Kisah tentang seorang wanita yang sudah belajar bagaimana cara ia menekan mimpinya sejak kecil. Bagaimana ia membuang ambisinya dan menjadi anak emas di keluarganya. Bagaimana seorang Lennonica Arum menjadi seorang gadis dengan sejuta topeng. Dan bagaimana ia terlepas dari topengnya.
❃.✮:▹ Back to You ◃:✮.❃
Sorot matanya nan tajam menikam lawan bicaranya. Helaian rambut yang seharusnya tertata mulai terurai tak terarah. Giginya gemertak, menahan amarah agar tak meluap pada detik itu juga.
"Apa ini? Bukankah mama sudah melarangmu mengikuti ekstrakulikuler seni?"
Suara gebrakan meja terdengar lebih nyaring daripada gertakan gigi yang tak kunjung reda, membuat Nica menggigit bibirnya takut. Ia tak berani menatap lawan bicaranya yang seolah siap menikam siapapun di depannya.
"Mama membayar les tidak untuk melihatmu menyia-nyiakannya. Seharusnya kamu sadar apa kewajibanmu sebagai anak sepasang dokter."
Nica meremas kuat-kuat seragam SMA yang ia kenakan, mengecap pola tak teratur diatasnya. Ia tak lantas menghentikan kegiatannya walaupun seragam yang ia kenakan semakin kusut.
"Maaf, ma. Nica akan keluar besok," ucapnya takut-takut tak berani melanggar titah ibunya.
Suara pintu yang ditutup keras mengakhiri pertengkaran searah, menyisakan Nica dan kelenggangan yang tak bersuara. Air mata yang Nica tahan menetes deras, meninggalkan jejak di pipinya.
Jika dimata orang tuanya ia adalah keturunan yang harus mewarisi bakat mereka, dimata orang lain tentu saja tak sama. Ia adalah seorang pengkhianat yang keji di mata semua temannya. Dan ia adalah seorang gadis baik dan sopan di mata gurunya.
"He said one day, you'll leave this world behind, so live a life you will remember." gumam Nica menyenandungkan lagu kesukaannya lalu merebahkan diri di kasurnya. Dan tanpa ia sadari, ia tertidur.
Suara tamparan menjadi alarm alami Nica. Tangannya mengusap pipinya yang memerah akibat bersentuhan dengan tangan kanan ibunya. Mata sayunya mengerjap beberapa kali sebelum otaknya berhasil memproses apa yang sedang terjadi.
"Bangun! Mama tidak pernah mengajarimu untuk tidur sebelum mandi. Kalau besok terulang lagi, Mama akan menyita handphone dan laptopmu satu bulan," bentak ibu Nica lalu menyiah gorden yang menghalangi sinar surya menyeruak masuk ke dalam kamar.
Mata Nica menyipit beberapa saat, menyesuaikan kontrasnya cahaya yang menyeruak masuk ke matanya. Ia lalu bergegas melihat telepon selulernya, mencoba mencari keterangan waktu saat ini.
"Cepat mandi. Mama berangkat jam 6, kalau kamu telat, mama tinggal."
Nica sontak bergegas ke kamar mandi saat menyadari jam telepon selulernya menunjukkan pukul enam kurang sepuluh.
Tak perlu waktu lama, Nica berhasil berkemas tepat pada waktunya. Ia menghela napas lega mengetahui ibunya masih menstarter mobilnya. Segera saja Nica berjalan cepat memasuki mobilnya, takut tertinggal ibunya.
"Pekerjaan rumahmu sudah beres?" Tanya ibu Nica begitu mobil berhasil melaju mulus di jalan raya.
Nica hanya mengangguk menjawab pertanyaan ibunya, walaupun ia tahu kemungkinan kecil ibunya melihatnya mengangguk.
Ibu Nica menatap bangunan 3 tingkat yang tampak dari kejauhan, "pulang nanti kita kunjungi papa. Mama pulang jam tiga, begitu beres mama langsung ke sini."
Nica mengikuti arah tangan ibunya menunjuk, di depan dirinya berdiri gedung SMA tempatnya menuntut ilmu. Ia lalu kembali mengangguk seadanya, lalu lekas berpamitan pada ibunya saat mobil sudah terparkir.
Segera ia melangkah cepat menuju kelasnya. Beberapa siswa tampak tak suka saat Nica melewati mereka. Ratusan julukan buruk sudah berkali-kali dilontarkan pada Nica, membuat Nica terkenal di angkatannya.
"Penghianat."
"Astaga! Bukankah dia anak XI IPA 1 yang ramai di perbincangkan itu?"
"Sombong sekali."
