Aku tengah mendengarkan pengajian dari hengseat ditelingaku. Untuk menempurnakan Hafalan Surahku.
Namun Suara Anak-anak dikelas darurat virus itu membuatku frustasi. Akhirnya aku menambah volume yang sebelumnya sedang menjadi lebih tinggi.
Saat itu juga ibu guru, wali kelas kami masuk ke kelas.
Usut punya usut untuk meluruskan hal yang akan kami lakukan hari minggu. Yaitu bakar-bakar dipantai yang terkenal dikota ini. Semua sudah direncanakan oleh ibuguru, ketua kelas kami, Aswat. Sekertaris, Putri serta Bendahara Mila. Kami memang sudah diberitahu tentang rencana kelas kami dari grup di wa.
Setelah beberapa lama ibu ina membahas itu dengan anak-anak lain. Aku yah sebagai siswi yang seklai terhanyut dengan kegiatan. aku tak akan mempedulikan hal lain lagi.
Alhamdulillah Qs al buruj sudah aku hafal. Sekarang tinggal sempurnakan bacaan ku pada surah yang lain. Batinku.
"Trus nanti ikannya gimana? Tara saja yang beli buk! Biar nanti mereka yang membersihkan ikannya." Kata mila, bendahara kelas.
"Iya buk" dan dibalas anggukan siswi lain.
"Nak tara. Gimana? Mau?" Tanya ibu ina memastikan.
"Insya allah buk" katanya sembari menatapku. Aku yang memperhatikan nya pun langsung mengalihkan pandangan. Namun itu tak luput dari pandangan serta tatapan anak-anak kelas sekaligus ibu ina.
"Nak tara, sepertinya ada yang kau suka dikelas ini" kata ibu ina.
"Astafirullah tidak buk" jawabnya mencoba membela.
"Mengaku saja, ibu sudah lama hidup. Ibu bisa membedakan mana suka dan tidak suka." Kata ibu ina mencoba mmebuat tara mengaku.
"Tidak buk, demi allah" katanya sembari menaikan tangannya.
"Jangan sangkut pautkan allah. Tara" kataku karna tak suka dengan apa yang dikatakan tara. Jika ia menyukai seseorang katakan saja. Jika jodoh alhamdullilah.
Namun semua menatapku. Aku saja bingung apa yang sedang terjadi. Fika yang berada didepanku memukul tanganku yang sedang memegang pena. Aku terpaksa menatapnya.
"Mereka sedang membahasmu dengan tara" kata fika yang hampir tak ku mengerti.
Aku hanya menganggukan kepala seolah paham apa yang dikatakannya.
Kembali lagi aku menutup buku tulis dan membaca novel. Sambil mendengarkan pengajian. Ku iringi dengan volume full.
"Tara, ayuk maju kedepan jika kau tak menyukai siapapun disini"
"Astafirullah tidak buk. Saya tidak menyukai siapapun disini."
"Siapa yang tau siapa yang disukai tara disini?" Tanya ibu ina kepada kelas darurat yang berisi 16 orang itu.
"Zainab Buk, Zainab" Teriak fika. Yang seklaigus membuat ku kaget dengan suaranya yang cempreng. Aku melepas hengseatku dan melihat fika dengan tatapan kesal.
" kenapa berteriak namaku begitu besar.?" Tanyaku kesal.
"Oh ini yang namanya zainab? Cantik. Tara seleramu sangat bagus" Kata ibu ina bercanda.
Aku yang masih belum mengerti arah pembicaraan seketika melihat tara. Tara denganku memang dekat namun tak pernah ditunjukan didepan umum. Makanya aku menatapnya.
"Cieeee" seisi kelas bising dengan suara itu. Aku saja bingung apa yang terjadi? Aku mengalihkan pandanganku. ku tatap ibu ina. Ibu ina pun menatapku sambil tersenyum lantas beliau berkata " tara ayuk maju. Kalo kamu ga maju berarti kamu suka sama zainab" kata ibu ina. Namun aku masih mencoba mencerna kata-kata itu. Jujur aku sebagai seorang siswi kelas 2 sma pun Ku masuh lola dalam memahami apa yang dikatakan guru maupun teman-temanku.
