Di malam pernikahan mantan pacar, aku hamil. Kutatap nanar garis dua di genggaman. Dosa itu nampak di pelupuk mata. Yaa Allah, belum cukupkah keburukan ini untukku?
Aku beristigfar, memohon ampun kembali atas lintasan prasangkaku kepada-Nya. Aku sudah banyak berbuat dosa, namun masih saja aku tak merasa bahwa semua adalah peringatan dari-Nya atas keputusanku menerimanya dengan kedok ta'aruf. Mana ada ta'aruf berakhir seperti ini
Kenalkan, namaku Fitri Ramadani. Orang tuaku biasa memanggilku Dani juga teman² dekatku. Aku terbiasa menggunakan pakaian tertutup karena meyakini bahwa menutup aurat adalah kewajibanku sebagai seorang muslim. Dan benar, dapat melindungi kita dari keburukan, namun tidak buat hatiku yang kotor dengan menerima rayuan seorang Don Juan berkedok santri di salah satu pesantren terkenal di Jawa Timur.
[Flashback]
Sahabatku mengenalkannku pada kakaknya.
"Dani, kenalkan ini kakakku, Indra.", kata Liana. Kutemukan kedua telapak tanganku membalas sapa perkenalan ini, sambil tersenyum. Ia mengikutinya dengan luwes.
"Maaf ya, aku bawa mas Indra ikut ke sini, karena aku diminta mengajaknya ke rumah nenek di Pancoran setelah kita selesai belajar Matematika Dasar untuk ujian besok. Gpp kan? Nenek kangen ingin ketemu cucu kebanggaannya" lanjut Liana sambil tertawa mengejek. Indra nampak menoyor kepalanya pelan.
"Ya, gapapa," sahutku tenang. "Masuk dulu, Li, mas."
Dari perkenalan pertama, berlanjut dengan pertemuan kami berikutnya. Awalnya aku risih dengan kedatangannya karena alasan mengambil buku catatan yang mau disalin Liana, mengembalikan buku,ku, meminjam buku tentang ilmu agama yang kupunya, sampai ia pun meminjamkan bukunya kepadaku.
Namun setiap kedatangannya yang selalu menambah waktu dengan obrolan² menarik seputar pesantren dan keilmuan yang disampaikannya, akhirnya aku terbiasa dan merindukannya. Ia nampak dewasa dan seperti menganggapku adiknya. Sikapnya nampak santun.
Orang tuaku tak mempermasalahkannya. Kami hanya mengobrol saja di rumah, yang pastinya tidak akan berbuat macam-mavam. Apalagi dengan kedalaman ilmu agama yang dia miliki. Sungguh tak pernah kami menyangkanya.
Tak terasa, aku merasa nyaman bersamanya. Mas Indra pun nampak sangat perhatian. Orang tuaku saat melihat kedatangannya yang cukup sering, akhirnya menanyakan perihal kami dan keperluannya datang ke rumah. Bahkan setiap ibu menerimanya datang, beliau menyempatkan diri mengajak Mas Indra mengobrol dan menanyakan aktivitas dan pekerjaannya, mengingat kabarnya ia sudah lulus dari pesantren dan sudah menggenggam ijazah S1 Ilmu Fiqih.
Perkenalan kami tak terasa sudah sebulan berjalan. Pada saat suasana rumah sepi, ibu sedang istirahat di kamar dan adik-adikku entah kemana, ia menyatakan perasaannya dan memintaku menjadi pacarnya. Tentu saja aku menolak dengan alasan tidak mau berpacaran. Namun ia katakan bahwa kami ber ta'aruf dulu sebelum memasuki tahap lamaran.
Haa Aku terbengong, melihat keseriusan ucapannya. Aku yang mulai tertarik padanya, akhirnya mengiyakannya. Toh selama ini kami tidak macam-mavam. Aku pun percaya dia tak akan membohongi kami (aku dan orang tuaku). Lulusan pesantren dan dari jurusan Ilmu Fiqih, Bro...
Setiap aku bertemu dengan adik mas Indra, dia tak pernah bercerita tentang kakaknya, bahkan Liana seperti tak tahu jika kakaknya sering bertandang ke rumahku.
"Li, apa kabar mas Indra? " aku sempat menanyakannya, seiring dalam seminggu ini ia belum menampakkan diri.
Jawabnya, "Cie.. cie... koq mendadak nanya? Suka ya??" sambil mukanya tertawa jenaka. "Hati-hati, jangan sampai jatuh cinta, nanti dosa lho.." celetuknya. Satu catatan keheranan yang tak kusadari.
