Dear Diary
MasyaAllah,
Sungguh indahnya dirimu
Entah apa yang kurasakan kini
Kau telah membuatku tersenyum setiap hari
Jantung berdegup kencang ketika kau dan aku berpapasan dan saling menundukkan pandangan
Ingin sekali tertawa kecil ketika kita hampir saja bertabrakan dan sama sama terkejut kaku
Karena kita terlalu fokus pada jalan
Saat aku melihatmu dari jarak jauh
Kau melukiskan bulan sabit yang indah pada bibir ini
Dan kau pun begitu menenangkan
Yaa Allah..
Apakah aku sedang jatuh hati?
Setiap kejadian yang aku rasa selalu kutuangkan pada secarik kertas agar disuatu hari nanti aku bisa mengenang apapun dimasa lampau. Aku type orang yang sangat tertutup dan pendiam. Sahabatku saja mengakui bahwa aku pendiam bahkan dia menyangka aku tak pernah menyukai seorang ikhwan. Karena aku tak pernah menceritakan hal yang ada kaitannya dengan hati. Entahlah aku agak malas dan risih sekali jika sahabatku bercerita tentang kisah cintanya. Saat itu Aisyah dan sahabatnya sedang berkumpul di rumah Karis.
“aduh kalian berisik banget sih.. aku lagi nulis nih, lagi cari kata kata yang enak dijadikan puisi.” sentakku dengan lembut.
“huh.. marah marah aja kalo kita lagi curhat tentang ikhwan. Jatuh cinta sanaaaa biar kamu bisa ngerasain jadi kita hihi” jawab Karis.
“apaan sih kalian, udah ah aku mau cari tempat lain aja”
Aku pun langsung beranjak pergi dan mencari tempat yang tenang dan sepi, aku menoleh ke kanan kiri ternyata ada tempat duduk kosong di sekitar taman. Bangku taman yang cantik dan agak memanjang.
“Nahh.. disitu aja deh” bisikku.
Aku pun langsung duduk di kursi itu. Kubuka Buku Diary dan pulpen favorite yang selalu terselip di halaman buku, siap untuk menciptakan puisi-puisi indah.
Aku berpikir sejenak untuk menentukan tema yang akan ku jadikan puisi. Melihat di sekitar taman, tak ada yang menarik untuk kujadikan puisi. Aku pun terdiam sejenak dan pikiranku malah mengarah pada kata kata sahabatku ‘Jatuh cinta sanaaaa..’
“hihhh aduh apaan sih, males banget ihhh..” sambil menggeleng gelengkan kepalanya dan tertunduk.
“Tapii kayanya aku harus coba bikin puisi tentang cinta deh, supaya mereka ga ngolok-ngolok aku lagi hmm” dengan senyuman sinis.
Kemudian aku mulai memikirkan dan mencari inspirasi untuk membuat puisi tersebut.
“Emm.. apa yaaa?? aduh aku kan ga ahli kalo tentang cintaa..” dumelku dalam hati.
Kutulis kata perkata dalam buku. Saat penulisanku salah, kurobek kertas itu, kuremas menjadi bola dan membuangnya. Tanpa disadari, ternyata sudah banyak kertas yang kurobek sehingga bola kertas pun berserakan di sekitar bangku taman.
“Ini kamu yang buang?”
Tiba tiba seorang ikhwan duduk tepat di sampingku sambil menunjukkan bola kertas yang kubuang. Dadaku sontak kaget karena dia tepat sekali duduk di sampingku. Aku begitu merasa gelisah dan ingin segera pindah tempat.
“Euh.. emm i.. iyaa.” Jawabku dengan agak tegang.
Ikhwan itu membuka bola kertas yang ia pegang dan membacakan isi puisi yang gagal itu..
Cintaa..
Satu kata penuh makna
Yang ada pada setiap jiwa
“breekkkk…” kuambil kertas tersebut dan meremasnya lagi. Ikhwan itu terdiam dan melirik ke arahku.
“Ukhti? Apakah kamu sedang membuat puisi tentang cinta? hihi” Ikhwan itu bertanya sambil tertawa kecil.
“Emm tidak..” Jawabku singkat.
