Sebelumnya Aku ingin memperkenalkan diriku terlebih dahulu. Namaku Hanz, bukan seorang penulis, bahkan tak punya tulisan apapun. Aku hanya suka membaca. Apapun itu Ku baca, selagi masih berbentuk sebuah tulisan. Novel, koran, tabloid, bahkan buku pelajaran anak sekolah, dan lainnya pun kubaca.
Semua karena teman lamaku, namanya Mitha, wanita cantik yang seumuran denganku. Setidaknya karena Dialah, tulisan ini ada. Menjadi pelepas beban yang selama ini ada dipikiranku. Setidaknya Aku tidak sendiri, menganggap itu sebuah kegilaan. Bisa menjadi bahan berbagi pengalaman, juga hiburan buat Kalian pembaca yang budiman, meskipun akan semakin menjadi luka yang untukku, terutama setelah Kalian pembaca yang budiman sudi membaca tulisanku.
Aku dan Mitha baru saling mengenal, selepas lulus dari Sekolah Menengah Atas. Dia kuliah di sebuah Universitas ternama di kota ini, sedang Aku saat itu bekerja sebagai kuli bangunan yang sedang mengerjakan proyek pembangunan Mall.
Berawal dari kejadian tidak terduga, yaitu ketika Mitha menumpang bonceng motor, karena jam kuliah yang sudah mepet, padahal saat itu Kami tak saling mengenal. Tetapi setiap harinya memang Kami sering berpapasan saat Aku berangkat kerja, dan Dia sedang menunggu angkutan umum di depan rumahnya. Mungkin karena sudah merasa tidak asing, jadi Dia memberanikan diri untuk memberhentikanku saat itu, apalagi memang sedang kepepet oleh waktu.
Sejak saat itu, Kami menjadi akrab. Hampir setiap hari Kami berangkat dan pulang bersama. Memang, Kami hanya sekadar akrab saat diatas sepeda motor ketika berboncengan. Entah disengaja atau tidak, selama 2 tahun kejadian seperti itu hampir setiap hari, Kami berangkat dan pulang bersama.
Selain menyebutkan nama, kami tidak pernah bercerita tentang hal apapun, termasuk hal pribadi. Pekerjaanku, kuliah Dia, atau bahkan bertukar nomor hp pun tidak. Entah apa yang ada dipikiran Kami masing-masing saat itu. Dan itu berjalan selama 2 tahun!
Hingga suatu ketika, Mitha mengajakku makan bersama saat itu, ketika sedang diperjalanan pulang. Dia beralasan, sesekali makan bersama, sekaligus merayakan keberhasilannya mendapat nilai bagus diakhir semester ini.
*
Awalnya semua berjalan lancar, Kami saling ngobrol dan saling bercerita. Itu pertama kali kami bisa ngobrol panjang, setelah sekian lama kenal. Dari sana, Aku bisa menilai, Mitha selain cantik, juga pintar, manja, dan humoris. Tampak juga dari penampilannya berasal dari keluarga yang berada, meskipun demikian Dia terlihat mandiri, dengan memilih mengontrak rumah sendiri dan hidup jauh dari orang tuanya. Sungguh wanita yang tampak sempurna. Jika bukan karena perbedaan status yang mencolok, mungkin kuberanikan diri untuk lebih mengenal Dia.
Saat perjalanan pulang dari tempat makan, Mitha mengajakku untuk singgah dulu ke lapangan Alun-alun Kota. Dia berujar, hari ini malam minggu, sesekali Dia ingin menikmatinya bersama seseorang, seperti kebanyakan muda-mudi pada umumnya.
Waktu masih menunjukkan pukul 5 sore, langit masih terang, tetapi tampaknya keramaian di beberapa sudut Alun-alun sudah mulai terlihat. Beberapa Fans Club' Motor sudah berjejer rapi parkir di sepanjang trotoar.
