"Aku harap kamu mau ya terima dia," Bianca memohon.
Sebenarnya bukan pilihan sulit, ini hanya soal terima atau tidak.
"Aku tidak tahu, dan aku tidak mengenal dia dengan baik," ucapku.
"Ayolah El, aku jamin dia orangnya baik banget. Aku bisa jamin deh, terima ya please! Dia lagi cari cewek, kasihan sih udah jomblo dua tahun terakhir ini," Bianca masih saja memohon.
Elsa hanya bisa menghela nafas, dengan segala pertimbangan dia menyetujuinya. Padahal sebenarnya, Elsa belum bisa mempercayai seorang laki-laki.
Entahlah kepercayaan itu seketika hilang, setelah dia pernah melihat orang yang dia sayangi patah hati.
Bianca yang merupakan teman sekelasnya menjadi Mak comblang antara dirinya dengan seorang teman Bianca.
***
Setelah Elsa mengetahui siapa orang yang di comblang kan dengannya, dia berusaha untuk menerimanya.
Lelaki itu bernama Aditya, Bianca mengenal Aditya karena mereka satu komunitas pecinta moge.
Emang dasarnya Bianca tomboy, dia lebih banyak bergaul dengan anak laki-laki. Dan kebanyakan dari temannya di dominasi oleh laki-laki.
"Bagaimana El, dia udah hubungi kamu kan?"
"Udah Bi, tapi aku belum tahu betul seperti apa bentuk orangnya. Maksudku ...,"
"Hahaha, iya aku paham El. Besok kan gak ada jadwal kuliah, gimana kalau kita ajak dia ketemuan!"
"Tapi, masa sih cewek yang ngajak duluan."
"Tenang aja El, aku bakalan temani kamu. Ya sekalian aja mumpung dia lagi libur kerja dan kuliah juga."
"Memangnya dia kerja di mana?" tanya Elsa.
"Dia sih cuman bantu-bantu orang tuanya yang kerja jadi karyawan di sebuah perusahaan, yang aku tahu sih dia bantu orang tuanya saat jadwal kuliahnya gak padat."
"Oh begitu," Elsa seketika kagum pada sosok Aditya.
"Jadi besok gimana?"
"Oke deh, besok aku hubungi kamu ya kalau sudah siap."
"Oke, beres."
***
Elsa merasa harinya berbeda, entahlah mendadak menjadi berbunga-bunga.
"El, kamu kok senyam-senyum sendiri. Kamu gak sakit kan?" tanya Susi yang tak lain adalah Tantenya Elsa.
"Elsa sehat kok Tan, memangnya kenapa?"
"Gak apa-apa sih, cuman kamu kok rasanya beda aja dari kemarin."
"Ah Tante, aku ini sama saja seperti Elsa biasanya. Tidak ada yang berubah dari aku."
"Haha iya, Tante paham kok. Tante juga pernah muda," ucapnya sambil tersenyum dan pergi meninggalkan Elsa.
Keesokan harinya, Elsa sudah bersiap untuk pergi. Dia menggunakan kaos simple di padu padankan dengan celana jeans, rambut di kucir dan polesan make up yang natural namun terlihat fresh.
"Tante, Elsa pamit dulu ya mau ke rumah teman. Ada tugas kuliah yang harus dikerjakan."
"Iya, hati-hati! Jangan pulang kesorean!"
"Siap Tante, El pamit dulu."
Elsa kali ini memilih mengendarai motor, meskipun sebenarnya dia mempunyai mobil sport pribadi. Namun ia tidak mau memakainya untuk sehari-hari, ia berasal dari keluarga berada.
Perusahaan milik orang tuanya kini di pegang sementara oleh Susi, sebelum nantinya Elsa sendiri yang mengambil alih.
Orang tuanya meninggal sekitar satu tahun yang lalu, jadi saat ini dia tinggal bersama Tantenya. Tidak ada lagi keluarga yang dia punya selain Tante Susi, Tante Susi lebih memilih menjaga Elsa daripada harus menikah lagi.
Dua tahun yang lalu dia baru saja bercerai dengan suaminya, karena kedapatan selingkuh. Ia merasa masih trauma untuk menerima seorang laki-laki dalam hidupnya.
Tidak lama, Elsa pun sampai di tempat tujuan. Di sebuah Cafe di mana ia dan Bianca janjian, di parkiran sudah banyak terparkir moge. Itu artinya, teman-teman Bianca sudah pada datang.
Elsa masuk ke dalam Cafe itu, dari arah dalam Bianca melambaikan tangannya.
"El!"
Elsa pun menghampiri ke sumber suara yang memanggilnya.
"Ayo sini! Oke guys, kenalin ini teman gue namanya Elsa."
Elsa pun bersalaman dengan semua teman Bianca, termasuk Aditya yang sudah ada di sana.