“Kata pertamanya saja Cinta. Pasti puisi tentang cinta, betul kah?”
“Maaf akhi, saya sedang ada urusan. Permisi, Assalamu’alaikum”
“Lho.. ckck, waalaikumussalam”
Aisyah pun kembali ke rumah Karis dengan tergesa gesa.
“Aisyah? kamu kenapa? kok kaya yang habis dikejar hantu gitu sih haha” Tanya Fina.
Aisyah hanya melirik dan tersenyum sambil menenangkan hati.
“ga apa apa kok fin,” jawab Aisyah dengan santai.
“Benerr??”
“Kamu ga percayaan deh sama aku, aku baik baik aja”
Aku pun mencoba menatap mereka satu persatu dan langsung memalingkan pandangan.
“Tuhh kan, ada apa sih? cerita dong ceritaa.. kalo ada apa apa tuh cerita” Karis mencoba untuk membujukku untuk bercerita.
“Emmmm… tapi aku malu kalo nanya hal ini ke kalian” jawab Aisyah.
“Apa? mau nanya apa?”
(Jodoh dunia akhirat.. namamu rahasia, tapi kau ada dimasa depankuu..) Ringtone hp Aisyah berbunyi.
“Ehh tunggu tunggu, aku angkat telepon dulu” Aisyah pun keluar untuk mengangkat telepon.
“Duhh ringtone nyaaaa.. masyaAllah, diam diam kamu suka lagu tentang jodoh yaa syah.. hahha” Fani menertawakan ringtone hp aisyah.
“Hallo? Assalamualaikum..”
Aisyah mencoba untuk diam dan mendengarkan tapi tak ada sedikitpun suara. Akhirnya Aisyah memutuskan telepon tersebut.
“Hmm jaman sekarang orang jail ada ajaaa” sambil menyimpan hp ke dalam tasnya.
“Siapa yang nelpon syah?” tanya karis.
“Orang jail..” jawab Aisyah sambil membereskan barang barangnya.
“Hah? ada ada aja kamu syahh”
“Aku pulang duluan yaa, maaf ga bisa lama lama bareng kalian.” Akupun berpamitan.
Sesampainya di rumah, aku segera sholat ashar karena saat di perjalanan aku belum sholat.
Setelah selesai sholat, Aku diam di atas kasur sambil memandang ke arah jendela dan hujan mendukungku untuk membuat puisi.
Tetapii.. (plup plup plup) ternyata ada pesan masuk pada hp Aisyah.
‘Cinta, satu kata penuh makna, yang ada pada setiap jiwa’
Aisyah terdiam dan merasa heran saat membaca pesan tersebut.
Lho.. ini kan puisi yang tadi aku buat, siapa pengirim pesan ini? Jangan jangan ikhwan tadi lagii. Tapii dia tau dari mana nomer hp ku?”
Aisyah pun mengingat ngingat kejadian tadi siang.
“Perasaan aku ga ngasih no hp deh, ah Yasudahlah biarkan saja” bisik Aisyah sambil menutup dan menyimpan hp nya.
Aisyah mendekati jendela dan membukanya. Aisyah menatap langit sambil mengulurkan tangannya, tetesan air hujan ia rasakan. Dingin tapi penuh dengan kesejukan.
Dear Diary ‘2017
Yang ku tahu, cinta adalah fitrah
Tanpa mereka ketahui
Sebenarnya aku sedang mencintai ciptaanMu
Maafkan diri ini yang sedikit berpaling
Dan kini aku mengharapkan dia
Untuk menjadi calon pendampingku
Yusuf
Sudah hampir 3 tahun
Aku menunggumu disini
Dengan hati yang sama
Dan perasaan yang sama
Seperti dahulu..
Aku yang mengagumimu
Seandainya Tuhan memberikan Aku waktu untuk bertemu dirimu
Walaupun saat itu Aku hanya memberikan salam untukmu
Itu sudah lebih dari cukup untuk mengobati rasa rinduku
Tapi untuk apa?
Dia pun sama sekali tidak mengetahui Aku
Bagaimana bisa dia merindukanku kembali?
Itu sangat mustahil
Salamku untukmu, Yusuf.
