Di kiblat kamar yang cukup luas terlihat sosok paruh baya berbalut mukena putih tengah bermunajat. Dialah Aima, seorang janda beranak satu. Usianya memasuki kepala lima tahun ini. Di atas sajadah usang biru tua, Aima menengadahkan kedua tangan. Dia lantas merapalkan berbaris doa indah untuk suami yang telah berpulang, juga putri semata wayang yang berjuang di kota orang. Tanpa sadar setitik air mulai menetes dari sudut mata, menggaris wajah tuanya yang sendu memupuk rindu.
Aira, putri tercintanya tak bisa menyempatkan pulang karena menggarap sebuah proyek besar. Berbeda ketika pekerjaannya masih luang, anak itu selalu menyempatkan menjumpa sang ibu meski hanya dua hari di kampung halaman.
Puas mengadu gundah, Aima merapikan mukena juga sajadah untuk disimpan di dekat nakas. Kepalanya menoleh pada jarum jam yang menunjuk angka 3.
Aima melangkah menuju ranjang lalu duduk bersandar. Selimut tebal berwarna krem dia tarik hingga menutupi pinggang. Memungut kacamata juga Al Qur'an kecil di laci sebelah bed tidurnya. Alunan nada mengalun syahdu di tengah sunyi pagi buta kala itu.
***
Di sisi lain, Aira tengah berkutat dengan pekerjaan yang seolah tidak ada habisnya. Sesekali ia menyesap kopi agar matanya tetap terjaga. Selang setengah jam, baru gadis itu merapikan meja kerjanya dari kertas yang berserakan.
Tak lupa berkirim kabar lewat pesan dengan sang ibu. Terbesit rasa rindu ingin berjumpa tetapi waktu belum memihaknya.
Pukul 7 pagi, Aira berangkat ke kantor menaiki subway. Butuh waktu sekitar setengah jam untuk sampai di kantor.
Kaki jenjangnya melangkah berirama dengan gamis lebar yang menjuntai indah. Langkah Aira terhenti di depan ruangan CEO. Jemarinya mengetuk perlahan hingga terdengar sahutan yang menyuruhnya memasuki ruangan.
"Assalamu'alaikum, Pak. Maaf mengganggu," sapa Aira sembari tersenyum ramah. Sang CEO mengangguk, tangannya mengarahkan Aira untuk duduk di kursi seberang meja yang ia tempati.
"Walaikumsalam. Ada keperluan apa, Aira?" tanya Brian—sang CEO kepada Aira.
"Saya ingin menyampaikan permohonan cuti, Pak." Jawab Aira kemudian menyodorkan sebuah amplop putih kepada Brian. Brian menerimanya kemudian tersenyum penuh arti.
Setelah mengucapkan salam dan berpamitan, Aira beranjak dari kursi. Tetapi tertahan oleh cekalan erat pada pergelangan tangannya.
Bian menatap Aira penuh pengharapan lalu berkata, "Izinkan saya ikut denganmu, Ai ..."
Aira menoleh, netranya menangkap binar mata Brian. Hal itu membuat jantung Aira bertalu lebih cepat.
"Untuk?" tanya Aira berusaha melepaskan cekalan Brian.
"Aku ingin melamarmu."
Satu kalimat yang cukup membuat Aira terkejut sampai tak berkutik. Tidak pernah menyangka jika laki-laki itu juga memendam perasaan padanya. Doa yang Aira panjatkan setiap malam akhirnya terjawab.
"Ba-Bapak tidak sedang bercanda, kan?" Aira ingin memastikan bahwa pendengarannya tidak bermasalah. Brian mengangguk pasti.
"Aku tidak menerima penolakan. Sholat Istikharah sudah cukup meyakinkanku bahwa kamu adalah calon tulang rusukku!" ucap Brian mantap. Mengurai cekalan tangannya membiarkan Aira berpikir.
"Sa-saya,"
"Aira ini masih jam kerja, silahkan lanjutkan pekerjaan kamu." pangkas Brian.
Dia tidak ingin mendengar apapun. Terlalu takut Aira menolaknya. Apalagi Biran melamarnya dadakan seperti tadi. Aira mengangguk lalu berpamitan meninggalkan ruangan atasannya.
Seminggu kemudian di pagi hari, Aira sudah bersiap dengan koper birunya. Sambil menunggu Brian, Aira duduk di depan teras kontrakan sembari mengetikkan pesan pada ibunya bahwa hari ini Aira akan pulang. Bibirnya terangkat bak bulan sabit saat mendapatkan balasan doa dari ibu tercinta.
Tak lama, Brian datang dengan mobil hitam. Pakaian santainya membuat Aira terkagum karena Brian terlihat berbeda. Setelan jas yang setiap hari melekat kini tergantikan kaos putih dipadu kemeja hitam. Benar-benar tampan.
Brian tersenyum menatap Aira kemudian membukakan pintu mobil juga menaruh koper di bagasi. Selanjutnya mobil mereka telah melenggang di jalanan.
Satu jam berlalu segalanya masih baik-baik saja. Sebelum akhirnya dari arah berlawanan, sebuah minibus berkecepatan tinggi terlihat berkelak kelok kehilangan keseimbangan akibat rem blong.
BRAK!
Dentuman keras terdengar memekakkan telinga ketika minibus tersebut menabrak mobil yang ditumpangi keduanya. Di tengah kesadaran Aira, sekelebat bayangan ibunya terlintas. Bulir bening di netra Aira meluruh bercampur darah segar dari kepala sebelum akhirnya mata itu benar-benar terpejam tak sadarkan diri di samping Brian.
