Pagi ini Maria sedang ingin jalan-jalan, ia ingin memanfaatkan libur sekolah ini untuk menikmati me time. Ia bosan jika harus di rumah terus.
Ia mengendap-endap seperti maling jemuran saat keluar rumah, agar tidak ketahuan Derry, kakaknya. Karena kakaknya itu akan memaksa ikut jika tau ia akan keluar rumah.
Maklumlah, Maria baru satu bulan pindah ke tempat ini dan ia sama sekali belum pernah keluar rumah sendirian.
Maria keluar melalui halaman belakang. Untung keamanan di rumah sedang dimatikan jika pagi-pagi begini. Ia pun terpaksa memanjat pohon agar bisa keluar pagar tanpa ketahuan orang rumah.
Brugh
"Ah sial!" umpat Maria saat kakinya tak sengaja tergores batang pohon hingga berdarah.
Namun gadis itu tetap nekat pergi dengan kaki terpincang-pincang. Ia benar-benar butuh refreshing, setelah satu bulan penuh hanya dihabiskan dengan belajar di sekolah maupun di rumah.
Maria berjalan kecil menyusuri jalanan di dekat sungai. Sesekali ia akan berhenti untuk merasakan hembusan angin yang menerpa lembut wajahnya.
Saat ia sedang berjalan tertatih, tiba-tiba saja ada yang menubruknya dari belakang dengan keras.
Brugh
Maria jatuh tersungkur dengan lutut menjadi tumpuannya.
"Aww sakitt.." rintihnya yang sudah duduk memegangi lutut sambil meringis.
"Maaf, kau tidak apa-apa?"
Maria mendongak ke asal suara.
Mata mereka bertemu. Dan mereka pun sama-sama terkejut.
"Nathan.. "
"Hey, kau tidak apa-apa?" tanya lelaki yang bernama Nathan itu mengulangi pertanyaannya tadi, sambil melambaikan tangannya di depan wajah Maria yang malah terbengong-bengong.
"E-oh aku baik", balas Maria.
"Maaf, aku tidak sengaja. Tadi terburu-buru"
"Tidak masalah. Sana pergi, keburu terlambat", usir Maria yang sudah tau Nathan akan tetap meninggalkannya seperti yang sudah-sudah.
Nathan pun melangkah meninggalkan Maria yang masih berusaha berdiri dengan memegang pagar pembatas yang ada di sampingnya.
Ia merasa kedua lututnya perih sekali. Bahkan ia tak sanggup meluruskan kakinya karena itu terasa sangat nyeri.
"Aduduh.. Kok sakit gini? Bagaimana nih pulangnya? Apa telpon kak Derry saja? Ah tidak, aku bisa kena omel. Mungkin saja jam segini dia belum bangun. Telepon tidak ya?" Maria malah berdebat dengan dirinya sendiri.
"Sini aku bantu"
Tiba-tiba seseorang mengulurkan tangannya.
Maria mendongak.
"Lah kok tidak jadi pergi?!" tanya Maria kaget sekaligus heran saat Nathan kembali untuk menolongnya. Seperti bukan dia saja.
"Kau luka. Ini salahku", jawab Nathan sambil berjongkok membelakangi Maria.
"Kau sedang apa?" tanya Maria bingung.
"Mau gendong kamu lah!"
Maria melongo dengan mulut menganga.
"Mau dibantu tidak? Pumpung lagi baik ini", tawar Nathan mulai kesal.
Maria segera naik ke punggung Nathan. Sebelum lelaki itu berubah pikiran dan meninggalkannya begitu saja dalam keadaan kedua lutut yang berdarah-darah. Ia tidak bisa pulang sendirian dengan keadaan seperti ini.
Mimpi apa Maria semalam?
Teman sekelasnya yang selama ini tidak pernah mengajaknya berbicara kini sedang menggendongnya? Aneh sih. Tapi mau bagaimana lagi, ini emergency.
Jika dilihat mereka malah seperti sepasang kekasih yang sedang bermesraan. Mana mereka sama-sama mengenakan T-shirt dengan warna senada pula.
"Gendong yang benar, Nathan! Aku takut jatuh kalau kamu gendongnya tidak ikhlas begini!" omel Maria saat Nathan memegang pahanya dengan canggung, ia takut jatuh untuk yang ketiga kalinya.
"Aku sedang berusaha. Kau berat", Nathan berusaha membenahi pegangan tangannya.
Maria merengut sebal. Ia tidak seberat itu. BB-nya hanya sekitar 40kg.