Hanya Allah-lah yang mengetahui rasa cintanya. Yusuf, kaka tingkat Aisyah saat SMA yang sekarang sedang meneruskan kuliahnya di Jakarta. Aisyah baru merasakan jatuh cinta saat SMA. Namun tak heran jika ia masih bertahan untuk mencintai Yusuf walaupun selama 3 tahun ia tak pernah mendengar kabar tentang Yusuf. Tanpa seorang pun mengetahuinya. Aisyah memupuk perasaan yang lebih.
“Kak Yusuf, kapan yaa kita ketemu lagi.. Kapan kakak balik ke Bandung? Aisyah merindukan kakak” bisiknya setelah menulis diary.
Dua tahun kemudian…
(Tok tok tok..) Suara ketukan dari arah pintu kamarku. Aku terbangun..
“Aisyaaahh.. ayo bangun nak” Suara Umii telah membuka mataku dan langsung melihat ke arah jarum jam.
“Astaghfirullah..” ternyata jarum jam telah menunjukkan pukul 07.00 WIB. Aisyah membuka pintu kamar.
“Iyaa umii.. Aisyah langsung siap siap nih mi”
“Makanya kalo udah sholat shubuh jangan tidur lagii..” kata umii.
“Aku ngantuk banget mii,”
“Ya udah cepetan siap siap”
Aisyah segera ke kamar mandi dan bersiap siap berangkat wisuda.
“Pokonya kamu harus dandan yang cantik ya nak, Umii bakalan kenalin kamu ke anak temen umii saat makan siang” umii berbicara sendiri.
cinta yang sederhana(Part 2)
Ruang tamu..
“Nahh.. akhirnya udah siap. Cantik banget anak umii.. Subhanallah, yu berangkat”
“Hmm umii bisa aja,”
“Habis pulang wisuda kita makan siang dulu yaa di rumah makan deket kampus kamu” Ajak umii.
“Tumben mi, ada apaan sih mi? hehe” tanya Aisyah.
“Kan ada yang mau ngajak kamu ta’aruf syah.. Baru aja tadi umii sampein ke kamu, udah lupa” jelas umii.
“Hah? apa umii? Ta’aruf? mii pliss jangan bercanda deh” dengan mimik muka yang khawatir.
“Ngapain umii bercanda, lagian umii serius kok” senyuman manis terpancar dari wajah umii.
Aisyah mengerutkan jidatnya dan berkata dalam hatinya.
‘umii, Aisyah tidak siap untuk hal ini. Untuk saat ini, Aisyah masih mencintai ka Yusuf’
“Lho kok malah ngelamun sih, udah ah yuk berangkat. Nanti terlambat lagii..” umii menggandeng tangan Aisyah dan mengajaknya ke dalam mobil.
Kemudian setelah wisuda selesai..
“Aisyah, udah selesai kan? kita makan siang yu.. umii udah laper nih, takut kita dateng telat ke rumah makannya sebelum calon kamu datang. Malu dong, umii yang undang mereka. Masa umii yang telat” ajak umii.
“umii yang ngundang?”
“iyaa sayangg..”
Aisyah hanya terdiam dan gelisah karena ia selalu teringat perasaannya kepada Kak Yusuf.
Di rumah makan..
Aisyah hanya bisa diam saat perbincangan antara umii dan temannya berlangsung. Aisyah tak bisa berterus terang tentang perasaannya pada umii. Semua kemauan umii Aisyah jawab dengan kata ‘Iya mii’ karena Aisyah tidak ingin mengecewakan umii dengan penolakan Aisyah. Aisyah sama sekali tidak mau melihat calon yang dipilih oleh umii. Maka dari itu Aisyah tertunduk sambil menahan kesedihan di hatinya.
“Umii, bolehkan Aisyah izin pergi sebentar? Aisyah ingin mencari udara segar.” Aisyah menahan air matanya agar tak menetes di depan umii.
“Silahkan nak, Tapi jangan lama lama ya. Ga enak dong sama calon kamu” jawab umii dengan sedikit menyindir.
“iyaa umii”
Aisyah mengambil kunci mobil dan pergi ke suatu villa dimana tempat itu begitu tenang dan menyejukkan.
