Di malam pernikahan mantan pacar, aku hamil....
Bagaimana bisa terjadi?
Flashback on
Saat ini aku sedang melajukan supercar milikku menuju sebuah club elit di kawasan ibu kota Jakarta.
Jalanan malam hari ini cukup senggang membuatku bisa dengan leluasa mengendarainya.
Sakit hati karena dikhianati tunanganku membuat emosiku tak terkendali, Cara satu-satunya yamg ku lakukan adalah dengan mendatangi tempat haram ini, mencari kepuasan duniawi yang akan membuatku tenggelam dibuatnya.
Saat aku sudah berada di club, penglihatanku tidak sengaja menangkap sosok yang tidak asing dimataku, dia Eiden mantan kekasih sekaligus cinta pertamaku terdahulu.
"Vanya, sini!" Teriaknya membuatku mau tidak mau melangkah mendekatinya.
"Kamu ngapain disini?" Ucapku setelah duduk dihadapannya.
"Biasalah, refreshing. Kerjaan banyak banget, kaya gak ada habisnya."
"Ternyata kebiasaanmu tidak pernah berubah,"
"Selalu saja mendatangi tempat haram ini." Ucap Vanya
"Oh iya bagaimana kabarmu?" Tanya Eiden
"Sangat amat buruk."
"Memangnya ada apa hingga kamu memutuskan untuk mendatangi tempat ini?"
"Setahuku kamu adalah orang yang tidak terlalu suka berada di tempat haram ini,"
"Biarpun tempatnya elit, kamu tetap tidak akan mau, benar begitu Vanya?" Tanyanya memastikan.
"Ternyata kamu masih mengenal sosokku dengan baik."
"Tentu saja! Melupakan wanita cantik sepertimu membutuhkan waktu yang cukup lama. Pesonamu benar-benar tidak bisa membuatku dengan cepat melupakanmu."
"Kamu bisa saja." Ujarku sembari tertawa ringan
"Kamu tidak mau menanyai kabarku?" Tanya Eiden
"Sudah pasti buruk, jika tidak mana mungkin kamu akan pergi ke tempat ini." Tebakku
"Kamu salah besar Vanya! Memang tadi sebelum bertemu denganmu mood-ku amat sangat buruk. Tetapi setelah bertemu kamu mood-ku tiba-tiba saja meningkat drastis."
"Udah deh kamu jangan gombal mulu, gak kering giginya?"
Setelahnya hanya terdengar gelak tawa dari sepasang mantan kekasih itu.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku tadi. Sebenarnya, ada apa dengan kedatanganmu tiba-tiba ke tempat ini?" Raut wajah pemuda itu tampak sangat penasaran.
"Tunanganku mengkhianatiku."
Saat mendengar pertanyaan itu kembali, raut muka Vanya yang tadinya bersinar bagaikan bulan di malam hari mendadak menjadi suram bak awan hitam di tengah badai.
"Maaf, aku tidak bermaksud membuat mood-mu turun."
"Tidak masalah, itu bukan salahmu."
"Aku sangat prihatin terhadap kisah cintamu, lelaki brengs*k mana yang rela meninggalkan perempuan secantik dirimu?"
"Sudahlah aku tidak ingin membahasnya lagi." Ucap Vanya tiba-tiba
"Baiklah-baiklah, maafkan aku."
Setelahnya mereka terdiam cukup lama hingga Eiden kembali memulai percakapan.
"Kamu harus bisa melupakannya, cari cowok lain yang lebih baik daripada dia. Misalnya aku"
"Eyy apakah kamu sedang membanggakan dirimu sendiri?"
"Bisa dibilang begitu." Ucapnya seraya meneguk segelas wine
"Tumben kamu gak minum vodka, biasanya kalau ke club selalu pesan itu."
"Cari sensasi baru."
"Kamu gak minum?" Tanya pemuda itu
"Enggak deh, udah gak nafsu."
"Kalau kamu mau, kamu bisa pesan. Biar aku yang bayar"
"Heumm... Ya, terimakasih atas tawaranmu." Ucapku
Setelah puas mengobrol, mereka memutuskan untuk pulang dengan Vanya yang harus mengantarkan Eiden pulang ke rumahnya.
Setelah puas mengobrol, Vanya memutuskan untuk pulang ke rumah. Namun sebelum itu dia harus mengantarkan sang mantan kembali ke kediamannya.
