Dimalam pernikahan mantan pacar, aku hamil anak suami temanku. Kehamilanku yang baru berumur 5 minggu ini baru kuketahui sehari sebelum mantan pacarku menikahi teman sekantorku. Siang itu Danu, menghampiriku dengan langkah ragu.
"Nih!" katanya sambil memberikan selembar undangan.
"Apaan?" tanyaku bingung sambil membuka undangan yang diberikan oleh pacarku.
"Sonia dan Danu?" heranku.
"Besok gue nikah, terserah lo mau dateng apa engga, awalnya gue ragu mau ngasih undangan ini, tapi setelah gue pikir, ga ada gunanya lagi gue ngumpetin semua ini, cepat atau lambat, elo pasti akan tau."
"Dan...elo gila? Gue kan masih pacar lo!" nadaku mulai naik satu oktaf.
"Kata siapa, sebulan yang lalu, gue udah putusin elo Van!"
"Tapi....."
Aku mengingat-ingat kapan Danu mengucapkan kata putus, sudah lima tahun aku dan Danu berpacaran, bahkan beberapa kali kami merencanakan acara tunangan tahun ini. Parahnya lagi, aku pernah tidur dengannya, memang tidak sengaja, dia dalam kondisi setengah sadar waktu itu. Aku tidak rela jika Danu meninggalkan aku dan menikahi Sonia, juniorku yang juga merupakan tetangga kontrakanku waktu itu.
"Gue cari lo Son!!" gumamku selepas Danu pergi.
****
Aku menemukan Sonia di kantin. Dia sedang bercanda dengan beberapa teman-temannya yang juga teman kantorku.
"Heh...dasar ga tau malu, dasar pelakor!!" kataku pada Sonia.
Plaaaak.......
Aku menampar wajah Sonia. Dia terlihat kebingungan dengan ekspresiku yang tiba-tiba.
"Vanya! Kenapa?" tanyanya.
"Bisa-bisanya lo mau nikah sama Danu? Lo tau kan gue ini ceweknya Danu, emang ga ada cowok lain yang bisa lo ajak nikah?" cecarku.
"Gue ga tau, katanya Danu ga punya pacar, makannya waktu dia bilang mau dateng ke rumah buat nglamar gue, gue langsung iyain aja" Sonia memberi penjelasan.
Tiba-tiba perutku terasa mual mencium aroma mi ayam yang sedang dipesan oleh Sonia dan teman-temannya. Aku lari ke toilet di samping kantin. Aku bingung dengan diriku yang tiba-tiba mual dengan aroma itu. Padahal itu adalah makanan favoritku di kantin.
"Aduuuh....pala gue!"
Terpaksa aku izin kerja hari itu. Aku langsung pulang. Aku menunggu angkot di perempatan dekat kantorku. Tak lama, angkot yang biasa kunaiki datang.
"Kiri Bang...."
Lima belas menit setelahnya aku sampai di depan gang kontrakanku. Aku melihat ada kang rujak yang biasa mangkal disana. Entah kenapa aku begitu ingin membelinya. Padahal aku sama sekali tidak menyukai buah yang terasa asam.
"Bang...satu porsi, mangga aja ga usah pake yang lain," pesanku pada kang rujak.
"Tumben neng, biasanya beli semangka....kaya lagi nyidam aja, pesennya mangga muda," guraunya.
"Nyidam?" batinku setelah menerima pesanan. Namun aku masih terus berpura-pura tak menghiraukannya.
"Bener juga, tumben banget gue pengen makan mangga muda,ludah gue nyampe netes gini," gumamku sambil menyomot satu per satu mangga itu hingga habis.
"Gue bulan ini belum beli pembalut, jangan-jangan....." Aku mulai merasa panik, kemudian memutuskan pergi ke apotek terdekat untuk membeli testpack. Sesampainya di sana aku mengurungkan niat membelinya, akhirnya aku membeli obat cacing cair, alih-alih menutupi malu karena sudah terlanjur ke apotek. Aku kembali ke kontrakan dan memutar otak untuk tetap mendapatkan benda tersebut tanpa membelinya langsung.
"Ah...gue beli online aja!" seruku.
Dua jam kemudian mang kurir datang ke pintu kontrakanku sambil mengantarkan 2 buah testpack. Gemetar aku membukanya, aku membaca aturan pakainya. Tak sabar menunggu hingga bangun pagi nanti, aku langsung menuju WC dan mengambil sampel urine dengan mangkok sovenir pernikahan mantanku sebelum berpacaran dengan Danu.
"Astagaaaaaa......! Ini pasti salah, gue coba lagi besok pagi."