Saat di perjalanan Aisyah menyetir sambil menangis. Aisyah pun berteriak kesal, Air mata tak bisa dibendungnya. Aisyah meluapkan semua kekesalannya di dalam mobil.
“Umii.. Kenapa umii harus seperti ini. Aisyah tidak mencintai ikhwan pilihan umii.. Aisyah hanya ingin kak Yusuf. Ikhwan pilihan Aisyah karena Aisyah hanya mencintai kak Yusuf mii..”
Aisyah tak henti hentinya menangis di dalam mobil.
Tiba tiba saja..
(plup plup plup) pesan masuk.
Aisyah melirik ke arah hp dan memberhentikan mobilnya.
“Aisyah, kamu kemana nak?” ternyata pesan itu dari umii.
“Afwan umii, sepertinya Aisyah akan menginap di villa umii untuk malam ini. Aisyah butuh waktu untuk menerima perjodohan ini” Jawab Aisyah.
“Baiklah syah, Hati hati yaa”
“Syukron umii”
Kemudian Aisyah melanjutkan perjalanannya menuju villa. Hujan gerimis mulai membesar hingga kaca mobil pun berembun. Sesampainya di depan villa, Aisyah keluar dari mobilnya. Ia tidak langsung lari dan masuk ke villa. Tetapi dia dengan sengaja keluar dengan perlahan hingga air hujan membasahi badannya. Aisyah berjalan menuju tempat yang di depannya adalah sebuah jurang. Aisyah terdiam, menangis kesal sampai mengepalkan tangan kanannya dan tangan kiri menyentuh dadanya.
“Yaa Allah, begitu sakitnya dan begitu sesaknya dada ini. Kuatkan aku Yaa Allah” Aisyah memejamkan matanya dan tertunduk.
Tak lama ada seseorang yang memayungiku di belakang.
“Ukhti.. Sebaiknya ukhti masuk ke villa dan berteduh disana. Jika ukhti hujan hujanan seperti ini, ukhti bisa sakit”
Aisyah pun berbalik badan kemudian lari menuju villa. Ia masuk dan menghangatkan badannya.
Hari semakin gelap, Aisyah segera mengambil air wudhu. Aisyah sholat dan berdoa kepada Allah untuk minta ketenangan. Sebelum tidur, Aisyah membuka diarynya dan menuliskan..
Dear Diary
Aku sering mendengar kalimat
‘Cinta tak harus memiliki’
Ditengah kata Cinta dan Memiliki
Ada 2 kata yang membuat aku tak bisa terhenti untuk menangis
Yaitu kata Tak Harus
Tetapi …
Mengapa Engkau memberikan rasa cinta ini?
Jika memang bukan dia yang menjadi Jodohku
Apakah rasa Cinta yang kumiliki selama ini
Salah?
Tapi Cinta adalah fitrah
Yang tak patut untuk dipersalahkan
Yang seharusnya disyukuri oleh setiap insan
Yaa Allah
Bantulah aku untuk mengikhlaskan
Bantulah aku untuk mencintai ikhwan pilihan
Aisyah,
Satu hari sebelum pernikahan, sahabat Aisyah datang ke rumah.
“Ciee yang besok mau nikah, hihi. Ternyata diam diam kamu suka sama ikhwan ya syah..” kata karis.
“Iyaa nih huu, ga pernah cerita lagi sama kita. Nama calonmu siapa sih syah? kenalin dong..” tanya fina.
Aisyah hanya tersenyum saat mereka menyindirku.
(Astaghfirullah, sampai H-1 pernikahanku.. Aku sama sekali tidak mengetahui nama calon pendampingku) dalam hati, dibalik senyuman Aisyah yang sebenarnya bukanlah senyum kebahagiaan.
“Ohh nama calonnya?” tiba tiba umii menyambung pembicaraan kami.
“Iyaa umii.. Siapa nama calonnya?” tanya fina.
“Namanyaaa..”
“Euhhh nanti juga kalian tau, biar surprise dong.. hehe” potong Aisyah.
Aisyah sengaja memotong pembicaraan mereka karena Aisyah tak kuasa mendengar nama ikhwan lain selain kak Yusuf.
