiduonya yang lebih baik di hari depan.
Mas Adri, Semesta milik kita sudah 5 tahun dan harapanku untuk bisa bertemu denganmu masih tetap sama seperti dulu. Semoga takdir mempertemukan kita. Batinku.
"Hari ini apakah ulangtahun Mas Semesta juga dirayakan di Panti Asuhan, Ibu?" tanyanya seraya melepaskan pelukannya.
"Rencananya begitu. Mas Semesta maunya bagaimana?" aku selalu mengajaknya untuk mengambil keputusan dalam hal apapun yang menyangkut dengan kepentingannya, berharao dewasa nanti dia terbiasa mengambil keputusan secara bijak.
"Yes! Setuju, Ibu. Tapi, Mas Semesta boleh minta belikan kado dulu?"
"Ah iya, Ibu terlupa. Kado untuk Lila ya?"
"Iya, Ibu. Lila kan juga berulangtahun."Jawabnya tersenyum diiringi dengan semburat merah dipipinya. Lila adalah anak perempuan cantik di Panti Asuhan berumur 4tahun yang menjadi teman Semesta ketika kita berkunjung ke Panti Asuhan tersebut.
"Ok. Kalau gitu Mas Semesta sekarang ganti baju siap-siap. Terus kita berangkat ke Panti, nanti mampir dulu beli kado untuk Lila."
"Yes, Ibu." Ucapnya sambil lari, aku hanya geleng-geleng kepala melihatnya begitu bersemangat.
*****
Tiba di Panti Asuhan kami disambut hangat oleh pengurus dan anak-anak penghuni Panti Asuhan. Aku mengetahui Panti Asuhan ini sudah sangat lama semenjak aku kecil. Dulu orangtuaku sewaktu masih hidup sering mengajakku kesini sekedar untuk berbagi sedikit dari yang kami miliki. Panti Asuhan inilah yang pertama kali kupikirkan, ketika memutuskan untuk memulai hiduo baru bersama dengan Semesta.
"Bagaimana kabarnya Bu Rani? Semuanya sehat?" Sapaku kepada pengurus Panti.
"Sehat semuanya Mbak Abi. Persiapan untuk acara Semesta juga sudah beres, anak-anak sudah berkumpul. Kita bisa langsung ke sana. Mari."
Ku lihat Semesta sudah berkumpul dengan teman-temannya, dan tidak ketinggalan dia selalu menggandeng Lila. Anak itu, sama persis seperti Ayahnya.
Acara ulangtahun berjalan dengan lancar, seperti biasa hanya perayaan kecil dan syukuran sebagai ucapan syukur pertambahan usia Semesta dan pertumbuhannya yang begitu luar biasa. Setiap ulangtahun Semesta tak ingin berdiri sendiri meniup lilin ulangtahunnya, harus bersama dengan Lila. Sepertinya dia memiliki perhatian khusus untuk Lila.
Di sudut ruang yang lain di lokasi yang sama..
"Terima kasih Pak Adri untuk donasinya selama ini. Apa yang Pak Adri berikan sangat membantu keperluan anak-anak.
"Sama-sama, Bu Rani. Semoga menjadi berkat untuk kita semua."
"Bapak mau melihat anak-anak? kebetulan hari ini ada perayaan ulangtahun."
"Oh ya? Anak panti yang berulangtahun, Bu Rani?"
"Bisa dikatakan seperti itu, ada dua anak yang ulangtahun. Yang satu salah satu putera donatur tetap disini dan satunya penghuni Panti. Tapi kedua anak itu dekat. Mari saya tunjukkan Pak, untuk berkenalan dengan anak-anak."
Bu Rani dan Adri berjalan dengan ditemani cerita-cerita dari Bu Rani mengenai anak yang hari ini sednag berulangtahun dan berbagai kegiatan yang ada di Panti. Dari banyaknya cerita itu, Adri merasakan sebuah kehangatan ketika nama Semesta terdengar oleh pendengarannya.
*****
ARDI SIDE
"Kids, attentions please!" Pinta Bu Rani kepada anak-anak yang masih asyik bermain. Mendengar permintaan Bu Rani, semua anak-anak terdiam dan langsung duduk anteng di karpet bekas acara ulangtahun Semesta dan Lila.