Karena diledek, aku jadi tak lanjut menceritakan hubungan kami yang berjalan sudah sebulan lebih. Kupikir mas Indra ke rumah dalam pengetahuan adiknya. Nyatanya tidak. Dua catatan keheranan yang tak ku gubris.
Akhirnya, mas Indra bertandang ke rumah. Alasan ketidaktampakkannya selama seminggu lebih karena dia mulai bekerja di perusahaan, dan meninggalkan pekerjaan paruh waktunya mengajar di sebuah madrasah. Dalam ketertundukanku, mas Indra seperti biasa selalu membuatku tertoleh dan tertawa dengan banyak cerita yang nampak nyata dan menggelitik. Sungguh membuatku serasa terbawa alur ceritanya, hingga tak kusadari ucapannya sampai menggetarkan hatiku dan membuatku terlena.
Berbagai peristiwa kurasakan, saat kadang sentuhan yang nampak tak disengaja dilakukannya. Entah saat dia asyik bercerita tangannya menyenggol tempat kue di atas meja hingga hampir jatuh dan kami memegangnya bersamaan. Kemudian aku menjatuhkan HP saat dia mengirimkan sebuah gambar yang tak senonoh untuk melengkapi ceritanya. Lalu ia mengambilnya dan menghapus segera. Pun seperti yg kirasakan, ia menoyor kepalaku sambil mengelus setelahnya, tanpa rasa bersalah. Keherananku yang ketiga, koq aku tak protes ya? Itu mengalir bersama cerita yang mulus terucap dari lisannya.
Genap dua bulan perjalanan kehadirannya di rumah. Orang tuaku senantiasa mewanti-wanti agar aku menjaga jarak dengannya, mengingat ia tak pernah menyatakan pada ibuku saat mereka mengobrol, bahwa dia serius ingin meminangku. Apakah terlalu cepat orang tuaku menafsirkan sikapnya yang dianggap tidak serius setelah sekian lama? Padahal setiap pembicaraan kami, ia tak lupa menyebut nama Allah saat berbuat salah atau menyampaikan rasa padaku dengan rindu dan selalu ingin bertemu.
Hari ini aku ke rumahnya. Tentu saja karena tugas kuliahku dan Liana adiknya menjadi alasan kehadiranku di sana. Suasana rumah mewahnya sepi. Asisten rumah tangganya hanya nampak saat mengeluarkan minuman dan makanan. Sepi, itu suasana rumah Liana sehari-hari, begitu katanya.
Saat kami serius mengerjakan tugas, Tiba-tiba HP Liana berbunyi. Dia diminta mamanya ke rumah tetangga yang membuka toko roti untuk mengambil kue pesanan mamanya untuk diantar ke tetangga tempat mamanya sedang berkumpul di acara arisan warga.
Aku tak keberatan saat ia minta izin keluar. Ternyata, mas Indra tak melewatkan kesempatan itu. Dia keluar dengan kaos dan celana pendek yang menurutku sangat seksi. Aku mencoba tetap fokus pada tugas dihadapanku.
"Alhamdulillah, akhirnya kamu main ke sini. Aku senang sekali, Ni. Mau dibantu? ", tanyanya.
" Tidak. Ga susah koq, cuma butuh penjabaran aja secara detail, " jawabku.
"Lho, ini minumnya belum diminum juga dari tadi?, ' ia menyodorkan gelas berisi sirup yang wangi dan dingin karena ada es batunya.
Seperti memaksa, disodorkannya gelas itu. Aku menghargai perhatiannya, dan kuteguk air manis berwarna hijau itu dengan tegukan yang cukup banyak. Ternyata terasa menyegarkan hingga habis ¾ gelas, namun ada sedikit rasa aneh untuk sebuah sirup setelah aku berhenti meneguknya. Oh sirup mahal, mungkin, sehingga beda rasa dengan sirup yang biasa dijual di swalayan. Mas Indra seperti biasa mengisi keheningan dengan sibuk mengomentari tugas yang aku kerjakan.
Ku lanjutkan tugasku sambil menunggu Liana kembali, hanya lama kelamaan aku merasa berkeringat dan semakin tak nyaman. Dengan tekad, ku lanjutkan tugasku agar bisa melupakan rasa gerah. Kuambil minumanku dan kuteguk hingga tandas. Semakin tak kuat aku, dan meminta izin ke kamar mandi. Mas Indra dengan lembut bahkan menuntunku ke sebuah pintu dan membukanya.
