Seorang gadis kecil yang berjuang demi pendidikannya untuk mewujudkan berjuta mimpi yang ia miliki. Di sebuah desa yang masih belum terjamah oleh majunya ilmu pendidikan. Namanya Karina Rasita. Gadis kecil ini berumur 11 tahun. Ia beserta keluarga kecilnya tinggal dipedalaman Kalimantan. Karina memiliki Ayah dan seorang kakak lelaki bernama Bobi. Jangan ditanya soal Ibunya, karena hal itu mampu membuat air mata mengalir dipipi kemerahan milik Karina.
Sebenarnya Karina tidak pernah melihat Ibunya sedari lahir. Ibu Karina dinyatakan meninggal tepat sesaat setelah dirinya hadir kedunia ini. Meski ia sedih, namun Karina yakin bahwa malaikat tidak bersayapnya itu telah berada di Surga sekarang. Saat ini Karina tengah menimbah Ilmu di sebuah SD Berjuta Mimpi. Tepatnya kelas 5 SD.
Pagi yang cerah. Matahari menampakkan dirinya diufuk timur secara perlahan. Teriakkan seseorang yang berasal dari depan rumah Karina memecahkan keheningan dipagi itu.
“Udah siap yah? Aku kira masih siap-siap. Hehehe. Yuk berangkat!” ucap seorang lelaki yang seumuran dengan Karina. Karina yang mendapati ucapan lelaki itupun hanya menganguki sambil tersenyum manis. Lelaki itu adalah Rendi, sahabat Karina sedari kecil. Mereka selalu kemana pun bersama, bahkan sampai bersekolah pun ditempat yang sama.
Karina dan Rendi mulai berjalan setelah berpamitan kepada Bobi. Keluar dari perkampungan rumah kumuh itu. Ratusan langkah telah mereka lalui dengan menyusuri jalan berbukit, berbatu nan panjang itu. Akhirnya langkah mereka memasuki gerbang SD Sejuta Mimpi.
Karina dan Rendi memasuki sekolah sambil bercerita. Tanpa mereka sadari, seseorang menatap mereka dengan sinis di depan ruang kelas.
Mereka yang tersadar akan hal itu, lalu tertawa menatapnya. Orang itu berlari menghampiri Karina dan Rendi dibeberapa langkah dari gerbang. Perempuan munyil berwajah polos dengan menggunakan jaket biru itu berlari dengan cepat ke arah Karina dan Rendi. Karina nampak menatap Rendi dengan tatapan dekat dan cengirn kuda yang ntah terlihat seperti apa.
Perempuan itu cemberut, “Lama banget dih kalian berdua ini! Capek tau nunggu nya. Dari tadi Lala sendirian tau.” Karina dan Rendi tertawa lepas.
“Iya maaf-maaf, Karina tadi lama.” Kata-kata itu melesat dari mulut Rendi. Seketika Karina menatap Rendi, sinis. Tatapan nya tidak kalah dari tatapan Lala tadi. Sebenarnya nama gadis munyil itu adalah Dila. Namun ntah mengapa Karina dan Rendi terbiasa memanggilnya dengan sebutan Lala.
SD sejuta mimpi memiliki 3 malaikat pendidik. Malaikat-malaikat itu lah yang selalu antusias untuk melimpahkan ilmu kepada para murid SD sejuta mimpi. Namun, begitu sayang sekali karena mereka tidak mendapatkan upah sedikit pun. Bahkan berbagai pertanyaan sempat melesat dipikiran Karina, soal ketiga malaikat itu yang rela bekerja tanpa pamrih di masa kejar mengejar harta saat ini??
‘Mungkin hati mereka terbuat memeang terbuat dari sutra.’ Begitu pendapatnya.
Pak Budi, Pak Anto dan Bu Weni. Itulah mereka. Pak Budi kepala sekolah SD sejuta mimpi. Ia orang dengan semangat juang yang luar biasa, tidak pantang menyerah dan membakar semangat murid-muridnya dengan kata-kata nya yang eksotis.
SD sejuta mimpi hanya ada 3 ruang kelas. Ruang istimewa yang berdinding kayu rapuh tanpa jendela. Beralaskan tanah dan beratapkan seng berlubang diberbagai sisinya. Jika hujan tiba, maka airlah yang menjadi hidaran para murid di ruangan kelas. Biasanya mereka akan berkumpul dibagian kanan depan ruangan kelas agar air tidak menimpah mereka.
Berbicara tentang hujan akhirnya waktu berlalu tanpa rasa. Saat ini Karina dan murid lainya sudah saatnya untuk pulanng dari sekolah. Namun, tampaknya rintikkan air berjatuhan dari langit saat ini. Begitu tidak mendukung kepulangan Karina. Meski begitu, hujan bukan menjadi penghalang bagi 3 murid yang dengan senang menyambut hujan datang. Mereka adalah Karina, Rendi dan juga Lala.
Dengan guyuran hujan yang menyertai. Mereka berlari, tertawa, bermain, bahkan bernyanyi bersama. Seraya menelusuri bukit-bukit itu.
Tetesan hujan kian lama kian berhenti. Tetapi Karina, Rendi dan Lala masih kebasahan karena bermain hujan-hujanan tadi. Sambil termenung, Lala mendengus keras. Kemudian membuka pembicaraan untuk mengakhiri keheningan yang lama.
“Karina sih ngajak ujan-ujanan. Toh sekarang kita jadi basah deh.”
“Hooh aku sekarang takut pulang. Nanti dimarahi bapak.” Ucap Rendi sambil memonyongkan mulutnya. Mendengar ucpan kedua sahabatnya, Karina lansung melototkan matanya, megelak.
