Syifana menyadari apa yang sudah terjadi padanya, membuat dirinya terpuruk, kini dirinya merasa bingung memikirkan akan kehamilannya, bagaimana dengan nasib anak yang dikandungnya, bahkan dirinya tidak tahu bagaimana dengan masa depannya sendiri.
" Haruskah aku menghubungi kembali Delfano?, tapi bagaimana jika istrinya tahu kalo aku hamil anaknya Delfano, bagaimana perasaannya istrinya,,, Ohhh,,, tidak mungkin aku tega menyakiti hati istrinya," hati Syifana tak hentinya bertanya tanya pada dirinya sendiri.
Hari senjapun tiba, dengan ratapan hati yang masih berkecambuk, Syifana mencoba untuk memaksakan diri beraktifitas sebagai mahasiswi, sebisa mungkin dirinya harus bisa menyembunyikan ke kacauan hatinya, dirinya sadar teman temannya pasti tahu kalao dirinya terluka karena Delfano kekasihnya telah memutuskan hubungannya dan menikahi gadis pilihan orang tua Delfano.
" Kamu tidak sarapan Syi?" sahut ibunya.
Melihat anak gadisnya yang nampak kacau bahkan Syifana tidak merespon panggilannya, ibunya nampak sedikit khawatir, meskipun dirinya dan Syifana jarang berkomunikasi tapi ibunya tahu betul kalo Syifana sedang menghadapi masalah serius, apalagi ibunya sempat mendengar Syifana menangis histeris, berteriak bahkan mengurung diri dikamar berhari hari.
" Syi,,, kalau masih kurang sehat jangan memaksakan ke kampus Nak, sebaiknya kamu cutinya di tambah saja," gerutu ibunya.
Namun Syifana tetap melaju menuju pintu keluar, tanpa pamit ke ibunya dirinya berangkat menuju kampus.
Sesampainya di kampus Syifana mencoba menarik napas panjang, dan menyeka air matanya yang hampir terjatuh, bagaimana tidak bersedih ketika tiba di depan kampus, dirinya kembali teringat dengan Delfano, dirinya kini merasa sudah berubah, merasa sudah tidak pantas lagi jika dirinya menjadi rebutan para pria.
" Kuat Syifana," ucapnya pelan, menguatkan diri sendiri dan kembali menarik napas lalu menuju ruang kelas.
Dari kejauhan terdengar seseorang menyebut namanya, dirinyapun menoleh.
" Zul,,,? ucapnya.
Syifana kali ini menghentikan langkahnya dan terdiam menunggu Zul yang hendak mendekatinya.
" Syi,,, apa sekarang kamu sudah baikan?" tanya Zul penuh ke hati hatian, dirinya bingung kata apa yang harus dirinya ucapkan pada Syifana yang dia ketahui kalau Syifana bukan sakit biasa tapi sedang terluka.
" Euuhhh Aku baik baik saja ko Zul, terima kasih y selama ini kamu sudah perhatiam sama aku, tapi maaf Zul aku harus masuk kelas duluan, " jawab Syifana.
Zul hanya diam terpaku, dirinya hendak mengatakan sesuatu, namun mulutnya kelu membisu, dirinya takut salah berkata.
"Syifana kamu sudah masuk kuliah rupanya," Zilla menyambut Syifana dengan suka cita saat memasuki ruangan kelas.
Syifana hanya tersenyum sedikit menimpali teman dekatnya yang mencoba bersikap seolah tidak terjadi sesuatu pada dirinya.
Sementara dibagian sudut kelas beberapa gadis nampak berkumpul dan bergosif, tidak ketinggalan disana tetdapat Dalia, raut wajahnya tidak menunjukan ekspresi senang atas kehadiran Syifana.
Tiba tiba terdengar suara Zul yang saat itu memasuki kelas.
" Hari ini tidak ada mata kuliah, Pak Dosen berhalang hadir, beliau hanya memberi tugas saja" ucap Zul.
Sontak suara riang bergemuruh kegirangan memenuhi ruang kelas.
" Syi beruntung hari pertama masuk justru Pak Dosennya berhalangan hadir, jadi kita bisa nyantai Syi," sahut Zilla.
" Kita ke taman yukkk?" ajak Zilla.
Hati kecil Zilla merasa kasian dengan sahabatnya itu, apalagi selama ini Syifana menolaknya untuk ditemui.
"Gimana Syi mau kita ketaman?", ulang Zilla.
Syifana tidak menjawab hanya manggut, klou dirinya setuju dengan saran Zilla,
Di taman tepatnya belakang kampus, Syifana terduduk dan diam, dirinya juga mengerti kalao Zilla ingin mengetahui keadaannya sekarang, itu sebabnya Zilla mengajak dirinya ke taman, Zilla tahu kalao Syifana butuh suasana yang tenang.
