Aku hanya anak magang. Masih duduk di bangku SMK kelas 11. Aku magang di area kota Solo. Di sebuah swalayan ternama di sana bersama dengan teman-temanku berjumlah 10 orang.
Kami nge kost di kostan pria. Ada dua lantai kebetulan di lantai satu masih kosong 3 kamar. Nah karena kami di sana hanya satu bulan jadi ibu kost mengijinkan kami tinggal di sana. Lagi pula ramean bukan hanya sendirian.
Lantai satu ada 6 pintu, 3 untuk kami, 1 untuk seorang lansia yang sedang berobat ke dokter tulang di rumah sakit Solo, 1 lagi seorang mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Panggil aku Alisha. Dari fisik aku bukanlah apa-apa dari teman-temanku. Hanya saja mbah-mbah sering memujiku cantik. Aku korban body shaming. Tinggi 155 cm, berat badan 55 kg, hidung minimalis, bibir seperti Angelina Jollie, mata jika untuk tersenyum seperti bulan sabit, sipit, dan satu hal yang membuatku paling minder dari semua organ tubuhku, rambut. Rambutku hitam legam, panjang sebahu, tebal setiap helainya, hanya saja dia keriting.
Entahlah, waktu itu aku hanya merasa berbeda dari lainnya. Aku merasa paling jelek diantara teman-temanku karena rambut itu. Sementara teman-temanku rambutnya lurus tergerai indah, ada juga yang rapi karena terurus oleh tangan salon. Sudah seperti para artis FTV yang cantik-cantik.
Sedangkan di lantai dua, semua di isi oleh penduduk kaum adam. Ada yang sudah bekerja ada juga seorang mahasiswa.
Sesaat duniaku teralihkan oleh pesona dari mahasiswa yang berada di sebelah kamar kostku. Dari penampilannya yang serba rapi dan melihat kamar yang selalu rapi juga aku menyimpulkan jika dia seorang perfeksionis.
***
"Mas," sapaku. Dia hanya menganggukkan kepala sembari tersenyum.
Amboiiii meleleh seketika di kasih senyuman yang semanis gula jawa itu.
Sejak saat itu aku selalu menanti dia keluar dari sarangnya, walau sekedar melihat dia cuci tangan di depan kamar kostnya.
Iya kost an itu benar-benar hanya untuk tidur satu petak bangunan. Jika mau cuci piring ya di luar ada tempatnya bertepatan dengan kamar mahasiswa dari UMS itu. Dan kamar mandi ada di sebelah pojok, itu juga melewati kamar kost nya. Makanya aku suka curi-curi pandang jika mau atau sesudah mandi.
***
Memasuki bulan Ramadhan. Pertama kalinya aku berpuasa jauh dari orang tua. Aku magang kena shift. Dua shift.
Suatu hari, waktu sahur tiba, kami kesiangan sudah sangat mepet untuk mencari makan sahur. Makan sahur terburu-buru.
Aku di luar hendak mencuci tangan, ku lirik kamar kostnya masih gelap, tidak terdengar juga suara kehidupan di sana. Aku khawatir dia belum bangun untuk sahur. Eh panjang umur, baru juga di batin dia keluar dengan tergesa-gesa dan pulang membawa tentengan kantong plastik. Aku yakin itu berisi makanan.
Waktu imsak berkumandang. Aku masih di luar. Rindu suasana subuhan ke masjid waktu bulan Ramadhan. Mau berangkat tidak ada temannya, teman-temanku memilih tidur kembali sesudah sahur. Berangkat sendiri takut, karena di sana jalan menuju masjid kebanyakkan rumah memelihara anjing. Aku takut di kejar hewan itu. Mendengar gonggongannya saja sudah memekikkan gendang telinga.
Ehh pintu kamar sebelah terbuka, seseorang dengan wajah manis keluar dari sana. Ia mencuci tangannya. Melihatku hanya berdiam diri sendirian dia berbasa-basi.
"Sendirian aja, dek?"
Aduhaiii dapat panggilan 'dek' rasanya udah kaya dapet bongkahan emas sekeranjang. Senangnya.
