[beginning and end of the author]
Buku yang terpisah
......
Jauh berada di suatu kedalaman yang tak terlukiskan, pemuda berambut putih membuka matanya ketika dia bangkit dari tidurnya. Memandang segalanya dengan rasa yang begitu bingung.
Apa ini?
Siapa aku?
Dimana aku?
Seluruh tempat berwarna putih seperti ilusi yang tidak terbatas, membuat siapapun mungkin bisa menjadi gila jika terus berada di tempat seperti ini.
Bahkan bayangan Anda mungkin tidak akan di temukan disini. Karena ini bukanlah suatu ruangan, bukan suatu ruang dengan adanya lantai dan cahaya dimana Anda bisa menemukan bayangan.
Sesosok lelaki berambut hitam datang entah darimana, tapi suaranya akan menggema ke seluruh tempat ini.
Lelaki berambut putih hanya bertanya "Siapa aku?"
Jika lelaki berambut hitam menjawab, maka jawabannya adalah "Kamu adalah ciptaanku."
Lelaki berambut putih dengan bulu mata yang penuh warna putih melentik diberinya nama sebagai Alshian.
"Bisakah kita berkenalan?"
"Apa itu berkenalan?"
"Kita saling mengetahui satu sama lain di antara kita, bukankah hanya kita berdua saja yang berada disini? jika kamu belum mengerti, mungkin aku akan memberimu sedikit kekuatanku untuk membuatmu menjafi ciptaan yang setidaknya cukup bagus di mataku.
"Alshian, aku memberi mu bagian kecil dari diriku."
Kemudian Alshian tanpa sadar mulai mengerti segala kata yang di ucapkan sosok lelaki tanpa wajah itu.
Apa itu berkenalan?
Dan..
Apa itu ciptaan?
Semua jawaban langsung berada di kepalanya, pada intinya dia akan mengerti segalanya.
"Sekarang kamu mengerti bukan? Alshian?"
"Namaku, adalah Alshian yah?"
Benar! itulah namaku, aku tiba-tiba menjadi sesosok tubuh dengan rambut penuh putih dan aku adalah Alshian, seseorang sendirian yang berada di tempat putih. Tapi akhirnya jawaban akan berada padanya tanpa perlu bertanya lagi.
Sosok berambut hitam memberinya dua buku. Yang satunya bertuliskan kisah dan yang satunya bertuliskan gambaran.
"Pegang kedua buku ini, buat lah dirimu senyaman mungkin atas keinginanku, ciptakan meja? kursi? pilihlah salah satu dari kedua buku. Putuskan jika kamu ingin menjadi penulis atau pelukis."
Di antara kedua buku, Alshian tidak memilih salah satu, dia akan mengambil semuanya. Membuat rambut hitam cukup kagum atas pilihan Alshian.
"Keputusan yang bagus~ kamu ingin menjadi keduanya di saat yang bersamaan?"
Alshian menjawab : "Tidak, aku ingin melampaui kedua kata ini, daripada penulis atau pelukis dan penggambar, aku ingin menjadi lebih dari itu, menjadi lebih dari semua nya."
Tanpa ekspresi wajah yang bisa terlihat, tapi Alshian bisa merasakan bahwa rambut hitam tersenyum.
Tempat putih ini, kini tercipta sebuah meja dan kursi hanya untuk satu orang, letakan buku-buku ini di atas sana. Isinya kosong dan tanpa batas, mulailah menciptakan kreasi sesukamu sendiri.
"Mulailah dengan keduanya, kamu bebas akan memilih dari mana, aku tidak akan melarang. Kamu bebas berkreasi."
Alshian duduk ke kursi yang ada.
Sesuatu yang tidak ada akan mulai tercipta.
Tempat putih ini adalah sesuatu yang sebenarnya tidak terlukiskan...
Kekosongan.
Kehampaan.
Ketiadaan.
Tanpa adanya konsep apapun.
Tidak ada ruang dan waktu.
Tidak ada dunia.
Tidak ada siapapun.
Tempat dimana menjadi awal dan akhir secara bersamaan, Alshian bisa menggambar atau menulis apapun di kertas putih sebagai awal, kemudian menghapus semuanya dengan penghapus yang ada jika dia merasa bahwa itu tidak menarik. Maka tempat ini juga akan menjadi akhir dari kreasi.