“Emm ok baiklah, suprise katanyaaa hihi” sambung umii. Aisyah pun tersenyum dengan agak terpaksa.
Malam tiba..
Aisyah berdiam diri di kursi halaman depan rumah dan Aisyah pun berbisik..
“Ka yusuf, saat ini aku masih mencintai kaka. Sampai kini bintang pun menggambarkan wajah kakak. Esok aku akan menikah, trimakasih kak sudah menjadi cinta pertama Aisyah” Aisyah pun tersenyum.
Beberapa menit kemudian..
“Aisyah.. kamu lagi apa?” umii menghampiri.
“Emm.. lagi diem aja mii, oiya mii.. Aisyah mau nanya boleh ga?” dengan wajah penasaran.
“boleh dong nak, mau nanya apa?” sambil merangkul pundak Aisyah.
“Emm.. cinta pertama umii siapa?” tanya Aisyah.
“Abii, Abii kamu syah..”
“Jadii… ikhwan yang telah menjadi suami umii sekaligus abiinya Aisyah itu cinta pertama umii?” tanya Aisyah.
“Yapss.. seratus untuk Aisyah. Betul sekali.” sambil mencubit pipi Aisyah.
‘seandainya Aisyah bisa seperti umii, Aisyah ingin… cinta pertama lah yang menjadi pendamping Aisyah. Yaitu Ka Yusuf. Tapii…’ Aisyah berbicara dalam hati sambil menatap keindahan bintang dimalam hari.
“Udah yuu .. kita masuk kamar. Udah malem” Ajak umii.
“iyaa mii..”
Umii dan Aisyah pun masuk ke kamar dan mengistirahatkan diri.
cinta yang sederhana(Part 3)
Esok hari pun tiba, hari dimana Aisyah akan dipersatukan oleh seorang ikhwan yang akan mendampingi hidupnya. Dia adalah ikhwan yang dipilihkan umii.
Sungguh sangat berat hati Aisyah ketika ia harus menerima lamaran ikhwan yang tak dicintainya.
“Aisyah, senyum dong.. dari tadi umii liat kamu cemberut terus” kata umii ketika Aisyah sedang didandani.
Aisyah pun senyum dengan terpaksa. Saat itu Aisyah banyak melamun dan seperti orang yang sudah pasrah.
‘Yaa Allah, kuatkan aku… ikhlaskanlah hati ini yaa Allah..’ Aisyah terus menerus berserah diri kepada Allah.
‘Kak yusuf.. kakak dimana? Hari ini Aisyah akan menikah kak’ Setiap Aisyah teringat kepada yusuf, Air matanya selalu menetes, sulit bagi Aisyah untuk menghilangkan perasaan yang sudah begitu dalam.
Tak lama, calon suami Aisyah pun datang bersama keluarga serta kerabatnya. Mereka sudah berkumpul di ruang tamu dan ikhwan itu siap untuk melaksanakan ijab qobul.
“Aisyah, ayo cepetan.. udah pada siap tuhh.. tapii pelan pelan aja yaa jalannya hhe” umii mencoba menuntun Aisyah.
Dengan hati yang menangis Aisyah mencoba berdiri tegap tanpa menunjukkan ada kesedihan di wajahnya. Tetapi di mata Aisyah masih sangat terlihat jelas bahwa hatinya belum begitu ikhlas.
Aisyah berjalan dengan anggun sambil berdzikir kepada Allah. Perlahan Aisyah duduk tepat di samping calon suaminya, ia tertunduk dan ingin sekali menutup mata dan telinganya karena tak kuasa mendengar nama orang lain disebut, tapi Aisyah mencoba biasa saja di depan keluarganya.
“oke, bisa kita mulai?” Abii Aisyah sebagai penghulunya menanyakan pada ikhwan yang berada di samping Aisyah.
“insyaaAllah, bisa pak” jawabannya dengan lantang.
Sebelum ijab qobul dimulai, Abii Aisyah membacakan Ayat suci Al Qur’an.. Dan kemudian setelah selesai, dimulailah ijab qobul..