Di sinilah keduanya berada, di dalam mobil milik Eiden.
"Eiden hentikanlah tanganmu itu! Sungguh perbuatanmu membuatku tidak nyaman." Ucapku karena merasa pemuda itu sudah melebihi batasnya. Bagaimana tidak? Ia sedari tadi sangat gencar meraba-raba bagian sensitif ku. Namun pemuda itu sama sekali tidak menanggapinya.
Tiba di lampu merah, ia semakin gencar melakukan hal tersebut. Hingga tiba-tiba ia mencium bibirku. Aku sangat terkejut merasakan benda kenyal menempel di bibirku.
Hatiku meronta-ronta ingin melepaskan ciuman ini, namun tubuhku seakan mengkhianatinya. Ia malah membalas ciumannya! Dasar tubuh sial*n.
♡♡♡♡♡
Sesampainya di rumah milik Eiden, aku langsung membawanya masuk. Kenapa aku membawanya masuk? Jawabannya ialah Eiden yang sudah terbang ke alam mimpi alias tidur!
"Menyusahkan saja." Batinku menggerutu
"Niatnya mau seneng-seneng eh malah menderita."
"Sabar Vanya, orang sabar disayang cogan." Aku terkekeh geli mendengar kalimat terakhirku.
Kebetulan dirumah ini sedang tidak ada orang hingga membuatku bernafas lega. Jika ada orang itu lebih menyusahkan, mereka hanya mau menanyakan apa yang terjadi kemudian berlalu begitu saja. Sangat menjengkelkan bukan?
Setibanya di kamar aku langsung menaruh tubuh pemuda itu ke atas ranjang empuknya.
Saat aku hendak pergi, ia dengan tiba-tiba menarik tanganku hingga membuat tubuhku menimpa tubuhnya.
Kemudian kejadian tak senonoh pun terjadi hingga menghasilkan seorang makhluk tak berdosa.
Flashback End
Jika ditanya apakah Vanya menyesal, tentu saja! Ia sangat menyesali perbuatannya hingga menghasilkan calon anaknya.
Namun tampaknya terus berlarut dalam penyesalan tak ada gunanya, yang harus ia lakukan sekarang adalah menemui orang yang telah menghamilinya.
Vanya segera mengganti pakaiannya dengan menggunakan gaun terbaik yang ia punya, setelahnya ia mengendarai mobil Koenigsegg CCXR Trevita miliknya.
Mobil ini hanya tersedia dua unit di dunia, dan salah satunya di miliki oleh Vanya. Sang nona muda dari keluarga terpandang
Jika kalian berpikir Vanya terus menangis dalam perjalanan, kalian salah besar! Di otak cantiknya tersusun beberapa rencana untuk menghancurkan pesta pernikahan orang yang sudah menghamilinya.
Sesampainya di tempat acara, Vanya langsung turun dari mobilnya dan tak lupa juga membawa kado pernikahan untuk sang mantan pacar.
Saat memasuki aula gedung, semua mata tertuju padanya. Bagaimana tidak? Gaun mewah namun tetap elegan karya designer ternama dunia, dipadukan dengan tas tangan warna serupa milik brand Chanel dan jangan lupakan perhiasan yang berkelip indah jika terpantul cahaya ditambah paras cantiknya menjadikan ia pusat perhatian seluruh tamu undangan yang hadir.
Bahkan penampilannya mengalahkan sang tokoh utama dalam acara pernikahan ini.
Bisik-bisik mulai terdengar kala kaki jenjang Vanya melangkah mendekati kedua mempelai. Siapa yang tidak kenal dengan Lavanya Bimantara? Seorang nona muda kaya raya dari keluarga Bimantara yang menjadi pengusaha sukses di bidang kecantikan sekaligus cucu dari pemilik Bimantara Group. Perusahaan raksasa asal indonesia yang sudah memiliki koneksi di beberapa negara bagian yang ada di dunia.
Namanya sudah tak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Mereka bertanya-tanya apakah seorang Lavanya Bimantara yang namanya selalu masuk majalah forbes mengenal Eiden Daneswara yang bahkan namanya tidak dikenal khalayak ramai?
Sesampainya di hadapan kedua mempelai, Vanya memberikan kado yang dibawanya dengan ramah sekaligus mengucapkan selamat atas pernikahan mereka dengan senyum menawan yang ia punya.