Sosok berambut hitam mengatakan bahwa dia akan meninggalkannya untuk selamanya, dan tidak akan pernah kembali dengan tubuh ini. Sebelum itu, Alshian mencegahnya untuk pergi terlalu cepat.
"Tunggu!! jangan tinggalkan aku! kamu mau kemana?"
"Aku kembali ke tempat dimana aku seharusnya."
"Tempat? tempat apa?"
"Sesuatu yang berada di luar semua ini. Mungkin kamu hanyalah imajinasi, mimpi, atau angan-anganku saja, tapi bukan berarti kamu tidak nyata, kamu adalah sesuatu terbaik yang pernah tercipta di atas kertas putih ku, suatu hari aku akan mengirimkan satu buku lagi. Jadi jalani saja apapun sendirian disini, selama kamu menciptakan ceritamu sendiri, maka kami tidak akan kesepian lagi."
Maka dengan itu, rambut hitam hanya perlu menulis di atas kertasnya bahwa dia memberikan satu buku lagi pada Alshian. Sama saja seperti menulis fiksi, realita Alshian bukanlah kenyataan, dia tidak lebih hanya sebuah lelaki indah berambut putih di atas kertas. Andai dia tahu, rambut hitam begitu senang ketika wajahnya mulai terlihat.
Di atas kertas putih tanpa batasan itu, sebuah ide dan kreasi indah akan di tuangkan, rambut hitam mulai menarik garis awal dimana suatu garis membentuk mata dan bulu matanya yang begitu indah. Hanya dengan satu mata saja tidak akan menjadi sesuatu yang sempurna, itu masih berada jauh untuk kata sempurna.
Satu kata yang berada pada Alshian adalah...
"Jadilah perantara terbaik untuk fiksi terkecilku, mereka mungkin tidak akan pernah bisa menggapaiku dan menemuiku di atas sini, begitu pula denganmu, mereka tidak akan pernah sampai di tempat ini untuk melihat meja dan kursi di tengah warna putih bersih ini, lagipula mereka belum ada. Aku hanya ingin bahagia dengan melihat mimpiku tercipta dari mimpi yang setidaknya sudah kuciptakan satu sebagai dirimu."
Kedua mata indah yang terlukiskan di atas kekosongan putih, akan di lanjutkan dengan rupa hidung, lalu alisnya untuk mulai membentuk dirinya. Pada akhirnya, rambut hitam hampir menemukan langkah akhir untuk penciptaan Alshian di atas kertas.
Mata, hidung, mulut, bentuk tubuh, semua lekukan dan garis yang ada, juga rambut putih nya yang tipis bagaikan benang cahaya yang tak terhitung jumlahnya, hanya dengan melihat wajahnya, rambut hitam sudah cukup senang, walau Alshian mungkin sesuatu yang tidak akan pernah nyata baginya, namun biarkan Alshian menjadi kenyataan untuk fiksi ceritanya sendiri, dimana dia menginginkan Alshian untuk menciptakan cerita yang begitu banyak atas ide-ide darinya, si rambut hitam.
Semua kata, keinginan, perasaan dan semuanya yang diinginkan rambut hitam berada di dalam kepala Alshian sekarang. Duduk di atas kursi pada kehampaan tak terlukiskan, mulailah menulis sesuatu atas perasaan yang diinginkan, luapkan semua itu di atas kertasmu.
Dengan kata lain, Alshian hanyalah fiksi yang di ciptakan untuk menciptakan lagi fiksi keinginan rambut hitam.
"Siapa namamu?"
Tanya Alshian pada dirinya sendiri yang membuatnya terhubung kepada rambut hitam.
Dan dia menjawab : "Kamu tidak perlu tahu siapa namaku, jika ingin menyebutkan nama lain selain rambut hitam? kamu bisa mengucapkan pengarang yang kesepian, itu tidak masalah."
.....
Pengarang yang kesepian.
Dia mulai merasa nama adalah sesuatu yang bagus untuk si rambut hitam, pengarang yang kesepian.
