Di malam pernikahan mantan suamiku.
Aku pergi ke tempat pernikahan nya, aku menemani kak Baskara di acara pernikahannya, dan aku pun harus datang ke tempat pernikahan nya. Aku bukan wanita lemah, aku bisa hidup bahagia tanpa harus ada dia sisinya.
Sebulan yang lalu suamiku di grebek warga, suamiku di tuduh jika dirinya telah memperkosa seorang gadis yang masih berumur 19 tahun. Pada saat itu suamiku tak tahu harus apa. Dirinya sudah membela diri. Namun, seorang wanita paruh baya. kekeh jika Baskara lah yang telah memperkosanya.
"Dasar laki-laki gak tahu diri! Pokoknya kamu harus nikahin gadis ini?! Kamu tega sudah merenggut kesuciannya."
Suamiku menatap gadis malang itu.
"Baik! Saya akan menikahinya?!" suamiku pun menyetujuinya.
Gadis itu menatap suamiku penuh kasihan. Dirinya merasa bersalah mengapa Baskara yang harus bertanggung jawab atas apa yang menimpa gadis malang itu.
Suamiku pulang tepat pukul 12 malam. Aku menunggunya di sofa.
Tok! Tok! Tok!
Aku membukakan pintu itu. Aku melihat suamiku yang sangat lelah, matanya sayu dan terdapat kesedihan di matanya.
"Kak?" Aku memanggilnya. Namun, suamiku justru memeluk ku erat.
Aku merasa bingung, ada apa dengan diri kak Baskara?
"Kakak kenapa?" Aku mengucap kata-kataku lagi.
"Dek?" panggilnya.
"Iya?"
"Sini!"
Aku ikut duduk di sofa bareng kak Baskara. Aku sudah menawarkan minum teh hangat. Namun, dirinya menolak ia ingin aku menemaninya malam ini.
"Dek?" panggil suamiku.
"Iya?" aku menjawabnya.
"Abang mau nikah lagi, besok!"
Bagai di sambar petir di siang bolong. Ada apa dengan suamiku. Mengapa dirinya mengatakan itu.
"Hahaha, kakak bercanda. ya?" ucapku.
"Kakak serius, dek!"
Deg!
Mengapa? Apa yang sudah terjadi. Aku menatap mata sayu itu. Aku melihat bahwa saat ini hati suamiku di penuhi dengan kehancuran.
"Cerita kak! Cerita!" Aku berteriak kencang. Aku tak terima jika suamiku harus menikah lagi.
"Kakak?" panggilku.
Hiks! Hiks!
Aku mendengar suara isakan dari suamiku. Aku mengusap lembut bahunya, dan secara tiba-tiba suamiku memeluk ku lagi, dan kali ini pelukannya begitu erat.
Suamiku menceritakan tentang kejadian itu. Aku menangis kencang. Mengapa harus suamiku yang mengalami ini semua. kemana pria bejat yang sudah menghancurkan gadis malang itu. Lalu mengapa juga suamiku yang harus menerima hukuman pernikahan yang tak tahu asal usulnya.
Aku sudah tak tahan lagi. Aku berlari ke dalam kamar, di sana aku menangis sangat kencang, hatiku hancur, hatiku gak kuat harus menerima kenyataan pahit ini. Aku menemani suamiku selama 5 tahun. Walaupun kami belum sepenuhnya di kasih rezeki sama yang maha kuasa tapi kami tetap bersyukur. Namun, pada malam ini harapanku, kebahagianku, telah sirna. Suamiku besok harus menikahi gadis malang itu.
Suamiku masuk ke dalam sana. Lalu dirinya ikut membaringkan badannya. Dia memeluk ku erat, kak Baskara menciumi pipiku dan menghapus air mataku.
"Maafin, kakak?" katanya dengan suara yang serak.
Aku masih belum menjawab. Mulutku kaku untuk berbicara, aku masih menangis dan suamiku yang setia menghapus air mataku dengan sangat lembut.
Pada malam itu. Kami berdua menangis bersama. Dan aku telah memutuskan apa yang harus aku lakukan.
"Nikahin dia!" ucapku lembut. Suamiku mendongak dan menatapku penuh arti.
"Aku ikhlas, aku bersedia jika kakak harus menikahi gadis itu, dan aku akan mundur dari kehidupan kakak."
Suamiku menggeleng-geleng. Dirinya tidak mau jika harus berpisah. Namun, aku juga tidak bisa harus terus bersamanya. Aku tidak mau di poligami
Biarkan gadis itu berbahagia.
Aku tidur di pelukan suamiku. Namun, suamiku nyatanya tidak tidur. Dirinya terus saja menciumi seluruh wajahku. Aku mendengar bahwa dirinya masih terisak menangis.
Aku terbangun dan merapikan baju-bajuku ke dalam koper. Dan aku pun menyiapkan pakaian suamiku untuk acara pernikahannya.
Aku telah selesai membereskan rumah dan juga membuat sarapan. Suamiku turun dari lantai atas, dia melihatku yang sedang menata sarapan. Saat suamiku tiba, dirinya mencium keningku lama.