Mitha mengajakku ke ujung, tepatnya di sudut pojok Alun-alun barat daya. Di tempat itu sangat jarang dipakai muda-mudi untuk nongkrong, karena posisi trotoar agak tinggi, sehingga motor susah naik. Selain itu juga ada pohon besar yang sangat rimbun, hampir menutupi seluruh pandangan ke arah lapangan. Konon katanya pohon itu sudah ada sejak jaman penjajahan Belanda, dan belum pernah dipangkas daunnya. Sehingga tempat itu seperti tampak terisolir ditengah keramaian. Memang, masih sering ada kendaraan lewat, tapi tak ada satupun yang berhenti.
Saat tiba ditempat, Mitha bergegas turun, sambil menuju ke pohon, Dia duduk disebuah batu besar yang terlihat menempel pohon. pandangannya sayu, menatap kedepan, tepatnya di seberang jalan, ada rumah klasik Jawa, yg nampak sepi. Sorot matanya mengambarkan kesedihan.
Aku pun turun dan segera menghampirinya.
"Ehem.. Lagi ngelamunin apaan?" Ucapku tiba-tiba yang sontak mengagetkannya.
Terbentuk sebuah raut wajah lucu yang baru pertama ini kulihat, Aku cukup menikmati moment itu.
"Sudah tiga tahun berlalu, ini pertama kalinya aku kesini, dan masih belum ada yang berubah."
Aku bingung dengan perkataan Mitha yang mendadak.
"Maksudnya?"
Mitha hanya membalas dengan senyuman kaku, sampai beberapa menit kemudian, ucapan yang keluar dari mulutnya membuatku hampir tidak percaya.
"Hanz.. Kamu mau gak jadi pacarku?"
"Aah.. Ini.. " Kelu lidahku untuk menjawab, karena saking tidak percayanya.
Mitha menatap lekat mataku, seolah hal yang serius berikutnya segera disampaikannya.
"Aku sadar Hanz, ini terlalu cepat, tetapi Aku punya alasan.
Mitha kemudian mulai menceritakan kisahnya.
5 tahun yang lalu, saat Dia masih duduk di bangku SMA kelas 1, Dia punya pacar, namanya Reza. Mereka berpacaran hampir 2 tahun. Tapi Reza mengalami musibah, yang membuatnya meninggal dunia.
Mitha sangat terpukul karena itu. Semenjak itu Dia berjanji tidak akan pacaran, hingga menemukan sesosok lelaki yang menurutnya hampir seperti Reza. Dan menurut Mitha, Akulah orangnya.
Selama 2 tahun Kami saling kenal, Aku tidak pernah punya niat macam-macam dengannya. Padahal kesempatan itu selalu ada. Dan dari sanalah, Mitha menemukan sosok Reza dalam diriku.
Sebagai lelaki normal, mungkin Aku senang, bisa disukai wanita cantik. Tetapi jika mengingat kembali perbedaan status Kami, pikiran itu kubuang jauh-jauh, karena Aku masih sadar diri.
Mitha kemudian menepis anggapan itu. Baginya, status hanyalah kulit dari kehidupan. Cinta lebih membutuhkan ketulusan dan mau menerima kekurangan pasangan.
Saat Ku ceritakan masa laluku yang kelam, bahkan suka mabuk dan keluyuran malam, Mitha dengan senyum keyakinan mau menerimaku.
Bagai mendapat durian Montong di siang bolong dan isinya tidak melompong, tentu aku kaget. Semudah itu Mitha mampu menerimaku. Dia lalu berkata.
"Aku akan menerima semua kekuranganmu dan masa lalumu, sekalipun dirimu pernah terperosok kedalam lubang got yang teramat dalam." Akunya saat itu.
"Lubang got cuma setengah meter." Sahutku tersenyum masam.
"Heleh.. Perumpamaan!"
Kami sedikit tertawa kecil, mengisi kesunyian sesaat.
"Tetapi kamu belum tentu bisa menerima kekuranganku, terutama masa laluku." Lanjut Mitha setelahnya.
Aku pikir, hal seperti apa yang bisa membuatku tidak bisa menerimanya?