Malam itu tidurku tak senyenyak sebelumnya, aku menunggu pagi seperti menunggu Danu yang hendak melamarku. Begitu ayam jago berkokok, aku mengambil kembali mangkok kecil itu dan memasukan salah satu ujung alat tes kehamilan itu. Sepuluh menit kemudian hasilnya adalah garis dua. Belum mantap rasanya dengan hasil yang ditunjukan oleh alat tersebut, aku mengambil jadwal kontrol paling pagi di klinik kandungan dekat kontrakan.
"Selamat bu....usia janinnya sudah 5 minggu." Dokter kandungan menyalamiku dengan senyum merekah di wajahku.
"Shiit....gue beneran hamil anak Danu!" batinku.
Hari ini adalah hari pernikahannya dengan Sovia. Tadinya aku berfikir untuk tidak datang ke acara itu. Namun setelah aku tahu bahwa dia sudah menanam saham di rahimku, aku berubah pikiran. Sayangnya, Danu dan Sovia sudah terlanjur sah menjadi suami istri ketika aku hadir dalam acara itu.
"Malam pertama kalian akan menjadi malam terakhir!" bisikku Danu sambil menyalami mereka berdua di kursi pelaminan.
Aku pergi setelah meletakan kado istimewaku untuk mereka berdua. Aku sengaja membungkus hasil testpack dan hasil USG sebagai kado pernikahan mereka. Usai acara, sekitar pukul 21.00, Danu dan Sovia beserta para bridesmaid membuka semua kado dari para tamu, termasuk pemberianku.
"Ini ga ada namanya loh sayang, packingnya sangat cantik, kira-kira apa ya isinya?" tutur Sovia sambil menerka isi kado yang sedang dipegangnya.
"Besok aja kita buka ya...ini udah malem banget, aku capek!" jawab Danu.
"Tanggung tinggal satu lagi nih," timpal Sovia.
Danu membopong Sovia ke kamar pengantin mereka layaknya seorang pengantin pada umumnya. Tanpa sepengetahuan Danu, Sovia mengantongi kado terakhir yang belun sempat ia buka.
"Aku ke kamar mandi sebentar sayang," kata Danu sambil mengedipkan mata pada Sovia.
Sovia hanya mengangguk, selama suaminya di kamar mandi entah urusan apa, Sovia membuka kado yang terlihat begitu cantik. Setelah membukanya, dia menangis tak bersuara, namun air matanya begitu berderai.
"Kenapa sayang?" tanyanya kebingungan.
Plaaaak.....
"Kurang ajar kamu Danu! Berani-beraninya menikahi aku!"
"Maksud kamu apa?"
"Lihat...lihat ini! Ini apa?" sambil menunjukan isi kado itu.
"Siapa yang ngirim ini?"
"VANYA!"
"Vanya?" Danu balik bertanya.
"Kamu masih ada hubungan sama dia?"
"Dengerin penjelasan aku Sovia, aku udah mutusin dia." Danu mencoba memberi penjelasan.
"Jangan sentuh aku!" Sovia menepis tangan Danu dari pundaknya.
Danu mengingat-ingat kejadian pada malam itu. Dia ingat, malam itu Danu menginap di kontrakanku seusai kumpul dengan kawannya, tapi dia tidak menyangka kejadian malam itu akan berakhir seperti ini.
"Ceraikan aku sekarang juga!"
"Aku ga akan pernah menceraikan kamu Sov, aku ga cinta lagi sama Vanya!"
👱♀️: Gimana kado dari gue?
"Sialan, ngapain Vanya chat gue!" gumam Danu sambil membuka chat dariku.
🤵: Ngapain lu ngasih kado gue begitu? Emang itu anak gue?
👱♀️: Lo pikir gue cewek murahan yang bisa tidur dengan banyak cowok?
👱♀️: Lo ga inget malam itu, pokoknya gue tunggu tanggung jawab dari lo, atau gue laporin soal ini ke nyokap lo!
🤵: Lu ngancem gue?
👱♀️: Kenapa engga?
Malam yang seharusnya menjadi malam pertama untuk pasangan pengantin baru itu menjadi berantakan dan terancam menjadi malam terakhir bagi Sovia dan Danu.
Setelah ancaman demi ancaman yang kugencarakan untuk meminta pertanggungjawaban dari Danu, sebulan kemudian mereka berdua bercerai dan Danu menikahiku. Pernikahanku dengan Danu tak berlangsung lama, aku menggugat cerai setelah anak dalam kandunganku lahir. Aku hanya butuh status ayah untuk anakku. Kami sudah tak lagi mencintai satu sama lain. Mungkin kesalahanku adalah menghabiskan waktu mudaku selama 5 tahun untuk berpacaran dengannya.