“Saya nikahkan.. Muhammad yusuf al kholiq…”
‘lho.. yusuf? Muhammad yusuf al kholiq? itu kan…. nama lengkap kak yusuf, benarkah yang disampingku ini kak yusuf? Yaa Allah semoga benar..’ Hati Aisyah tersentak, merasa tak percaya bahwa yang di sampingnya adalah yusuf, kakak tingkat yang selama ini ia idamkan.
Setelah ijab qobul sah. Aisyah sudah tak sabar melihat wajah yang telah menjadi suaminya itu, apakah dia benar kak yusuf? Perlahan Aisyah memiringkan badannya dan membuka kedua matanya.
Dan ternyataaaa itu benar benar kak yusuf.
Aisyah langsung pingsan di tempat.
“Astaghfirullah Aisyah,” yusuf sangat terkejut saat Aisyah pingsan tepat di pundaknya.
Abii langsung membawa Aisyah ke kamar, umii pun mencoba menyadarkanku..
Pernikahan selesai..
Aisyah berdiam diri di loteng atas, seperti biasa dia ingin menatap bintang di langit yang begitu luas.
Senyum dengan penuh kebahagiaan terpancar pada wajah manisnya. Menikmati indahnya malam dengan hati yang begitu tenang. Air mata haru pun menetes pada pipi Aisyah.
“Aisyah,” yusuf memanggil dari belakang. Aisyah segera menghapus Air matanya.
“Eh iya kak?” jawab Aisyah.
Yusuf pun mendekat dan menatap mata Aisyah.
“Kamu nangis?” tanya yusuf dengan wajah heran.
Aisyah membalas pertanyaannya dengan senyuman. Karena ia ingin menunjukkan bahwa dirinya merasa bahagia.
“Tak perlu kau sembunyikan kesedihanmu syah..” yusuf berjalan menuju pagar loteng dan menatap bintang bintang. Aisyah kembali tersenyum.
“aku tau, perjodohan ini telah membuatmu bersedih.. Maafkan aku syah.. Aku terlalu egois karena telah menginginkanmu menjadi istriku kepada bunda, sampai aku tak memikirkan bagaimana perasaanmu..” jelas yusuf.
Aisyah mendekati Yusuf dari belakang.
“Kak, asal kaka tau. Aisyah sangat bersyukur kepada Allah. Karena Allah telah mempersatukan kita.” jawab Aisyah.
“Tapi selama ini.. aku tak pernah membuatmu jatuh cinta.. bahkan kamu baru mengetahui namaku saat ijab qobul tadi syah..” Aisyah pun ikut memegang pagar loteng yang begitu dingin.
“Sebenarnya Aisyah mencintai kaka sudah hampir 5 tahun. Taukah kak? Itu bukan waktu sebentar untuk bertahan mencintai seseorang yang telah pergi dan tak ada kabar.”
“5 Tahun?” yusuf pun kaget dan merasa heran.
“Iya 5 tahun, Aisyah telah mencintai kakak sejak SMA dan kaka adalah cinta pertama Aisyah kak” jelasnya.
“kok bisa? padahal aku baru kenal kamu saat kita bertemu di taman” kata yusuf.
“Hah? di taman? Jadiiii… selama ini yang mengikuti aku dan sms plus telpon aku? kakak?”
“Iyaa..” jawabnya dengan singkat.
“Subhanallah kak… kenapa kakak ga bilang..” respon Aisyah sambil tertawa kecil.
“lho kamunya aja langsung izin pamit.. gimana sihh” jawab yusuf sambil meledek Aisyah
“Kan Aisyah ga tau kalo itu kakak, Hemm.. Jika rasa rindu, kuibaratkan sebagai bahan bangunan. Aisyah telah berhasil membuat sebuah istana megah nan indah di hati ini. Dan kini, seorang pangeran yang diimpikan telah datang menuju istananya. Istana yang dibuat dengan penuh cinta.”
Wajahnya memerah karena mendengar kata kata Aisyah. Dan yusuf pun memegang tangan Aisyah dan berkata..
“Terima kasih banyak istriku.. ku harap kau dan aku akan selalu bersama hingga maut memisahkan kita” yusuf pun mengecup tangan Aisyah dan Aisyah pun mengaminkan kalimat yusuf..