"Dimalam pernikahan mantan pacar aku hamil", batin Kania. Sembari memegangi hasil pemeriksaan yang menunjukkan tanda positif, Kania hanya bisa membalut perasaan hancurnya dengan tertawa sekencang mungkin. Tertegun sebentar, lalu kembali tertawa seperti orang yang sedang kehilangan kewarasannya. Kania benar-benar menggila
****
Apa yang sudah dia rencanakan benar-benar hancur. Malam itu Kania terlihat keluar dari bar bersama seorang pria. Mereka berdua benar-benar dalam kondisi mabuk. Doni yang melihatnya, tidak tinggal diam. Dia mengikutinya dari belakang. Mobil yang membawa Kania bersama pria itu tampak menuju sebuah hotel. Doni semakin curiga dengan kejadian yang baru saja dia lihat.
Drttttt, drttttt.
Getaran ponsel itu tak dihiraukan oleh si empunya. Berulang kali ponsel itu berdering. Tetap saja tidak ada yang mengangkatnya. Hingga membuat si penelepon putus asa.
***
Kania mengerjapkan matanya karena pantulan sinar matahari yang menembus jendela dipagi hari. Perutnya terasa berat, seperti ada sebuah benda yang menindihnya. Kania sangat terkejut saat tersadar bahwa benda yang menindih perutnya adalah tangan seorang pria.
"Astaga, apa yang terjadi semalam?, dimana aku?", Kania melihat tubuhnya hanya berbalut selimut diatas ranjang bersama seorang pria asing.
Diam-diam Kania turun dari ranjang dan memungut seluruh pakaiannya lalu meninggalkan pria itu.
Ditempat lain, Doni sedang menikmati sarapan bersama bersama teman sekantornya Daniel.
"Semalam lo telpon gue, tumben banget. Ada apa?", tanya Daniel saat sesudah meneguk secangkir kopi panasnya.
"Kepencet", jawab Doni singkat.
"Ah mana mungkin kepencet sampai dua kali?", Daniel penasaran.
Setelah dipikir-pikir lagi Doni tak ingin ikut campur dengan hubungan Daniel dan Kania. Doni merasa tak enak jika harus memberi tahu apa yang dia lihat semalam. Meski Doni memiliki bukti foto Kania sedang bersama pria asing. Dia berpikir jangan-jangan apa yang dia lihat semalam hanyalah sebuah kesalah pahaman. Jadi Doni lebih memilih diam dan menyembunyikannya.
Daniel dan Kania adalah sepasang kekasih yang telah menjalin hubungan semenjak mereka masih kuliah, kurang lebih hampir 5 tahunan ini. Saat ini mereka bekerja diperusahaan yang sama, namun berbeda divisi. Hubungan mereka sudah sangat serius. Bahkan keduanya telah merencanakan pernikahan.
"Sayang kau sudah bangun?", sebuah pesan singkat meluncur diponsel Kania.
"Iya aku sudah bangun", dengan perasaan kacau Kania membalas pesan singkat dari Daniel.
Bagaimana tidak kacau, semalam Kania baru saja melakukan hubungan terlarang dengan pria asing. Malam itu dia pergi ke Bar bersama Intan. Kania awalnya menolak ajakan Intan. Namun karena Intan terus merengek, dengan terpaksa Kania menerima ajakannya. Tidak hanya itu, Intan terus membujuk Kania untuk meneguk minuman beralkohol. Awalnya hanya satu gelas, lama kelamaan Kania merasa terus ingin minum dan akhirnya dia mabuk bersama Intan. Disitulah awal Kania bertemu dengan pria asing yang tengah mabuk sendirian.
"Maaf, pagi ini aku tidak bisa menjemputmu sayang. Datanglah tepat waktu, karena hari ini ada acara penting dikantor", Daniel kembali mengirim pesan singkatnya.
"Baiklah, tak apa sayang. Aku bisa berangkat sendiri. Sampai jumpa dikantor. Byee", balas Kania.
***
Drtttttt, Drttttttt...
Suara panggilan telepon berhasil membuat pemiliknya terbangun.
