Jauh di utara sana, terdapat sebuah desa yang selalu diselimuti salju. Beratus tahun setelah desa itu berdiri, terlahirlah sepasang anak kembar yang berbeda dari lainnya. Mereka memiliki rambut keperakan, yang mana biasanya orang-orang di sana terlahir dengan rambut gelap.
Namun yang lebih membuatnya "berbeda" adalah bola mata kembar yang lebih muda berwarna keemasan. Kecuali kedua orang tua mereka, penduduk desa selalu was-was ketika berada di dekat si kembar.
Tahun demi tahun berlalu. Sepasang kembar itu tumbuh menjadi anak yang tampan dan sehat. Ditambah keimutan dan kebaikan hati keduanya perlahan membuat penduduk luluh. Mereka mulai mengizinkan anak-anak mereka bermain dengan si kembar.
Ketika kedua orang tua mereka mengira akhirnya anak-anak mereka diterima di desa ini, sebuah fenomena kembali terjadi. Reinhard, si kembar yang lebih tua tiba-tiba bisa memancarkan sinar berwarna putih kebiruan dari tangannya. Anak berusia 6 tahun itu melakukannya ketika hendak menyelamatkan adik kembarnya, Reonhard, yang jatuh dari tebing.
Salju berkumpul di sekitar anak bermata keemasan itu, yang perlahan mengangkat tubuhnya ke atas. Itulah mula 'tragedi' yang menimpa desa ini.
"Monster Salju", demikian julukan penduduk desa pada sepasang anak kembar itu. Entah apa yang dikatakan anak-anak desa tentang kejadian itu. Bahkan Reonhard dan kedua orang tua mereka juga ikut terkena imbasnya.
"Maafkan aku," ucap Reinhard sambil terisak pada suatu malam. Ayah dan ibu mereka hanya tersenyum lembut.
"Tidak apa-apa, Reinhard. Ibu bangga pada apa yang kau lakukan," ucap sang ibu sambil mendekap putra tertuanya. Mendengar itu, tangisan yang meluncur dari bibir Reinhard kian menjadi. Ucapan ibunya barusan bak penenang sekaligus pisau yang menggores hati.
"Hei Reinhard," anak bermanik hijau itu memejam erat, membiarkan cairan bening mengalir sepenuhnya dari mata, menatap anak bermata keemasan yang berdiri di belakang sang ibu, "menurutku kau itu keren!" ucap Reonhard sambil mengacungkan jempol.
Reinhard mengerjap. "Ke...ren...?"
Adik kembarnya itu mengangguk. "Ya! Kau melakukannya untuk menyelamatkan aku kan?" Reonhard memancarkan sinar kebiruan dari telapak tangan. "Kalau kau dalam bahaya, aku akan melakukan yang sama. Aku akan menyelamatkanmu meski harus mati saat itu juga!" ucap anak itu sambil memamerkan senyum terlebarnya.
Spontan anak itu mendapat sebuah tinju di kepala sebagai hadiah atas perkataannya barusan. "Siapa yang mau mati, hah?" kesal sang ayah.
Anak bermanik keemasan itu hanya terkikik.
"Kalian bicara seolah di dunia ini hanya ada kalian berdua," pria berambut cokelat itu berjongkok, menatap kedua putranya bergantian. "Dengar ya, apa pun yang terjadi, kalian berdua harus bertahan bersama. Biar Ayah yang mencari kalian kalau kalian hilang. Biar Ayah yang mengobati kalian kalau kalian terluka. Asal kalian hidup, maka Ayah tak masalah."
***
Seminggu setelah malam itu, kabar duka menghampiri keluarga kecil si kembar. Ayah, pria yang berjanji akan melindungi dan menjaga mereka, meninggal akibat longsor salju di pegunungan. Sontak saja kabar ini membuat berbagai tuduhan dilontarkan pada Reinhard.
"Pergi kalian!" Malam setelah pemakaman ayah mereka, para penduduk mendatangi rumah di pinggir desa dengan membawa obor dan batu. Nampak jelas kejijikan yang terpatri ketika satu-satunya wanita yang tinggal di sana keluar.
Sedangkan Reinhard dan Reonhard bersembunyi di dalam peti sesuai perintah sang ibu. Namun rasa penasaran sebagai anak kecil membuat mereka keluar dan mengintip dari balik jendela.