Aku memperhatikan sekitar ruangan yamg cukuo luas ini dengan senyum yang tak pernah luntur, entah akupun tak tahu kenapa, apalagi ketika aku melihat kue tart yang bentuk tulisannya terasa tak asing dipenglihatanku. Kerinduan yang sudah lama aku tahan semakin menyeruak dengan melihat tulisan itu.
Bi.. kamu dimana sayang? Batinku bekecamuk tiap kali merindukannya, perempuan pertama dan cinta pertamaku.
"Anak-anak, perkenalakan ini Pak Adri salah satu donatur yang membantu kita di Panti Asuhan. Berikan salam perkenalan dan terima kasih anak-anak"
"Halo Om... salam kenal, terima kasih sudah membantu kami." ucap anak-anak serempak dengan kompak.
"Sama-sama. Siapa yang hari ini ulangtahun?" tanyaku menanggapi anak-anak.
"Lila dan Mas Semesta, Ommmm.." Lagi-lagi mereka menjawab dengan serempak.
"Ok, yang namanya Lila dan Mas Semesta ayok maju. Om ada hadiah nih." menyebutkan nama Semesta membuat hatiku berbunga dan menghangat dalam waktu bersamaan. Perasaan apa ini. Ku lihat kini anak perempuan cantik demgan rambut panjang gelombangnya berhiaskan bandu berpita maju kedepan dengan malu-malu.
"Nama kamu Lila?" tanyaku dengan mensejajarkan tinggiku dengannya, dia mengangguk dengan malu. Cantiknya anak ini. "Lalu mana yang namanya Mas Semesta?" tanyaku lagi.
"Mas Semesta sedang ke belakang mengantar Ibu Abi, Om." jawab Lila
Deg.
Apa ini? hatiku rasanya bahagia sekali, jantungku berdetak kencang mendengar nama itu. Iramanya bahkan bertalu-talu.
"Ok. Kalau gitu..." ku tolehkan pandanganku ke arah pintu ketika mendengar seseorang membuka pintu ruangan tempat kami berkumpul. Tatapanku terpaku begitupun dengan anak kecil bernama Semesta.
"Itu Mas Semesta." Jawab Lila yang kemudian berlari mengahampiri Semesta dan menariknya kedepan tepat berda disampingku. Mataku dan matanya tak pernah berpindah, kulihat dia bekaca-kaca. Aku tak mengerti kenapa. "Mas Semesta, ini Om Ardi mau kasih kita hadiah karena kita ulangtahun." Lila menjelaskan kepada Semesta. "Iya kan, Om?"
"Oh, Iya. Lila mau apa?" responku yang kemudian memutuskan kontak mata dengan Semesta, rasanya aku ingin mendekap anak ini.
"Lila mau punya boneka bear, Om untuk main sama teman-teman. Soalnya boneka bear Lila sudah robek." Pintanya penuh harap.
"Ok, nanti om kirimkan."
"Yey, terima kasih Om Ardi." Ucapnya seraya memelukku. Ku balas pelukan erat Lila dan memberikan elusan dipunggungnga.
"Sekarang Mas Semesta mau hadiah apa dari Om?"
tanyaku balik kepada Semesta, tapi apa yang ku dapat. Anak ini justru memelukku begitu erat dan menangis tersedu-sedu dipundakku. Rasanya menenangkan ketika anak ini memelukku. "Semesta rindu Ayah." Ucapnya lirih diiringi isak tangis kecilnya. Kuelus-elus kepalanya dengan sayang, tak terasa airmata ku juga menetes tanpa sebab, semakin kudekap erat Semesta dalam pelukanku.
"Mas Ar..di.."
******
Takdir bekerja dengan caranya sendiri, hari ini ditempat yang sama Ardi dan Abigaill bertemu setelah 6 tahun tak saling sapa.
"Hi.."
"Hi.."
Ucap keduanya bersamaan dan kemudian saling memberikan senyum. "Ladies first." Ucap Ardi
"Mas Ardi apa kabar?"
"Tidak sebaik ini sebelum bertemu denganmu. Tapi sepertinya aku terlambat dan kamu sudah bahagia sekarang. Memiliki Semesta."
"Ya, aku sangat bahagia 6 tahun ini. Bersama Semesta tentunya. Anak kecil yang dari pertama kali aku ketahui keberadaannya langsung membuatku jatuh cinta, melebihi ketika aku jatuh cinta kepada Ayahnya." kenang Abigail ketika pertama kali mengetahui dirinya hamil dan seulas senyum menawan menghiasi wajahnya. Sedangkan Ardi terlihat sedikit muram dan teremas hatinya mendengar cerita itu.
kamu masih saja menawan seperti dulu, Bi. Tapi, kamu bukan lagi milikku. Batin Ardi.