"Ya, ada apa?", suara khas orang bangun tidur.
"Bos, anda dimana?!, lihatlah sekarang sudah pukul tujuh" Yudha sedang mengomeli atasannya.
"Benarkah?" Bryan memastikan dengan melihat jam diponselnya
"Anda dimana?, saya akan menjemput anda sekarang!, desak Yudha.
Pasalnya hari adalah hari pelantikan Bryan sebagai CEO baru.
Bryan mengerjapkan matanya. Bola matanya melihat kearah sekitar.
"Astaga aku dimana?", batinnya.
Dia terkejut melihat tubuhnya hanya berbalut selimut tebal. Bryan mencoba mengingat tentang apa yang terjadi semalam.
Bryan adalah seorang putra tunggal dari keluarga konglomerat. Dia adalah calon pewaris perusahaan ALPHA GROUP. Sifatnya dingin dan perfectionis. Satu lagi, Dia sangat gila kerja.
"Jemput saya di hotel A", Pinta Bryan pada Yudha sekretarisnya.
***
Acara pelantikan pagi ini berjalan lancar, meski Bryan harus sedikit terlambat.
"Selamat cucuku, akhirnya aku bisa pensiun", ucap seorang pria tua kepada Bryan.
"Kakek sangat serakah, seharusnya kakek menyerahkan perusahaan ini kepadaku sejak lama. Bukannya malah mengirimku ke cabang luar negeri", gerutu Bryan.
"Kau, cucu nakal", gelak tawa muncul diantara keduanya dan Yudha yang juga ada disana.
****
Di Jam makan siang Daniel menemui Kania dan mengajaknya pergi makan.
"Sayang kenapa kamu hari ini telat?, apa karena aku tak menjemputmu?, tanya Daniel.
"Tidak, aku hanya sedikit tak enak badan", jawab Kania yang berusaha menyembunyikan kejadian semalam dari Daniel.
"Ah iya, bagaimana acara pelantikan CEO baru tadi?", imbuh Kania.
Acara penting yang dimaksud Daniel adalah pelantikan CEO baru diperusahaannya.
"Ya begitulah, CEO kita yang baru masih sangat muda. Kira-kira berusia 30 tahunan", jelas Daniel.
"Ah, aku iri padanya. Bagaimana dia bisa sangat sukses diusia yang terbilang masih sangat muda", imbuh Daniel.
"Aku jadi penasaran bagaimana wajahnya", Kania berusaha senatural mungkin menanggapi Daniel.
"Perusahaan ini terlalu besar, akan sangat sulit bagi kita pegawai biasa untuk bisa melihat pimpinan kita", Daniel meneguk minumannya.
Kania hanya membalasnya dengan anggukan, dan mereka melanjutkan makan siangnya.
1 BULAN KEMUDIAN
Kania harus menerima kenyataan pahit bahwa hubungannya dengan Daniel harus putus ditengah jalan. Selama satu bulan ini hubungan mereka mulai renggang karena hadirnya orang ketiga. Daniel diam-diam bermain api dibelakang Kania.
Kecurigaan Kania selama ini memang benar. Malam itu kania membuntuti Daniel yang sedang menuju suatu tempat. Tidak disangka Daniel menemui seorang wanita disebuah hotel.
"Daniel!", setengah berteriak Kania memergoki Daniel bersama wanita lain dikamar hotel. Kania menyaksikan mereka berdua tengah melakukan hubungan terlarang.
Dengan penuh rasa kecewa dan isakan tangisnya Kania berlari meninggalkan mereka. Dari belakang ternyata Daniel menyusulnya.
"Kania", teriakan Daniel tak dihiraukan oleh kania.
"Kania, please!", sekali lagi Daniel berhasil meraih tangan Kania dari belakang.
"Stop Daniel", Kania mengibaskan tangannya.
Daniel hanya bisa diam tertunduk dengan rasa bersalahnya.
"Kenapa?, kenapa menunduk?", tegas Kania.
"Maaf", satu kata itu meluncur dari Bibir Daniel.
