Di tengah hancurnya Ibu kota yang baru di pimpinnya. Pria itu berlutut merangkul tubuh seorang pria yang terpecah belah. Darah dan linangan air mata pun menjadi sisa waktu mereka. Kobaran api yang habis membakar kota layaknya background perpisahan keduanya.
"Kao-ru-- Tolong hapus air mata mu, Kao... Ini takdirku dan... Aku tidak menyesalinya karena berhasil melindungimu... Aku berjanji akan kembali padamu bahkan jika dunia ini berakhir,"
"Tidak! Tidak! Jangan tinggalkan aku Yuu!"
GASP!
Terkesiap hingga menjatuhkan selimut yang membalut tubuhnya, Kensuke merengkuh piyama bergambar bebek yang ia kenakan. Nafasnya tersengal, detak jantungnya membabi buta mengucurkan keringat ditengah hawa dingin angin malam. Matanya pun basah.
"Tidak... Tidak lagi!" Kensuke menyeka kasar air matanya. "Mimpi yang sama selama satu bulan berturut-turut?? Aku bisa gila!!" gerutunya sembari memegangi kepala.
Yeah, kensuke sudah muak dengan semua kegilaan ini. Dia frustasi terus memimpikan seseorang yang bahkan tidak pernah ditemuinya di kehidupan nyata.
Siapa dia? Memakai yukata ungu dengan katana berlumuran darah? Kensuke bahkan dapat mengingat goresan luka yang menyayat kelopak mata pria asing tersebut didalam mimpinya. Luka yang seolah menjadi ciri khas-nya.
"Argh! ... Keparat yang bahkan tidak aku ketahui namanya, dia harus kutinju jika benar-benar ada di dunia ini... Sial! aku jadi terjaga!" Kensuke beranjak menuju veranda. Dilihatnya, cahaya matahari masih malu-malu menampakkan diri di ufuk timur.
"Fyuhhhh!"
Sebatang rokok yang dia ambil dari sebuah meja pun habis di hisapnya hingga tak tersisa.
"Ck, siapa itu Kaoru? Namaku Kensuke. Hasegawa Kensuke!" gumam Kensuke memutar haluan tubuh, menyudahi perkara mimpi itu.
"Setidaknya ingatlah namaku, Samurai aneh!"
*****
Dingg Dongg!
Suasana sekolah yang dihadiri oleh Kensuke terlihat monoton seperti biasa.
Tepatnya... Ramai, bising dan penuh oleh siswa nakal yang menunggu hukumannya di dekat gerbang.
"Sudah berapa kali bapak ingatkan untuk datang lebih awal?! Apa datang terlambat adalah hobi kalian?! Sekarang push-up 30 kali, sementara yang perempuan skot-jam!" Titah Kensuke dengan Kemarahan yang coba empunya tahan.
Kensuke cukup kesal melihat lagi-lagi, siswa yang datang terlambat adalah siswa yang sama, yang kemarin baru saja dihukumnya berlari mengelilingi lapangan sekolah karena kasus serupa. Kecerobohan ini seolah membuktikan ceramah panjang x lebar yang Kensuke tuturkan tak bedanya hembusan angin.
Memikirkannya membuat Kensuke geram. Hingga mata elang andalannya pun dia ditujukan selama siswa dan siswi itu menjalani hukuman mereka. Biarlah Kensuke dianggap sebagai guru terkejam di SMA, kensuke tak peduli dengan pendapat orang-orang kecuali dari sang ibunda.
"Ara~ Aku terlambat, ya?"
"Huh?!" reflek menoleh pada sumber suara yang hadir dibelakang mereka, Kensuke dan beberapa orang disekitar mendapati wajah asing muncul didepan pintu gerbang.
Siswa itu memakai almamater berbeda dari siswa lainnya. Tubuhnya tinggi, berkulit tan dan paras tampannya membuat para siswi enggan memalingkan mata. Tak terkecuali Kensuke.
Jujur saja ketika manik mereka tak sengaja bertemu. Kensuke membeku merasakan detak yang sama, seperti saat semalam dirinya bermimpi tentang samurai beryukata ungu.
"Bukankah dia murid baru?"
"Ehh?! Yang katanya dari luar Negeri??"
"Anak baru?" Kensuke menaut alis. Setelah turut mendengar perbincangan anak muridnya, ia teringat desas desus yang juga merebak di ruang guru.
"Jadi ini siswa yang katanya memiliki IQ serupa Albert E?" batin Kensuke menatap sinis siswa itu. Ia pun kembali memerankan tugasnya sebagai guru.