"Iya mas, yang lain pada tidur," jawabku malu-malu tersipu.
"Udah imsak belum sih?" tanyanya lagi.
"Udah barusan tinggal nunggu adzan subuh," tak berani menatap wajahnya. Kami mengobrol dengan jarak jauh ada mungkin 2 meteran. Untung ini telinga dalam keadaan sehat alias ga budek.
"Subuhan yuk," ajaknya tiba-tiba.
Apa? aku tidak salah dengarkan? dia mengajakku pergi ke masjid!
"Mau ga, biar ada temennya aja ini," dia memastikan lagi.
"Iya, sebentar mas aku siap-siap," mana mungkin aku sia-siakan kesempatan ini.
Aku melihatnya mengambil wudhu begitupun aku setelah ia masuk kamarnya. Ku kenakan mukena dari kost an sekalian. Eh, udah adzan. Aku keluar dia juga keluar.
"Ayo!"
Kami berjalan beriringan. Pemuda manis dengan kerapian dan keramahan yang ia miliki memikat hatiku. Apa lagi tutur katanya yang lembut, selembut ice cream cornetto. Udah lembut, manis, bikin adem lagi.
"Namanya siapa mas?" ku beranikan diri bertanya. Karena bersama dalam keadaan diam dengan orang yang di sukai itu sangat menyesakkan.
"Tian," jawabnya singkat. Langsung deh terasa terpatri nama itu di ingatanku.
"Dari mana aslinya?" karena aku merasa tidak ada logat jawa tengahnya.
"Dari Bandung, ini sendirinya di sini magang?" Aku menganggukkan kepalaku.
"Namanya siapa?" dia balik tanya.
"Alisha," kami berkenalan tanpa bersentuhan tangan. Dengan tatapan ke depan melihat jalan yang kami tapaki sesekali curi pandang.
Terpisah dengan arah dia menuju para shaf laki-laki di depan. Dan aku berkumpul dengan shaf perempuan di belakang.
Sholat selesai. Aku celingukan melihat barisan pria yang berhamburan keluar, mencari sosok Tian di sana. Ga ketemu. Sudahlah mungkin sudah duluan, karena jamaah perempuan memang lama, apa lagi aku yang berbaris paling belakang menggiring beberapa lansia yang jalannya seperti pengantin putri keraton.
Aku berjalan menunduk dengan lesu. Ingat puasa, pagi buta sudah terkuras aja ini pikiran.
"Alisha!"
Ehh hatiku langsung bergetar, aku lihat tepat di bawah temaram sinar lampu jalanan sosok pria yang aku kira sudah sampai di kost ternyata menungguku.
Wahhh bunga mawar, melati semuanya indah bermekaran di hatiku.
Kupercepat langkahku agar segera sampai. Kami pulang dengan perasaanku yang begitu senang. Mood booster sebelum magang shift 1. Dia menceritakan kuliahnya. Mengambil fakultas bahasa inggris sudah semester 4. Aku balas dengan ku ceritakan jika aku anak sekolah menengah kejuruan Akuntansi.
Sampai gerbang kost-kostan aku menjadi salah tingkah sendiri saat temanku memergokiku datang dengan Tian. Mereka tahu aku mengagumi pria itu. Dari mimik wajahnya seolah mereka sedang meledekku. Sebisa mungkin ku tahan diri agar tak terpancing. Walau rasanya hati senang luar biasa.
***
Beberapa hari kemudian.
Hari yang terik, matahari sepertinya dengan sengaja menguji kesabaran orang-orang yang sedang menahan dahaga.
Shift satu, jadi aku akan berbuka di kost an. Adzan maghrib berkumandang, alhamdulillah ucapku. Selesai makan dan sholat maghrib, aku berencana berangkat tarawih. Sesekali tarawih di kota tetangga hihi.
Mas Tian datang tergesa dengan motor legendanya. Aku melihatnya dan kepergok dia melihatku balik.
Jeng jeng rasanya ingin bersembunyi karena malu.
"Mau berangkat tarawih dek?" Lagi-lagi aku hanya menganggukkan kepala.