Bianca membiarkan Elsa duduk disebelah Aditya.
Elsa pun mudah akrab dengan mereka, karena emang dasarnya mereka welcome pada orang baru.
Elsa pun mengobrol juga dengan Aditya, sedangkan Bianca lebih memilih mengobrol dengan yang lain.
"Ternyata Aditya orangnya asyik juga ya, aku berharap dia orangnya baik luar dalam," gumam Elsa dalam hati.
Lumayan lama mereka ngobrol, sampai Elsa tidak ingat waktu dan waktu sudah menunjukkan sore hari.
"Aduh kenapa aku gak inget sih, Bi aku harus pulang nih. Ini udah sore banget," ucap Elsa.
"Oh gitu, ya udah gak apa-apa. Dit, kamu antar Elsa ya!"
"Of course," ucap Aditya.
"Ehmm, tapi aku bawa motor sendiri."
"Gak apa-apa, kita barengan aja di jalannya. Aku khawatir kalau biarin kamu jalan sendirian," seru Adit.
Elsa pun menyetujuinya, dan dia segera pamit.
"Kamu pulang ke daerah mana?" tanya Adit.
"Rumah aku di jalan Semanggi."
"Oh gitu, ya udah yuk!"
Kring kring
Suara ponsel Adit berdering, satu panggilan masuk.
"Halo mah."
"....."
"Tapi mah, ah ya sudah aku pulang sekarang!"
Adit menutup ponselnya.
"Kenapa Dit?"
"Aduh, maaf banget El. Kayaknya aku gak bisa anter kamu deh, barusan mamah aku telepon. Dia nyuruh aku pulang cepat, gimana dong."
"Ya udah gak apa-apa, aku bisa pulang sendiri kok. Lagian ini belum malam."
"Sorry banget ya El, kalau bukan mamah aku yang telepon pasti deh aku antar kamu."
"Gak apa-apa, ya udah aku pulang dulu ya!"
"Hati-hati!"
Setelah kepergian Elsa, Adit langsung tancap gas menuju suatu tempat.
"Dari tampilannya saja si Elsa kayaknya orang biasa, tidak ada yang bisa aku manfaatin dari dia. Mending aku ke rumah Mona deh, Princess I'm coming!"
***
Elsa kembali ke rumahnya, beruntung Tantenya sedang keluar jadi dia tidak kena tegur.
Elsa langsung ke kamar dan beristirahat.
"Aditya, meskipun kamu bukan cinta pertama aku tapi aku harap kamu bisa jadi cinta terakhir aku."
Elsa merasa sangat bahagia, ia merasakan hatinya kembali berbunga-bunga.
Bahkan sampai terlelap pun, dia masih mengigau menyebut nama Aditya.
***
Di sisi lain, Aditya menghampiri Mona di sebuah Cafe. Ya, Mona yang tadi menelpon Aditya untuk mengajaknya bertemu.
"Sayang, sudah lama nunggunya?" Aditya merangkul Mona dari belakang.
"Kamu tuh kemana aja sih, dari tadi aku nungguin kamu udah hampir mau jamuran tau gak!"
"Iya sayang, maaf! Tadi tuh aku habis nganter mamah aku belanja."
"Kamu nganter mamah kamu belanja? Gak salah?"
"I-iya, memangnya kenapa?"
"Gak apa-apa, aku suka sama cowok yang dekat dengan orang tuanya. Oh iya, aku boleh gak kenalan sama orang tua kamu," ucap Mona.
Seketika Adit terdiam, pasalnya orang tuanya akan marah besar jika ketahuan dia sudah punya pacar. Orang tua Adit melarang keras untuk pacaran, sebelum Adit lulus kuliah.
Namun sayang, tanpa sepengetahuan orang tuanya. Kini Adit malah menjadi seorang playboy, tanpa diketahui banyak orang termasuk teman-temannya sedikit yang tahu.
"Aduh, itu sayang. Sore ini orang tua aku mau berangkat lagi ke London, ada urusan bisnis di sana. Jadi, kapan-kapan saja ya ketemu orang tuaku."
"Yah, sayang banget. Padahal aku mau ketemu sama mereka, ya udah gak apa-apa deh."
Begitu lah seorang Aditya, pandai bersilat lidah. Padahal orang tuanya sendiri hanyalah seorang karyawan di sebuah perusahaan.
Aditya berhasil meredam amarah Mona.
Ting
Satu notifikasi masuk
✉️ sebuah pesan dari Lisa
"Sayang, kamu di mana? Kamu jadikan jemput aku?"
Mampus dah! Aditya seketika merah padam wajahnya, takut ketahuan sama Mona.
"Kenapa sayang? Pesan dari siapa?"
