Aku berhenti sejenak sambil menunduk dan menopangkan tangan di kedua lututku untuk mengumpulkan tenaga yang telah terkuras akibat berlari sejak tadi. Jalanan yang sepi dan gang rumah yang agak masuk ke dalam membuatku seolah berlari ditempat. Aku hampir kehabisan napas karena hal ini.
Hari ini, aku datang untuk menjumpai Dion. Aku sengaja tidak memberitahunya tentang kedatanganku karena ingin memberikan kejutan. Aku sedang libur tiga hari karena ada acara kampus. Jadi aku memilih untuk pulang dan melepas rindu dengan Dion, kekasihku.
Begitu sampai di depan rumah Dion, aku mengetuk pintu dan tanpa sabar menunggu dengan penuh harap agar sang kekasih segera keluar dan membukakan pintu untukku.
Beberapa saat kemudian, aku mendengar suara tawa yang sangat mengganggu di telingaku. Setahuku, di rumah ini Dion tinggal seorang diri, karena semua keluarganya ada di luar kota. Lagipula, Dion anak tunggal, dan sangat tidak mungkin jika Dion bersama saudaranya.
Hatiku menjadi tidak karuan dan aku mengetuk pintu dengan semakin keras. Rasa curiga dan penasaran mulai menggerogoti hati kecilku.
Tak lama kemudian, aku mendengar bunyi langkah kaki yang berjalan ke arah pintu. Ketika pintu terbuka, nampak sosok seorang perempuan cantik, putih, dan tinggi dengan rambut acak-acakan dan hanya memakai dress tembus pandang, menatap bingung kepadaku, yang juga menatapnya dengan bingung.
"Kamu siapa? Apa yang bisa saya bantu?" Tanyanya dengan suara manja yang sangat lembut.
Untuk sesaat aku tertegun menatap wajah cantik dihadapanku, yang menatapku dengan tatapan intimidasi.
"Ahmmm, maaf! Bisakah saya bertemu dengan Dion? Saya temannya Dion." Jawabku dengan gugup dan tentu saja berbohong, karena lututku sudah mulai gemetar.
"Boleh! Tetapi pacar saya sedang tidak memakai sehelai benang pun. Apa kamu ingin menemuinya dalam keadaan seperti itu?" Ujarnya tanpa dosa.
"Siapa yang sedang mencariku sayang?" Terdengar suara Dion dari dalam.
"Temanmu." Jawab wanita di hadapanku.
"Katakan padanya aku sedang sibuk." Jawab Dion.
"Maafkan saya yang telah mengganggu kalian. Saya hanya ingin mengantarkan ini." Jawabku sambil menyerahkan sebuah godybag yang berisi beberapa barang kesukaan Dion.
Wanita itu menerima godybag yang aku berikan dengan tatapan yang aku sendiri tidak mengerti, karena di detik selanjutnya, aku sudah membalikkan badan untuk pergi.
Setelah agak jauh dari rumah Dion, Aku langsung jatuh terduduk dan membenamkan wajahku diantara kedua lututku dan menumpahkan semua air mata yang sudah aku tahan sejak tadi.
Aku mengenal Dion sejak kami masuk kuliah di kampus yang sama. Kami berteman sejak semester satu, dan saat kami berada di semester empat, Dion resmi menjadi pacarku.
Semua perlakuan manis Dion membuatku sangat mempercayainya. Seringkali teman-teman ada yang memberitahukan kepadaku bahwa mereka melihat Dion selalu gonta ganti pasangan, tetapi aku sama sekali tidak mempercayai perkataan mereka, karena aku lebih percaya dengan Dion yang selalu manis di hadapanku.
Jika sudah berhadapan dengan Dion, aku seolah lupa segalanya. Aku selalu terbuai dalam dekapannya dan kata-kata manisnya yang membuatku tidak memiliki pikiran buruk sama sekali terhadapnya.