"Mari makan," ucapku.
"Suapin!" Suamiku meminta aku untuk menyuapinya. Aku menyuapi suamiku dengan sangat telaten.
Tiba-tiba suamiku menangis. Aku berhenti menyuapi suamiku dan lalu aku pun berkata.
"Kenapa nangis?" ucapku.
"Jangan pergi!" pinta suamiku.
Namun aku tidak bisa. Aku harus pergi, aku tidak mau melihat saat mereka bersama nanti. Hatiku akan sakit, akan hancur, dan sebaiknya aku mengalah. Gadis malang itu lebih membutuhkannya dibandingan dengan diriku.
"Setelah nikah, kakak pasti bahagia." Suamiku menggeleng-gelengkan kepalanya.
Dan setelah acara suap menyuap. Aku membawa suamiku ketempat di mana acara pernikahannya itu akan berlangsung.
Aku mendudukan suamiku di tempat pelaminan itu. Aku melihat gadis malang itu yang terlihat sehabis menangis. Aku tersenyum padanya. Aku hendak pergi. Namun, tanganku di tahan oleh suamiku. Dalam hatinya berkata jika diriku jangan pergi.
Aku duduk. Namun, dengan tiba-tiba seseorang menanggilku.
"Mba Qlara, ya?" Aku mengangguk.
"Maaf, boleh ikut saya sebentar?" Aku pun mengangguk lagi.
Aku mengikuti langkah wanita itu. Dan pada akhirnya aku duduk. Seseorang datang dengan dibaluti baju pengantin. Dirinya tersenyum saat aku menatapnya dalam-dalam.
"Hai kak." Panggil anak gadis itu.
"Hai juga," Aku menjawabnya lalu tersenyum.
"Maaf," ucap gadis itu. Aku menatapnya bingung.
"kenapa?" tanyaku.
"Gara-gara, aku kakak sama suami kakak ...?" Aku tersenyum getir.
"Aku tidak apa-apa ... perjalananku juga masih panjang, aku bisa hidup tanpa dia di sisiku."
"Tapi kak Baskara, belum tentu bisa hidup tanpa kakak?" ucap gadis itu.
"Aku tahu? Tapi bagaimana dengan kehidupan mu. Apa kamu akan terus di hina oleh banyak orang. Apa kamu akan terus seperti ini hingga orang-orang akan mencibirmu dengan sebutan wanita malam? Aku seperti ini. Karna aku sadar kamu lebih membutuhkannya. di tambah? ...?" ucapku terhenti.
"Di tambah apa kak?" tanya gadis malang itu.
"Bagaimana kalo kamu hamil? Apa kata orang-orang?" Aku melihat gadis itu dengan tatapan sedih. Dan aku juga melihat bagaimana gadis itu terluka parah hatinya.
"Kamu tak perlu khawatir akan diriku. Aku bisa hidup tanpa suamiku lagi. Setelah kalian menikah aku akan memberikan ini sama kak Baskara."
"Sudahlah! Lebih baik kamu pergi. Sebentar lagi acaranya akan di mulai."
Gadis itu enggan untuk pergi. Dirinya berat untuk pergi ke pelaminan itu. Hatinya merasa kacau saat melihat wajahku yang terlihat tenang.
Dan pada akhirnya aku membawa gadis itu untuk duduk bersama kak Baskara.
Kak Baskara memandangku. Dia terlihat bingung karna diriku bersama dengan calon istrinya. Aku tersenyum kepada suamiku yang sebentar lagi akan menjadi mantan suamiku.
Aku bisa melihat mata kak Baskara yang meneteskan air matanya. Aku berbicara dalam hati dan mengusap air mata. Aku berkata sama suamiku jika dia tak boleh menangis di hari pernikahannya. Suamiku menggeleng pelan.
'I Love kak Baskara,' batinku berucap.
'Aku nyakin kakak pasti akan bahagia!'
Saat ijab kabol berlangsung. Aku diam-diam pergi dari hadapan para tamu. Aku tak tahan dengan ini semua. Di mata semua orang aku adalah wanita yang kuat dan tegar. Namun, nyatanya itu semua palsu. Aku tak sekuat orang yang di bayangkan.
Setelah ijab kobul. Aku menemuinya. Aku mengucapkan kepada sepasang kekasih itu.
"Selamat atas pernikahannya. Semoga samawa," ucapku tersenyum manis. Tapi hatiku berkata aku tak tahan dengan ini semua. Aku ingin cepat pergi dari sini.
"Terimakasih," ucap mereka bersamaan.
Suamiku memandangiku terus. Aku berusaha tersenyum dan jangan sampai suamiku melihat jika diriku habis menangis. Aku berjalan mendekati suamiku. Lalu aku menyodorkan sebuah kertas yang di baluti amplop kuning keemasan.
"Apa ini?" tanya mantan suamiku.
"Kita sudah sah, untuk bercerai!" ucapku.
Suamiku membuangnya dan menatapku dengan tatapan kecewa, marah, dan juga kesal. Aku diam saat suamiku menahan tanganku kuat.
"Apa-apaan ini? Hah?"