Alshian mulai menulis sesuatu yang begitu indah lagi, dia menjadi bagaikan pengarang kesepian di dalam fiksi sang pengarang kesepian. Menciptakan hal yang sama seperti yang di ciptakan oleh sang pengarang kesepian yang menciptakannya.
Berbeda darinya, dia menciptakan sebuah cahaya dan cerita lain untuk itu. Coretan hitam yang di jadikan cahaya olehnya untuk terlihat berkilauan di atas kertas ini. Jika itu tidak dapat di mengerti, dia menggambar sesuatu yang memuaskan, mungkin sesuatu yang sama atau bisa saja lebih indah dari dirinya.
Dan kertas di dalam buku berjudul kisah dan gambaran. Dia mulai membentuk sebuah cahaya yang tidak tertandingi dan berada di luar imajinasi seluruh pelukis apapun, lukisan cahaya yang tidak akan bisa dimengerti. Gambaran wanita adalah perwujudan dari cahaya yang di sukainya, di beri nama sebagai Elgine, layaknya sang pengarang
menamainya sebagai Alshian.
Lagipula sang pengarang tidak membentuknya dari sebuah cahaya di luar imajinasi, namun terbentuk dari mimpi yang tidak akan pernah ada.
Maka sama saja Alshian menciptakan Elgine sebagai perwujudan cahaya di dalam fiksi nya sendiri, sang pengarang pasti senang atas setiap karya ini, lagipula semua ini terhubung dengan keinginannya, biarkan aku menyempurnakan mimpi itu menjadi sebuah fiksi yang terus mengalir tanpa akhir. Jika itu berakhir, maka Alshian adalah orang yang mengakhiri seluruh kreasi.
Menghapus seluruh gambar dan tulisan di dalam buku? itu bisa.
Merobek semua lembaran yang telah terisi? itu bisa menjadi akhir semua cerita dan gambarnya.
Atau cukup menutup buku itu dan menghapus bukunya? tentu akan sama saja, semuanya akan menghilang di kedalaman putih tak terhingga ini, menjadikan akhir yang terjadi begitu saja.
Tidak ada yang perlu di khawatirkan, akhir bisa menjadi sebuah awal lagi, awal bagi kreasi berisi kisah dan gambaran baru. Membuat Alshian bisa merasakan seperti apa sang pengarang menyukainya, sayang sekali ... mereka berdua tidak akan pernah bisa bertemu, bagaikan penulis dengan gambaran datarnya sendiri. Sama seperti dia yang menciptakan Elgine, Alshian buka jatuh cinta atas Elgine yang merupakan ciptaannya, namun jatuh cinta dan tergila-gila atas cerita yang di ciptakannya, dimana dia hanya perlu tertawa dan melupakan semua kesenangan itu di kekosongan ini.
Akibatnya, dia berusaha masuk dengan memanifestasikan dirinya sebagai Alshian lagi di dalam fiksi ini, Alshian yang akan terus ada di setiap lapisan dan batas antara mimpi dan mimpi dan mimpi lagi yang akan terus menumpuk tanpa batas, seorang penulis sekaligus pelukis yang benar-benar tergila-gila akan ciptaanya sendiri.
Jika semua ini membuatnya jatuh cinta dan tergila-gila akan fiksi yang indah, maka yang lebih indah adalah ide dan keinginan sang pengarang kesepian yang tidak akan ada habisnya dan akan terus melakukan kesukaan dan keinginannya di dalam mimpinya sendirinya, jika dia terbangun dari tidur nya, maka mimpi akan berakhir dan mulai di tuangkan ke atas kertas merah.
Kertas merah inilah yang sebenarnya merupakan awal dan akhir yang menciptakan Alshian juga, dinamakan kertas merah tanpa asalan yang jelas, itu hanyalah rahasia dari sang pengarang, tapi yang pastinya, dia menganggap kertas merah juga merupakan putih, bebas merubah apapun semaunya.
Dengan begitulah, Alshian akan memulai cerita bersama sang pengarang, menciptakan kisah-kisah yang akan terus berisi kisah-kisah kecil bercabang tanpa henti berisi mimpi di dalam mimpi yang sulit di mengerti, dan tidak akan terjangkau oleh imajinasi.