Sebagai wanita yang menurutku Sempurna, tak ada hal yang kurang darinya menurutku saat ini. Jika masa lalunya hanyalah gadis nakal, atau pernah mabuk dan memakai obat terlarang, atau mungkin sudah tidak virgin lagi, Aku tetap mau menerimanya.
Karena masa lalu hanyalah hal yang sudah terlewat menurutku. Dan yang terpenting adalah saat ini hingga masa depan.
Mitha berjanji akan menceritakan semuanya, jika Aku mau menerimanya. Dan Ku putuskan saat itu juga aku menerimanya. Terhitung detik itu juga kami resmi berpacaran.
*
Hal pertama yang Mitha lakukan setelah resmi pacaran, adalah menunjuk kedepan dengan telunjuknya. Sebuah rumah klasik Jawa yang sejak tadi dipandangnya, dengan halaman yang luas jadi tujuannya.
Hari sudah gelap, waktu menunjukkan pukul 7 lebih. Mitha lalu mengajakku berjalan kesana. Rumahnya tampak sepi, dan memang rumah ini ditinggalkan penghuninya dan hanya sekali dalam seminggu, ada beberapa orang pekerja yang membersihkan lingkungan rumah.
Dan yang mengejutkan, rumah ini ternyata adalah rumah tempat tinggal Almarhum Reza, mantan pacarnya!
Sedikit ada rasa horror saat diri ini melangkahkan kaki. Tetapi, sebagai seorang lelaki, tentu tak ingin terlihat takut didepan wanita. Apalagi Mitha dengan langkah santainya, seolah tanpa beban berani melangkah.
Setibanya didepan pintu pagar, karena halaman yang luas, rumah tampak masih jauh, setidaknya ada jarak sekitar 25 hingga 30 meter untuk mencapai pintu rumah.
Tetapi, ternyata tujuan utama Mitha bukan kerumah utama, jadi tidak perlu melewati pintu pagar. Adalah sebuah gubuk, yang lebih mirip seperti poskamling tanpa dinding, hanya ada 4 pilar sebagai penyangganya, yang berada di ujung barat depan rumah tersebut.Tak perlu melewati pagar, karena Gubuk itu terletak tepat disisi jalan.
Semakin dekat dengan Gubuk, semakin kencang juga detak jantung ini Ku rasakan.
Hal aneh pertama yang Ku jumpai setelah tiba didepan Gubuk adalah berbeda dengan rumah utama, yang walaupun tampak dari jauh, tapi tampak bersih dengan penerangan yang cukup dimalam hari. Sedangkan Gubuk didepanku ini selain gelap tanpa penerangan lampu langsung, dan hanya terlihat remang remang apalagi penerangan lampu jalan tertutup pohon, juga berdebu dihampir menutupi seluruh Gubuk.
Menurut cerita Mitha, Gubuk ini selalu dibersihkan tiap seminggu sekali, sama seperti rumah utama, hanya saja entah mengapa, debu selalu muncul sesaat setelah dibersihkan, seperti sedang menutupi sesuatu.
Didepan Gubuk ini, Mitha yang berjalan didepanku segera menoleh, sambil tersenyum.
"Mari Ku kenalkan teman temanku."
Deg! Aku menoleh ke kanan dan ke kiri, jalanan sangat sepi, bahkan tak ada kendaraan lewat, meskipun disudut lain Alun-alun dari jauh tampak ramai. Tak ada siapapun disini. Aku sempat berpikir bahwa teman-temannya adalah makhluk halus yang tak mampu Ku lihat. Bulu kuduk langsung berdiri tegak menantang setelahnya.
Ditariknya tanganku oleh Mitha dan dibawanya semakin dekat dengan Gubuk. Hal pertama yang dia lakukan adalah menyapa bangunan Gubuk tersebut sekaligus memperkenalkannya padaku.
Namanya Giant, jadi bangunan Gubuk yang ada didepanku ini bernama Giant. Mitha kembali menarik tanganku untuk menyentuh salah satu pilar yang masih tampak kokoh terbuat dari kayu jati, seolah tanganku sedang bersalaman. Debu yang menutupinya, seolah tak berarti menutup potensi bahwa bangunan ini masih sangat kokoh.