" Syii kamu tahu tidak, beberapa hari ini kamu tidak ada rasanya kampus ini sepi," Zilla memulai pembicaraan, sebenarnya dirinya juga bingung harus memulai dari mana agar dirinya bisa berbicara banyak dengan Syifana.
Syifana hanya memberi pandangan lekat, Zilla menghela napas.
" Syiii kamu berhak bahagia,,, kalau kamu mau bicara, aku bersedia mendengarkan, aku tahu hal ini berat bagimu, aku tahu bagimu tidaklah mudah untuk bisa membuka hati pada seorang pria, dan di saat kamu bisa membuka hatimu untuk pertama kalinya justru kamu harus di kecewakan, tapi Syi menurutku kamu tidak harus terpuruk hanya karena diputusin Del,,,," Zilla berhenti sejejap dirinya mematung melihat raut wajah Syifana, dirinya tidak sampai hati jika harus menyebut nama prua yang telah mencampakannya.
Teg dada Syifana bergetarrr hatinya pedih, bathinnya berkata kata
," Zi seandainya kamu tahu bagaimana lukaku, apa bisa dengan mudahnya dirimu menyuruhku untuk melupakan Delfano, aku tahu yang ingin kamu katakan padaku, kamu ingin aku seolah olah tidak terjadi apa apa, kamu ingin aku bisa melupakan Delfano dan bersikap biasa, kamu tidak tahu Zii kalao aku sekarang mengandung anak Delfano, hal inilah yang membuatku berat dan teramat sakit,".
" Syiiii kamu tahu sampai sekarang Zul masih mengharapkanmu,,, gimana kalo kamu mencoba mengenal Zul lebih dekat lagi, aku yakin kamu pasti bisa melupakan dia, kamu harus bangkit Syi jangan lemah," titah Zilla sok tao.
"Zii kamu jangan khawatir, aku tidak apa apa, aku hanya butuh waktu saja, aku hanya kaget saja Ziii, jadi tidak usah berlebihan," Syifana mencoba mencairkan suasana agar Zilla tidak melantur kemana mana.
" Kamu yakin Syi, tidak apa apa?" Zilla.
Syifana hanya mengangguk, dirinya tidak ingin sahabatnya mengetahui kebenaran yang sedang dirinya coba tutupi.
" kamu benar Zilla, aku harus bangkit" gumannya dalam hati.
Waktu pun berlalu begitu cepatnya, Syifana selama ini berusaha mencari jalan keluar, agar kehamilannya tidak di ketahui siapapun termasuk ibunya sendiri. Syifana masih dengan leluasa mengikuti perkuliahan karena usia kandungannya masih muda, masih bisa ia tutupi, namun dibalik semua itu Syifana sedang melakukan sesuatu, dirinya merencanakan untuk cuti panjang dari kampus, dan selama ini juga dirinya kerap mencari tempat aman untuk dirinya bisa melahirkan anaknya dan kemudian bekerja untuk menghidupi kebutuhan hidupnya bersama buah hatinya. Syifana sudah menyusun rencana agar tidak ada yang curiga dengan apa yang akan dilakukannya. Sementara kepada ibunya dirinya akan beralasan ingin mencari pekerjaan dan ingin belajar mandiri.
" semoga saja berhasil dan lancar," batinnya.
Derrrr Hp Syifana bergetar, ada pesan masuk.
"Syi apa bisa kita makan diluar?" pesan dari Zulio.
Syifana menghela napas," maafkan aku Zul, terpaksa aku memanfaatkan kebaikan mu" gerutu Syifana.
Syifana memang sengaja membiarkan Zul mendekatinya, Syifana pikir hanya Zul yang bisa membantunya, dirinya butuh Zul untuk mendapatkan surat cuti dari kampus, Syifana juga meminta Zul untuk mencarikannya pekerjaan di luar daerah, Zul memiliki banyak kenalan yang bisa memudahkannya mendapat pekerjaan, begitu juga di kampus Zul sangat populer dan dekat dengan para rektor juga tahu seluk beluk perkampusan, jadi tentu saja Zul bisa dengan mudahnya membantu dirinya dalam mengurusi semuanya.
" Baiklah Zul nanti kita bertemu," balas Syifana.
Sebuah rumah makan, nampak Zul sedang menunggu Syifana, dirinya dengan sabarnya menunggu wanita yang selama ini dia cintai, meskipun pada kenyataannya Syifana masih belum bisa menerima keberadaan dirinya dalam hati Syifana, namun cintanya terlanjur melekat pada diri Syifana.
Zul tertegun sejenak ketika dirinya melihat wanita yang dicintainya melenggok ke arahnya, dengan senyuman tulusnya Zul menyambut Syifana dengan mencobanya berdiri dari tempat duduknya.
"Akhirnya kamu datang juga Syifana," ucap zul.
