‘’…. Jangan tengok ke belakang dibelakang ada monyet……… hahahahha’’ Suara nyanyian, gelak tawa terdengar sepanjang perjalanan yang menempuh waktu satu jam itu. Mereka ialah rombongan anak-anak Pramuka. Para Penegak Hasanudin yang hendak menuju pantai Papaliseram, untuk melaksanakan kegiatan yang selalu dinanti-nanti, Bumi Perkemahan. Papaliseram, Pantai wisata khas Kepulauan Aru, dari sana kita bisa melihat Sunset, sejuk anginnya, ombak yang menyapu pantai, air yang jernih, tempat istirahat sempurna untuk masyarakat yang ingin berlibur. Papaliseram alias Bali nya Aru.
Beberapa jam sebelum keberangkatan ke tempat kemah.
‘’lo ngapain sih harus masuk Pramuka? Fisik lo nga kuat juga. Bikin risih aja deh. Tuh ma seharusnya si Zey nga ikut ke BuPer, gimana kalo dapat hukuman trus dia pingsan? kan Ifal juga yang repot’’ keluh Ifal alias Arifal kakak laki-laki Zey.
‘’eh Bang, papa sama mama kan mana-mana aja sama kehendak gue, kok lo yang sewot? Apa jangan-jangan lo khawatir gue bakal perhatiin gerak-gerik lo selama disana? santuy aja bro. woles.’’ Balas Zey.
Perdebatan itupun diakhiri dengan makan bersama, begitulah mereka, tak ada yang ingin kalah hingga dipaksa untuk mengalah.
Zey Triana Namanya, wajahnya yang cantik alami membuat ia digilai para lelaki disekitarnya. Umur 15 tahun, sekarang duduk di bangku sma kelas satu. memiliki keluarga yang super-duper cantik dan tampan. Kekuatan Gen. kakak yang menyebalkan dan adik yang mengesalkan orang tuanya damai. Kehidupan biasa-biasa saja. Karna saat smp dan sma hanya sekolah disekolah berbasis agama, pikir zey tidak ada yang akan banyak berubah. Ternyata sebaliknya.
Zey memutuskan masuk pramuka disekolahnya. Karna pertama ia ingin membuat kakaknya kesal, sekaligus menambah sedikit pengalaman tentang keorganisasian. Kedua karna kebanyakan teman-temannya ikut maka ia pun ikut. Namun setelah beberapa bulan selalu ke latihan rutin, akhirnya ia menyadari bahwa di Pramuka itu menyenangkan. Pramuka adalah tempat bernaung kedua setelah rumah orangtua. Pikir Zey
Flashback off.
‘’ wahh keren yah pantainya’’
‘’ iya nih, gue biasa cuman denger dari orang aja, ternyata keren juga yah’’
Pantainya indah terawat. Ada banyak tempat santai berbentuk kursi dan rumah kecil-kecilan disana. tempat sampah disetiap sudut pantai, kran air bersih dimana-mana. Wastafel serbaguna pun ada disetiap sudut pantai. Desiran angin, sapuan ombak. Semuanya perfect untuk menjadi bumi perkemahan.
Saat baru turun pasir pantai menyambut dengan hangatnya. Tenda putri hasanudin adalah tenda yang pertama di antara jejeran beberapa tenda gudep lainnya. Karna beda jadi harus dipisahkan antara putra dan putri.
Karna waktu menjelang malam, maka seluruh anggota pramuka diizinkan berbenah terlebih dahulu, baru setelah itu berkumpul di depan tenda masing-masing, karna akan ada pemberitahuan singkat dari Pembina masing-masing.
Pemberitahuannya hanya berisi, siapkan mental serta diri. Dan masih banyak lagi tentang peraturan yang tak boleh dilanggar dan lain-lain
Malam pertama kemah, zey dan teman-teman tak bisa tidur, lain halnya dengan beberapa senior mereka. mereka hanya bergosip tentang seberapa menyenangkannya berkemah atau ikut buper. Karna zey baru pertama kali jadi rasa kantuknya hilang, tak ada sama sekali. Jam 03:00 ada pengecekan anggota maka semuannya pun pura-pura tidur, dari pura-pura tidur itulah yang membuat hampir sebagian tertidur pulas. Hanya beberapa yang tidak tidur karna asik bergosip tentang para lelaki tampan.