"Kamu tega menghianati aku Daniel, Padahal kamu tahu aku sangat mencintai kamu, kamu lupa tentang rencana pernikahan kita, egois sekali kamu?", wajah Kania datar karena dia tidak tahu harus menunjukkan ekspresi apa yang tepat. Hatinya hancur, pikirannya kacau dan hampir gila.
"Kamu bilang aku egois?, kamu yang egois Kania!. Selama 5 tahun kita menjalin hubungan. Kamu sekalipun tidak membolehkan aku menyentuhmu.!", bentak Daniel membela diri.
"Kau membentakku?, padahal jelas-jelas kamu yang selingkuh!", Kania mulai naik pitam.
"Iya, lalu kenapa?", Daniel tak mau kalah.
"Cukup, hubungan kita sudah berakhir", Kania lalu pergi meninggalkan Daniel.
"Okee, kalau itu mau kamu", teriak Daniel dari kejauhan.
***
Kabar putusnya Daniel dan Kania mulai tersebar dikantor. Semua orang mulai membicarakannya diam-diam.
"Nona Kania sudah putus dengan pacarnya", seorang wanita mulai bergunjing
"Ah iya, aku juga mendengarnya. Aku kira hanya gosip saja", wanita yang lain menanggapi.
"Bukan, mereka benar-benar putus".
"Wahh, hubungan sekantor memang tidak mudah, pasti mereka berdua akan canggung setelah putus".
Diam-diam Kania mendengar dirinya digunjing.
****
Sementara diruangan CEO Bryan memanggil Yudha
"Ada apa Bos?", tanya Yudha.
"Bagaimana dengan proyek kita di Kota A?", Bryan memang sangat jeli dalam menjalankan setiap proyeknya.
"Sejauh ini proyek kita berjalan cukup baik", jelas Yudha.
"Cukup baik?, kenapa hanya cukup bukannya sangat?, ah memang si Bryan ini adalah tuan perfectsionis.
"Masih perlu dikembangkan lagi, agar hasilnya sempurna seperti keinginan anda bos", Yudha menujukkan beberapa data.
"Baik, aku ingin proyek kali ini berhasil dengan sempurna. Terus kembangkan dan hubungi Tuan Pandu agar terus memantaunya", titah Bryan.
"Baik", Yudha menggukkan kepalanya.
1 MINGGU KEMUDIAN
Tidak disangka ternyata hubungan Daniel dan selingkuhannya masih bertahan. Kini justru mereka akan melangkah kearah yang lebih serius. Sepulang dari kantor, Daniel menemui Kania. Dengan rasa yang masih sangat kecewa, Kania memenuhi permintaan Daniel yang ingin menemuinya.
"Ada apa kamu ingin menemuiku", tanya Kania dengan ekspresi datar.
"Kau masih kesal denganku?", dengan entengnya kalimat itu terlontar dari bibir Daniel.
"Tidak, memangnya ada apa diantara kita?", sinis Kania.
"Ahh, syukurlah kau melupankannya. Jadi aku tidak akan merasa bersalah", terang Daniel.
"Langsung saja, kau mau apa menemuiku?", desak Kania.
"Aku ingin memberikan ini padamu, aku harap kamu datang dihari bahagiaku", Daniel menyerahkan undangan pernikahannya.
Dada Kania sesak bak dihunus pedang tajam. Rasa sakitnya belum sepenuhnya pulih, dan kini ditambah lagi oleh orang yang sama. Kania benar-benar harus merelakan Daniel bersama wanita lain.
"Jika aku tidak sibuk, akan aku usahakan", jawab Kania.
"Pestanya malam hari, jadi kurasa kau tidak sibuk", Daniel lalu pergi meninggalkan Kania.
***
Bryan baru saja tiba dirumah dan dia dikejutkan oleh sang kakek yang sudah menunggunya dikursi ruang tamu.
"Kakek, mengagetkanku saja" Bryan mengendurkan dasinya.
"Cucuku.. kau terlihat lelah sekali. Seharusnya jika kau pulang dari kerja ada istri yang menyambut kedatanganmu", sarkas kakek Bryan.