Nathan mulai berjalan dengan santai. Suasana masih sepi, karena ini memang masih terlalu pagi untuk memulai aktivitas. Mereka sama-sama terdiam. Tidak ada yang memulai pembicaraan.
Nathan mendudukkan Maria di depan sebuah toko yang sudah buka. Kemudian masuk begitu saja tanpa berbicara.
Tak lama lelaki itu kembali membawa alkohol antiseptik, kapas dan 2 botol minuman.
Nathan berjongkok di depan Maria yang sedang duduk di atas kursi.
"Eh, aku bisa sendiri kok", tolak Maria.
Namun tanpa sengaja, ia malah menggenggam tangan Nathan yang sedang memegang kapas yang sudah diberi alkohol itu.
"Maaf"
Dengan segera Maria melepaskan genggaman tangannya dari tangan Nathan.
"Sudah, aku saja!" sahut Nathan dengan ketus.
Maria menurut, ia tak mau berdebat disaat seperti ini. Mungkin ini momen langka baginya. Seorang Nathan, lelaki yang ia kira membencinya karena selalu menghindar jika ada didekatnya. Bahkan untuk bicara saja tidak pernah.
"Aw! Pelan-pelan dong", pekik Maria saat ia merasakan perih pada lututnya.
"Tahan sebentar"
Miura menggigit bibir bawahnya untuk menahan sakit.
"Jangan digigit bibirnya, nanti tambah merah", komentar Nathan yang tak sengaja mendongak.
"Memangnya kenapa?"
"Tambah sexy"
"Astaga!" Maria langsung memukul bahu Nathan.
Nathan terkikik pelan.
"Kamu tampan kalau tertawa", timpal Maria.
"Berisik"
Nathan menunduk menyembunyikan wajahnya yang tersipu malu.
Maria terkekeh pelan.
"Kenapa kau selama ini selalu mengabaikanku?"
"Mengabaikan?" Nathan mengerutkan keningnya.
"Bahkan kita tidak pernah saling bicara sebelumnya".
"Maaf, aku tidak mengenalmu".
Lagi-lagi Maria melongo mendengar ucapan Nathan.
"Bagaimana bisa kau tidak mengenalku? Kita satu kelas di sekolah"
"Apa kita pernah berkenalan sebelumnya?"
Maria terdiam.
"Belum", lirihnya.
"Nah, bagaimana aku bisa mengenalmu sedangkan kita saja belum pernah berkenalan?" Nathan geleng-geleng kepala.
"Nih minum dulu", tawar Nathan sambil menyodorkan satu botol minuman ke arah Maria saat ia sudah mendudukkan diri di kursi.
"Terima kasih", Maria menyambar minuman itu dengan cepat.
"Mari aku antar pulang. Rumahmu dimana?" tanya Nathan yang sudah menggendong Maria lagi.
"Itu, di depan sana kita masuk gang, tidak jauh kok", jelas Maria sambil menunjuk gang diseberang jalan.
Nathan menurut. Lagi-lagi ia hanya terdiam di sepanjang jalan.
"Nathan, kau tidak lelah?" tanya Maria yang dagunya sudah ia letakkan dipundak Nathan.
Ia dapat mencium wangi aroma shampoo Nathan dari posisinya.
"Tidak"
"Katanya aku berat?"
Kini Maria menoleh ke arah Nathan.
"Sangat"
"Aku tidak segendut itu tau!" omel Maria yang semakin mendekatkan wajahnya, membuat leher Nathan panas merasakan hembusan nafas gadis digendongannya.
"Bisa diam tidak?!"
"Maaf", lirih Maria.
"Kita bisa istirahat sebentar kok", tawar Maria.
"Itu mulut kalau tidak bisa diam akan aku sumpal pakai daun!"
"Waw, galaknya"
"Kalau masih bicara terus, aku turunkan disini saja, mau?"
Maria menggeleng. Ia pun diam seribu bahasa mendengar ancaman itu. Masa iya, dia harus duduk di aspal sambil menyeret badannya sampai rumah? Kedua lututnya benar-benar mati rasa sekarang.
Nathan berhenti di persimpangan jalan yang bercabang. Ia menoleh ke belakang.
"Ke kanan apa kiri nih?" tanyanya.
Hening, tidak ada sahutan.
"Kau dengar tidak?" Nathan bertanya lagi.
Tetap tidak ada sahutan.
"Markonah!!" bentak Nathan akhirnya.
Membuat Maria sedikit tersentak, karena Nathan juga ikut menyentak kakinya.
'Apa dia tadi memanggilku Markonah? Ah lupakan mungkin aku salah dengar', batin Maria.