Srashh.
Dunia si kembar seolah runtuh seketika. Cairan merah yang terciprat ke kaca jendela membuat keduanya terhenyak.
"Rein... itu... bukan Ibu.., kan...?"
Anak bermanik hijau itu menggeleng patah-patah. Cairan bening mengalir di pipi. "Bukan.... Itu... tidak mungkin...."
"Iya... kan...? Mustahil...."
Sepasang anak kembar itu tertawa, dengan raut wajah yang sama ketika melihat darah melayang ke arah mereka.
Brak. Dalam hitungan detik, ruang tamu sempit itu dipenuhi orang dewasa yang menatap keduanya tajam. Melihat obor menyala di tangan mereka membuat Reonhard refleks memeluk kakak kembarnya erat. "Jangan! Sakiti! SAUDARAKU!!!"
Angin salju berembus seiring seruan anak itu di akhir, membuat obor-obor padam dan perabotan beterbangan. Manik keemasan Reonhard menyala terang, membuat embusan angin itu menyebar hingga ke setiap sudut desa.
Saking kencangnya angin yang berembus membuat kayu yang menjadi dinding rumah itu hancur berkeping-keping. Reonhard mengarahkan telapak tangannya pada orang-orang yang berusaha melindungi diri dengan lengan.
"Ini untuk ibuku." Sinar biru memancar dari telapak tangannya. Sontak kristal es dengan ujung runcing menghujam dari langit, mendarat di atas tubuh dan rumah seluruh penduduk desa, kecuali Reinhard dan Reonhard.
"Ini untuk hinaan yang kalian berikan pada keluargaku." Angin berembus kian cepat, membuat dingin yang terkandung di dalamnya membekukan paru-paru orang yang menghirupnya. Satu per satu penduduk mulai sesak napas, terjatuh.
"Reonhard, hentikan!" seru Reinhard yang masih berada dalam dekapan adik kembarnya. Meski ia tidak mengasihani penduduk yang membuat hidupnya menderita, tapi ia tidak ingin melihat adiknya seperti ini.
Reonhard mengerutkan dahi, menatap orang-orang di depannya kian tajam. "Dan ini untuk semua yang kalian lakukan pada saudaraku!" Sinar biru yang menguar dari telapak tangan Reonhard semakin terang, membuat udara di sekitar semakin dingin. Para penduduk dapat merasakan kulit mereka mengeras dan dingin. Hingga lama kelamaan mereka menyadari lapisan es yang membungkus tubuh mereka. Namun ketika mereka sadar itu sudah terlambat. Tubuh mereka sudah sepenuhnya terbungkus oleh es.
"Reonhard!" Reinhard refleks menangkap tubuh Reonhard yang linglung. Sinar di matanya meredup. "Reonhard! Jangan...!"
Anak bermanik keemasan itu dapat merasakan tetesan air yang mengenai pipi. Ketika membuka mata, Reonhard dapat menangkap samar sang kakak yang menangis. Namun belum sempat mengatakan apa-apa, hitam lebih dulu mendominasi pandangannya.
"Reonhard!!!" Reinhard kembali berseru tatkala manik keemasan itu menutup. "Reon... jangan... jangan bercanda!"
Angin disertai salju kembali berembus, cepat seiring seruan Reinhard. Manik hijau itu menyala, menggigit bibir.
"Baiklah, hentikan sampai sana." Perhatian Reinhard spontan tertuju pada suara berat dari langit, pada sebuah bayangan yang bergerak ke arahnya dari antara awan. "Pegasus?"
Seekor kuda bersayap putih dengan tanduk di kepala mendarat di depannya. Kuda itu menekuk keempat kakinya. "Naiklah. Biar aku yang mengobatinya," ucap kuda itu.
Reinhard mengerjap, kedua sudut bibirnya terangkat. "Reonhard... Reonhard masih hidup?"
Kuda itu mengangguk.
Namun sedetik kemudian senyum yang terulas di wajah anak 6 tahun itu luntur, bergantikan keraguan. "Maaf, aku tidak mengenalmu. Kenapa kau mau membantu kami?"
Kuda pegasus itu tersenyum. "Naiklah, akan kuceritakan semuanya, Master."