"Kakek tidak mengantuk?. Ah, rasanya aku lelah sekali harus diomeli sepulang kerja", keluh Bryan mengalihkan pembicaraan.
"Cucu nakal. Menikahlah, agar ada istri yang mengurusmu sepulang kerja", perintah kakek.
"Kakek tidurlah, aku juga harus istirahat agar bisa kembali bekerja besok", Bryan tidak menanggapi permintaan kakeknya.
"Jangan coba-coba mengalihkan pembicaraan kakek Bryan", nada kakek setengah berteriak dan Bryan meninggalkannya menuju kamar.
***
Huekk.. huek..
Akhir-akhir ini Kania merasa tak enak badan. Kepalanya pusing, dan perutnya mual. Kania tak terlalu menghiraukannya. Dia hanya meminum vitamin penambah stamina.
Namun, hari ini Kania benar-benar tidak sanggup berangkat kerja. Sehingga dia harus izin hari ini. Saat Kania ingin meminum obat, ternyata stok obatnya habis dan dia harus pergi ke apotek untuk membelinya.
Dalam perjalanan kembali dari apotek. Kania merasa kepalanya semakin pusing, hingga membuat dirinya kehilangan konsentrasi saat menyeberang jalan.
Srtttttttt, Bryan dengan sigap menginjak rem mobilnya. Dia hampir saja menabrak seorang wanita.
"Hah!, sial hampir saja", Bryan terkejut. Sedikit saja terlambat, wanita itu benar-benar akan tertabrak oleh mobil Bryan.
Tiba-tiba wanita itu pingsan tepat didepan mobil Bryan. Bryan yang melihat langsung menghampirinya.
"Kenapa wanita itu?, bukankah aku tidak sampai menabraknya?", gumamnya.
"Nona, nona! Bangunlah", saat Bryan mencoba membangunkannya. Dia merasa seperti pernah bertemu dengan wanita itu.
Tanpa berpikir panjang Bryan membawanya ke rumah sakit. Dalam perjalanan ke rumah sakit, Bryan ingat siapa wanita itu. Dia adalah wanita yang tidur bersamanya saat mabuk berat sebulan lalu. Bryan benar wanita itu adalah Kania.
"Ha, wanita ini. Siapa dia?", batin Bryan terkejut.
Sesampainya dirumah sakit, dokter langsung memberikan penanganan pada kania. Kania terlihat sangat pucat.
"Tuan, selamat istri tuan sedang hamil", ucap seorang dokter yang menangani Kania.
"Hamil?", jelas Bryan.
"Benar tuan, saya akan memberikan rujukan agar istri tuan bisa langsung dilihat kondisinya oleh dokter kandungan disini", jelas Dokter itu.
Mendengar ucapan dokter, Bryan hanya diam terpaku tanpa sepatah katapun.
"Bagaimana kondisinya?", tanya Bryan.
"Istri anda baik-baik saja tuan, dia hanya kecapean karena tampaknya dia tidak menyadari jika dirinya sedang hamil. Sebentar lagi akan siuman, tuan tidak perlu khawatir", dokter kemudian pergi meninggalkan ruangan.
"Hamil?", gumam Bryan. "Wanita ini sudah menikah?", batin Bryan penasaran.
FLASH BACK ON
Bryan yang menyadari dirinya masih diatas ranjang dengan hanya berbalut selimut putih tebal bergegas menuju kamar mandi. Namun, langkah kakinya terhenti karena melihat bercak darah diatas sprei.
"Wanita itu masih suci?", Bryan berpikir sejenak.
"Berarti aku yang merenggut keperawanannya?", gumam Bryan bertanya-tanya.
Bryan melanjutkan langkah kakinya yang terhenti. Dia harus segera membersihkan dirinya, dan datang ke kantor tepat waktu. Hari ini adalah hari pelantikannya sebagai CEO Perusahaan.
FLASH BACK OFF
"Dimana aku?", Kania mengerjapkan matanya. Padangannya mengarah ke seisi ruangan.
"Kamu sudah siuman?", Bryan membantu Kania merubah posisinya.
"Siapa kamu?", Kania sedikit bingung.