“Lo? Inikan bukan salah aku. Kita yang ujan-ujanan, artinya kita yang salah dong!” balas Karina tidak terima.
Lala dan Remdi serentak menoleh pada Karina. Lalu tertawa keras. Karina pun akhirnya ikut tertawa. Pada akhirnya mereka kembali terdiam, dan terjadi keheningan yang lama untuk kesekian kalinya.
***
Keheningan itu terus berlanjut, sampai mereka memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.
Karina memasuki halaman rumah nya dengan kondisi pakaian yang masih lembab. Karina tau pasti jika Bobi sedang memperhatikan nya dengan wajah terkejut dari jendela transparan kamarnya. Karina sejenak terdiam lalu memasuki pintu rumah. Karina sangat terkejut setelah membalikkan pintu rumah. Bobi telah menunggu disana, masih dengan tatapan keterkejutannya.
“Dari mana saja kau? Mengapa terlambat pulang? Kenapa pakaian mu terlihat basah?” Karina hanya menunduk terdiam. Melihat hal itu Bobi kembali menyahut. “Sudahlah, sekarang pergilah bersihkan tubuhmu! Cuci pakaian mu!” Karina mengangguk dan pergi dari hadapannya.
Karina melakukan semua yang diperintahkan Bobi padanya. Saat semuanya selesai. Karina berjalan menuju ruang depan, tapi ntah mengapa perasaan nya tiba-tiba terpicu kepada televisi yang ada di ruangan depan itu.
Karina akhirnya menekan tombol nyalanya. Muncullah layar yang menampakkan sebuah acara berita dengan rekaman gambar sebuah bangunan yang elok, bengunannya besar yang ntah berapan ruangan disana. Bangunan itu dikelilingi perpohonan indah dan hijau, ada kolam ikan dihalaman depan nya. Dan bangunan itu ternyata adalah sebuah sekolah.
Ada rasa baru yang membuat Karina penasaran. “Kenapa sekolah itu muncul di acara ini? Ada apa dengan sekolah itu? Sekolah itu sangat elok dipandang mata. Lalu bagaimana dengan sekolahku? Bahkan tidak memiliki sisi elok sedikit pun? Apa kami ini berbeda? Tapi, kenapa mereka yang melakukan hal kurang baik dapat yang seperti itu?” pertanyaan itu menguasai pemikiran nya. Dan malam hari ini Karina terlelap dengan pikiran yang dikuasai oleh berbagai pertanyaan.
***
Waktu terus berjalan. Langit terus berubah warna. Angin bertiup begitu saja. Matahari, bintang dan bulan silih berganti menghiasi angkasa. Semuanya melesat begitu saja. Hari ini saat semua murid berbondong-bondong untuk keluar. Karina masih terdiam dibangkunya, tidak berkutik apapun.
“Ada apa? Kenapa Karina tidak pulang?” tanya pak Budi dengan senyuman diwajahnya, menatap Karina dengan sedikit heran. Tanpa ada yang ditutupinya, Karina mengeluarkan semua unek-unek dihatinya. Pak Budi yang mendengar semua pertanyaan dari Karina, tidak membuat senyuman di wajahnya menghilang. Walau Karina tau jika Pak Budi pasti punya perasaan yang berbeda dari yang ditampilkan oleh wajahnya.
“Itu karena sekolah mereka mendapat dukungan dan bantuan dari pemerintah. Letak sekolahnya dikota. Jadi, mungkin lebih mudah untuk dijangkau oleh pemerintah. Karena letak sekolah kita yang jauh seperti ini, mungkin saja pemerintah tdak tahu bahwa ada sekolah disini. Apalagi ditambah dengan jumlah kita yang sedikit. Tapi, percayalah ini semua akan berakhir. Akan berubah menjadi yang baru. Asalkan kita mau berusaha untuk bisa mengetuk hati pemerintah agar menoleh ke arah kita. Cara nya dengan prestasi. Mungkin nanti Karina akan sukses dan bisa baikkin sekolah kita kan? Yaudah, sekarang Karina pulang dulu ya.” Senyuman terpasang diwajah pak Budi semakin melebar.
Karina akhirnya pulang bersama sahabatnya. Ditepi Danau tanpa sengaja mereka bertemu lelaki tampan bernama Fauzi dengan kamera ditangan nya. Semenjak perkenalan itu, mereka sering bermain sehabis pulang sekolah bahkan sampai sore. Akhirnya sebuah ide muncul dibenak Karina, saat mengingat kamera ditangan Fauzi. Ia berkeinginan untuk mebacakan sebuah puisi agar bisa didengar orang banyak bahkan pemerintah sekali pun.
6 hari berlalu. Karina sudah menyiapkan semuanya dengan serapi mungkin, ,meski dirinya tengah sakit saat ini namun, semangatnya tidak pernah luntur. Akhirnya pembacaan puisi pun dimulai dengan rekaman vidio yang diambil dengan kamera Fauzi. Setelah itu, Fauzi mengaploadnya ke konten youtobe miliknya.
Baru 4 hari setelahnya, video dan tulisan puisinya menjadi viral. Bahkan Fauzi mendapatkan penghargaan dari universitasnya. Ya, Fauzi adalah mahasiswa yang tengah PL di kampung Karina.
Siang itu orang berpakaian dinas memasuki halaman sekolah yang bagaikan gubuk itu. Mereka adalah utusan pemerintah yang berencana merenovasi sekolah. Karina sendiri tidak percaya karyanya akan membawa hal positif kepada banyak orang. Itu pun hanya karena selembar kata, sehingga dapat membawa keadilan.
Kini Karina dan sahabat-sahabatnya telah berada dalam ketenangan. Serta rasa syukur yang sangat ia panjatkan pada Tuhan sehingga membuat mimpinya terwujud.
*THE END*