"Selamat atas pernikahanmu Aera, semoga pernikahan kalian langgeng sampai maut memisahkan."
"Semoga tuhan memberkati pernikahan kalian." Ucapku kepada kedua mempelai
"Aku juga membawa kado untuk kalian, maaf jika kado dariku terkesan biasa-biasa saja." Ucapku disertai tampang memelas
Aera langsung membuka kado pemberian dari Vanya dan betapa terkejutnya ia menatap sebuah jam tangan couple berlapis berlian yang sangat indah "I-ini beneran untuk kami?" Tanyanya memastikan
"Iya, aku sengaja memesannya spesial untuk kalian." Ujar Vanya seraya mengembangkan senyum menawan miliknya.
"Cih mata duitan, barang berkilau dikit saja senangnya bukan main. Tidak tahu saja jika barang itu palsu.." Batinku tersenyum puas
"Oh astaga, kado ini sangat spesial untuk kami, bagaimana bisa kamu mengatakan jika kado ini biasa-biasa saja?" Nada bicaranya sedikit dikeraskan, bermaksud agar sebagian orang mendengar perkataannya.
"Mungkinkah nona muda seperti kamu sudah biasa memberi barang yang seperti ini kepada kami yang hanya rakyat biasa?"
Eh eh apa ini, kenapa gaya bicara dan ucapannya terdengar sedang mencemooh Vanya? "Bagaimana maksudmu? Aku sama sekali tidak mengerti." Tanyaku
"O-oh lupakan, itu tadi ucapan refleks dariku." Ucapnya terdengar gugup.
"Dari nada bicaranya saja sudah menjelaskan jika kamu sedang menyindirku secara halus." Batinku jengkel
"Aku sangat berterimakasih kepada nona muda sepertimu karena sudah repot-repot mau menghadiri acara pernikahan kami hingga membawa buah tangan seperti ini."
"Tidak masalah, karena tidak ada hal yang perlu dibicarakan lagi aku berniat untuk turun. Sampai bertemu di lain waktu Aera, Eiden." Ucapku seraya tersenyum manis.
Namun jauh sebelum itu, aku sempat mencuri kesempatan untuk bisa berbisik di telinga Eiden "Ikut aku." Kata-kata itulah yang aku bisikkan kepadanya.
Setelahnya Vanya langsung turun dari panggung dan berjalan menuju tempat yang sangat sepi.
5 menit kemudian Eiden hadir di hadapan Vanya.
"Lihatlah berapa waktu yang sudah terbuang sia-sia untuk menunggumu."
"5 menit, darimana saja kamu selama itu?!" Ujar Vanya setengah emosi
"Maaf Vanya, ak-"
"Aku hamil." Ucap Vanya memotong Ucapan Eiden sembari menyerahkan tespek bergaris dua merah.
"B-bagaimana bisa?! Kita hanya melakukannya sekali dan saat itu aku dalam kondisi setengah sadar."
"Terserah apa katamu, yang terpenting aku sudah memberitahumu jika darah dagingmu berada di rahimku."
"Gugurkan anak itu." Ucap Eiden tiba-tiba
"Apa kamu gila?!" Suara Vanya mulai meninggi "Aku bahkan tidak meminta tanggung jawab darimu!" Lanjutnya
"Lantas untuk apa kamu kesini jika bukan untuk meminta tanggung jawab dariku?"
"Sabar Vanya, menghadapi orang seperti Eiden harus mempunyai rasa sabar yang tinggi. Jika tidak mungkin sekarang kamu akan langsung darah tinggi." Batin Vanya mencoba menguatkan.
"Sungguh, aku tidak berniat meminta tanggung jawabmu!"
"Aku hanya ingin memberitahumu bahwa di rahimku terdapat calon anakmu."
"Tidak peduli jika kamu menginginkannya atau tidak, aku tetap akan membesarkan anak ini" ucap Vanya seraya mengelus perut ratanya.
"Aku sudah muak dengan pembicaraan ini, apalagi kamu dengan beraninya menyuruhku untuk menggugurkan anak ini. Aku berharap kamu bisa merasakan hal yang sama denganku, sebuah penolakan yang sangat menyakitkan."
Setelah mengucapkan hal itu Vanya berlalu pergi meninggalkan Eiden yang terdiam mematung .
Vanya berjalan menuju meja yang dekat dengan layar proyektor. Saat ini layar proyektor sedang menampilkan dua tokoh utama yang sedang tersenyum manis ke arah kamera.
