Aku tak pernah hadir dalam setiap momen berhargamu. Tak sekalipun pernah aku menatap kebahagiaan terpancar dari wajahmu. Namun, mengapa justru aku harus hadir dihadapkan pada saat yang tidak tepat, menambah kenyataan menyakitkan yang bahkan tak bisa kuterima?
***
Sedari tadi kerjaanku hanya mondar-mandir di depan pintu kaca yang bertuliskan "Unit Gawat Darurat" di atasnya. Putraku di dalam sana sedang berjuang mati-matian, sedangkan aku tak dapat melakukan apapun di sini.
Tanganku bahkan gemetar sedari tadi dan sudah saling meremas satu sama lain. Otakku tak lagi berpikir jernih saat ini. Satu yang kutahu... bahwa anakku, yang selama ini tak pernah kuanggap hadirnya, bisa saja meninggalkan aku... kapanpun itu.
Kali ini, aku benar-benar menyesal. Sungguh. Aku merasa bahwa aku bukanlah ibu yang baik untuknya. Aku tak pernah sekalipun menatap dirinya secara benar.
Mataku sedari tadi sudah memerah menahan tangis. Tanganku beralih menjambak kuat rambutku. Mungkin orang lain akan berpikir aku gila. Dan aku tak peduli itu.
Aku memang gila. Itu benar. Aku telah menelantarkan anakku selama belasan thaun, dan baru menyadarinya saat ini.
Ayahnya tak mau bertanggung jawab atas kehadirannya di sini. Dan aku... aku menyalahkan anakku atas hal ini.
"Argghhh...." Tanganku menjambak rambutku semakin kuat. Tak peduli bahwa rambutku akan rontok atau apapun itu. Aku mulai bersandar pada dinding, lalu tubuhku melemas dan aku membutuhkan sandaran saat ini. Kutundukkan kepalaku, lalu mulai menangis terisak di sana.
Putraku bisa terbaring di dalam sana, karena aku telah berkali-kali mematahkan harapannya. Dan ia memilih jalan bodoh dengan merelakan dirinya ditabrak oleh mobil di jalanan.
Begitu banyak penyesalan yang bahkan tak bisa kuungkapkan dengan kata-kata. Begitu banyak harapan putraku yang tak bisa kukabulkan.
Tiba-tiba aku mendengar suara langkah kaki. Kuangkat kepalaku, melihat seorang lelaki berpakaian jas putih mendekat ke arahku. Pikiran negatif segera merasuki pikiranku saat kulihat raut muka dokter yang menangani putraku.
Aku hendak menegakkan tubuhku, bersiap menerima apapun yang akan disampaikan dokter kepadaku. Namun belum sempat aku melaksanakan niatku, pandanganku mengabur dan aku tenggelam pada kegelapan yang menyakitkan.
****
(Flashback on)
"Ibu, coba liat sini... Adek gambar wajah ibu nih."
Telingaku menangkap suara anak kecil di sampingku. Aku melirik sekilas, melihat bocah lelaki melambai-lambaikan kertas yang katanya adalah wajahku. Namun, aku tak ingin peduli. Segera kuraih setumpuk kertas yang ada di meja, tepat di hadapanku, lalu mulai menyibukkan diri.
Jujur saja, aku lebih membenci bocah itu daripada ayahnya. Tak tahu mengapa, namun aku menyesali kehadirannya yang tak kuinginkan. Ditambah lagi dengan tindakan ayahnya yang tak berakhlak meninggalkan aku yang sedang mengadung saat itu.
Aku kesal dan marah. Dan aku tak punya seseorang untuk melampiaskannya. Kebetulan, hanya ada bocah kecil ini yang di sampingku. Maka kujadikan ia pelampiasan kekesalan dan kemarahanku. Hingga sekarang pun seperti itu.
Beberapa menit aku sibuk sendiri, aku menjadi penasaran, apakah bocah itu masih ada di sana? Kulirik dengan ekor mataku, dia masih di sana rupanya.
Hatiku terenyuh melihat betapa kurus dan pucat wajahnya. Aku bahkan tak menghitung berapa umurnya sekarang. Mungkin tujuh tahun? Atau mungkin delapan tahun?