Nica berusaha mengabaikan indra pendengarnya yang menangkap puluhan kata tak baik untuknya. Sesekali ia menatap tajam kerumunan wanita yang menggunjingkannya, membuat kerumunan itu ketakutan lalu bubar.
Suara gunjingan itu berhenti saat ia memasuki kelasnya. Tampak jejeran siswa yang menatapnya tak suka saat memasuki kelas, bahkan suasana kelas yang awalnya riuh menjadi senyap.
"Nica? Selamat datang!" Sapa satu-satunya teman Nica dikelasnya, Divane Putri Rehmana.
Nica tersenyum kecut lalu segera duduk di bangku kosong sebelah Divane. Mereka tak banyak berbincang karena hanya Divane yang berbicara dan Nica menanggapinya singkat. Hal itu karena Nica sibuk mengutak-atik sesuatu di mejanya. Percakapan sepihak mereka pun berhenti saat sosok guru masuk ke kelas mereka dan memulai pelajaran.
Hanya dalam hitungan menit, Nica mendapat hadiah sorot mata penuh kebencian dari teman-temannya. Hal itu terjadi tepat setelah guru memutuskan kegiatan hari ini adalah ulangan harian. Tentu saja sang guru memutuskan tepat setelah Nica mengatakan pada gurunya bahwa seharusnya hari ini ada ulangan. Namun, ada satu hal lagi yang membuat Nica dibenci hampir seluruh temannya.
"Bu Geta, saya melihat Joey membuka handphonenya," ucap Nica menundukkan kepalanya dan meremas seragamnya seolah ia sedang ketakutan.
Yang di tuduh tak menyangkal. Tak bisa mengelak karena memang si tersangka Joey mencontek. Hal ini berakhir dengan ia memberi tatapan penuh kebencian pada Nica.
"Nica juga mencontek bu! Saya melihatnya," tukas Joey melihat ibu guru hendak menghampirinya.
"Jangan membawa-bawa Nica, kamu tidak ada bukti. Berikan handphonemu. Seminggu lagi ambil bersama orang tuamu," ucap ibu guru yang kerap di sapa Bu Geta.
Nica menyeringai menatap jebakannya berhasil. Ia lalu menatap contekan yang sudah ia tempel di mejanya tadi.
"Bu Geta! Nica mencontek! Contekannya ia tempel di meja!" teriak seorang gadis yang duduk tepat di belakang Nica.
Sontak Nica menutup contekannya dengan papan ujiannya dan menekannya sedikit dalam. Ia lalu sekali lagi menyiapkan topeng andalannya.
"Bu Geta, Nica tidak mencontek." gumamnya takut-takut, namun tak menghentikan gurunya untuk menghampiri mejanya.
Bu Geta lalu menggeser papan ujian Nica dan memeriksa mejanya. Ia tak menemukan kejanggalan yang tampak. Bahkan ia juga tak menemukan selembar kertas contekan pun di laci meja Nica.
"Jangan berbohong lagi untuk menfitnah temanmu," tukas Bu Geta menatap tajam siswi dibelakang Nica.
Ulangan kembali berlanjut dengan tenang, tak ada yang berani melaporkan Nica karena tak ada bukti yang mendukung. Hal itu berakibat pada Nica yang terus menyeringai senang sampai pulang sekolah. Tentu tak lain karena sekali lagi ia berhasil membuat murid sekelasnya tak berdaya.
"Nica, kenapa kamu mencontek?" tanya Divane tepat setelah bel pulang berbunyi.
"Orang tuaku hanya menginginkan hasil. Lalu kenapa aku harus mementingkan proses?" jawab Nica dengan pertanyaan.
Ia lalu segera beranjak meninggalkan kelasnya menuju gerbang, menuju ibunya yang sudah menunggunya sejak jam 3 tadi.
"Divane! Kenapa kamu masih baik sama Nica? Kamu sudah lihat seburuk apa sifatnya, bukan? Apa aku harus membuka matamu untuk menyadarkanmu betapa merugikannya sikap Nica bagi kita semua?" labrak teman sekelas Divane begitu Nica keluar kelas.
Divane hanya tersenyum simpul, "kupikir kalian tak harus membencinya secara sepihak. Kalian bisa melihat dirinya dari apa yang membentuk sikapnya, bukan apa yang ia tampilkan sebagai suatu sikap," ucap Divane yang berhasil membuat beberapa temannya terdiam, merenungkan sejenak kata-katanya.
Sementara itu, Nica segera menuju mobil milik ibunya setelah ia menemukan ibunya parkir di ujung tempat parkir. Ia segera memasuki mobilnya dan memosisikan dirinya senyaman mungkin.
"Bagaimana dengan nilaimu hari ini?" tanya ibu Nica begitu ia memasuki mobil.