"Saya Bryan. Saya yang hampir menabrak anda, dan anda pingsan didepan mobil saya", terang Bryan.
"Ah iya, saya ingat. Terimakasih sudah membawa saya kesini", Kania menyadari dia sedang berada dirumah sakit.
"Sepertinya saya pernah melihat anda tuan?", Kania mencoba mengingatnya.
"Ah tidak, jangan bilang kau adalah pria yang malam itu bersamaku", Kania berharap bukan.
"Kau mengingatnya Nona?", jawaban itu tidak diinginkan Kania.
Kania terkejut, bagaimana bisa dia bertemu lagi dengan pria asing yang tidur bersamanya sebulan lalu. Padahal Kania sudah memutuskan untuk tidak mengingat-ingat kejadian itu, dan menguburnya dalam-dalam.
"Nona, apa kau sudah menikah?", pertanyaan itu membuyarkan pikiran Kania.
"Kenapa kau bertanya!", Kania terlihat tidak senang.
Huekkk, huekkk. Perut Kania terasa mual.
"Mau aku bantu kekamar mandi nona?", tawar Bryan.
"Tidak, tidak perlu", tolak Kania.
Tiba-tiba seorang perawat datang membawakan surat rujukan ke dokter kandungan untuk Kania.
"Ini nona, surat rujukan kedokter kandungan untuk anda", perawat itu menyerahkan sebuah amplop pada Kania.
"Dokter kandungan?", jelas Kania.
"Iya nona", jawab perawat itu.
"Kenapa aku harus kedokter kandungan?", imbuh Kania.
"Anda sedang hamil muda nona, dan anda perlu pemeriksaan lanjutan untuk mengetahui kondisi janin anda", jelas perawat.
"Kalau begitu saya permisi nona", perawat itu pergi meninggalkan ruangan.
Kania hanya diam tertegun. Sekali lagi perasaannya hancur berkeping-keping. Dia tidak bisa menerima semua ini.
"Hamil?, mana mungkin aku hamil?", gumam Kania.
"Perawat itu bilang aku hamil?, mana buktinya?", Kania merasa dirinya hampir gila.
Dengan berat hati Bryan menunjukkan hasil pemeriksaannya pada Kania. Entah mengapa Bryan merasa bersalah dengan Kania.
"Ya tuhan, kenapa aku hamil, bodoh", batin Kania mengutuki dirinya.
"Berarti anak yang aku kandung sekarang adalah anak pria ini", batin Kania memandang wajah Bryan.
"Maaf nona, aku harus bertanya, apa nona sudah menikah?", Bryan terpaksa bertanya.
"Apa urusanmu menanyakan hal pribadiku?", sinis Kania karena pikirannya sangat kalut.
"Nona tenanglah, saya hanya memastikan. Entah mengapa saya merasa harus bertanggung jawab", Bryan mengutarakan apa yang dia rasakan.
Tidak bisa dipungkiri, bahwa Bryan adalah ayah kandung dari bayi yang ada didalam perut Kania. Namun, Kania juga tidak tahu harus berbuat apa. Dia sudah sangat terguncang dengan kejadian yang menimpanya bertubi-tubi. Diselingkuhi pacar, ditinggal nikah mantan, lalu hamil anak pria yang tidak dia kenal.
"Stop aku ingin sendirian, tolong tinggalkan aku tuan", Kania memohon.
Dengan berat hati Bryan pergi meninggalkan Kania.
****
Melihat Kania terpuruk Bryan tidak hanya tinggal diam. Dia meminta Yudha untuk menyelidiki siapa Kania sebenarnya.
Tak butuh waktu lama, Yudha berhasil menemukan latar belakang Kania.
"Bos, wanita itu ternyata bernama Kania. Dia seorang yatim piatu. Saat ini dia hidup sendiri disebuah kontrakan kecil. Usianya baru 27 tahun, dan yang paling penting ternyata dia adalah karyawaan diperusahaan ini", jelas Yudha panjang lebar.
"Apa?, kau bilang dia karyawan diperusahaan ini?", Bryan tak percaya. Pasalnya sama sekali Bryan tak pernah bertemu dengan Kania dikantor.