Pagi hari pertama, semua dari gudep putri hasanudin kelelahan karna baru tidur satu jam. jam 04:30 semuanya diwajibkan bangun untuk menunaikan ibadah dan setelah itu tidak ada yang boleh tidur lagi. Karna selesai ibadah semua diwajibkan pakai baju olahraga untuk mengikuti kegiatan pagi. Senam dan lari pagi. jadi semuanya lelah.
Upacara pembukaan digelar jam 07:00 tanpa gladi, semua berjalan baik. 09:15 upacara selesai diberikan waktu dua puluh menit untuk sarapan setelah itu dilanjutkan dengan kegiatan perkenalan saka.
Acara perkenalan saka dimulai jam 10:00, terlambat maka dipersilahkan kembali ke tenda untuk membantu asisten Pembina memasak. Karna hari pertama jadi diberi kelonggaran. Acara perkenalan saka diisi dengan deskripsi tentang saka itu sendiri. Misalnya saka bhayangkara bernaung pada polisi, itu tugasnya melakukan apa yang biasa dilakukan polisi, berpatroli dan lain-lain. Yang mengikuti saka bhayangkara juga dijadikan keamanan oleh Pembina tertinggi untuk mengamankan jalannya bumi perkemahan ini. Ada juga saka bakti husada tentang dokter. Penyelamat darurat, seperti yang dilakukan dokter cuman versi anak sekolah.
Acara perkenalan saka berakhir jam 02:30 karna masing-masing saka diberikan 30 menit untuk menjelaskan panjang lebar tentang saka masing-masing. Ada enam saka yang baru terbentuk disini, seharusnya habis jam 13:00 namun diberi tambahan untuk acara hiburan. Senam pramuka dan senam-senam lainnya.
14:45 semuanya dibubarkan untuk makan siang selama 20 menit dan istirahat selama 10 menit. Karna jam 15:00 akan ada kegiatan selanjutnya.
Setelah selesai makan siang masih tersisa beberapa menit untuk putri hasanudin menyusun jadwal piket kurva, agar dua hari kedepan semua berjalan baik-baik saja. Karna mereka juga belum sempat membuat piket.
‘triiiiiiiing’ bunyi mikrofon dari arah pantai, itu artinya harus segera berkumpul.
Operasi semut, itu kegitan selanjutnya. Menurut zey menyenangkan karna bisa bercengkrama dengan anak-anak dari gudep lain. Banyak yang tukeran no hp, nama akun acebook, outgram dan lain-lain. Zey banyak mendapatkan teman baru disitu. Salah satunya david yang memujinya sangat cantik hingga membuat zey tersipu malu, juga satu temannya yang bernama reza. Yang hanya memandang zey tanpa berkata apapun.
‘triing’ ketika mendengar suara itu semuanya bergegas lari kearah sumber suara. Disana ada satu panggug besar terdapat banyak bunga disekitarnya. Di atas panggung terdapat para Pembina dari seluruh sekolah yang hadir. Dari jenjang sd hingga sma. terhitung ada 30 lebih Pembina yang ada diatas panggung belum lagi yang sedang berjaga dipintu masuk maupun yang sedang mengatur barisan para siaga.
‘’glek’’ serem banget muka-mukanya. Batin zey.
‘’ siap grak. Lencang depan grak. Luruskan-luruskan…..’’
‘’ karna dari pagi semuanya sudah tegang, bagaimana kalau kita rileks dulu. Ayo rilkes kan badan kalian’’ kata salah seorang Pembina, semuanya pun mengikuti perintahnya. rileks. ‘’nah semuanya sudah rileks?’’ dibalas anggukan serta teriakan para kaum penegak putra. ‘’kalau begitu semuanya golongan siaga sampai penegak lari dari kakak elsa’’ kata Pembina tersebut sambil menunjuk arah kanannya bibir pantai ‘’ hingga kk iwan’’ menunjuk kearah kiri bibir pantai. ‘’Larii.’’ beberapa dari mereka pun berlari kebanyakan siaga penggalang serta beberapa anggota penegak lari terbirit-birit. Ada juga yang tidak lari karna sudah tau tipuan para Pembina seperti itu, harusnya ada kata ‘mulai’ baru bias mulai lari tapi kan tidak ada. Akhirnya semua paham dan berhenti. Para penegak dan penggalang yang kurang konsentrasi diberi hukuman pergi kemasing-masing tenda dan cuci ulang semua pring yang sudah bersih maupun masih kotor. Bagi siaga diberikan kelongaran karna mereka masih belum terlalu mengerti jika dijelaskan.