"Seperti biasa. Aku juga dibenci —"
"Syukurlah kalau nilaimu baik-baik saja." sela ibu Nica membuat Nica tak menyelesaikan ucapannya.
Ibu Nica segera menjalankan mobilnya, menuju tempat yang sudah mereka rencanakan. Hanya keheningan yang mengisi mereka, sampai mereka sampai di salah satu kompleks pemakaman umum yang tampak sangat terawat.
Mereka lalu menuju pada salah satu makam, disana tertulis nama Choreles Andrian, nama lengkap ayah Nica.
"Mama membawamu kesini untuk menunjukkan sebuah bukti, bahwa ketidakmampuan akan membawa seseorang pada kematian," ujar ibu Nica dengan tangan bergetar memegang makam suaminya.
Dulunya, ayah Nica adalah seorang dokter bedah yang disegani banyak orang. Beliau dikenal sengan sebutan dokter bertangan emas karena kegagalannya dalam operasi bisa dibilang mendekati nol. Ia selalu menjanjikan keberhasilan pada pasiennya, hingga pasien terakhirnya, ia tak dapat memenuhi janjinya. Tak lama setelahnya, ia diduga depresi. Choreles Andrian meninggal tepat di hari jadi Nica yang kelima tahun karena tidak fokus saat mengemudi sehingga terjadi kecelakaan. Dimulai sejak saat itu, sifat ibu Nica yang tegas berubah sangat drastis. Tanpa kehendak Nica, ia dipaksa berbagai macam hal, membuatnya selalu merasa hidupnya hanya ada untuk menjadi penerus ibu dan ayahnya. Tak jarang Nica berusaha mendekati ibunya, meluluhkan kerasnya sikap sang ibu padanya. Namun, tak jarang juga ia tertolak.
Setelah selesai mendoakan sang mantan kepala keluarga, Nica dan ibunya beranjak keluar dari kompleks pemakaman. Tepat saat ia keluar, ia menangkap sosok tak asing tak jauh darinya.
"Nica, hai! Kamu baru saja dari pemakaman?" tanya Divane lalu bergegas menghampiri Nica.
Yang disapa hanya mengangguk lalu tersenyum canggung, tak tahu harus membalas apa. Ibu Nica yang awalnya berada di belakang Nica memilih mendahuluinya dan menuju ke mobilnya.
"Kupikir kamu harus lebih berusaha. Ingat, ulat harus menjadi kepompong dulu agar menjadi kupu-kupu yang cantik," ujar Divane yang membuat Nica terpaku beberapa saat sebelum kembali memasang wajah seribu topengnya.
Kini Nica menyadari satu hal, Divane bukan hanya murid bodoh yang mau berteman dengannya, Divane juga bukan seorang teman bertopeng seperti Nica. Divane adalah definisi kata baik dalam kehidupannya. Semua hal itu membuat Nica ingat betapa memalukan dirinya.
"Aku justru diperingatkan oleh seorang anak yang selalu kuacuhkan," gumam Nica setelah memasuki mobil bersama ibunya.
"Ma, Nica ingin menjadi seorang seniman. Nica tidak ingin menjadi seseorang yang membawa beban berat seperti mama dan papa. Nica ingin bebas, seperti kupu-kupu."
Ibu Nica terkejut sejenak, air matanya menetes. Bahkan itu adalah air mata pertamanya yang menetes setelah kematian suami tercintanya. Ia pikir sejauh ini ia melakukan semua demi kebaikan anaknya, tapi anaknya justru menolak semua itu.
"Maafkan mama, Nica. Mama minta maaf," gumam Ibu Nica lalu memeluk anaknya yang sudah menahan tangis.
Disisi lain Divane mengelus makam seseorang. Seseorang yang telah sempat memberinya harapan saat kecil, sebuah harapan yang membuatnya bangkit, walaupun akhirnya semua tak sesuai yang diharapkan.
"Ayah apa kabar? Divane sehat-sehat saja disini. Divane ingat, bunda meninggal karena operasi ayah gagal. Tapi sepertinya sampai akhir hayat, ayah tidak pernah mengatakan hubungan rahasia ayah dan bunda. Ayah tenang saja, Divane tidak akan mengatakan apapun pada Ibu Nica. Divane benar-benar merasa bersalah dengan Ibu Nica. Jadi, hanya ini yang bisa Divane lakukan untuk mereka. Divane berharap Nica dan Ibunya akan baik-baik saja."
Angin berhembus membawa dedaunan yang gugur dari tangkainya. Meninggalkan seorang gadis tak bersalah yang merasa dirinya sangat berdosa, Divane Putri dan kisah rahasianya.