"Iya bos, anda pasti bertanya-tanya kenapa tidak pernah melihat nona Kania bukan?. Perusahaan ini sangat besar. Sedikit kemungkinan anda akan bertemu bahkan berpapasan dengan nona Kania dikantor. Apalagi anda seorang CEO yang sudah jelas memiliki ruangan dilantai khusus, yang hanya bisa dimasuki oleh orang-orang tertentu. ", jelas Yudha sekali lagi.
"Ah iya, satu lagi bos. Nona Kania baru putus dengan pacarnya setelah lima tahun menjalin hubungan", imbuh Yudha.
Bryan mencoba mencerna pikirannya.
"Kania namanya, dan dia baru putus?, kenapa?". Jika benar waktu itu dia masih suci, berarti dia adalah wanita baik-baik?. Bahkan sama sekali dia tak pernah melakukan itu dengan kekasihnya, dan justru melakukannya denganku tanpa sengaja. Oh god, usia kandungannya juga baru satu bulan. Waktunya juga kurang lebih sama semenjak kejadian malam itu. Jangan-jangan bayi yang ada didalam kandungannya adalah anakku?", batin Bryan berpikir keras.
****
"Ha?, lucu sekali!, bukankah seharusnya aku yang memberikan hadiah untuk orang lain (Daniel). Kenapa justru aku yang mendapat hadiah ini?", dengan pikiran kacau Kania memegangi perutnya.
"Tuhan, kenapa aku ceroboh sekali?", gumam Kania yang terus mengutuki dirinya.
"Bagaimana aku membesarkan anak ini?. Tuhan, aku bisa gila", rasanya air mata Kania sudah kering karena terlalu banyak menangis.
****
Bryan yang baru saja sampai dirumah kini harus berhadapan dengan sang kakek yang terus mendesaknya untuk menikah.
"Apa melihat cucu kakek itu beristri adalah permintaan yang berlebihan?", desak kakek pada bryan.
"Iya berlebihan. Aku tak punya pacar, juga tidak ingin membuang-buang waktuku untuk hubungan yang tidak nyata", Bryan membela dirinya.
"Kakek tidak memintamu untuk berpacaran, tetapi menikah Bryan", Kakek beranjak pergi dari tempat duduknya.
Bryan menghela napasnya panjang, dan memilih masuk kamarnya. Dua orang keras kepala ini memang sulit disatukan pendapatnya.
***
Kania ingat jika malam ini adalah pesta pernikahan mantan pacarnya. Rasanya Kania malas sekali untuk datang, apalagi kondisinya hamil muda. Jadi dia sering sekali merasa mual.
"Haruskah aku datang?, atau lebih baik jangan?," Kania bertanya-tanya dalam hatinya.
"Ah, tidak-tidak. Aku harus datang, agar dia tahu kalau aku sudah tidak move on darinya!", Kania meyakinkan dirinya.
Kania lalu menunduk menatap perutnya yang masih rata.
"Ah, lucu sekali dimalam pernikahan mantan pacar aku hamil?, siapa pria itu?". Kania bingung memikirkan nasib dan anak yang ada didalam kandungannya.
Kania harus berjuang melawan perasaan hancurnya. Berusaha sekuat mungkin menggunakan topengnya agar kelihatan baik-baik saja. Malam ini dia berdandan secantik mungkin, agar terlihat sempurna. Saat dia akan memanggil taxi, sebuah mobil hitam mewah berhenti didepannya.
"Nona kau mau kemana?", tanya pria dalam mobil itu yang ternyata adalah Bryan.
"Tuan, sedang apa anda disini?", nada Kania sinis.
"Aku?, aku sedang berjalan-jalan disekitar ini", Bryan Beralasan.
Kania heran dengan alasan yang dibuat Bryan. Pasalnya Bryan berpakaian sangat rapi, menggunakan Tuxedo berwarna biru tua. Tidak mungkin hanya berjalan-jalan biasa menggunakan pakaian itu.