"Hey! Siapa yang menyuruh kalian berhenti!" Seru Kensuke langsung ditakuti.
Kensuke pun menghampiri siswa baru itu dengan sorot intimidasi. Kensuke akan membuang semua perasaan aneh yang dirasakan jantungnya beberapa waktu lalu. Ia harus menghukum siapapun yang datang terlambat, tak terkecuali reinkarnasi dari Albert E di Abad 21 ini.
"Kau! Dihari pertamamu datang terlambat?! Apa ini kesan pertama yang ingin kau berikan? BRAVO!" Cibir Kensuke, memberi kode pada pak Satpam agar tak membukakan pintu gerbang sementara waktu.
Maniknya memperhatikan nametag diseragam siswa itu. "Setagawa Ren?" lirihnya, menaikan mata bersiap kembali mengomel. Namun,
"A-- An-anda?"
"?!" Kensuke menaut alis. Paras tampan nan rupawan siswa itu memang berkelas internasional. Tapi bukan itu yang menjadi fokus Kensuke sekarang, melainkan, memekaknya bola mata Hazel milik Setagawa Ren terlihat familier di netranya. Seolah Kensuke pernah melihat bola mata seindah ini dalam hidupnya.
"Dimana?" Kensuke mengingat-ingat memori kepala yang mengambang. Kensuke merasa aneh sekarang... Entah mengapa jantungnya berdebar semakin cepat jika kontak mata terus dilakukan dengan Setagawa.
Kensuke memutar haluan tubuh. "Sensei!" ia melirik singkat Ren. "Kensuke Sensei! Sebaiknya kau mengingat nama itu jika tidak ingin berakhir diruang BK, Setagawa-kun!"
"Eh?" Setagawa melebarkan mata.
"Hei! Jangan beri aku tatapan memelas seperti itu! Tidak ada keringanan! Semua harus dihukum jika berbuat salah! Tapi..." Kensuke melirik singkat.
"Aku akan memikirkan hukuman apa yang pantas untukmu, nanti!" ketusnya sambil bersedekap dada, berlalu tanpa melihat wajah Setagawa.
Kensuke memberi kode pada pak satpam untuk membukakan pintu gerbang. Ia berbohong berkata "tidak ada keringanan" karena pada akhirnya, ia tetap memberi kesempatan pada Setagawa memasuki kelas lebih awal. Benar. Hukuman akan menyusul dilain waktu, biarlah Kensuke tandai dulu nama siswa itu.
"Setagawa Ren, yah?" batinnya mendesir rasa. Ia pun menggeleg kuat.
"Ekhem! Baiklah, bagi yang sudah selesai push up dan skot-jam, silahkan memasuki kelas sebelum guru mata pelajaran kalian masuk! Sementara bagi yang belum, untuk kali ini--"
"Aku... Tidak salah~"
DEG!
Berdenyut seolah terpanggil oleh suara yang muncul didalam pikirannya, Kensuke menjeda kalimat, memberi isyarat pada para siswa segera memasuki kelas sekarang juga. Kensuke tak melanjutkan kalimatnya karena jantung berdetak membabi buta, ia kembali melihat Setagawa Ren yang rupanya masih berdiri diluar gerbang sekolah.
"Kenapa dia belum masuk?" Kensuke menatap pak Satpam yang langsung mengangkat bahu. Pak satpam memberitahu bahwa seperti kelihatannya, siswa itu belum melangkah dari tempatnya berdiri bahkan setelah pintu gerbang dibuka.
"Hei kau!"
"Akhirnya kutemukan~"
DEG!
Kensuke kembali membelalakkan mata. Jantungnya mulai berpacumendengar gema suara yang sama didalam otaknya.
"Kenapa ini? Kenapa kakiku gemetar?! Kenapa aku tak bisa berkutik dari matanya??" Enggan Kensuke akui bahwa dirinya ketakutan melihat Setagawa Ren menatap kearahnya.
Tatapan yang seolah memberitahu Kensuke kalau dari sanalah suara tersebut berasal.
"Kaoru-sama ~"
"?!"
Setagawa menyeringai... Setelah pengalaman aneh yang dia berikan pada Kensuke, dia berlalu melewati gurunya itu dengan lengkungan senyum manis tak berdosa. Dia sengaja meninggalkan banyak pertanyaan yang tidak dapat Kensuke pahami.
Setagawa Ren.
"Pa-pasti hanya imajinasiku suara mereka familiar. Yeah... Tidak mungkin samurai beryukata ungu itu benar-benar ada!"
*****
Terimakasih sudah membaca konten Shounen pertamaku🤍
(Komen untuk lanjut atau stop, yah)