Selesai kuliah, kami bekerja di kantor yang berbeda. Walaupun demikian, Dion selalu menyempatkan waktunya untuk bertemu dan memanjakanku.
Enam bulan lalu tepatnya, aku direkomensikan oleh kantorku untuk melanjutkan Strata Dua. Awalnya aku keberatan karena tak mungkin aku bisa jauh dari Dion. Namun siapa sangka bahwa Dion malah mengizinkanku ketika aku memberitahukan hal itu kepadanya.
"Apa kamu yakin akan mengizinkanku untuk melanjutkan study?" Tanyaku sambil bergelayut manja di lengannya waktu kami sedang makan siang bersama.
"Aku sangat yakin. Karena aku tidak ingin menghalangi cita-citamu." Jawab Dion sambil membelai rambutku dan tidak lupa memberikan sebuah kecupan padaku.
"Apa kamu tidak punya keinginan untuk menikah? Bagaimana kalau aku jalan dan kamu tiba-tiba menyukai orang lain?" Tanyaku dengan nada khawatir.
"Kamu tidak usah memikirkan hal itu, karena aku akan selalu menunggumu. Kita akan menikah setelah kamu menyelesaikan studymu. Lagi pula, kamu bisa pulang jika libur, dan aku juga bisa mengunjungimu jika wekend atau saat aku punya waktu luang. Soal wanita lain, kamu jangan khawatir. Aku hanya mencintaimu seorang." Jawab Dion meyakinkanku.
Aku langsung tersenyum mendengar jawabannya. Saat itu hatiku sungguh berbunga-bunga. Wanita mana yang tidak akan meleleh jika mendengar prianya berbicara seperti itu. Untuk sesaat, tidak ada yang berbicara diantara kami.
Selama ini, aku sangat mengharapkan Dion, karena dialah yang selalu menjadi tempat aku menumpahkan segela uneg-unegku jika aku sedang punya masalah. Aku tidak punya keluarga, karena orang tuaku sudah meninggal dalam kecelakaan sejak aku SMA.
Aku bisa kuliah karena mengandalkan beasiswa dan kecerdasan otakku. Karena itu, aku ingin agar bisa segera menyelesaikan studyku dan mendapat posisi yang lebih bagus di kantor tempat aku bekerja.
*****
"Percuma aku datang sejauh ini untuk bertemu jika pada akhirnya akan seperti ini. Hatiku benar-benar sakit mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Apakah benar yang dikatakan orang-orang selama ini bahwa mereka melihat Dion bermain di belakangku?" Tanyaku pada diri sendiri.
Setelah cukup menangis, aku mengumpulkan sisa-sisa tenagaku dan berjalan keluar gang. Aku langsung menyetop angkot dan langsung pergi ke stasiun. Aku ingin kembali ke Jakarta hari ini juga.
Tadi dari stasiun, aku langsung datang ke rumah Dion dengan maksud memberikan kejutan. Tetapi yang kudapatkan bukan kesenangan sesuai dengan yang aku pikirkan, tetapi sebuah kejutan yang membuatku sakit hati melihat kenyataan yang tidak akan pernah aku lupakan.
Aku tidak sanggup jika harus kembali ke rumah, karena di rumah tidak ada orang, dan jika ke sana, yang ada aku akan semakin sedih. Untungnya aku tidak membawa barang. Aku hanya membawa sebuah tas selempang kecil untuk mengisi dompet dan peralatan lain.
Ketika aku sudah sampai pintu masuk stasiun dan hendak masuk, terdengar sebuah suara yang sangat aku kenal memanggilku.
"Feny.... Tunggu." Teriak Dion.
Untuk sesaat, kakiku terasa berat untuk melangkah masuk, tetapi kepalaku juga terasa berat untuk menoleh ke arah sumber suara tersebut.
Aku berdiri mematung tanpa melakukan apapun. Aku tidak melangkah maju, tetapi juga tidak berniat mundur ke arahnya.