Kumasuki pintu yang kukira kamar mandi, namun ia menunjuk di dalam kamar itu bahwa kamar mandi ada di dalamnya. Aku bergegas masuk, namun ketergesaanku membuatku hampir jatuh akibat gaun panjangku sendiri. Kurasakan pelukan dari belakang dan dekapan yang menjerumuskanku kepada tersalurkannya gejolak yang kurasakan. Aku merasa sangat luar biasa dan bagaikan mimpi, kuteguk rasa itu dengan nikmat. Hembusan udara yang menyejukkan tak membuatku sadar diri. Nyaman dan lepas. Aku lupa akan wejangan ibu dan ilmu yang kupunya untuk menjaga diri. Sungguh bisikan syahwat sangat halus. Setan bahagia bersama dosa yang ditawarkannya. Dan aku menerima tanpa syarat.
Sejujurnya tubuhku sakit. Aku bangun dengan susah payah. Apa ini? Penyesalan pasti datang terlambat. Dunia terasa runtuh, menimpaku dengan begitu berat dan sakit yang tiada tara. Tiba-tiba aku ingat Allah dan berucap istigfar berulang kali. Air mata tak sadar bercucuran. Aku sadar, aku sudah melakukan dosa yang teramat besar. Bagaimana menghapus dosa yang hanya dapat dibersihkan dengan hukuman yang sangat berat? Siapkah aku? Rasanya ingin marah, sangat marah. Kepada siapa? Ini salahnya. Ku cari dia, tidak ada. Terpaksa kupakai pakaian yang berserakan di lantai dengan susah payah. Aku berkaca, betapa buruknya apa yang tampak dalam cermin. Beginikan seorang pendosa besar itu? Rasanya aku malu ingin memanggil Tuhanku, namun hanya Dia yang bisa mengampuniku. Kusebut nama-Nya sambil memohon ampun terus menerus sambil ku lanjutkan berbenah diri dan membersihkan sisa-sisa penyesalanku dengan air ke wajahku dan bergegas keluar kamar yang menorehkan dosa yang sangat dalam.
Hening, masih saja rumah ini bagai tak berpenghuni. Kudengar sayup-sayup orang mengobrol di teras rumah. Di kejauhan kulihat posisi laptop, buku dan lainnya masih tetap sama. Aku harus apa, Yaa Allah? Kuberpegangan dengan apa yanga ada di sepanjang jalanku menuju ruang tamu. Bagian tubuh yang sangat ngilu membuatku sulit berjalan ditambah tubuh yang terasa lemah. Inikah musibah bagi hamba yang lalai menjaga diri? Pastinya. Dan aku sungguh sangat menyesal tidak waspada dengan tanda-tanda yang Allah berikan.
Di bufet aku berhenti sejenak menahan nyeri. Mataku menjelajah tak sengaja mengamati apa yang ada di atasnya. Rangkaian foto dan hiasan yang bernilai tinggi. Ada setumpuk kartu undangan di sana. Nampak menarik mengundang keingintahuanku. Beringsut aku menuju ke sana dan kuambil sebuah. Ada nama Muhammad Indra Gunawan di sana. Bug! Jantungku bagai dipukul. Apa ini?
Rasa sakit di badan nyaris tak terasa. Aku bergegas ke sofa tempat seluruh peralatan dan tasku berada. Kubereskan semua dan aku segera keluar ruangan yang besar dan mewah itu. Di teras kulihat Liana dan Mas Indra sedang mengobrol. Mas Indra tersenyum melihatku seperti tidak kenal dekat.
"Dani, lama amat di kamar mandi. Mas Indra bilang kamu mules, ya? Tadi aku mau lanjutin kerjaan kita, nih anak nyebelin, malah ngajak ngobrol bentar katanya. Mentang-mentang 2 minggu lagi dia mau nikah, tiap hari aku dibikin sibuk. " cerocos Liana.
"Hei, koq kayak mau pulang? Itu tas sudah kamu bawa aja, ayo kita lanjutin, Dan. " sahutnya lagi.
"Iya, maaf aku lagi ga enak badan. Pulang dulu ya? " jawabku.
Ingin kubercerita, jika aku tadi dari kamar kakaknya, namun saat ku melirik mas Indra, ia tanpa permisi sudah ada diambang pintu masuk rumahnya. Tak peduli dengan keadaanku dan seperti tak tau apa-apa. Menyesal selama ini aku tak bercerita tentangnya yang mendekatiku kepada adiknya. Padahal aku ingat benar peristiwa yang seperti mimpi itu nyata, aku merasakan dan melihat bekas-bekasnya di atas kasur. Ugh, sakitnya mengingat hal itu.
