Jika memang takdirku dilahirkan di dunia ini, tolong jangan buat hidup ini rumit.
Seperti lembaran buku bekas tak berarti, penuh koyak, dan lusuh.
Walaupun aku selalu diistimewakan oleh kedua orangtuaku namun, tidak dengan temanku.
Kata tidak, bukan berarti mereka menjelekkan aku ataupun tidak menghargai aku. Mereka sangat menghargai dan menghormatiku.
Hidup dalam kesalahpahaman yang besar membuatku seolah ingin menghilang dari dunia.
Memang bukan salah mereka, tapi ini salahku. Mengundang mereka menuju kesalahpahaman, yang membuat hidupku berjalan tidak semestinya.
Aku melakukan itu karena mungkin ada jiwa lain yang hidup dalam tubuhku.
Ah tidak...
Itu hanya akal akalan ku saja.
Anggara Nasywa Maheswari.
Itu namaku.
Aku dilahirkan sebagai seorang perempuan tapi, berperangai seperti lelaki.
Ya, aku hanya seorang perempuan tomboy yang hidup apa adanya dengan segala kesederhanaan yang ada.
Orang tuaku mendidikku dengan sangat baik. Tidak ada dalam diri mereka yang salah dalam mendidikku. Semuanya mereka lakukan demi kebaikanku kelak.
Mereka tidak memprotes ku dengan melihat penampilan ku yang super keren dan super tomboy parah. Bahkan mereka hanya diam saja saat ku tanyai tentang gaya rambut baruku yang super pendek, layaknya teman laki-laki ku.
Dan itulah kesalahpahaman besar yang muncul akibat kelakuanku.
Banyak orang mengira aku ini lelaki. Terlebih lagi teman temanku.
Hanya teman dekatku yang mengetahui jati diriku yang sesungguhnya.
Berusaha untuk menjaga jarak dengan orang yang segender denganku, sangatlah susah.
Bukan karena aku enggan bergaul dengan mereka yang segender denganku. Tapi, sikap mereka yang memandangku seperti seorang lelaki tulen yang membuatku harus menjaga jarak dengannya.
Di sekolah, bisa dibilang aku siswi famous. Banyak yang kenal denganku. Walupun aku tidak mengenalnya, aku tetap menyapa saat mereka menyapa.
Aku punya beberapa teman yang cukup dekat denganku. Salah satunya Rara, sahabat sekaligus tetanggaku.
Dia cantik, putih, dengan rambut panjangnya yang jika diikat seperti ekor kuda.
Aku terkadang merasa insecure dengannya. Kenapa aku gabisa kaya dia?
Ya walaupun gak akan bisa secantik dia, seenggaknya aku punya rambut panjang yang diikat.
Yasudahlah.. inilah aku.
Cewe tomboy apa adanya.
Suatu hari sepulang sekolah,
Rara mengajakku keluar menghirup udara segar di taman dekat rumah kami.
“Angga.. ” Sapa Rara membuka pembicaraan.
“hmm?” Ucapku.
“Gimana hari ini?” Tanyanya dengan penuh kelembutan.
“Biasa aja, nggak ada yang spesial” Jawabku lemas.
“Masa sih”
“Iya ra, emangnya selama ini apa yang nggak biasa di hidup aku?”
“Ada tuh”
“Apa hayo?”
“Aku, hahaha” Rara menjawab sembari tertawa lepas, menunjukkan deretan gigi putihnya.
“Helehh..” Aku melirik sinis.
“Eh tapi beneran tau, coba deh ya kalo gaada aku kamu bakalan gimana?”
“Biasa aja”
“Dih, yang ada kamu bakalan depresi, kena mental karena gaada yang nemenin kamu hahahaha” Lagi lagi Rara menertawakan aku.
“Eek kamu ra”
“Ihhh... aku kok kamu samain sama eek sih angga”
“Biarin, wleee” Aku mengejek Rara dengan menjulurkan lidahku.
Rara kesal dengan mencebikkan bibirnya, dan menunjukkan muka jeleknya kalo ngambek didepanku. Sangat lucu dan menggemaskan. Ingin rasanya ku cubit pipi chubby nya itu.
Tapi, aku takut kehilangan kendali ketika aku melakukan hal yang seperti itu, yang akan membuatku memandang Rara dengan tatapan lain.
“Eh angga..” Ucap Rara menyadarkanku dari lamunan yang nggak jelas.
“Ha?”
“Kita jadi kaya orang pacaran gak sih?”