"Ayuk maju kalau kau tak maju berarti kau ada perasaan sama zainab" kata putri. Seketika pipiku serasa panas. Jujur aku orang yang cepat sekali malu. Aku menundukan kepala. Mencoba beristigfar berulangkali.
"Baiklah demi nama baikku. Aku akan maju" kata tara sembari berjalan ke depan kelas.
"Bawa kursi" kata ibu ina. Tara pun kembali dan mengambil kursi miliknya.
"Nak zainab ayuk maju." Seketika aku kaget dengan apa yang dikatakan ibu ina.
"Kenapa saya harus maju buk?" Tanyaku tak mengerti.
"Maju saja" kata mila.
"Baiklah, Bsimillah" Kataku sembari membawa kursi digenggaman tanganku.
"Bagaimana jika kita mainkan sedikit drama? Anggap saja bahwa tara dan zainab tak saling mengenal. Namun mereka dipertemukan di mesjid atau mungkin pelabuhan." Kata ibu ina. Sembari menatapku dan tara secara bergantian. Tatkala saat itu aku dan dia berada didepan kelas.
Tara hanya diam. Ia tak berani menatapku. Aku bahkan tak tahu kenapa. Aku menatapnya. Aku merasa lucu dengan wajahnya yang mengeluarkan keringat dingin. Seutas senyum selalu muncul dibibir ku ketika berhadapan dengan tara. Entahlah aku tak tahu rasa apa ini. Tapi rasanya aneh. Ada yang mengelitikku di dalam perut. Sangat aneh.
Teman-teman serta ibu ina memperhatikan kami berdua yang duduk didepan. Ada yang bilang kami akan dijodohkan. Dan kebetulan saat digrup kelas pun aku selalu membahas tentang ta'aruf pada tara. Tara pun banyak menjelaskannya. Ketika dijelaskan ada terselip sedikit getaran dihatiku. Mungkin ia kukagumi. Tapi hanya sebatas itu. Mudah-mudahan.
Aku terlalu hanyut dengan lamuanku. Aku tak dengar apa yang dikatakan ibu ina kepada tara sehingga ia berkata "Lelaki itu seorang pemimpin buk! Seharusnya ia yang memerintah!" Kata tara. "Kalau begitu kenapa kau tak memulai drama ini. Kan kau lelaki. Jadi pasti kau pemimpin serta imam kan. Jadi mulailah dramanya tara" kataku tak senang dengan ucapan tara.
Tara memandangku sekilas. Tak dapat aku artikan tatapan itu.
"Kenapa kau tak menatapku. Apa tembok sana lebih manis dariku?" Kataku sembari cemberut. Mencoba untuk menjahilinya. Sekelas pun tertawa karna perkataanku. Entahlah aku tak bisa mengontrol mulutku saat didekat tara.
Tara menatapku dengan tatapan kesal. Aku melihat ibu ina tersenyum. Aku pun tak bisa meghilangkan senyum dari bibirku.
"Baiklah akan ku mulai" kata tara sembari mengusap wajahnya kasar.
"Assalamuallaikum warahmatullahi wabarakatuh ya Zainab" Salamnya
"Waalaikumsallam Warahmatullahi wabarakatuh Wahai calon imamku" kata ku sembari tersenyum lebar. Ibu ina serta teman-temanku pun ikut tertawa.
Tara menatapku sekilas lagi. Masih saja aku tak dapat mengartikan tatapan itu.
Ia mendengus kesal "Bagaimana Kabarmu?" Tanyanya.
"Alhamdulillah Ana baik-baik saja ya tara" kataku sembari tersenyum manis.
Ia hanya menatapku sekilas lalu menatap mila serta putri yang memotret kami diam-diam.
"Aku tak tahu lagi ibu harus bagaimana" Keluhnya pada ibu ina. Mencoba menyudahi.
"Baiklah. Tara kau bisa bernyanyi?" Tanya ibu ina. Menatap tara
"Alhamdulillah bisa buk" kata tara.
Ibu ina pun menatapku. Dan aku mengangukkan kepala tanda bahwa aku pun bisa bernyanyi walau suara fals sana sini.
"Baiklah. Kalian duet. Terserah lagu apa"
Tara menatapku sekilas. Aku pun bertanya padanya. Pertama yang ia mau lagu dangdut. Aku menggelengkan kepala. Tak tahu lagu dangdut. Lalu ia bilang lagu minang. Namun aku juga tak tahu. Ia kesal dan bilang "mau mu apa? Lagu pop? Lagu jaz?" Katanya. Aku hanya menatapnya tanpa bermaksud untuk membalas perkataannya.