"Ini sayang, teman aku barusan mengalami kecelakaan. Dia butuh banget pertolongan, posisinya jauh dari pemukiman penduduk. Gimana dong, aku gak enak buat ninggalin kamu."
"Ya ampun, kasihan banget. Ya udah, gak apa-apa kok aku bisa pulang sendiri," ucap Mona.
"Beneran sayang."
"Iya sayang, udah sana cepat tolongin teman kamu!"
"Ya sudah, maaf ya sayang. Aku berangkat dulu, kamu hati-hati pulangnya. Love you."
Aditya bergegas melajukan motornya.
Ia berangkat menuju tempat les Lisa.
Tidak butuh waktu lama, dia sampai di tempat tujuan dan Lisa sudah menunggunya dengan wajah cemberut.
"Sayang, aduh maaf banget ya aku telat."
"Kebiasaan deh kamu, janjinya jam berapa datang jam berapa."
"Beneran, tadi dari rumah tuh macet banget. Aku traktir deh, kamu mau apa?" bujuk Aditya.
"Aku lagi gak mood, antar aku pulang!"
"Siap my princess, ayo!"
***
Setelah mengantar Lisa, Adit langsung pulang ke rumah.
Sudah biasa, saat pulang kemalaman ia akan di sambut dengan ceramah dari ayahnya.
"Mau jadi apa kamu hah! Bukankah tadi ayah sudah berpesan untuk ke kantor!"
"Maaf yah, tadi tuh aku ngerjain tugas kuliah di rumah temen. Sumpah deh gak bohong."
"Sudahlah ayah, lagian Adit juga baru pulang jangan di marahi terus," lerai ibunya Adit.
"Kamu ini, selalu saja memanjakan anak kamu. Bagaimana kamu bisa mandiri, kalau setiap hari selalu saja di manja."
Adit pun langsung menuju kamarnya, sebenernya ia malas bekerja. Tapi, darimana ia akan mendapat uang tambahan buat traktir para gebetan nya. Jika hanya mengandalkan uang saku dari orangtuanya itu tidak akan cukup.
***
Hubungan Adit dan Elsa pun berjalan mulus dan lurus saja, begitupun hubungan Adit dengan kedua gebetannya yang lain. Sejauh ini ia masih bisa membagi waktu.
Hari ini , Elsa mengajak Adit untuk bertemu.
Meskipun malas, tapi Adit selalu mau di ajak jalan sama Elsa. Karena tidak jarang Elsa sering traktir Adit.
Entahlah, cinta kadang membuat buta seseorang hingga apapun yang di minta pasangan akan di penuhi.
Sejauh ini Adit belum tahu persis latar belakang Elsa, karena ia merasa kurang tertarik. Melihat penampilan Elsa yang biasa saja, dengan makeup yang selalu tampil sederhana berbanding terbalik dengan Mona dan Lisa.
Mereka berpenampilan kekinian, dan bahkan Mona lebih sering tampil berani dengan memakai dress di atas lutut.
"El, kamu gak ada jadwal kuliah hari ini?" tanya Adit.
"Gak ada, cuman satu sih. Tapi dosen cuman ngasih tugas aja karena berhalangan masuk, kamu sendiri gak ada acara kan?"
"Aku sih santai aja, oh iya kamu mau pesan apa?" tumben sekali kali ini Adit yang menawari Elsa.
"Aku kayak biasa aja deh."
Adit pun memanggil pelayan dan segera memesan makanan.
"El, aku mau ke toilet dulu ya!"
Elsa hanya mengangguk.
Ting
Suara notifikasi dari handphone Adit yang ketinggalan. Elsa tidak berani membuka karena merasa tidak sopan takutnya mengganggu privasi orang.
Kring kring
Kini nada panggilan masuk, Elsa merasa penasaran takutnya penting ia pun mengambil ponsel Adit.
Ia terkejut saat melihat nama kontak itu, Mona sayang.
Elsa memberanikan diri mengangkat teleponnya.
"Halo! Sayang kamu di mana? Aku udah mau siap-siap nih, lima belas menit lagi jemput aku ya," ucap seseorang di seberang sana.
Elsa terdiam seribu bahasa, haruskah ia membanting ponsel itu sekarang? Tidak!
Adit yang baru saja datang, panik saat Elsa masih memegang ponselnya dan panggilan itu belum di tutup.
"Jelaskan ini!" ucap Elsa sambil memberikan ponsel itu pada Aditya.
"El, itu," Adit mematikan sambungan teleponnya.
"Apa maksudmu? Siapa wanita itu?"
"El, aku bisa jelaskan. Dia teman aku, dia ...."
"Cukup! Apa pantas seorang teman memanggil sayang? Terimakasih setidaknya aku tahu kebenarannya sekarang, lalu kenapa kamu malah mendekati ku?" Elsa berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh.