"Kau dengar tidak? Telingamu masih berfungsi kan?"
"Katanya suruh diam", sahut Maria dengan polos.
" Astaghfirullah hal adziim.... , kuatkan saya Tuhaannn...", mulut Nathan komat kamit baca dzikir.
Ia sebenarnya ingin mengelus dada tapi ke dua tangannya digunakan untuk menopang tubuh Maria. Padahal ia sudah susah payah menahan berat badan gadis itu, dan ini malah ditambah lagi harus menahan emosi yang terus bergejolak.
"Aku kalau lama-lama didekatmu bisa darah tinggi nih. Sekarang kita ke mana?! " tanya Nathan sedikit membentak menahan kesal.
"Ke kiri"
Nathan menurut.
Sebenarnya ini salah, ia sudah berjanji dengan seseorang untuk tidak dekat-dekat dengan Maria. Tapi mau bagaimana lagi, ia terpaksa karena tidak tega membiarkan gadis yang sedang terluka pulang sendirian.
Apalagi ini salahnya juga karena tidak hati-hati. Berlari sambil menengok ke belakang. Hingga tak sengaja menabrak Maria dengan keras.
"Maaf merepotkan", lirih Miura yang tidak ditanggapi oleh Nathan.
"Eh Nathan, putar arah, jangan lewat sini", cegah Maria saat Nathan sudah hampir sampai di depan gerbang rumah besar yang hanya ada satu-satunya di lokasi itu.
Nathan pun menurut. Ia kaget ketika memutari rumah besar itu namun yang ia temukan hanyalah tembok di sepanjang jalan.
"Mana rumahmu? Apa kau bisa menembus tembok?" Nathan celingukan tak bisa menemukan pintu rumah disana.
"Dibalik tembok ini", balas Maria nyengir kuda.
"Astagaa Maemunahhh! Jadi yang di depan tadi benar rumahmu? Terus ngapain menyuruhku putar arah segala?! astagah!" omel Nathan dengan emosi yang sudah menggebu-gebu.
"Hey, namaku Maria. M. A. R. I. A. Jangan mengubah namaku sembarangan!"
"Oke, aku akan mengingatnya. Lalu apa sekarang?"
"Hehe, badanmu kan lumayan tinggi tuh. Bantu aku panjat tembok ini, boleh?" pinta Maria dengan suara yang diimut-imutkan, sambil menunjuk tembok di depannya.
Nathan menghela nafasnya kasar. Mencoba bersabar dengan tingkah bar-bar gadis itu.
'Ini perempuan apa lakik sih?' batin Nathan tak habis pikir.
"Kalau ada pintu depan ngapain harus manjat tembok? Kalau kamu kucing sih, sah-sah saja", balas Nathan heran.
"Tadi aku keluar rumah tidak izin. Jadi kalau lewat pintu depan aku akan kena marah", Maria menunduk lesu.
Sudah kesekian kali Nathan menghela nafasnya. Ia pun berjalan memutar ke gerbang depan lagi.
"Lah kok balik ke depan lagi?! " protes Maria.
Nathan tidak menyahut. Ia malah memencet bel rumah.
Ting tong
Satpam yang berjaga segera menghampiri saat melihat anak majikannya ada digendongan laki-laki di luar gerbang.
"Nathan, please.. " bisik Maria mulai panik.
Nathan berhenti, membuat Maria sedikit tenang. Akhirnya Nathan mau menurutinya. Ia tidak mau bertemu kakaknya yang tempramen jika masuk lewat depan, setidaknya ia harus lewat halaman belakang dan menyelinap langsung ke dapur lalu melewati tangga samping yang langsung menuju ke arah kamarnya.
"Mana bisa aku membiarkanmu yang sedang terluka memanjat tembok, hah? Gila kamu!" sembur Nathan.
"Nona kok ada diluar?" tanya pak satpam bingung, yang sudah membuka gerbang rumah.
"Tadi dia manjat tembok belakang lalu terjatuh", jawab Nathan yang mendapat pukulan kecil di punggungnya.
"Nathan sialan!" maki Maria karena Nathan tidak mengindahkan ucapannya sama sekali.
Dan benar saja, Derry sudah menunggu di depan pintu rumah dengan berkacak pinggang dengan wajah semerah panci panas yang ingin meledak karena saking geramnya.
"Mati aku!" gumam Maria yang masih bisa didengar oleh Nathan.
"Kau kabur?!" bentak Derry pada Maria saat Nathan sudah sampai dihadapannya.