Bryan turun dari mobil, dan mendekati Kania. Kania memandangnya dengan wajah sinis.
"Nona, bolehkah aku tahu namamu?", Bryan mengulurkan tangannya.
"Kania", jawabnya singkat tanpa membalas uluran tangannya.
"Ah iya, aku Bryan", Bryan tersenyum tipis.
Kali Bryan terlihat sangat berbeda. Biasanya dia bersikap dingin pada siapapun. Namun, kali ini disepan Kania dibersifap lunak. Bryan merasa ada yang aneh dalam dirinya semenjak kejadian malam itu. Dia terus memikirkan Kania, namun berusaha tidak menghiraukannya. Hingga pada akhirnya Bryan dipertemukan kembali oleh takdir. Apalagi saat dia tahu bahwa Kania sedang mengandung. Perasaannya tidak dapat dibohongi lagi. Bryan sepertinya jatuh cinta dengan Kania.
"Sepertinya kau sedang mencari taxi nona, maukah kau ku antar saja?", tawar Bryan.
FLASH BACK BEBERAPA JAM YANG LALU
Ternyata Bryan diam-diam meminta Yudha untuk mengawasi Kania. Saat dalam tugasnya Yudha mendapatkan beberapa informasi baru tentan Kania.
"Hallo bos", Yudha menelpon Bryan.
"Iya, ada apa?", tanya Bryan.
"Bos, malam ini nona Kania akan menghadiri pesta pernikahan mantan pacarnya", jelas Bryan.
"Bersama siapa?", Bryan penasaran.
"Sepertinya sendirian", jawab Bryan.
"Baik, kau cari tahu dimana acara pesta itu digelar. Lalu kirimkan alamatnya kepadaku", pinta Bryan.
"Baik bos", Yudha menutup sambungan teleponnya.
FLASH BACK OFF
"Tidak, terimakasih tuan", jawab Kania singkat.
"Nona, tolong biarkan saya mengantarmu. Aku tidak tega melihatmu berdiri terlalu lama menunggu taxi. Wajahmu juga sedikit pucat", pinta Bryan.
"Tidak, aku bisa sendiri", Kania tetap pada pendiriannya.
"Nona, tolong. Jangan egois, apa kau tidak kasihan dengan bayi yang ada dalam perutmu?", wajah Bryan memohon.
Kania tertegun dengan ucapan Bryan, lalu memandang kearah perutnya dan memeganginya. Hati Bryan sakit melihat pemandangan itu.
Tak terasa air mata Kania menetes, dia tak mampu lagi menahan tangisnya. Bryan yang sigap langsung memeluk Kania. Tangis Kania semakin pecah, dan Bryan juga ikut meneteskan air matanya.
Saat sudah lebih stabil, Bryan membawa kania duduk dikursi dekat trotoar.
"Nona, maafkan aku jika yang akan aku tanyakan tidak pantas dan waktunya tidak tepat. Tapi aku benar-benar ingin mengetahuinya. Nona, maaf sekali lagi. Bayi siapa yang kau kandung?", Bryan berhati-hati karena takut menyinggung perasaan Kania.
Kania diam, menarik napas panjangnya. Dia bingung haruskah dia menceritakan semuanya.
"Anda ingat tuan kejadian malam itu, saat kita sama-sama mabuk di hotel?", pelan-pelan Kania mulai berbicara.
Bryan meresponnya dengan anggukan.
"Aku baru pertama kali melakukannya. Bahkan saat mantan pacarku meminta itu, aku menolaknya mentah-mentah", lagi-lagi Kania meneteskan air matanya.
Dada Bryan terasa sesak, hatinya juga merasakan sakit karena merenggut kesucian seorang wanita. Namun, kejadian itu juga tak disengaja. Mereka berdua sama-sama dalam kondisi tidak sadar.
"Aku tidak pernah melakukannya dengan siapapun sampai saat ini, kecuali dengan anda dimalam itu", jelas Kania.
Deg!. Benar, jantung Bryan terasa berhenti berdetak. Firasatnya benar, jika bayi yang ada dalam kandungan Kania adalah anaknya.