“Mana ada” Jawabku dengan kening berkerut.
“Yaiyalah dengan kamu yang super keren gini, masa ada dari mereka yang liat kamu sebagai cewe?”
“Emm yaaa gaada sih”
“Yakan jadi kaya orang pacaran”
“Terserah kamu ra..” Ucapku sambil tersenyum.
Ya, begitulah obrolan singkatku dengan Rara.
Aku seneng karena selama ini Rara selalu ada buat aku. Diantara temen deketku yang lain, cuman Rara yang selalu ada.
Ngobrol, curhat, bercanda.
Rutinitas ku sehari-hari bareng Rara.
Lama lama aku ngerasa Rara jadi kaya adikku sendiri. Apa apa selalu ada, apa apa selalu bareng, dimanapun itu Rara selalu muncul.
Kadang bosen liat muka Rara, hahahaha. Tapi, karena dia periang dan ceria jadi nggak bosen liat muka dia tiap hari.
Aku berharap hubungan persahabatanku sama Rara yang udah dari kecil gak akan renggang.
Hingga...
Suatu hari,
“Angga” Rara menyapaku dengan tatapan sendu.
“Kenapa ra?” Tanyaku heran.
“Apa kabar?”
“Baik kok ra”
“Kan kita tiap hari ketemu, ngapain kamu nanyain kabar?” Tanyaku lagi dengan jutaan keheranan.
“Nggak boleh?”
“Ya boleh, cuman tumben aja”
“Ada yang mau aku omongin sama kamu”
“Ngomong aja kali, kenapa sih kaku gitu?” Candaku.
Rara tampak menghirup napas panjang, kemudian menghembuskannya perlahan.
“Aku seneng kalo kita terus kaya gini ngga” Ucapnya.
“Maksud kamu?” Tanyaku.
“Dari kecil kita udah bareng bareng terus, sampe sekarang kita gede pun masih juga barengan kan kalo kemana mana”
Aku mengangguk.
“Aku udah nganggep kamu kaya kakak aku sendiri. Dan aku seneng dengan hubungan kita yang saling nganggep kakak adek gini”
“Yaa aku nganggep kamu kaya adek aku kok ra”
“Aku tau..” Jawabnya dengan suara pelan.
Rara mencoba menarik napas lalu menghembuskan kembali, sebelum mulai berbicara lagi.
“Tapi kayaknya aku yang udah hancurin semuanya” Ucap Rara dengan kepala menunduk.
“Maksud kamu apa ra?? Kamu hancurin apa?” Tanyaku dengan kening berkerut.
“Akhir akhir ini aku ngerasa...
Ada satu rasa yang aku gatau itu apa”
“Rasa yang gabisa dijelasin pake kata kata. Dan aku ngerasain rasa itu. Aku berusaha buat nekan rasa itu biar gak makin gede.”
“Tapi... Aku ga bisa ngga” Lanjutnya.
“Rasa apa ra?” Lagi lagi aku bertanya dengan kening yang saling bertautan.
“Aku...”
Karena tidak mampu meneruskan kata katanya barusan, membuat dia menangis terisak.
“Loh ra.. Kamu kenapa?” Tanyaku.
Rara menggeleng.
“Aku bener bener udah hancurin semuanya ngga”
“Aku ga sanggup kaya gini ngga... ga sanggup” Dengan tangisan yang semakin menjadi jadi.
Aku bingung dengan sikap Rara yang tidak biasanya. Ku dekap dia dalam pelukku untuk menenangkannya.
“Aku.. Aku..” Ucapnya terbata bata.
“Aku cinta sama kamu Angga!” Lanjutnya, dengan suara yang semakin bergetar dan menangis hebat.
Bagai disambar petir, aku terdiam membeku tidak merespon ataupun beranjak meninggalkan Rara sendiri yang menangis hebat saat ini.
Inikah takdirku Tuhan??...
Kau datangkan sahabat terbaik untukku. Yang selalu ada dalam suka maupun duka.
Namun kini...
Hilang sudah semuanya.
Haruskah aku menghilang dari dunia???
Rasa sakit yang kurasakan saat teman segenderku berbondong-bondong menyatakan cintanya padaku, tak seberapa dengan rasa yang saat ini kurasakan.
Rara, sahabat terbaikku. Menyatakan cintanya padaku.
Memang inilah takdirku Tuhan.
Aku menerima semuanya.
Aku, Anggara Nasywa Maheswari. Pasrah atas apapun yang akan engkau berikan padaku.