***
Sementara itu, sang ibu Aima begitu antusias dan sangat bahagia mendengar kabar anaknya yang akan pulang hari ini. Dibantu pembantunya, Aima memasak makanan kesukaan Aira yaitu nasi liwet dan sambal teri serta urab sayur.
Sembari bersenandung, Aima menata hasil masakannya ke meja makan. Tetapi, tiba-tiba tangannya menyenggol piring berisi sambal mengakibatkan beling itu pecah berserakan.
Aima yang terkejut segera beristighfar, membersihkan kekacauan yang dia buat. Entah mengapa perasaannya mendadak tak enak.
Aima menatap kosong pada halaman, berharap Aira segera datang. Batinnya berkecamuk saling berkomentar sebab hingga malam, Aira tak kunjung datang. Aima mencoba menghubungi Aira lewat ponsel tapi hasilnya nihil. Perasaan sedih, rindu dan kecewa menjadi satu sebab merasa Aira tidak menepati janjinya.
Dua bulan setelah itu, ketika langit mendung terdengar ketukkan merdu dari arah pintu. Aima bergegas membukanya berharap Aira yang datang. Namun, sekali lagi Aima di hinggapi kecewa karena yang datang adalah tetangga sebelah yang memberi sekotak kue oleh-oleh perjalanan dinas.
Setelah menerima kue tersebut, Aima kembali merenung di depan ruang tv. Dahulu ini adalah tempat favorit mereka berdua. Tetapi, kini ruangan tv ini senyap seakan ada yang hilang. Raut Aima terlihat murung mengingat berbagai kenangan manis dengan Aira sebelum anaknya pergi bekerja. Kepingan memori mencuat sekelabat membuat air mata kembali berderai di wajah keriput Aima.
Suara ketukan pintu mengagetkan Aima. Dirinya menghampiri pintu dengan lunglai dan malas. Bunyi derit pintu terbuka membuat Aima membola. Pasalnya, yang datang kali ini adalah orang yang beberapa bulan ini dia tunggu kehadirannya. Aira, putri tercintanya.
Aima bergeming antara percaya tak percaya dengan penglihatannya. Hingga ketika Aira meraih tangannya untuk bersalaman, barulah Aima sadar bahwa semua bukan mimpi belaka.
Tetapi, kali ini putrinya tidak datang sendiri melainkan bersama seorang pemuda tampan di sampingnya yang kini tengah tersenyum pada Aima.
"Assalamualaikum, Ibu," salam Aira menyapa sang ibu.
"Walaikumsalam." Terdengar nada ketus dari Aima. Bagaimanapun Aira telah membuatnya kecewa.
Melihat situasi yang tak bersahabat, Aira menyuruh Brian pulang.
"Maaf, Pak. Bisakah tolong tinggalkan kami berdua? Nanti silahkan kembali lagi malam hari," ucap Aira dengan hati-hati. Brian mengangguk paham lalu berpamitan.
Sepeninggal Brian, Aira langsung memeluk sang ibu. Kemarahan Aima menguap begitu saja tergantikan oleh rasa haru. Sambil terisak, Aira menjelaskan penyebab dirinya tidak pulang kala itu.
Setelah saling memaafkan mereka berdua segera masuk untuk bercengkrama. Disela-sela obrolan mereka, tiba-tiba Ibu berkata,"Nak, Ibu ingin satu permintaan terakhir," Ucap Aima menatap lekat Aira sambil mengusap bahu putrinya tersebut.
Aira mengangguk setelah mendengarkan permintaan janggal sang Ibu. Tak lama, suara adzan berkumandang. Mereka segera berwudhu, melaksanakan sholat maghrib dengan Aira sebagai imam sesuai keinginan Ibunya.
Mereka berdua tampak sangat khusyuk hingga rakaat terakhir sesuatu yang aneh terjadi. Dahi Aira berkerut heran. Pasalnya, Ibunya tidak menjawab salam di rokaat terakhir.
Perlahan, Aira menengok ke belakang. Posisi Ibunya tengah bersujud dalam diam. Sedikit menaruh curiga, dengan jantung berdebar, Aira membangunkan Ibunya perlahan yang ternyata sudah tidak bernyawa lagi. Aira langsung berteriak, menangis sejadi-jadinya.
"Ibu ... Maafkan Aira," lirih Aira. Air mata mengalir dengan derasnya.
Tepat pukul 20.00 Brian datang ke rumah memenuhi janjinya kepada Aira dan ibunya. Namun, beberapa kali dia mengucapkan salam dan mengetuk pintu, tak kunjung ada balasan. Khawatir terjadi sesuatu, Brian menerobos masuk ke dalam rumah untuk memastikan.
Brian berjalan menelisik setiap sudut ruangan mencari keberadaan Aira. Hingga sampailah di satu ruangan, netranya menangkap sosok Aira yang tampak kacau dan sedih tengah memangku kepala Ibunya.
Melihat hal tersebut, Brian segera berlari menghampiri Aira dan segera merengkuh tubuhnya untuk memberikan ketenangan.
Setelah itu, Brian mendekatkan jemarinya menyentuh tangan wanita paruh baya tersebut berharap nadinya masih berdetak. Namun, sayang seribu sayang nadinya sudsh berhenti menjalankan tugasnya. Aima sudah dipastikan meninggal.
“Innanillahi wa innailaihi roji’un,” ucap Brian lalu mengusap lembut punggung Aira.