Mitha kemudian mengajak ngobrol Giant.
'Hah.. Benda mati? Diajak ngobrol? Aku gak salah lihat kan?' Pikirku saat ini.
Ya.. Tidak salah, memang benda mati, dan Mitha seolah ngobrol dengan makhluk hidup yang sudah lama tak saling berjumpa.
Mitha bercerita, nama Giant adalah pemberian dari Almarhum Reza, karena besar dan kokoh melindungi. Dahulu Gubuk ini sering jadi tempat kencan mereka berdua.
Kegilaan seperti apa ini? Mungkin jika hanya diberi nama, masih hal wajar, tetapi diajak ngobrol! Astaga.. Aku hanya bisa menghela nafas dalam-dalam. Apalagi butuh waktu setengah jam untuk mengobrol dengan Giant, yang isi obrolannya bahkan tidak Ku perhatikan, karena pikiranku sedang kacau.
"Mit.. masih ada berapa lagi temanmu?" Tanyaku tak sabar menanti.
"Sabar Hanz, masih ada lima lagi." Jawab Mitha tersenyum manis.
Mungkin jika dalam keadaan biasa, senyuman Mitha akan membuatku langsung terpesona. Tetapi saat ini, Aku lebih sedang melihatnya sebagai senyuman psikopat yang sedang merencanakan sesuatu. Keringat dingin mulai membanjiri tubuhku, dan baju yang Ku pakai sampai basah seperti habis kehujanan, padahal cuaca sedang cerah.
"Tapi Mit.. "
"Hanz.. Kamu pacarku sekarang. Please bertahanlah sebentar lagi, agar bebanku terangkat seluruhnya."
'Satu aja butuh waktu selama ini, apalagi masih lima!' Pikirku yang ingin segera menyelesaikan hal gila ini.
"Ya sudah.. Ayo buruan."
Sebelum langkahnya menapak lantai keramik, Mitha terlebih dulu berjongkok dan menyentuh sesuatu. Karena tertutup oleh debu yang tebal, sehingga seperti tak nampak dan menyatu dengan lantai. Terlihat sebuah keset yang warnanya terlihat hitam gelap, setelah diusap tangan lembut Mitha berulang-ulang untuk menghilangkan debu.
"Nah.. Yang ini namanya Suneo." Ucap Mitha menoleh padaku.
"Ha_hai Su_ Suneo!" Lidahku masih terasa kaku karena tegang.
Mitha bercerita kenapa diberi nama Suneo, karena Suneo itu sombong dan Mitha tidak suka. Itulah kenapa diberi nama Suneo, tapi katanya setelah kenal satu tahun, Suneo menjadi ramah, dan selalu menjadi yang pertama menyapanya saat Mitha berkunjung.
Dalam hatiku, tentu saja yang pertama, apalagi berada paling depan dari Gubuk.
'Astaga Tuhan, semoga setelah ini Rumah Sakit Jiwa sudah penuh semua. Aku masih ingin waras.' Keluhku dalam hati pula tentunya.
Mitha segera mengajakku lebih ke dalam, dengan sebelumnya menggosokkan kedua telapak kakinya beralaskan sepatu sebanyak 2 kali. Aku mengikuti Mitha, tapi melewati Suneo. Mitha segera menyuruhku kembali dan melakukan hal yang sama seperti Dia lakukan, itu untuk menghormati Suneo katanya.
Aku hanya bisa menurut sambil menggelengkan kepala. Bukankah tadi dielus-elus? Kenapa sekarang jadi diinjak-injak?
Seperti habis manis sepah dilepeh, tidak dibuang nyatanya cuma diinjak-injak.
Ditengah Gubuk ada sebuah meja, kursi kayu tunggal, dan sofa panjang yang tentunya juga tertutup debu sama seperti yang lainnya.