Aku bahkan tak tahu sejak kapan dia pandai berbicara. Aku bahkan tak begitu mengenal suara anakku. Sedari kecil, aku tak pernah memberikan ASI untuknya. Aku lebih rela memberikan ASI-ku pada bayi lain. Aku membencinya lebih dari apapun di dunia ini.
"Aku tak peduli padanya," ujarku terus-menerus dalam hatiku. Aku tak akan tersentuh hanya karena keimutannya atau karena kepolosannya. Tidak akan pernah. Camkan itu.
Kupandangi gerak-geriknya beberapa saat. Ia hanya meremas bajunya, memilin-milin ujung bajunya, persis seperti anak yang sedang ketakutan. Dan kuyakini itu karena diriku. Yah, memangnya siapa lagi yang berada di rumah ini selain diriku dan dia?
Sepersekian detik, aku membeku setelah melihat cairan bening meluncur dari wajahnya. Segera aku palingkan mukaku dari mukanya yang semakin terlihat menjijikkan di mataku. Wajahnya yang hampir sama dengan ayahnya, membuatku terus mengumpatinya dalam hatiku.
Perlahan tapi pasti, ia meninggalkan diriku. Aku tak melihatnya, namun aku mendengar langkah kaki kecilnya meninggalkan diriku.
(Flashback off)
***
Dan kali ini, aku benar-benar takut bahwa ia akan meninggalkan aku untuk selamanya. Bahwa ia akan meninggalkan aku, sama seperti ayahnya.
Dan betapa bodohnya aku baru menyadari bahwa aku begitu jahat pada anakku sendiri. Darah dagingku.
Aku terbangun di sebuah ruangan rumah sakit. Segera mungkin kulangkahkan kaki menuju ruangan tempat aku meninggalkan anakku tadi.
Kulihat dia sudah sadar. Matanya menatap ke langit-langit ruangan itu. Badannya dipenuhi alat-alat medis yang tak kutahu kegunaannya. Kakiku awalnya ingin kulangkahkan dekat ke arahnya, namun melihat bahwa dia sudah sadar, aku tak memiliki keberanian untuk memunculkan wajahku di hadapannya.
Aku sudah menyadari kesalahanku selama ini, namun aku masih terlalu gengsi untuk meminta maaf padanya.
Aku sudah akan berbalik meninggalkan, saat suara lembutnya menyapu pendengaranku.
"Ibu."
Kecil, namun panggilannya berhasil mematahkan tembok pemisah yang selama belasan tahun ini aku bangun.
Kali ini, aku tak lagi bisa menahan laju air mataku. Untuk kali pertama, aku yang berlari kepadanya, bukan sebaliknya. Segera kupeluk bagian tubuhnya yang tidak tersentuh alat medis.
Kugumamkan berkali-kali kata maaf kepadanya. Kukatakan bahwa aku menyesal atas perbuatanku padanya. Kujanjikan padanya bahwa setelah ia keluar dari sini, akan kuberikan semua yang ia mau dan kuturuti semua keinginannya.
Tak ada jawaban yang kudengar dari bibir mungilnya. Namun kudapat elusan di punggungku dan anggukan kepalanya. Dapat kurasakan bahwa ia pun ikut menangis denganku.
"Maaf, Bu."
Tangisku sontak berhenti kala bibirnya mengeluarkan kata-kata itu. Kulepas pelukanku darinya.
Dia selalu seperti itu. Tak pernah menyalahkan aku atas semua yang pernah aku lakukan padanya. Dan itu membuatku merasa semakin bersalah.
Bukankah aku yang seharusnya mengucapkan kata itu?
Lagipula, apa maksud ucapannya itu? Apakah ia tak mau memulai semuanya dari awal bersamaku? Tapi... tapi tadi dia sudah menganggukkan kepalanya?
Kulihat ia masih menangis, sebelum kembali berujar kepadaku, dengan mata sendunya, yang kali ini benar-benar kulihat.
