Novel terbaru dari author MIKU! Siapa tau ada yang mau baca mwhehehe...
----
Arina, nama yang tertulis di dada gadis itu. Ya, gadis berambut hitam pendek sebahu yang saat ini sedang menjalani hukuman akibat kesalahan yang dia lakukan.
Bagaimana tidak, hari ini hari senin tapi gadis itu malah memakai baju olahraga. Walau Arin telah mencoba menyangkal dengan alasan yang sebenarnya, tetapi guru tetap tidak memberinya keringanan.
Duh, ngeselin banget sih!
Ia terpaksa berdiri di depan kelas sambil mengangkat salah satu kaki!
"Puftt ...." Dari arah dekat, samar-samar Arin mendengar suara seseorang sedang menahan tawa.
Ternyata, dia adalah Risa–salah satu murid yang sangat amat membenci Arin. Tentu saja, melihat musuhnya sedang menanggung malu seperti ini, dia langsung merasa menang.
Sementara Arin hanya mampu memicingkan mata kepadanya.
Sialan!
"Baiklah, sekarang kita ke materi selanjutnya. Buka buku paket halaman–"
Brak!
Suara benturan memekak mengusik keheningan kelas. Seluruh pandangan tertuju ke arah sumber suara. Arin yang saat itu sedang melamun pun sontak terkejut. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi barusan.
"Bu, biarkan aku masuk, Bu ...!" Mendadak, muncul sebuah penampakan sesosok manusia dari balik jendela. Seorang gadis dengan wajah pucat dan ekspresi panik.
Nirmala? batin Arin ketika melihat orang misterius itu.
"Bukannya itu Nirmala, ya?!" Salah satu murid laki-laki menyahut dari bangku belakang.
"Iya, itu dia!" balas murid lainnya memastikan kebenaran.
Guru yang sedang mengajar pun menghentikan aktivitasnya. Ia tertegun bingung. "Nirmala? Maksudnya, Nirmala yang hilang tiga hari itu?"
"Benar, Bu!"
"Ya udah, tunggu apa lagi? Arin, cepat buka pintunya!"
"Eh? Ba-baik." Meski muncul sedikit rasa keraguan dalam benaknya, akan tetapi Arin tetap memutuskan untuk melakukan apa yang diperintahkan.
Ia membuka pintu dan membiarkan Nirmala dengan wajah anehnya masuk ke dalam.
Saat sudah sampai di dalam, Nirmala tampak terengah-engah dan mencoba untuk mernomalisasi napasnya berkali-kali. Di saat dia telah merasa sanggup, gadis itu pun akhirnya angkat bicara.
"Pak Arya! Bu, Pak Arya!" teriak Nirmala dengan nada penuh kepanikan.
Pak Arya? Arin bertanya dalam batin.
"Pak Arya? Ada apa dengan Pak Arya?" tanggap Bu Yanti–guru bahasa Indonesia sekaligus wali kelas ini.
Nirmala membuka rahang, hendak mengeluarkan penjelasan lebih lanjut. Namun, tiba-tiba dia berubah menjadi 'patung' dan tak berkutik sama sekali. Suara gertakan gigi yang menyeret dapat terdengar jelas oleh para murid 2-C yang sedang mengelilingi Nirmala.
"Mala, kamu tenang dulu, ya? Kayanya, kamu kena serangan panik." Bu Yanti mengalihkan pandangan ke arah murid lainnya. "Salah satu dari kalian, ambilkan minum untuk Nirmala!"
Tanpa perlu pikir panjang, seorang gadis cantik menyahut, "Baik, bu!" Tidak lain lagi, dialah sang ketua kelas–Rini.
Gadis itu bergegas mengambil tumbler minumnya dan memberikannya kepada orang yang meminta. Bu Yanti membuka tutup botolnya dan membiarkan Nirmala minum agar dapat sedikit lebih tenang.
"Hah ... hah ...." Ternyata, cara tersebut memang terbukti ampuh. Setelah meneguk beberapa air minum, keadaan Nirmala menjadi lebih baik dari sebelumnya. Wajahnya tak lagi terlihat seperti Kuntilanak yang sedang menampakkan diri.
Pada saat inilah, Bu Yanti mulai menginterogasi murid perempuannya itu secara perlahan. Arin dan seluruh manusia yang berada di sana memperhatikan Nirmala dengan tatapan penuh keseriusan. Untuk beberapa saat, mereka melupakan tentang materi pelajaran mereka.
"Jadi, apa yang mau kamu katakan tadi? Apa yang terjadi dengan Pak Arya?"
Nirmala menatap lurus mata teduh Bu Yanti yang sedang menunggu jawaban. Ia lekas melengkapi penjelasan yang belum sempat dia katakan tadi. "Sebenarnya, tiga hari lalu ... sebelum saya dinyatakan hilang sama pihak sekolah, semua masih baik-baik saja."
Gadis yang memegang jabatan sebagai bendahara kelas tersebut meneguk saliva. Ia tidak dapat memungkiri rasa takutnya.
"Semua masih baik-baik saja ... nggak, sampai mata saya menyaksikan kebenaran yang pahit. Siang itu, saya mau buang sampah di dekat kantin. Tapi, tiba-tiba saya dengar suara aneh dari ruangan Pak Arya. Karena penasaran, saya yang waktu itu nggak tahu apa-apa langsung ke arah sana buat memastikan."