Mitha segera menepuk kursi kayu tunggal dari belakang dan memanggilnya, Nobita. Aku pun mengusap-usap debu si Nobita. Mungkin Mitha mengira Aku sedang mencoba akrab, padahal karena lemas dari tadi, diri ini ingin segera duduk. Tetapi sebelum pantat ini menyentuh Nobita, Mitha segera mencegah.
"Jangan!"
"Kenapa? Aku sudah pegal." Keluhku saat ini.
"Nobita pemalu dan tidak suka diduduki." Ujar Mitha enteng.
Aku hanya bisa mendengus pelan.
Di depan Nobita, ada meja bulat yang diberi nama Shizuka. Sedang diseberangnya si sofa panjang bernama Doraemon. Setelah Ku pikir kembali, memang hampir semua pernak pernik yang Mitha selalu pakai mengandung unsur dari film kartun favoritnya itu. Dari baju yg sering dipakai, tas, jaket, topi bahkan ikat pinggang pun semua bergambar Doraemon.
Mitha kemudian bercerita, Shizuka ini yang paling ramah, suka menghibur, selalu menyediakan makanan dan minuman juga sebagai teman curhat ketika sedang duduk sendiri disini.
'Makanan dan minuman tentu saja ditaruh dimeja. Masa mau dicantolin di baju!' Gerutuku dalam hati lagi.
"Yuk.. duduk bersama Doraemon, katanya pegal." Goda Mitha memainkan sebelah matanya.
"Iya.. " Jawabku malas.
"Doraemon ini adalah saksi dulu aku pertama kali pacaran." Cerita Mitha semangat.
"Ada penghulunya?" Tanyaku asal.
Mitha hanya memanyunkan bibirnya kedepan, sambil membersihkan sofa dari debu untuk tempat duduk. Dia segera mengambil posisi sebelah kiri, kelihatannya tempat yang dulu sering didudukinya. Sedang aku di sebelah kanan dengan masih berhati-hati karena hanya sebagian debu yang tersapu. Kursinya hanya muat dua orang, dan sangat pas untuk pasangan yang sedang berduaan.
Jika saja dalam keadaan normal, suasana berdua, apalagi dengan kekasih hati seperti ini tentu sangat menyenangkan. Tapi bagaimana Aku bisa menikmati setelah kegilaan sebelumnya yang tidak masuk akal.
Mitha menatap kearahku, dia bercerita kembali bahwa disofa inilah dulu Dia dan Reza jadian. Yang selanjutnya membuatku makin curiga setelah melihat ekspresi wajahnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Te_Tetapi.. "
"Apa?"
Mitha seperti berusaha menahan air matanya keluar. Suaranya pun mulai parau. Dia sedang berusaha menyelesaikan kata-katanya.
"Disini pula Reza meninggal, tepat diposisi kamu duduk." Tutup Mitha bercerita sambil menutup kedua matanya.
Sontak Aku langsung berjingkat berdiri dari sofa. Ketakutan yang mendalam kembali melanda. Tubuh ini menggigil sejadi-jadinya.
"Kamu kenapa?" Tanya Mitha khawatir.
"Akuu.. " Tak mampu Kuselesaikan yang ingin ku sampaikan.
"Kalau kamu sakit, ayo kita pulang sekarang!" Ajak Mitha.
"Tidak, bukankah masih ada satu lagi yang harus kamu kenalkan!" Tukasku, meskipun sebenarnya sudah tidak tahan lagi.
Setelah sekian lama ku bujuk, dengan mengatakan bahwa Aku baik-baik saja, akhirnya Mitha mengalah, dan mulai melanjutkannya.
Dikenalkannya sebuah lampu yang berada tepat diatap langit di atas Shizuka, dengan ornamen unik yang menghiasinya, namanya Dekisugi.
Menurut cerita Mitha, Dekisugi tidak pernah menyala sejak pertama kali dipasang. Katanya karena ngambek, sekaligus iri dengan Nobita yang bisa dekat dengan Shizuka, sedang Dia sendiri jauh, dan bergantung diatas.
Satu-satunya Dekisugi pernah menyala sekali adalah malam dimana Reza meninggal.