Liana langsung memperhatikanku, "Eh, maaf kamu nangis? Sakit banget ya perutnya? Hayu aku antar pulang. "
Kutolak dengan halus bantuannya, mengingat aku membawa motor sendiri. Liana menawarkan tugasnya untuk diselesaikan olehnya saja, namun karena tadi terburu-buru, semua ku masukkan dalam tas. Aku tak mau lebih lama di sini. Aku marah, kesal, benci, dan segala rasa yang meluluhlantakkan seluruh jiwa raga ku. Ketakutan akan hukum Allah ini terus merajaiku. Ingin membunuh diriku karena malu, justru akan menambah deretan dosa besar terlaknatku. Yaa Allah, bagaimana ini?
'Li, besok saja kita teruskan di rumahku saja ya? " lemah ku tanyakan kesediaannya.
Langsung dijawabnya, "Okay. Pagi aja ya, Biar banyak waktu. Besok kuliahnya siang, kan? Kalau capek, ga konsentrasi, ya ga? " Liana terkekeh mencoba menyemangatiku yang memang sedang lelah.
Sesampainya di rumah, aku bersegera membersihkan diri dengan mandi junub. Kutumpahkan segala kegelisahanku setelah menunaikan sholat. Sholat taubat. Dan sisa hari itu kugunakan untuk terus bermunajat meminta petunjuk dan ampunan atas dosa-dosa terlaknatku yang seharusnya bisa kuhindari. Aku tak mengerti betapa mudahnya seorang yang berilmu mengajak pada kesesatan karena kenikmatan yang sesaat. Dan akupun terjerumus.
Keesokan harinya, Liana sampai di rumah pagi-pagi dan masih sempat bertemu dengan ayahku yang akan berangkat kerja sambil mengantar adik-adikku ke sekolah. Aku masih berusaha kuat walau rasa itu masih ada.
Setelah kami menyelesaikan tugas, Tiba-tiba aku teringat dengan undangan itu. Kutanyakan padanya, "Li, kamu bilang mas Indra akan menikah sebentar lagi. Benar?"
"Iya, Ni. Gara-gara pacarnya bilang sudah hamil masuk 5 minggu. Pacaran mereka mengerikan. Mereka tidak malu berpelukan dan berciuman kalau ketemu. Makanya aku bilang, jangan jatuh cinta. Soalnya kakakku itu masuk pesantren karena model pacarannya waktu SMA parah, susah dibilangin. Siapa aja yg suka padanya, dipacarinya. Mama gerah dan akhirnya memasukkannya ke pesantren. Di sana juga banyak kejadian yang sampai kepada kami, hanya para ustadnya sabar sekali mengingatkan mas Indra, hingga selamat lah dari kegilaannya itu. Eh, ternyata, santriwati di sana masih mengejarnya ke sini. Nah, itulah, akhirnya Papa setuju menikahkan mereka, mengingat memang mbak Dina, santriwati yang backstreet dengan mas Indra di pesantren, memang sejak dulu selalu mau diajak melanggar aturan. Bahkan agar bisa dekat rumah kami, dia tinggal di rumah neneknya di Pancoran, tempat mereka bertemu setelah pulang kerja. Mbak Dina ini yang menawarinya kerja di perusahaan tempatnya bekerja agar bisa berangkat dan pulang bareng, " cerita LLian cepat.
Ucapannya yang nampak seperti cerita biasa membuatku semakin tidak karuan. Ternyata mas Indra menggunakan segala yang dimilikinya untuk kesenangan semata. Bahkan ilmunyapun bukan dipakai untuk jalan kebaikan dirinya, tapi justru untuk menutupi kebusukan hatinya.
Aku makin terpuruk mendengarnya. Ingin kubercerita, tapi rasa malu sangat mendominasi. Biarlah ini kujadikan hukuman atas kelalaianku di masa lalu. Aku harus tegar menghadapinya. Tak mungkin kukatakan keadaanku, sedangkan orang yang harus bertanggung jawab sudah harus mempertanggungjawabkan hasil perbuatannya kepada yang lain. Akupun kini hanyalah hamba Allah yang paling hina. Betapa ingin aku memohon pada Allah untuk tak lagi ada di dunia. Bisakah?
[Flashback off]
Malam ini aku diminta sahabatku untuk menjadi pagar ayu mas Indra di acara pernikahannya. Kuedarkan mataku ke seluruh penjuru kamar. Adakah yang melihat ini? Benda pipih sebesar jari dengan 2 garis sejajar berwarna merah. Tentu ada. Hanya aku kini ingin mencari penyelesaiannya. Apa yang harus kulakukan kini, Yaa Allah? Dosa itu ternyata meninggalkan jejak.