15:45 semua kegiatan dari pagi hingga sore selesai, tinggal masa renungan malam saja yang masih ada. Semua kembali ke tenda, bagi yang islam menunaikan kewajibanya.
19:30 semua sudah harus selesai bersiap-siap dan makan.
‘tring’ bunyi menusuk telinga itu lagi.
Acara renungan malam sudah dimulai. Kegiatan ini dikhususkan hanya untuk golongn penegak dan penggalang bagi siaga sudah disiapkan kegiatan lainya.
Semua lampu disekitar panggung diredupkan, hanya terdengar desiran ombak dan sapuan angin malam yang membawa hawa dingin, tapi hawa dingin itu tak terasa dengan ketegangan yang tinggi ini.
Dalam keadaan hening itu tiba-tiba, terdengar suara wanita tertawa dari atas panggung, semua mata tertuju kesana. Tawanya semakin lama semakin berubah menjadi tangisan, tangisan itu perlahan-lahan mengecil hingga akhirnya hilang.
‘’duh bikin ka…’’ Belum selesai bicara tiba-tiba lampu diarea pangung menyala dan disana berdirilah Pembina tertinggi, wakil bupati untuk memberikan sambutannya. Semua bersorak ramai. Ada acara tarian, acara hiburan pada umumnya. Dan sejenak mereka semua melupakan rasa capek yang menusuk.
Setelah selesai kegiatan renungan sudah tak ada kegiatan selanjutnya lagi. Namun tentu saja ada patrol malam, jam malam masih diberlakukan disini. beberapa dari mereka ada yang memutuskan kembali ke tenda, ada yang memutuskan berselfi terlebih dahulu dan lain-lain. Tak terkecuali zey, ia memanfaatkan kesempatan ini untuk menatap laut serta langit yang penuh akan benda yang berkelap-kelip indah berwarna kuning bila dilapisi langit biru malam.
‘’eh zey ada yang mau temen gue omongin nih’’ kata salah seorang penggalang. Adek tingkat.
‘’ngomong aja’’ kata zey tanpa menoleh dari arah laut.
‘’ayuk cepetan jangan malu-maluin’’desaknya
Seorang remaja tampan itu memberanikan diri, ‘’ zey kenalin nama gue andre. Bisa minta no hp lo ngga?’’ katanya dengan sedikit percaya diri.
‘’waduh cabe rawit nih. Sikat aja zey’’ kata melly salah seorang teman zey yang baru tiba dari arah panggung. Akhirnya zey pun memberikan no hp nya dengan terpaksa.
‘’zey’’ panggil david yang membuat zey menoleh.
‘’iyya?’’
‘’mau nga ikut ke tenda gue dulu, gue mau ngenalin lo ke teman-teman gudep gue. Yang lain mau ikut juga boleh’’ jelas david. Zey menatap teman-teman Zey satu persatu secara bergantian. Terhitung ada enam orang disana.mereka semua mengangguk dengan semangat. ada duapuluh perempuan digedup hasanudin, sembilan diantaranya adalah sahabat dekat zey yang lainnya senior serta anak dari kelas lain.
Saat sampai di depan tenda hasanudin putri, tak ada siapapun disana. Mungkin beberapa dari mereka sudah tidur. Melewati tenda hasanudin putri didapatilah tenda yang tertulis ‘ teuku umar putri’.
Saking banyaknya orang yang tukeran no hp, tanpa sadar ponsel zey terjatuh dari saku celana pramukanya.
Kok si reza natap gue dari tadi sih. Kan risih. Nga nyaman lagi. Balik ke tenda ah. Batin zey.
Saat berniat hendak pergi reza memanggil namun kan teriak woy. Mana ada yang nama woy.
‘’woy…woy’’ teriak reza. Teman seangkatan reza sadar kalau reza sedang mencoba memangil zey diantara suara bising yang lain.
‘’ zey’’ teriak lily sahabat reza yang akhirnya membuat zey menoleh.
‘’noh’’ tunjuk lily pada reza. Zey menatap reza, keningnya yang tebal itu berkerut. Karna kalau dia memanggil zey lalu kenapa dia berdiri kaku?. Batin zey terus bertanya-tanya.
‘’em anu…’’ kata reza yang mulai berjalan mendekati zey.