"Mengaji saja buk!" Kataku. Dan dibalas anggukan ibu ina.
"Surah apa?" Tanyaku pada tara.
"Ar-Rahman saja. Banyak wanita juga yang mau maharnya surah ar-rahman" katanya. Senyumku semakin mengembang tatkala ia berkata seperti itu. Aku pernah bilang padanya bahwa aku berharap suatu saat menikah maharku surat ar-rahman.
Dia menghitung sampai tiga untuk memulai. Kami membaca basmallah terlebih dahulu. Setelah itu, kami mengaji sama-sama dari awal sampai akhir.
Ibu ina serta teman-teman tepuk tangan. Mereka berkata bahwa aku dan tara sangat cocok. Entah kenapa hanya senyum yang bisa ku pancarkan. Menandakan aku bahagia. Entah bahagia karna saat mengaji tadi tara sedikit membantuku karna aku lupa beberapa ayat atau karna mereka memuji ku cocok dengan tara.
Ibu ina belum menyuruh kami duduk kembali. Ia memperhatikan gerak gerik tara.
"Tara, biasanya orang yang suka pada seseorang itu sering salah tingkah di depan orang yang di sukainya. Kenapa dari tadi engaku tak menatap zainab. Apa fika lebih cantik dari zainab?" Tanya ibu ina yang membuatku membulatkan mata.
"Astafirullah tidak buk. Zina mata" katanya membela diri.
"Hoo zina mata. Lalu kenapa kau selalu menatap ke arah fika serta mila. Apa karna kau ada rasa dengan zainab. Jadi kau tak berani menatapnya.?" Tanya ibu ina. Mencoba menorek kebenaran dari tingkah laku tara.
Aku hanya diam menatap nereka. Tanpa ada maksud untuk menambahi bicara.
Tara pun karna merasa dirinya dipojokkan akhirnya ia memilih menatapku. Aku yang merasa ditatap pun menatap balik. Kulihat ada sedikit perubahan pada tatapan matanya. Tatapan matanya sama dengan mantan-mantan pacarku dahulu sebelum aku putus dengan mereka.
Aku tak ingin dia menyukaiku. Tak ingin. Aku tak ingin ia membuat jurang untuk dirinya sendiri.
Aku hanya menatapnya datar. Tanpa ada maksud untuk tersenyum. Tak lama tara mengalihkan pandangannya ketika mendengarnya dipanggil pak guru. Ia meminta izin pada ibu ina.
Setelah berselang beberapa menit ia kembali. Saat keluar tadi wajahnya berseri bahagia. Ia tak henti-hentinya mengatakan syukur. aneh menurutku.
"Tara, apa kau pernah menyukai seseorang?" Tanya ibu ina. Entah mengapa akupun sepertinya ingin tau.
Ia mengeleng. "Kalau kagum iya buk, tapi suka alhamdulillah tidak pernah." Katanya. Aku mencoba mengorek informasi dari tatapan matanya. Namun ia seperti sudah tau bahwa aku bisa dibilang ahli dalam membaca tatapan mata seseorang.
Tahrim Berkumandang yang menandakan jam pulang kami. Namun harus sholat dulu. Aku tak sholat kala itu karna sedang tamu bulanan. Tara pun begitu. Kakinya sakit. Begitu katanya.
Aku kembali memasang hengseat dan mengambil Ponsel untuk membuka aplikasi quran. Memperbaiki bacaan ku pada surah ar-rahman. Namun mata jahil ini ingin selalu memperhatikan tara. Walau sedikit.
Aku lantas beristigfar kala aku selalu memikirkan tentang tara. Mata ini kembali menatap tara dan tara pun saat itu menatapku. keaadaan serasa hening. Walaupun dibelakangku ada mila. Putri fika serta amha yang tengah berghibah. Jantungku serasa berhenti. Entah kenapa ada debaran aneh ketika tara menatapku. Tatapannya begitu teduh. Aku bingung. Jujur aku mengagumi tara karna ilmu agamanya bisa dibilang lebih dariku. Kadang bahkan aku bertanya padanya. Dan ia selalu menjawab. Aku bingung dengan rasa ini. Walaupun aku yang notabennya anak nakal sewaktu
Smp. Pacaran sana sini. Tapi sekarang aku bingung. Apakah aku menyukainya? Atau aku hanya kagum padanya?.
