Gadis berhijab dengan setelan t-shirt panjang, dipadukan dengan rok plisket abu-abu di atas mata kaki itu, tengah sibuk memilih buku-buku islami yang dipajang di salah satu rak yang berada paling sudut. Tangan kecilnya menari-nari di pinggir rak seraya berjalan dan membaca judul-judul buku dengan cepat.
Gadis itu bernama Siti Rafidha Hanum, ia sering disapa dengan panggilan Hanum. Bibirnya terukir senyum manis, tatapan mata hitamnya berbinar bahagia melihat sebuah buku yang dicari-cari, bertuliskan
'Shalawatin Aja' dengan cover biru muda tertangkap di matanya. Tangan Hanum bergerak ingin mengambil. Namun, ada tangan lain yang juga ingin mengambil buku itu hingga tindakannya terhenti.
"Kamu mau buku ini juga?" Sesosok pria tampan yang menggunakan jas putih khas dokternya bertanya ramah.
Deg!
Kedua kelereng berbeda warna itu saling bertubrukan beberapa detik.
"Sa ... Satria?" tanya Hanum memastikan bahwa pria yang dihadapannya itu adalah Satria teman kelasnya dulu dan pria yang sangat ia idolakan pada saat masih duduk di bangku SMA, tetapi cintanya itu bertepuk sebelah tangan selama tiga tahun. Tidak ada respons apa pun dari Satria atas perasaan cintanya.
Akhirnya, Hanum hanya bisa mengagumi sosok Satria dalam diam. Satria adalah tipe pria yang anti pacaran, ia sangat paham betul bahwa hubungan sebelum akad pernikahan itu tidak ada artinya. Hanyalah dosa dan murka Allah yang didapatkan.
Pria yang bernama Satria itu mengaguk kecil pertanda benar. "Hanum? Cewek yang kekurangan tinggi badan dari dulu, bahkan sampai sekarang tinggi badannya masih sama aja. Dasar pendek," katanya mencela diiringi tawa ringan.
Hanum mengerucutkan bibirnya. "Aku nggak pendek ya Sat, kamu aja yang ketinggian kali," sahutnya membela diri. Sangat tidak suka bila seseorang mencelanya pendek, padahal kenyataannya memang benar ia mempunyai tinggi badan yang pas-pasan.
"Becanda kok, tinggi badanmu lumayan ada peningkatan sekarang," jawab Satria.
Satria menyerahkan buku itu kehadapan Hanum, tetapi kembali didorong karena merasa tidak enak. "Ambil aja, stok buku ini tinggal tersisa satu. Kalau kamu cari di toko lain mungkin sudah habis juga. Kamu sepertinya lebih membutuhkannya daripada aku, Sat. Jadi, ambil aja," ujar Hanum ramah.
Satria tersenyum simpul. "Nggak apa-apa untuk kamu aja, Hanum." Satria kembali menyerahkan buku itu kehadapan Hanum.
"Baiklah, thanks," kata Hanum mengambil buku itu di tangan Satria dengan deg-degan. Lagi dan lagi kelereng berbeda warna itu bertubrukan.
"Khem ... khem ...." Deheman gadis berambut gelombang dari arah belakang menghentikan kontak mata antara kedua insan itu.
"Wow, Dokter Satria?" Histeris April, yang merupakan sahabat Hanum. April menyenggol lengan Hanum yang berdiri di sampingnya itu, mencoba menggoda. Ia sudah tahu betul bagaimana kisah cinta sahabatnya itu.
"Kapan balik ke sini, Sat?" tanya April penasaran.
"Baru beberapa hari, alhamdulilah aku dipindahkan tugas di kota ini juga. Jadi, nggak perlu bolak-balik ke luar kota lagi, Ril."
"Wah, aku dan Hanum ikut senang dengarnya," jawab April.
"April, kita pulang yuk! Aku udah dapat bukunya, aku harus segera balik ke butik," bisik Hanum pelan di daun telinga April. Hanum tidak ingin lama-lama berada di dekat Satria, detak jantungnya sulit dikendalikan.
April menggelengkan kepalanya pelan. Gadis ini masih ingin mengobrol lebih panjang dengan Satria. "Sat, kamu tahu. Sejak dulu Hanum ci–"
Belum sempat April melanjutkan perkataannya, Hanum sudah terlebih dahulu membungkam mulut April dengan tangannya.
Hanum menarik tubuh sahabatnya itu dengan paksa untuk segera pergi. "Sat, kami balik duluan, banyak kerjaan. Sampai ketemu lagi," teriak Hanum melambaikan tangannya di ambang pintu toko itu, Satria membalas dengan anggukan kepala kecil.
"Hanum! Apaan sih." April menyingkirkan tangan Hanum.
"Mulutmu kenapa ember sekali, April? Aku malu tahu ...!" ujar Hanum kesal. Ia berjalan duluan ke parkiran mengambil motor maticnya.