"Maaf, Bu. Tadinya aku ingin melakukan semua yang Ibu katakan. Namun, tubuhku tak sanggup lagi Bu, bagian perutku sakit." ucapnya terbata padaku.
Tangisku semakin kencang. Untuk pertama kalinya, aku mendengar keluhannya padaku. Bukan tentang perbuatanku padanya, tapi hasil dari perbuatanku.
Memang benar, aku sudah tahu benar kondisinya yang tak memungkinkan lagi.
Sebelum aku ke sini, dokter yang menangani anakku sudah mengatakan padaku bahwa anakku tak akan bisa bertahan. Tulang rusuk melayangnya telah menyentuh bagian dalam tubuhnya dan mengakibatkan pendarahan. Belum lagi ditambah patah tulang sana-sini. Aku tak lagi mampu menyebutnya.
Tapi... dokter bukan Tuhan, 'kan? Itu hanya asumsi. Ya... hanya asumsi. Dan aku tak harus percaya.
Namun, mendengarnya langsung dari anakku, rasanya menyakitkan. Dan aku tak bisa lagi tak percaya.
Aku bahkan belum melakukan hal sebagaimana dilakukan seorang ibu kepada anaknya.
Aku pegang tangannya erat dan berujar di sela isak tangisku, "Bisa... Adek bisa tahan demi Ibu 'kan? Ayo berobat ke mana pun, Dek. Ibu yang akan nemenin ya."
Kulihat ia tersenyum kecil dan menggeleng, "Terima kasih Bu. Ini sudah saatnya Adek nyerah, Bu. Maaf Bu."
Tangisku pecah. Bahkan aku sempat mendengar isakan-isakan kecil lolos dari beberapa orang di belakangku. Dan aku barh menyadari bahwa kami sudah menjadi bahan tontonan. Tapi... bukan itu yang aku pedulikan.
Anakku... tangannya terkulai lemas di genggamanku, bersamaan dengan netranya yang menutup perlahan, dengan senyuman terpatri di bibirnya.
Aku meraung-raung. Memintanya untuk tidak meninggalkanku.
Telingaku berdengung kencang kala kudengar dokter menyebutkan waktu kematian anakku.
Tidak. Anakku tidak secepat itu meninggalkan aku. Kuraih tangannya yang mulai mendingin, kuraba wajahnya yang mungkin tak akan lagi bisa kupandangi setelah ini.
Berusaha mengikhlaskan kepergiannya, karena bukankah sedari awal pun aku tak pernah menerima kehadirannya?
***
Bertahun-tahun berlalu.
Dan aku tidak berhasil mengikhlaskan kepergiannya. Aku selalu terbayang kehadiran anakku di rumah.
Dulu... aku tak pernah menganggapnya ada. Dan setelah dia tiada, entah bagaimana aku seakan tahu bagaimana ia dulu tanpa diriku.
Bagaimana dulu dia makan dan tidur sendirian tanpa diriku... bagaimana dulu dia tak mempunyai teman bermain... bagaimana dulu dia melambaikan kertas hasil gambarnya padaku... bagaimana dia dengan suara lembutnya memanggilku ibu, dan bagaimana sikapku dulu padanya... menari-nari di kepalaku bagai kaset rusak.
Aku merindukan dirinya. Amat sangat merindukannya. Aku merindukan bagaimana suara lembutnya. Aku merindukan bagaimana saat ia melangkah mendekatiku. Aku merindukan perilaku polosnya yang memilin-milin ujung bajunya, setiap kali aku tak menjawabnya. Aku merindukan bagaimana kaki kecilnya melangkah. Aku merindukan segala hal mengenai dirinya.
Aku meliarkan pandangan ke sekelilingku. Tak ada satu pun foto dirinya. Tak bisa lagi kupandang wajahnya. Sekarang... aku hanya bisa mematri wajahnya dan memendam kerinduan dalam hatiku.
Rasa bersalahku belum hilang. Dan tak akan pernah hilang.
Lalu, bagaimana caraku terlepas dari belenggu rasa bersalah ini? Dengan cara apa aku harus menebusnya?
Dapatkah seseorang memberitahuku jawabannya?