*
Malam itu Mitha dan Reza sedang bertengkar hebat saat sedang berkencan di sofa Doraemon. Berawal dari saling cemburu, akhirnya malam minggu yang harusnya syahdu, justru menjadi kelabu.
Karena malam minggu, di Alun-alun sedang ada konser musik, dan banyak rombongan penonton dari berbagai penjuru daerah datang. Sehingga pusat keramaian tertuju pada panggung musik yang ada ditengah lapangan.
Saat Mitha dan Reza sedang cekcok, ada 3 pemuda tak dikenal menghampiri. Mereka awalnya hanya meminta uang untuk membeli minuman alkohol kepada Reza, tanpa memperdulikan Kedua pasangan sedang bertengkar.
Mungkin karena sedang emosi, Reza yang sebenarnya penakut justru malah menantang berkelahi. Sudah kalah jumlah, apalagi ternyata salah satu pemuda tersebut membawa pisau. Dan naasnya Reza tertusuk diperutnya dengan langsung tumbang ke arah sofa Doraemon.
Mitha yang mengetahui itu langsung menghampiri Reza. Sambil menangis dan berteriak minta tolong, sayang suara Mitha kalah dengan alunan konser musik, sehingga tak ada siapapun yang menghampiri.
Ketiga pemuda saling pandang, sambil tersenyum. Bukannya berpikir lari, justru malah seperti mendapat ide baru. Memang Gubuk itu ada disisi jalan, tapi karena berada disudut sepi dan gelap.sehingga luput dari pantauan keramaian.
Sementara Mitha masih menangis. Air matanya kini bercampur dengan darah Reza, yang keluar banyak membasahi Doraemon, bahkan hingga mengalir ke Suneo. Sementara suaranya mulai serak seakan habis. Mitha hanya mampu pasrah tak tahu harus bagaimana lagi.
Entah keajaiban dari mana, tetapi tiba-tiba sebuah kejadian aneh muncul, seutas angin lewat. Diawali dari angin itu seperti menabrak Nobita, sehingga terjungkal kebelakang. Sedang salah satu kaki Nobita mengait kaki Shizuka. Keduanya jatuh kebelakang dan menimbulkan suara cukup keras.
Kemudian disusul dengan beberapa genteng Giant berjatuhan tanpa sebab. Dan disaat bersamaan Dekisugi menyala sangat terang untuk pertama kalinya.
Gubuk itu seolah sedang menunjukkan pesonanya malam ini. Sehingga kejadian yang harusnya tidak terlihat dari keramaian ikut tersorot. Ketiga pemuda panik dan berniat lari. Namun ketiganya terpeleset tepat setelah melewati Suneo secara bersamaan.
Setelah meninggalnya Reza, Gubuk seperti menunjukkan kesedihannya. Dekisugi kembali padam seperti semula, sedang yang lain tertutup debu, meskipun selalu dibersihin tiap minggu, tapi debu tak pernah habis seolah Gubuk sedang menutupi kesedihannya.
*
Pembaca yang budiman, mungkin ini adalah kejadian yang aneh, gila, dan mengada-ada. Apalagi tidak sesuai nalar.
Setelah kejadian itu, kuputuskan untuk berpisah dengan Mitha, karena Aku tidak ingin hal aneh di masa depan terulang kembali.
Beberapa bulan kemudian Mitha ditemukan meninggal disofa Doraemon. Warga sekitar menceritakan bahwa, Mitha sudah lebih dari sebulan, tidak pernah pergi meninggalkan sofa tersebut.Mitha menolak makan dan tak mau dibawa kedokter ketika kritis.
Menurut warga pula, kedua tangannya menggenggam masing-masing foto Reza. Para warga menduga Mitha masih menyesali kepergian Reza dahulu.
Faktanya, kedua foto itu adalah masing-masing foto Reza dan fotoku yang mempunyai wajah yang mirip, begitulah Dekisugi bercerita kepadaku suatu ketika, saat aku mengunjungi Gubuk itu.