Tiba-tiba, ia sudah berdiri di hadapanku dan tanpa dosa langsung memelukku. Aku langsung mendorong tubuhnya dengan kasar, dan menatapnya dengan tatapan dingin. Air mataku sudah tidak mau berkompromi lagi.
"Jangan pernah menyentuhku dengan tangan kotormu itu. Aku jijik melihat wajahmu." Kataku dengan tajam.
"Aku minta maaf! Aku khilaf." Katanya dengan suara lemah.
"Khilaf atau sudah biasa! Selama ini aku tidak mempercayai cerita siapapun tentang engkau karena aku lebih mempercayaimu. Tetapi apa yang aku dapat dari rasa percayaku padamu? Hanya luka yang aku dapat. Karena ternyata kamu adalah pembohong besar." semprotku dengan kata-kata kasar.
"Aku minta maaf! Tolong berikan aku kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku." Katanya sambil maju dan berlutut di hadapanku.
Hatiku hampir luluh melihat dia berlutut. Tetapi emosiku lebih dominan mengingat kenyataan yang baru saja aku saksikan dengan mataku. Ia tanpa memikirkan perasaanku malah membawa wanita lain, bahkan tidur dengannya.
Aku tidak boleh lemah. Pikirku.
"Maaf! Mungkin kamu lebih bahagia dengan dia atau siapa pun. Aku sadar akan hal itu. Aku tidak bisa memaksamu untuk mencintaiku. Tetapi hal yang akan aku ingat seumur hidupku adalah cinta dan janji palsumu padaku." Ujarku tanpa mempedulikannya yang masih berlutut dan langsung pergi.
Ia berlari mengejarku dan berhasil meraih tubuhku menghadap ke arahnya.
"Tolong maafkan aku. Please!" Katanya dengan mengatupkan tangan di dada.
Aku tidak menjawab dan berbalik kemudian berjalan lagi.
Dia masih terus mengejarku. Begitu sampai di dalam, kebetulan ada kereta yang akan segera berangkat. Aku langsung membeli tiket kepada petugas dan langsung menuju ke ruang chek in.
Dion masih berhasil menarik tanganku ketika aku akan masuk, dan hal itu membuatku hampir jatuh. Ia dengan sigap memeluk tubuhku dan menahannya agar tidak sampai jatuh.
Jantungku berdegup dengan sangat kencang ketika ia memelukku dengan erat. Hatiku mulai kacau. Apakah aku akan tetap pergi atau harus terus menikmati rasa nyaman yang sementara berlangsung.
Tiba-tiba, bayangan wajah wanita yang membukakan pintu muncul di otakku. Panggilan sayang Dion pada wanita itu juga seperti gong yang sementara bergaung di telingaku.
Memikirkan semua itu, rasa sakit yang tadi seketika hilang karena nyamannya pelukan Dion, tiba-tiba kembali muncul. Dengan kasarnya aku mendorong tubuh Dion.
"Maafkan aku Dion! Aku tidak ingin sakit hati lagi. Karena lebih baik aku sakit hati sekarang daripada nanti aku harus sakit hati seumur hidup karena kelakuanmu. Aku juga tidak ingin menghabiskan waktu dengan orang yang salah, apalagi dengan cara yang salah, karena salah memilih pasangan hidup."
"Aku tidak menyesal dengan keputusanku. Dan jangan pernah muncul lagi di hadapanku." Ujarku sambil melangkah masuk.
Aku langsung menaiki kereta. Hatiku sangat sakit. Aku sempat menolah ke belakang, dan ku lihat air mata Dion membasahi pipinya melepas kepergianku.
Tiba-tiba, aku mendengar lagu yang diputarkan di kereta, dan mengiring kereta yang mulai bergerak perlahan meninggalkan Dion dan semua kenangan tentang kami.
"Maafkan aku kasih, memilih untuk pergi, Karena aku tidak ingin tersakiti lagi."
Air mataku tumpah begitu saja mendengar sepenggal kalimat diatas, dari lagu yang diputarkan.
End
By : Eda Sally