‘’anu apaan?’’ tanya zey.
‘’nih’’ kata reza sambil menyodorkan ponsel hitam bersilikon polos bertuliskan huruf Z. zey langusng mengambilnya dan memriksa ponselnya dan tidak ada. ‘’kayaknya tadi jatoh pas lagi tukeran no hp’’ gumam zey. Saat hendak berterima kasih reza sudah tak ada disana. Akhirnya zey kembali ke tenda.
Pagi hari terakhir kemah.
04:00 alarm dalam tubuh mereka tiba-tiba menyala. Semuanya bangun satu persatu. Mungkin karna tak mau dihkum karna tak ikut lari pagi bersama. Hari kedua seperti itu, hamper semua dihukum karna tak mengikuti rutin pagi.
Hari ini hari ketiga. Hari terakhir mereka disini. Hari kedua adalah puncak kegiatan. Hari kedua semuanya dari siaga hingga penegak sampai tak sempat sarapan dan makan siang. Rasa lapar hilang begitu sja karna ketegangan yang memuncak. Karna hari kedua puncak acara maka hari ketiga ini hanya akan dihibur oleh kesenian dari gudep masing-masing. Kegiatan nya dimulai saat senja menyentuh hangat tepatnya 17:30 acara berjalan lancar namun karna beberapa dari anggota buper islam maka jam 18:00 diistirahatkan 20 menit hingga memulai lagi.
Malam ini malam api unggun. Malam terakhir jadi harus acara yang paling hebat. Setelah selesai pertunjukan kesenian maka pengumuman juara lomba buper tahun ini. Tambah tegang.
Kegiatan awal dibuat setegang-tegang mungkin tapi saat mulai pertengahan mulai serasa normal. Artinya ada sedikit rasa bercandanya.
Piala yang didapat dinilai dari prestasi masing-masing gudep. Karna pagi ketiga, tiga gudep tersohor dihukum karna kelalaian, serta disiplin yang kurang. Karna saat malam pentas seni atau malam kedua gudep yunas dan teuku umar saling mengejek, gudep hasanudin pasti selalu kena imbasnya karna semalam mereka berada ditengah-tengah mereka.
Juara lomba terbanyak tahun ini jatuh kepada teuku umar dengan memenangkan 49mendali dari seratus, dan posisi kedua kepada gudep hasanudin dengan 47 piala dari seratus, serta yunas 39 piala dari seratus.
Semua bersorak ramai. Suatu rekor baru. Hanya berbeda beberapa medali saja. Setelah itu kegiatan terakhir sebelum besok harus berbenah untuk pulang.
Pantai yang sekitar areanya luas dijadikan sebagai lapangan dan tempat panggung berada. Sekarang semua penghuni kemah tengah berada disatu tempat. Saat api mulai dinyalakan keadaan yang sebelumnya hening dan gelap berubah menjadi seperti festival api unggun, karna sebagian mengenakan jaket, topeng wajah beraneka ragam dan masih banyak karya buatan tangan lainnya yang dipamerkan disana. Terlihat sangat ramai. Zey seperti tidak nyaman karna ia merasa selalu diperhatikan dari kedua arah. Teuku umar dan yunas. Seperti ada dua pasang mata yang memantau setiap gerak geriknya. Karna kurang nyaman ia lebih memilih duduk dikursi santai samping panggung. Untuk memerhatikan apa yang sedang terjadi. Banyak yang bernyanyi ada juga yang berselfi hingga ada yang sengaja bawa selimut karna kedinginan.
‘’mmm…hey, zey…..’’ kata seorang remaja tampan kepada zey dengan gugup. Zey menyadari kehadiran seseorang disitu. ‘’ huh, lo cemen banget sih’’ gumam lelaki itu pada dirinya sendiri. ‘’Zey. Api unggunnya besar banget yah’’ katanya sambil tersenyum. Ia menatap lelaki itu secara seksama, hoodie hitam yang membalut separuh tubunya yang tinggi, wajah tampan nan mulus miliknya, tak bias dipungkiri ketampanannya saat tersenyum. Zey sadar bahwa dia sangat tampan dibawah sinar api unggun. ‘’ini beneren dia?’’ gumam Zey.
Pertemuan itu pun diakhiri dengan tiupan peluit perpisahan.
Kayaknya Kisah kita cuman sampai disini Zey Triana. Batin Reza.