"Aku ikut bahagia mendengarnya. Kamu tahu, tidak seberuntung kamu. Satu bulan setelah pernikahan aku menggugat cerai perempuan pilihan orangtuaku." Abigail terlihat kaget mendengar itu.
"Bagaimana bisa?"
"Bisa saja, karena perempuan itu bukan kamu. Setidaknya aku sudah menjalankan baktiku sebagai anak untuk menikahi perempuan itu."
"Masih sama keras kepalanya." Ucap Abigail dengan disertai dengusan kecil.
"Siapa laki-laki beruntung yang memilki kamu dan Semesta?"
"Kamu." Jawab Abigail tegas dan serius. Seketika Adri terdiam mematung dan kilasan masa lalu saat keputusasaannya menghadapi keinginan orangtuanya dan Abigail yang memintanya untuk memberikan bakti kepada orangtuanya, malam panjang dan indah terlintas dalam pikirannya.
"Se.. mes.. taa.." Ardi merasa begitu kesulitan mengungkapkan apa yang ada dibenaknya, dia takut jika benar apa yang menjadi dugaannya, berati dia sudah membiarkan orang-orangnya terkasihnya berjuang tanpa dirinya. Air mata menetes deras, "Jadi, saat tadi semesta bilang merindukan Ayah.. dia.. Oh My God, Bigel." Ardi langsung membawa Abigail kedalam pelukannya dan menangis tersedu-sedu seperti anak kecil.
"Semesta milik kita, Mas." Bisikan lirih Abigail menambah volume air mata yang keluar dari mata Ardi.
******
"Mas Semesta bahagia, sekarang Ibu, Ayah dan Mas Semesta bisa tinggal bersama." Ucap Semesta kepada Ayah dan Ibunya diacara tidur malamnya. Ardi dan Abigail membalasnya dengan senyuman dan ciuman hangat di kening Semesta. "Semesta sayang Ayah dan Ibu." Dan memberikan ciuman dipipi kedua orangtuanya bergantian.
Setelah pertemuan mereka di Panti Asuhan saat itu, Ardi langsung memboyong Abigail dan Semesta ke hadapan orangtuanya dan meminta restu untuk menikahi Abigail. Ardi menjelaskan semua kronologi yang terjadi. Orangtuanya menangis meminta maaf kepada Abigail, sedangkan Ardi mendapatkan hadiah bogeman dari Ayahnya. Ayahnya merasa gagal mendidik Ardi dengan adanya kejadian ini, harusnya dari awal dia menjelaskan telah melakukan perbuatan lebih kepada perempuan sebelum menerima permintaan Ibunya.
Pernikahan diadakan seminggu setelah pertemuan dengan orangtuanya. Kini usia pernikahan mereka menginjak bulan kedua.
ABI SIDE
"Bi, terima kasih sudah bertahan dan memperjuangankan Semesta menjadi milik kita. Aku.." Suara Mas Ardi tersendat, aku paham apa yang dirasakan dua bulan pernikahan ini dia tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih kepadaku.
"Sttt.." kueratkan pelukanku kepadanya, kurapatkan wajahku ke dadanya. Saat ini kami sedang berada di kamar, berbincang sebelum tidur. "Maaf juga, karena aku tidak memberitahukan keberadaan Semesta lebih awal kepada Mas Ardi. Aku hanya ingin mas Ardi menjalankan bakti Mas Ardi kepada orangtua mas Ardi saat itu. Sekarang, untuk menebus itu. Aku mau mas Ardi tahu satu hal" Ucapku dengan melerai pelukan kami dan kemudian ku dekatkan bibirku ketelinga kanannya..
"Mas Ardi akan jadi Ayah lagi." Lihatlah, dia terbengong dan mendadak menjadi kaku tubuhnya.
"Terima kasih, Sayang. Terima Kasih." Ucapnya dengan memelukku erat dan menghujaniku dengan ciuman hangat. Priaku ini entah kenapa mudah sekali terharu saat kami kembali bersama. Kueratkan pelukannya.
Takdir membawa kami kepada semesta yang kami miliki.