April berlari kecilb mengejar Hanum. Gadis berambut gelombang ini mencoba mensejajarkan langkah kakinya dengan Hanum. "Ternyata kamu masih belum move on sampai sekarang, Hanum," ledek April.
"Nggak, aku udah move on kok!" ujar Hanum penuh keyakinan.
"Bohong, ngaku aja kalau sama aku. Kalian berdua cocok loh. Aku yakin Satria juga cinta deh sama kamu."
"Terserah kamu, April," jawab Hanum ketus melaju motornya, meninggalkan April sendirian.
Hanum kembali ke butik tempat ia bekerja. Setelah lulus SMA, Hanum memang memutuskan untuk kerja di sebuah butik.
Hanum ingin juga kuliah seperti teman-teman lainnya, tetapi dirinya tidak seberuntung teman-temannya itu.
•••
Dua bulan berlalu setelah pertemuan tidak sengaja di sebuah toko buku. Benih-benih cinta kian tumbuh di dalam hati Hanum saat ia kembali bertemu dengan Satria pada saat reunian dua hari yang lalu. Ia suka senyum-senyum sendirian dan sering sekali tidak fokus bekerja.
Satu notifikasi pesan masuk dari aplikasi berwarna hijau. Tertera nama 'April' di layar handphonenya.
[Satria minta nomor bokap kamu. Aku kasih atau nggak?]
[Eh, kok minta nomor bokap? Dan kenapa nggak minta langsung ke aku?]
[Nggak tahu, mungkin Satria sudah pindah haluan, ia suka sama bokap kamu. Miris kamu Hanum, bersaing dengan bokap sendiri. Hahaha ....]
[Jangan ngelawak, April! Serius dong. Untuk apa Satria minta nomor bokap aku?]
[Tanya langsung ke Satria.]
[Malu.]
[Aku tetap kasih ya Hanum. Udah dulu Sayang aku kerja dulu. Lapyu!]
Hanum merasa geli sendiri, membaca pesan itu. Otak sahabatnya itu sudah mulai geser sedikit sepertinya.
Matahari mulai tenggelam di ufuk barat. Setelah butiknya ditutup, Hanum segera pulang.
Hanum memicingkan matanya melihat mobil yang terparkir rapi di halaman rumahnya. 'Mobil siapa? Kok aku baru lihat?' gumam Hanum, ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.
"Jadi, maksud kedatangan saya ke sini untuk melamar putri, Bapak!" ujar seseorang pria dengan satu tarikan napas.
"Hah?" Hanum kaget sendirian mendengar itu. Apalagi setelah melihat siapa yang mengatakan itu, membuat tubuhnya terasa melemah.
Semua orang yang sedang duduk di ruang tamu, beralih menatap ke arah Hanum.
"Sudah pulang, Hanum. Sini, Nak," panggil Bunda Nisa.
Masih dengan wajah terkejut, Hanum mendudukkan tubuhnya di samping bundanya.
"Semua jawaban ada di tangan Hanum. Kami sebagai orang tua hanya bisa mendukung dan mendoakan yang terbaik," tutur ayah Hanum.
Satria dilanda kegugupan. Manik hitamnya menatap lekat wajah Hanum yang masih tertunduk malu. "Hanum," panggilnya.
"Emm ... iya." Hanum mendongak wajahnya, menatap lurus ke arah Satria.
"Maaf, mungkin kedatanganku terlalu cepat dan mengejutkanmu. Aku hanya ingin menyempurnakan separuh agamaku bersamamu," kata Satria penuh keyakinan.
Hanum meremas ujung jilbabnya, matanya nampak berkaca-kaca. Ia benar-benar tidak percaya, pria yang ia kagumi sejak dulu akan melamar dirinya.
"Apakah kamu bersedia menjadi ibu dari anak-anakku kelak?"
Malu, gugup, cemas, semua perasaan Hanum bercampur aduk. Hanum langsung memeluk tubuh Bunda Nisa. "Bunda, aku nggak mimpi sekarang, 'kan?" tanyanya.
"Tidak, Sayang. Ayo berikan jawabanmu."
Hanum melepaskan pelukannya. Ia mengambil napas dalam-dalam sebelum memutuskan keputusannya.
"Aku banyak sekali kekurangan, Sat. Aku terlalu jauh denganmu." Entah kenapa hati Hanum merasa menciut bersanding dengan Satria. Bunda Nisa menggengam tangan putrinya agar tidak terlalu gugup.
"Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini, bukankah kesempurnaannya hanya milik-Nya? Kamu adalah jawaban dari salat istikharahku selama ini, Hanum. Hanya saja aku perlu waktu, untuk datang dan bertemu dengan kedua orang tuamu."
Hanum tersenyum tipis mendengar ucapan Satria. Hening disela-sela obrolan mereka. "Dengan izin Allah, aku bersedia," jawab Hanum penuh keyakinan.