"Kak? Semoga kakak bahagia. Aku percaya bahwa Diana bisa membuat kakak bahagia."
Kak Baskara tersenyum miring. Dia megang tangan Diana lembut. Hatiku teriris menahan rasa sakit.
"Pasti. Wanita ini adalah istirku." ucap kak Baskara lalu dirinya pergi dan membawa Diana.
Aku menatap kepergian merekan. Dan aku pun pergi kerumah kak Baskara untuk mengambil koper yang aku bereskan tadi.
***
Seminggu, sebulan, setahun, bahkan lebih dari 3 tahun. Aku pergi meninggalkan kak Baskara. Aku hidup tanpanya. Aku bekerja sebagai orang kantoran. Aku membuktikan aku bisa hidup tanpanya.
Rasa kangen pasti ada. Dan aku pun tidak tahu bagaimana kabar mereka saat ini. Setelah pernikahan mereka. Aku pergi ke bali dan aku memulai hidupku di bali. Aku membuang kartu telponku. Aku mengganti ponselku saat itu. Jadi aku terbebas dari kak Baskara.
Hari ini aku berangkat pergi bekerja. Hari-hariku sangat berwarna. Saat aku memasuki kantor orang-orang sana sangat ramah kepadaku.
Namun, ada yang berbeda saat ini. Ruangan yang terlihat sangat rapi dan juga banyak sekali bunga-bunga di kantor aku bekerja.
Aku bertanya kepada seseorang di sana?
"Ini ada apa, ya?" tanyaku.
"Kamu belum tahu?" Aku menggeleng.
"Pemilik perusahaan ini. Akan datang hari ini, dia sedang menuju kemari."
Oh iya? Aku belum tahu bosku. Aku bekerja selama dua tahun. Tetapi diriku belum pernah melihat pemilik perusahaan tersebut.
Saat diluar orang-orang sangat ramai. Aku melihat mereka menyambut bos dengan begitu antusias.
Dan setelah satu jam. Aku di panggil oleh seseorabg agar aku mengantarkan berkas ke tempat bos tersebut. Sebenarnya aku ragu harus masuk ke dalam ruangannya. Karna bagiku kali pertama aku memasuki ruangan bos.
Tok! Tok! Tok!
Aku mengetuk pintu. Lalu pintu itu ke buka dengan sendirinya.
"Permisi, ini berkasnya?" ucapku. Aku tak melihat wajah bos tersebut. Karna dia membelakangiku.
Bos itu memutar kursinya dan saat itu juga aku kaget saat melihat wajahnya. Begitupun pria itu.
"Qlara?" panggilnya.
"Kak Baskara?" ucapku.
Kak Baskara berdiri dan menghampiriku. Dirinya memelukku erat. Aku berusaha melepaskannya. Namun, nihin tangan kekar itu menahannya.
"Kak? Jangan ke gini? Nanti Diana ...?"
"Diana sudah pergi jauh!" ucapnya. Aku tersentak kaget. Lalu kak Baskara melepaskan pelukan tersebut.
Kak baskara menceritakan semua kejadian 3 tahun yang lalu. Saat dirinya dan Diana bersama.
Diana melahirkan anak yang telah di perkosa beberapa tahun lalu. Namun, takdir berkata lain Diana pergi selamanya saat melahirkan anak pertamanya. Sebelum pergi Diana menitip pesan tersebut.
"Kak, temuin kakak Qlara. Hiduplah bahagia dengannya!" ucap Diana setengah berusaha untuk melahirkan anaknya.
Dan setelah kepergian Diana. Kak Baskara mencariku kemana-mana. Lalu pada akhirnya kami di satukan kembali.
***
Setelah satu bulan kami menikah kembali dengan kak Baskara. Memulai hidup yang baru.
Dan saat itu pula, akhirnya aku hamil anak dari kak Baskara, kak Baskara sangat senang saat diriku tahu jika aku mengandung anak darinya. Kak Baskara juga sangat menyanyangi anak perempuan dari Diana. Walapun dia tahu itu bukan darah dagingnya, tetapi suamiku akan terus menganggapnya sebagai anak. Karna sebelum Diana pergi kak Baskara sudah berjanji akan menjaga dan menyanyangi anaknya semaksimal mungki.
Aku belajar menjadi wanita yang sabar, kuat, tegar, dan juga menjadi seorang wanita penolong. Jodoh tak pernah tahu. Jodohku tetap kak Baskara. Diana adalah gadis yang baik. Dia adalah wanita malang yang di renggut kesuciannya oleh pria yang tak bertanggung jawab. Di sini sama-sama berkorban demi menyelamatkan satu sama lain.
Terimakasih Diana. Aku akan menjaga anakmu dengan sekuat tenagaku. Aku juga akan menjadi ibu yang baik untuk anakmu. Terimakasih Diana sudah menjaga suamiku dengan semampu kamu.
Untuk suamiku. Terimakasih. Kamu adalah jodohku yang di kirim oleh tuhan, tuhan mempersatukan kita kembali. Aku akan terus berusaha untuk menjadi wanita yang mandiri dan penyanyang.
I LOVE YOU KAK BASKARA....