"Pas udah sampai di sana, saya langsung kaget karena Pak Arya lagi ngikat seorang cewek di ruangannya sambil bawa suntikan warna hijau. Jelas, saya takut gara-gara Pak Arya kaya mau ngebunuh gitu, Bu! Saya mau lari, tapi udah terlanjur ketangkap."
"Tapi, kamu nggak apa-apa, kan?" lanjut sang guru wanita bertanya.
"Ngg ... nggak .... Pak Arya cuma nangkap saya, tapi dia nggak nyuntik saya kaya cewek itu."
Bu Yanti terlihat berpikir sejenak. Sementara, Arin hanya terdiam dengan senyuman aneh yang menghiasi wajah tomboy-nya.
Widih ceritanya keren, bisa nih jadi bahan konspirasi di forum, pikirnya.
Drtt ... drttt ...
Suara getaran ponsel muncul di antara mereka. Suaranya berasal dari saku jas milik Bu Yanti. Semua tatapan mata menyorot kepada titik utama perhatian.
"Ada yang nelepon. Tunggu sebentar, ya?"
Nirmala menganggukkan kepala. Sedangkan, Bu Yanti berjalan memisah dari kerumunan siswa agar dapat mendengar lebih baik.
"Eh, Pak Wawan? Tumben nelepon? Angkat dulu aja deh," lirih wanita muda ini. Ia menekan tombol hijau dan menyambungkan transmisi komunikasi. "Halo, Pak Wawan. Ada apa, ya?"
"Ah, Halo Bu Yanti. Iya, begini ada masalah di UKS, saya ndak tau mau minta tolong ke siapa lagi, selain Bu Yanti. Jadi, maaf mengganggu nggih sebelumnya ...." Pak Wawan yang diketahui adalah salah satu guru olahraga di SMA ini menerangkan.
"Oh, ndak apa-apa, lho, Pak! Anu, ada apa ya?"
Pak Wawan sempat tidak menjawab setelah pertanyaan itu dilayangkan. Namun, lima detik kemudian, dia kembali berbicara, "Tolong rahasiakan dari anak-anak, nggih? Salah satu murid dari kelas G tiba-tiba pingsan pas jam olahraga. Waktu saya bawa ke UKS tiba-tiba badannya berubah jadi hijau terus ngamuk-ngamuk begitu. Jadi, apa Bu Yanti mau menemani saya dan Bu Kartini buat membawa anak ini ke rumah sakit?"
Bu Yanti tertegun. Matanya memekak sempurna, bibirnya bergetar seolah tak bisa digunakan menjawab. Tiba-tiba, dia teringat akan ucapan anaknya tadi pagi.
"Buk, hati-hati. Tadi aku baca di artikel, katanya di China ada sebuah virus aneh yang ngebuat manusia berubah jadi zombie aneh yang warnanya hijau menjijikan. Terserah ibu mau percaya apa nggak, tapi tetap hati-hati!"
Dan, dia juga teringat akan penjelasan Nirmala beberapa saat lalu.
"Pas udah sampai di sana, saya langsung kaget karena Pak Arya lagi ngikat seorang cewek di ruangannya sambil bawa suntikan warna hijau."
Lalu, ucapan Pak Wawan.
"Waktu saya bawa ke UKS tiba-tiba badannya berubah jadi hijau terus ngamuk-ngamuk begitu."
Semua bagai terhubung dalam jangka waktu.
Arin pun berpikiran sama saat menguping pembicaraan Pak Wawan dengan Bu Yanti.
Berarti, akan ada invasi zombie di sini?! batin mereka berdua.
Bu Yanti memberikan reaksi khawatir. Dengan jawaban penuh keraguan, dia merespons, "Baiklah, Pak. Saya akan segera ke sana."
Berbeda halnya dengan Arin. Gadis itu malah menunjukkan senyum seringai bak harimau yang telah mendapatkan mangsa.
Bagi seorang penggila teori konspirasi dan penyuka hal-hal berbau misteri dan horror, tentu saja kejadian ini mungkin akan menjadi sebuah surga yang amat sangat didambakan.
Mungkin?
Bu Yanti menutup teleponnya. Ia berbalik badan dan menatap seluruh anak-anak yang dipunggunginya tadi.
"Anak-anak, saya ada hal mendesak di UKS. Jadi, tolong tetap tenang dan jangan ramai, ya!" peringat Bu Yanti, lalu melanjutkan, "dan ... untuk Nirmala dan juga kalian semua. Tolong, rahasiakan hal ini dari siapapun. Anggap saja kejadian ini tidak pernah ada, untuk sementara saja, ya?"
Semua terdiam. Suasana sunyi. "Baik, Bu." Kali ini, wakil ketua kelas mengambil langkah lebih dulu.
Bu Yanti keluar dari kelas dengan langkah tergesa-gesa.
Sepeninggal guru, para murid pun kembali kepada kebiasaan normal mereka. Nirmala hendak duduk bersama sahabatnya, akan tetapi Arin mencegat.
"Nirmala, apa aku boleh mendengar ceritamu lebih lengkap?"
~Bersambung~