"Tunggu sebentar ya," dia menuju kamarnya mengambil peci serta sajadah, mengganti pakaian dengan kemeja panjang dan celana panjang. Mungkin dia tidak membawa baju koko. Pikirku saat itu.
Kami menuju masjid tanpa banyak obrolan karena waktu yang sudah mepet.
Terasa lama waktu tarawih. Entah karena imamnya membacakan ayat Al Qur'an yang panjang atau karena aku tidak sabar ingin bertemu dengan mas Tian. Yaa Allah, terasa berdosa, tergesa-gesa dalam ibadah demi pria bukan mukhrim. Mohon ampun begitulah akhir dari salamku.
Semua terasa lamban, sebagian sudah ada yang bubar tanpa menunggu dzikir selesai. Aku bingung, ikut udahan apa nunggu. Ahh aku mantapkan untuk menunggu, hanya beberapa saja yang tersisa. Jamaah pria masih membludak. Aku mencari sosoknya, tapi tetap tidak ku temukan.
Yaa sudahlah, kali ini banyak temannya berupa ibu-ibu. Aku biasakan mengakrabkan diri.
Ehh baru beberapa langkah dari area masjid ada yang mensejajari langkahku, ketika ku tahu siapa orangnya ternyata mas Tian jantungku terpompa lebih cepat dari biasanya.
"Eh aku kira sudah duluan. Tadi baris paling belakang soalnya," aku tersenyum. Senyum salah tingkah.
"Belum. Malah sempet nungguin, ga taunya udah duluan."
Apa sih jawaban begitu saja sudah membuatku amat senang.
"Imamnya beda ya mas, kok kaya lama banget tadi," aku mencoba mencairkan suasana canggung yang ku hadapi seorang diri. Memberi jarak langkah menuju kost an. Tapi semakin aku menggeser posisiku, dia semakin mendekat. Bertanda apa ini? Besar kepalaku.
Angin malam yang berhembus mengibarkan kain mukena yang masih ku pakai. Melambai, menyentuh kulit pria yang membuatku terpesona itu.
Tidak ada obrolan istimewa. Hanya percakapan ringan namun membuatku berbunga.
***
Riuh teman-teman yang mendapatkan kiriman dari keluarganya. Hari ini kami libur.
Aku masih senantiasa dengan perasaan yang entah nyata atau abu-abu.
Terbengong di depan pintu karena di dalam sudah tidak muat, teman-teman berkumpul.
Suara motor legenda terdengar. Aku merapikan rambut keritingku walau pun sia-sia adanya. Dia akan bangkit bermekaran lagi.
Dia datang dengan pakaian khas mahasiswa. Tampan. Itu yang ada di pikiranku. Dia melewatiku hanya menganggukan kepala dan tersenyum, kepalanya juga masih terpasang helm. Aduhhh sakit ini melihat yang begituan saja sudah membuatku klepek-klepek.
"Apa sih Lis, doyannya yang naik legenda," temanku membuyarkan rasa berdebarnya hati.
"Tau, keren juga yang make vixion itu," yang di maksud anak atas terlihat urakan, suka main gitar.
Aku menghindar malu. Nanti kalau di dengar orang sebelah bagaimana. Huaa gengsi donkk.
***
Mas Tian sedang membuang sampah lalu cuci tangan sedangkan aku baru saja buang air. Aku meliriknya sebentar, aku yakin dia juga melihatku, malu-malu aku melintasinya. Tiba-tiba tubuhku terhuyung hampir jatuh dengan mengucap 'innalillah', tapi tidak jadi. Ada dua tangan yang menompang tubuhku ini. Aaa mas Tian, jantungku semakin berdebar antara takut jatuh di lantai dan takut jatuh cinta dengannya.
"Cie cie," temanku meledek walau lirih aku mendengarnya. Tak lama pintu tertutup.
Tidak ada drama pandang-pandangan, terpesona lalu jatuh cinta. Aku langsung menjauhkan diri, begitupun dia.
"Ga apa-apa kan? Lantainya licin hati-hati," sembari mengelap lantai dengan kakinya.
Aku pergi dengan wajah memanas. Pasti merah.