" Maaf, aku sedikit terlambat," balas Syifana sembari mencoba untuk dapat tersenyum.
" Tidak apa apa Syifana, yang terpenting sekarang kamu sudah datang, tidak masalah bagiku jika aku harus menunggumu meski berlama lama," Zul mencoba untuk mencairkan suasana dengan sedikit bercanda.
"Duduklah Syifana dan kamu bisa langsung pesan makanan atao minuman, setidaknya kita bisa santai mengobrolnya," ucapnya lg.
"Baiklah," jawab Syifana, dirinya tidak ada pilihan lain, meskipun sebenarnya dirinya tidak ingin bertemu bahkan harus makan bersama, Syifana takut dirinya seolah memberikan harapan, sebuah harapan palsu.
Setelah keduanya memesan makanan juga yang lainnya, keduanya pun membuka pembicaraan, mereka saling berbincang satu sama lain.
"Syiiii, aku sudah menghubungi rekanku di Jakarta dan aku sudah sampaikan keinginanmu untuk mencari pekerjaan, rekanku disana bersedia membantu,, bila perlu aku juga bisa carikan untuk tempat tinggalmu," Zul.
" Trimakasih Zul sebelumnya, untuk tempat tinggal tidak perlu kamu repot repot carikan, bagiku kamu sudah banyak membantuku, asalkan rekanmu bersedia membantu masalah pekerjaan, aku sudah cukup tenang dan senang," Syifana menoleh kearah wajah Zul sambil tersenyum.
Di kediaman rumah Syifana, hari sudah larut malam, Syifana sibuk mempersiapkan semua kebutuhannya di kamar seorang diri, sengaja dirinya belum memberitahukan rencanany kepada sang ibu, setelah dirasa semuanya selesai, Syifanapun menghela napas dan terdiam sejenak.
" Sayang mama, baik baik ya sayang dalam perut mama jangan nakal, yang sehat ya nak,kita berjuang bersama," gerutunya sambil mengelus perutnya yang masih belum nampak membuncit.
"Aku berharap semuanya akan berjalan lancar, aku terpaksa menyembunyikan kehamilanku dengan pergi menjauh dari orang orang sekitar yang mengenalku, maafkan aku ibu, maafkan aku Zilla,," Syifana menyeka air matanya yang tidak sengaja terjatuh.
Sejenak Syifana kembali tringat akan mantan pacarnya Delfano.
", Aku berjanji tidak akan memberitahukan anakku kalau dirimu adalah ayahnya, aku pastikan akan hidup bahagia walau hanya berdua dengan anakku dalam kandungan, akan ku bahagiakan meski dengan tanganku sendiri," gumannya lagi.
", Ya aku harus bangkit dari keterpurukan ini, demi janin dalam kandunganku,"
Setelahnya Syifanapun bangkit kemudian keluar kamar, ditemuinya ibunya dan kemudian di ceritakannya rencana keberangkatannya, Syifana dengan alasan ingin hidup mandiri dan mencari suasana baru tanpa memberitahukan kebenarnya padanya.
Ibunya Syifana tampak kaget, baginya keputusannya begitu mendadak, bahkan Syifana sudah menyiapkan semuanya, dan mengurus semua urusannya di kampus.
Ibunya melihat anaknya sudah begitu bulat ingin meninggalkan kota kelahirannya, dan pergi entah ke kota mana karena Syifana tidak mau memberitahukan kemana dirinya akan berkelana.
Setelah Syifana mendapat restu dar ibunya, dirinya kembali bergegas ke kamar dan meyakinkan kalao persiapannya dirasa sudah lengkap, dirinya kembali keluar dengan membawa barang barang kebutuhannya, sebrlumnya Syifana sudah memesan Taxi online, begitu dirinya keluar kamar membawa barang barangnya, diluar Taxi sudah menunggunya. Ibunya dengan kesedihan berusaha membantu membawa barang barang Syifana dan mengantarnya, tangis keduanyapun seketika pexah tak tertahankan, keduanya berpelukan.
",Syifana kamu harus bisa dan kuat," batinnya.
" Bu jaga diri ibu baik baik y disini, nanti kalao Syifana sudah sampai ketempat tujuan Syifana kabari ibu," ucapnya syahdu.
" Baiklah nak, doa ibu bersamamu, semoga dirimu cepat mendapatkan pekerjaan, jangan lupa kabari ibu," Ibunya Syifana kembali memeluk putrinya.
Syifana tak kuasa lagi menahan tangis, rasanya dirinya ingin berteriak menangis sejadi jadinya, namun di tahannya, Syifana masuk kedalam Taxi tanpa menoleh ke arah ibunya, Syifana tidak ingin ibunya melihat kepedihan dalam dirinya.
"Pak, jalan" titahnya kepada sang sopir,.
Taxi pun akhirnya melaju meninggalkan kediaman Syifana.