"Oke aku minta maaf, tapi iya aku tidak bisa bohong lagi sekarang. Lihat saja penampilan kamu jauh berbeda dengan dia, kamu bahkan tidak ada kemauan untuk dandan sedikitpun. Penampilan begini, siapapun cowoknya pasti akan menghindar."
Deg
Sakit? Iyalah, siapa yang tidak sakit saat ada orang yang kita sukai malah berkata yang tidak seharusnya meskipun jika itu kenyataan.
"Jadi kamu cuman manfaat kan aku saja?"
"Bukan begitu, tapi ya realistis saja El."
"Oke, tidak masalah. Makasih ya, aku jadi belajar dari kamu kalau tidak semua orang bisa nerima kita apa adanya. Aku harap setelah ini, aku tidak bertemu dengan kamu lagi!"
Elsa meninggalkan Aditya yang masih terdiam tanpa merasa bersalah.
Ingin menangis, namun Elsa memilih untuk tidak melakukan hal itu. Ia tidak ingin membuang air matanya untuk hal yang tidak penting.
"Aku tidak mau menangis semalaman, apalagi besok ada acara di kantor. Aku harus terlihat fresh saat menemani Tante Susi dalam pertemuan besok."
Rapuh? Iyalah siapa yang tidak rapuh, namun Elsa memilih untuk tegar.
***
Adit tidak merasakan bersalah sedikitpun, ia merasa lebih baik jujur meskipun sakit daripada harus terus berbohong.
Hari ini, setelah bertemu dengan Mona. Adit memilih untuk pulang ke rumah.
"Dit, besok kamu ada jadwal kuliah?" tanya Sinta mamahnya Adit.
"Gak ada mah, memangnya kenapa?"
"Besok ikut ke kantor ya, besok pewaris perusahaan akan pertama kalinya di perkenalkan pada seluruh karyawan."
"Oh, iya mah."
Meskipun malas, namun Adit tidak bisa menolak jika mamahnya sudah angkat bicara.
***
Keesokan harinya, seluruh karyawan Permata Group sudah hadir di ruang Aula.
Termasuk Aditya yang ikut hadir dalam acara kali ini.
Bu Susi selaku CEO sementara hadir memberikan sambutannya.
"Baiklah, memang sudah saatnya saya mengumumkan siapa yang akan menjadi pimpinan perusahaan selanjutnya. Dan dia adalah pewaris sebenarnya yang berhak atas perusahaan ini, yang tak lain adalah keponakan saya sendiri dan anak dari Pak Hartanto. Silahkan, El masuk!"
Semua karyawan yang hadir di sana merasa penasaran, siapa putri dari pemilik perusahaan ini. Karena selama ini memang selalu di sembunyikan.
Seorang wanita cantik, dengan rambut di gerai memakai blazer khas wanita kantoran dengan polesan make-up yang fresh. Membuat semua yang hadir di sana terpana dengan penampilannya.
"Iya, perkenalkan ini adalah Elsa Hartanto Puteri. Dia yang nantinya akan memimpin perusahaan ini, untuk sementara memang saya dulu yang pegang sampai waktunya El menyelesaikan studinya."
Adit tidak terlalu memperhatikan apa yang ada di depan, namun saat Elsa mulai memberikan sambutan. Ia merasa tidak asing dengan suara wanita itu, Adit melihat ke depan dan ia terkejut.
"El- Elsa! Aku gak salah lihat kan?"
Dan benar saja, Adit bagai di sambar petir di siang bolong. Ia mengutuk dirinya sendiri, mengingat perilakunya kemarin pada Elsa.
Acara pun telah selesai, seluruh karyawan kembali bekerja.
Elsa berniat untuk ke ruangan CEO, tidak sengaja dia bertemu dengan Adit.
"El!"
"Adit? Kamu ngapain di sini?"
"Ehmm itu, aku kerja di sini bantu orang tua aku. A-aku minta maaf sola kemarin," ucap Adit.
Elsa hanya tersenyum.
"Soal apa ya? Aku lupa, oh iya aku ingat! Tidak masalah bagiku, aku mau ngucapin terimakasih ya. Berkat kamu, aku sekarang jadi kenal makeup dan skincare an. Gak kucel lagi, ya udah aku duluan ya!"
Elsa berlalu meninggalkan Aditya.
"Bodoh! Kenapa sih Dit, kenapa aku bisa ceroboh kayak kemarin. Harusnya aku tidak memandang orang dengan melihat tampilan luar, sekarang aku malah kehilangan berlian yang sesungguhnya!"
Adit meratapi perilakunya sendiri, namun semua percuma jika ia berniat ingin balikan dengan Elisa. Terlalu dalam luka yang ia goreskan.
"Mungkin sudah saatnya aku berhenti jadi playboy," gumam Adit.