"Nai", teriak Kei. Naira menoleh. Dilihatnya sepupunya Kei berlari kearahnya sambil membawa bunga. "Dimana kamu memetiknya Kei?", tanya Naira. "he..he., di kebun mu lah ", jawabnya sambil tertawa. "Bersiaplah menerima kemarahan Mamaku", kataku, dia hanya tersenyum.
Aku mempunyai seorang sepupu perempuan yang bernama Keira, kami seusia, dia lebih tinggi dari aku, wajahnya yang bulat, mata yang kecil serta hidung yang mancung membuatnya terlihat cantik, begitulah Kei di mataku, tapi tetap saja dia selalu bilang bahwa di matanya akulah yang paling cantik.
Aku lupa menceritakan bahwa Keira adalah anak Om ku, Papanya Kei adalah adik dari Papa ku. Kami selalu bersama, dimana ada aku pasti disitu juga ada Keira, kami juga bersekolah disekolah yang sama. Semua orang menjuluki kami dengan julukan si kembar yang tak sama. Keira bangga sekali dengan panggilan itu.
Keira juga suka sekali memakai baju yang sama denganku, kadangkala kami juga suka tukaran baju. Satu hal yang membahagiakannya adalah bila dia bisa memakai semua baju dan sepatuku. Aku tidak mempermasalahkannya, kebahagiaan Keira adalah kebahagiaanku juga. Bagiku Keira adalah saudara, sekaligus sahabatku.
Tanpa terasa kami berusia 13 tahun, Keira lebih dewasa dari aku, baik perkataan maupun perbuatannya, aku sering mendengar dia berbicara dengan bahasa yang tidak aku mengerti. Dan dia selalu menggodaku dengan panggilan Nai si polos atau Nai si cupu. Aku hanya tersenyum, bagiku Keira tetaplah sepupuku yang lucu.
Suatu hari kakak kembarku bercerita kalau Keira sudah punya pacar. Aku bertanya apa itu pacar, Kakakku hanya berkata bahwa belum waktunya aku tahu. Tapi kalau dipikir-pikir jikalau aku tidak boleh tahu mengapa mereka memberi tahu aku. Aku berkata pada diriku sendiri apabila ada kesempatan, aku akan menanyakan hal ini kepada Keira.
Pantas saja, akhir-akhir ini aku jarang melihat Keira. Walaupun kami satu sekolah, kami beda kelas sekarang. Aku tidak pernah punya kesempatan untuk bertanya padanya. Dia selalu terlihat sibuk. Hanya saja sekarang penampilannya sudah berubah, dia terlihat beda.
Setiap aku ke rumahnya, tanteku berkata Keira selalu banyak tugas, jadi setelah pulang sekolah dia ikut kerja kelompok ataupun ada pelajaran tambahan. Aku diam saja. Aku tidak mau membuat tanteku khawatir.
Pada suatu hari aku melihat Keira duduk termenung didepan kelasnya. Aku menghampirinya lalu bertanya apa yang terjadi padanya. Dia hanya tersenyum dan berkata tidak ada apa-apa. Tapi dari matanya aku tahu kalau dia habis menangis.
Dalam kesempatan itu aku bertanya padanya, apa benar dia sudah punya pacar, dan aku juga bertanya lagi apa itu pacar. Dia tertawa dan mengatakan bahwa penyakit polos ku itu tidak hilang-hilang juga. Kemudian dia terdiam dan menatap mataku, katanya pacar itu adalah cowok yang kita sukai dan cowok itu juga suka sama kita.
Aku lalu menanyakan siapa cowok itu. Dia kembali memandangku dan air mata menetes dari pipinya, aku minta maaf dan bertanya apakah aku mengatakan perkataan yang menyinggung perasaannya. Dia menggelengkan kepalanya, lalu pergi meninggalkanku masuk kedalam kelasnya.
Pulang sekolah aku bertanya kepada Mama, apakah Mama tahu ada apa dengan Keira, Mama hanya terdiam.
Sudah dua hari ini Keira tidak masuk sekolah, ketika aku mengajak kedua orang tuaku untuk menjenguk Keira, mereka berkata belum waktunya. Aku tidak mengerti, aku lalu menanyakan hal ini kepada kedua kakakku dan jawabannya juga sama.
Pagi ini ketika akan berangkat ke sekolah, kedua orang tuaku dan kakakku mengajak aku mengunjungi Keira, mereka memintaku untuk tidak masuk sekolah dulu. Perasaanku tidak enak.