Namun beberapa hari setelah kejadian itu, Tara mulai berubah. Dia menjadi lebih sweet kepadaku. Apa aku salah jika berpikir bahwa Tara menyukai wanita akhir zaman sepertiku? Ternyata benar. Aku salah.
Aku mendengar dari ayahku bahwa Tara di jodohkan dengan anak Kyai di lingkungan tempat tinggalku. Namanya Salma Nousha Al-hamid. Dan tentu saja wajahnya berkali-kalu lipat lebih cantik dariku. Akhlaknya, tutur katanya, gayanya yang santun, tentu saja cocok dengan Tara. Aku merasa terkhianati. Entah kenapa aku merasa tak terima, bahwa tara sweet kepadaku karna akan berpisah. kata ayah selesai SMA Tara akan melanjutkan pendidikannya di Turki. Aku tak tau ingin berkata apa. Bungkam Mulutku perihal itu.
Seiring waktu, aku mulai menjaga jarak dari tara. Mulai Istiqomah pada Hijrahku. Jika Tara bukan Jodohku pun aku tak apa. Dan dimanapun jodohku berada, aku harap ia dapat membimbingku, wanita akhir zaman ini.
Tibalah hari dimana Tara akan pergi jauh. Setahun ini aku hanya menatapnya. Tanpa ada maksud menanyakan hal apapun yang menyangkun Nousha. Tara pun sepertinya tak mau membahas itu denganku. Aku tentu saja sadar diri. Satu tahun. Tara lebih dewasa. Jenggotnya perlahan mulai tumbuh, wajahnya semakin bersinar, Ia menjadi lebih tinggi, bahkan sangat tinggi. Hingga aku hanya sampai di pundaknya. Aku? Alhamdulillah aku sudah istiqomah dengan hijrahku. Aku Sudah memakai Cadar setengah tahun lalu. Aku wanita setengah cadar. Disekolah Aku tak memakainya. Namun ketika Ada acara tahlilan, Acara-acara pengajian pastilah aku memakai cadar.
Tara sekarang berdiri di hadapanku. jujur aku tambah.... Ahh aku tak dapat menemukan kata yang pas untuk menggambarkan perasaanku.
Tara... Dia datang kerumahku. Aku tak tahu kenapa ia datang kemari. Ayah memanggilku. segera ku pakai cadar dan berlari turun kebawah. disana ada tara. dan ayahku yang tengah berbincang. sepertinya perihal Turki. Ayahku juga lulusan sana. Ayah menyuruhku membuat minuman.
Saat di dapur samar-samar ku dengar perbincangan ayah dan Tara. mereka berbicara mengenai lamaran. entahlah aku malas untuk mengetahuinya.
Setelah selesai Aku bermaksud untuk naik ke kamarku dilantai dua. langkahky terhenti ketika tara memanggil nama lengkapku. Langkah kakiku berhenti di pijakan tangga ke tiga. sekali lagi dia memanggi nama lengkapku. aku masih belum berbalik. Tubuhku seakan tak setuju dengan hatiku.
"Zainab Tsabita Dzahwan" Panggil Tara lembut. seketika bulu kudukku berdiri. aku merinding mendengarknya memanggil namaku dengan intonasi suara selembut itu. sekarang hatiku tak setuju untuk berbalik tapi tubuhku sudah terlanjur berbalik.
Aku mengangkat kepalaku. mataku bertatapan langsung dengan mata hitam lengamnya yang dilapisi bulu mata tebal itu. segera ku alihkan pandanganku. ia pun begitu. tapi samar-samar aku melihat ia kembali mengangkat kepalanya. ia berjalan mendekat ke arahku jantungku berdetak tak karuan. entah kenapa aku gugup? takut? ahhk aku tak tahu perasaan apa ini.
Seketika seperti ada sengatan listrik yang menjalar ketubuhku ketika tara menyentuh kepalaku yang terbalit hijab besar. aku menatapnya dengan tanda tanya. ia tersenyum memperlihatkan lesung pipinya itu.
"Tunggu aku, Zainab Tsabita Dzahwan"