Vanya duduk di salah satu kursi dan segera mengaktifkan ponsel nya yang sedari tadi dimatikan.
Ia langsung mengetikan pesan kepada asistennya untuk segera menjalankan perintahnya.
"Let's play the game babe." Ucap Vanya sambil tersenyum miring.
Tak berselang lama layar proyektor yang sedang menampilkan keromantisan sang tokoh utama tiba-tiba berubah menjadi sebuah video dimana terdapat sepasang manusia yang sedang memadu kasih dengan begitu panasnya.
Suara yang dihasilkan mampu membuat seluruh pasang mata menatap ke arah layar itu.
Mereka semua tahu siapa dua tokoh yang sedang berc*nta itu, sang mempelai wanita dan seorang pria paruh baya yang berprofesi sebagai pengacara terkenal.
Setelah video itu berakhir, semua orang pun langsung menatap tokoh utama dengan pandangan nyinyir, jijik, marah, dan sedih.
Layar itu kembali berputar menampilkan video yang berbeda.
Kini di video itu terdapat sepasang tokoh dimana salah satunya adalah mempelai pria yang sedang duduk di ranjang dengan seorang wanita yang tengah melakukan perbuatan tak senonoh padanya
Beberapa menit kemudian video vulgar itu pun selesai ditayangkan.
"Gak nyangka ya jeng, si cewek ngejala*g eh si cowok main jala*g." Ucap seorang ibu-ibu di belakang Vanya pada temannya
"Iya jeng, untung saya gak jodohin anak saya sama dia. Kalau sampe itu terjadi kasihan banget anak saya dapet yang bekas." Sahut temannya
"Pokoknya saya gak mau tahu, kerjasama kita batal sekarang juga!" Ucap salah satu kolega bisnis keluarga Daneswara
"Saya tidak menyangka jika putra tertua anda bisa bersikap seperti itu tuan Daneswara. Saya pikir ada baiknya jika saya langsung membatalkan acara pertunangan antara putra putri kami. Saya tidak ingin putri yang kami sayangi bersanding dengan adik dari tuan muda Eiden yang bisa saja mempunyai sifat yang sama seperti kakaknya." Suara bariton itu berasal dari kepala keluarga Chavalier, nada suaranya terdengar mutlak dan penuh akan penekanan. Raut mukanya berubah menjadi keruh setelah menyaksikan video itu.
"Baru permulaan saja keluargamu sudah hampir bangkrut, bagaimana jika aku berbuat lebih dari ini?" Batin Vanya menyeringai lebar.
Vanya yang sudah bosan memutuskan untuk segera meninggalkan acara ini.
Di tengah perjalanan pulang, Vanya seketika mengingat bahwa ia tengah berbadan dua dan dirinya belum sama sekali memeriksakan kehamilannya ini pada dokter kandungan.
Namun berbalik arah pun tidak ada gunanya, ia masih memakai gaun pesta dan hal itu cukup membuatnya malas untuk ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah megah miliknya, ia langsung berjalan menuju kamarnya.
Setelah sampai di kamar, ia berniat untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah. Namun panggilan seseorang menghancurkan niatnya.
"Nona muda Vanya, di depan ada seorang pria yang sedang mencari nona muda. Saya sudah menyuruhnya pergi, namun pria itu tetep kekeh dan mengatakan ada hal penting yang harus dibicarakan bersama nona muda." Lapor salah satu pengawal yang bertugas menjaga pintu utama.
"Baiklah, kau boleh keluar." Balas Vanya
"Sabar Vanya, kamu gak boleh ngumpat. Lagi hamil." Batin Vanya menguatkan seraya mengusap dadanya naik turun.
Vanya berjalan menuju lantai satu dengan langkah yang sangat pelan, sungguh ia sangat capek bolak-balik sedari tadi.
"Huh.. Mungkin aku harus membuat lift jika begini."
Setelah berjalan selama 5 menit, akhirnya ia sampai di hadapan pria itu. Leonardo Daneswara, adik laki-laki Eiden Daneswara yang terkenal dengan rumornya yang mengatakan jika ia anak tak diinginkan keluarga itu. Namun siapa sangka? Anak yang tak diinginkan itu nyatanya mampu membuat perusahaanya sendiri.
"Mau apa kamu ke sini?" Tanya Vanya garang
"Menikahlah denganku."
-Tamat-