Rupanya Keira ada di rumah sakit, air mataku tidak terbendung lagi, aku langsung berlari memasuki kamar tempat dia dirawat. "Keiraa" aku menangis sambil memeluknya. Seperti biasa dia hanya tersenyum sambil memandangku.
"Naira, maafkan aku", katanya. Aku bingung, apa yang harus aku maafkan, Keira tidak punya salah padaku. "Apa maksudmu, Kei?, kamu tidak salah", kataku.
Dia minta maaf karena mengacuhkan aku selama ini. Dia jatuh cinta dengan kakak kelas, untuk yang pertama kalinya dia begitu bahagia.
Ada kegiatan apapun pasti akan diikutinya agar lebih dekat dengan orang yang dicintainya. Sampai suatu ketika kakak kelas itu mengajaknya berbicara, dari situlah dia baru tahu kalau kakak itu tidak mencintainya, ternyata kakak itu sudah mencintai cewek lain.
Aku hanya bisa terdiam. Keira tiba-tiba tertawa, "Aku ini bodoh Nai", katanya. "Ketika kita sedang berjalan bersama, dia selalu memandang ke arahku sambil tersenyum, ku pikir dia menyukaiku, tapi ternyata..., cewek yang disukainya adalah kamu, Nai".
"Keira, aku tidak tahu", jawabku sambil menangis, ingin rasanya aku berteriak, mengapa harus aku, gara-gara aku Keira terluka. "Jangan menangis Nai, kamu tidak salah, akulah yang salah mengartikannya". "Lihatlah dirimu, siapapun pasti akan jatuh cinta padamu, jika aku ini cowok, aku mungkin juga akan tergila-gila padamu".
Aku hanya bisa menangis, andai saja kita bisa bertukar raga maka aku dengan ikhlas akan menukarnya dengan Keira. Apa gunanya cantik apabila kecantikan itu membuat saudaraku terluka. Tanpa terasa hari sudah malam, Aku bersama orang tua dan kakakku pulang ke rumah.
Keesokan harinya aku mendengar kabar Keira meninggal. Dia kehilangan banyak darah, tanpa setahuku dan tidak adanya orang yang memberitahuku, Keira dibawa ke rumah sakit di karenakan dia memotong pergelangan tangannya, dan lukanya itu sangatlah dalam.
Aku sangat terpukul, aku berteriak memanggil namanya berulang kali, selama berhari-hari aku menangis. Aku tidak diperbolehkan mengantarnya ke tempat peristirahatan terakhirnya. Jiwaku benar-benar meronta. Cermin di kamarku ku hancurkan, apapun itu selama itu memantulkan gambaran wajahku maka akan aku hancurkan.
Mama menangis melihat kondisiku, aku tidak mau melihat ada makhluk yang berjenis kelamin pria masuk ke kamarku bahkan jika dia itu adalah Papaku atau kakakku. Aku akan berteriak dan menghancurkan semua benda yang ada di sekelilingku.
Psikiater datang dan pergi untuk mengobatiku, pada akhirnya mereka menyerah, mereka berkata hanya diriku sendirilah yang bisa menyembuhkannya.
Akhirnya kedua orang tuaku memanggil seorang ustadzah yang bernama Ibu Astuti. beliau orangnya sangatlah baik, tutur katanya lembut dan santun, pertama kali melihatnya hatiku merasa tenang. Setiap datang selain melantunkan ayat suci Al Qur'an, beliau juga mengajakku bercerita.
Selama setahun lamanya aku memulihkan diriku. Kedua kakak dan orang tuaku menjagaku dengan sangat ketat, tidak boleh satu orangpun yang boleh mendekatiku. Perlahan-lahan aku mulai bisa beradaptasi, aku hanya suka mengamati tingkah laku teman-temanku, mereka selalu membuatku tertawa.
Temanku banyak. Mereka semua baik padaku. Dan mereka juga selalu menjagaku. Tapi tetap saja, sampai saat ini aku tidak mau jatuh cinta. Dan aku selalu berkata pada diriku untuk 'Jangan pernah jatuh cinta'.
Aku akan selalu berusaha untuk membuat orang di sekitarku bahagia, walaupun harus mengorbankan kebahagiaanku. Apa enaknya bahagia di atas penderitaan orang lain. Aku tidak ingin ada Keira yang lain yang bernasib sama dengan Keira ku.
Pesanku: Jangan pernah kamu katakan cinta kalau pada akhirnya hanya rasa sakit yang akan kau berikan. Cinta itu diciptakan bukan untuk menyakiti.
Tamat