"Berarti, bayi ini adalah anakku?", Bryan memegang perut Kania.
Kania menangis, menanggapi Bryan dengan anggukannya. Bryan langsung memeluk Kania.
"Maafkan aku nona. Aku telah menghancurkan hidupmu", Bryan memeluknya dengan erat dan meneteskan air matanya.
"Tidak tuan, aku salah. Kita sama-sama dalam kondisi tidak sadar", Kania merenggangkan pelukannya.
"Nona, izinkan aku bertanggung jawab dengan menikahimu", Bryan membulatkan tekadnya untuk menikahi Kania.
Bukan hanya karena merasa bersalah. Namun, ternyata Bryan telah jatuh cinta dengan Kania. Kania telah berhasil meluluhkan hati Bryan yang sedingin kulkas.
"Tuan, jangan menikahiku hanya karena anda merasa bersalah. Karena jika itu alasannya, aku juga bersalah", jelas Kania.
"Tidak nona, sejak malam itu. Aku tak pernah berhenti memikirkanmu. Bodohnya aku yang tak menyadarinya dan memilih untuk tidak peduli. Maafkan aku nona", Bryan mengenggam kedua tangan Kania.
"Tapi", Kania ragu.
"Tapi apa?", Bryan penasaran.
"Anda tidak mengenal saya tuan. Anda juga tidak tahu latar belakang saya", Kania berusaha menjelaskan tentang situasinya.
"Nona, saya tidak peduli dengan latar belakang kamu atau bahkan dengan masalalumu", Bryan meyakinkan Kania.
"Tolong nona, jangan biarkan anak kita tumbuh tanpa kehadiran orang tuanya", bujuk Bryan agar Kania mau menerimanya menjadi seorang suami.
Kania diam sejenak, lalu memandangi wajah Bryan yang menunjukkan ketulusannya.
"Tuan, tolong beri saya waktu untuk memikirkannya", pinta Kania.
Karena jujur, Kania juga tidak tahu harus menerimanya atau tidak. Tidak bisa dipungkiri, jika Kania belum siap menikah apalagi dengan seorang pria yang belum dia kenal. Namun, dia juga merasa tidak boleh egois dengan anak yang dikandungnya.
"Baiklah nona, aku akan menunggumu. Aku harap kamu mau menerimanya. Demi anak kita", Bryan memohon.
"Aku akan mengantarmu nona, kali ini biarkan aku sedikit menebus rasa bersalahku dengan tidak mengabaikanmu", pinta Bryan.
Kania diam tidak merespon. Dia bingung, haruskah menolak atau menerima bantuan Bryan.
"Jika kau merasa keberatan, anggap ini semua untuk bayi yang ada dalam kandunganmu", Bryan meyakinkannya.
***
PESTA PERNIKAHAN DANIEL
Daniel dan istrinya terlihat tampak menggunakan gaun dan tuxedo warna putih. Mereka bagaikan Raja dan Ratu semalam.
"Akhirnya, kau datang juga Kania", sapa Daniel bersama istrinya.
"Ah iya, selamat aku turut bahagai", Kania mengukir sempurna senyumannya.
"Siapa dia?", Daniel penasaran.
"Perkenalkan, saya calon suami Kania", serobot Bryan mengenalkan dirinya, lalu memegang erat pinggang Kania. Kania yang terkejut dengan ucapan Bryan, mencubit lengannya.
"Tenanglah nona, kau pasti akan berterimakasih padaku", bisik Bryan pada Kania.
"Ah, Syukurlah. Aku kira kau akan sulit melupakanku", Daniel tertawa.
"Omong kosong apa yang kau bicaran Daniel", Kania menanggapi sinis.
"Sayang, ayo kita kesana", Bryan mengajak Kania meninggalkan dua orang itu.
"Ah iya, silakan nikmati pestanya", Daniel mempersilahkannya.
Akankah Kania menerima lamaran Bryan dan hidup Bahagia?. Jika kalian penasaran dengan kelanjutan ceritanya, jangan lupa like dan beri komentar apakah harus ada kelanjutannya atau tidak?😁
Terimakasih❤