Di malam pernikahan mantan pacar, aku hamil. Sebelum menghadiri acara aku sempat mual ntah sudah yang keberapa. Bi Lastri, art rumahku yang satu ini cukup khawatir dan membawaku ke dokter.
Bi Lastri yang melihat gelagatku memutuskan ke dokter kandungan. Awalnya aku bersikeras mengatakan tak pernah berhubungan badan. Perawat yang melihat tingkahku lebih memilih memberiku suntikan penenang agar aku lebih rileks.
Selang beberapa menit, rasanya kepalaku sedikit pening serta perutku yang terasa tak nyaman. Saat membuka mata orang pertama yang ku lihat adalah seorang dokter perempuan.
Alisku mengernyit bingung, "Saya kenapa dok?" Tanyaku langsung.
Dokter itu tersenyum, "Selamat, kamu akan menjadi seorang ibu."
Deg
Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Benakku terisi dengan beribu pertanyaan yang ntah dapat ku lontarkan ke siapa.
Di dalam mobil pribadiku, hanya diam, bicara sepatah katapun tidak bahkan tak ku hiraukan ucapan Bi Lastri yang terus menghiburku.
Sesampainya di rumah aku memasuki kamar. Siapa ayah anak ini? Batinku bertanya bingung.
Aku menelfon sekretarisku Wendy, "Segera ke rumah, saya tunggu lima belas menit dari sekarang." Ucapku setelah dia mengangkat telpon.
Aku berjalan pelan perlahan membuka knop pintu. Saat aku menuruni tangga aku menemuka seorang laki-laki yang memunggungiku. Ku kira dia Wendy, namun saat dia berbalik ternyata... dia mantanku Ronald.
Wajahku mendatar seiring aku berjalan dan duduk di sofa.
"Siapa yang mengizinkanmu masuk ke dalam rumahku?"
"Apa aku perlu izin?" Ujarnya balik bertanya.
Aku tersenyum di ujung bibir, "Tentu saja, Tuan Hamingston." Dapat kulihat wajahnya memperlihatkan ke tidak sukaan atas apa yang aku katakan.
Dengan lacang dia menarik daguku, segera ku tepis tangannya dan menjauh beberapa meter.
"Ketahui batasanmu Tuan Hamingston!" Seruku kesal.
Dia terkekeh lalu meletakkan sebuah undangan di atas meja kaca.
"Aku harap kamu datang, by." Ujarnya lalu pergi.
Aku kembali duduk di sofa, tanganku mengulur mengambil undangan itu. Undangan pernikahan? Alisku mengernyit. Saat ku buka, dapat ku baca nama orang yang akan menikah. Dan satu menit yang lalu dia masih menggodaku, sungguh lelaki bajingan.
Aku mengelus perutku yang masih rata, "Aku harap ayahmu sedang mencariku." Ya, aku harap dia tak sebrengsek Ronald.
"Nona." Lamunanku terhenti, ternyata Wendy yang datang.
"Apa jadwalku hari ini?"
"Menghadiri pameran, menandatangani kontrak..." namun belum selesai Wendy menjelaskan telah disela oleh Gabby.
"Buat ulang jadwal dengan terisi dua acara pada satu hari." Saat mengingat jadwal aku menjulurkan undangan pernikahan itu pada Wendy.
"Tambahkan ini untuk jadwal hari ini!" Perintahku yang dia sanggupi.
Akupun beranjak menuju ruang kerjaku yang ada di rumah. Aku mengerjakan pekerjaanku dari rumah untuk hari ini. Hingga menjelang malam aku tetap tak beranjak dari ruang kerja.
Hingga suara nyaring handphoneku dan tertera nama Wendy. Aku segera menjawabnya, "Ya?" Tanyaku.
"Sekarang jadwal anda menghadiri acara pernikahan keluarga Hamingston." Ujar Wendy dari seberang telepon.
Aku yang mendengarnya akhirnya ingat, ternyata aku melupakan acara ini. Aku pun mengatakan iya dan menyuruhnya untuk menungguku di bawah.
Aku segera bersiap, ku kenakan dress dibawah lutut dengan warna biru langit yang menyatu dengan gelapnya malam. Rambut ku biarkan tergerai bebas di temani angin malam yang berhembus pelan.
Saat turun, dapat ku lihat Wendy telah bersiap di samping banyaknya bodyguard. Di buka pintu penumpang, sesaat setelah aku masuk dia menutupnya dan masuk di samping kemudi.
"Kemudi dengan pelan saja." Peringatku di angguki supir.
"Setelan jasmu cukup serasi dengaku Wendy." Komenku saat melihat setelannya.
Dia terkekeh pelan di balik masker hitamnya, "Apakah nona memujiku?"
Aku melirik, "Apa kamu menyukainya?" Ujarku menggoda.
"Tidak berani." Jawabnya sembari terkekeh.
Ku akui dia cukup tampan. Tapi dia hanya membuka masker saat berdua denganku, ntah mengapa aku juga tak keberatan. Sebab hanya dia, dialah yang setia menemaniku.
"Jangan bicara lagi, kita sudah sampai." Ujarku tenang.
"Ah, sepertinya aku teledor." Aku terkekeh mendengarnya.
Dia keluar lalu menata para bodyguardku, "Baris yang benar dan perketat keamanan!" Perintahnya yang dapat ku dengar dan selanjutnya aku tak terlalu memperhatikan.
Saat pintu mobil di buka mataku bersirobos dengan keramaian gedung ini. Mereka menyambutku dengan sopan. Ya, mungkin melihat kedudukanku.
Aku terus berjalan dengan langkah santai. Sesampainya aku di dalam gedung aku sedikit termanggu.
Bukankah yang berada di altar adalah sahabatku aku terkekeh miris sembari terus berjalan dengan anggun. Aku mendekati altar, lebih tepatnya aku mendekati si pemilik acara.
"Tak aku sangka akan ada hari ini Zeina." Ujarku seraya memelukknya.
Dia mengatur mimiknya dengan baik seolah tertindas olehku, "Bahagialah Zeina jangan sia-siakan bekasku." Bisikku lembut.
Ku rasakan bahunya sedikit bergetar, jangan sampai anak ini membuat drama. Ya, percuma saja aku berharap karena air matanya sudah lolos.
"Maafkan aku Gabby, aku tidak bermaksud. Tolong jangan ganggu hubungan kita lagi."
Aku mengatakan "Wow" di benakku. Apakah pernyataannya mengarah bahwa aku ini orang ketiga. Bisik-bisik mulai ku dengar. Aku sangat benci situasi seperti ini.
Aku terkekeh sinis, "Jangan seperti itu Zeina, sekarang bahagialah dengan barang bekasku ini. Aku sangat berterimakasih karena kamu mengambilnya tanpa kuminta."
Dia menggeram marah dan itu sangat terlihat di wajahnya. Sungguh sahabat yang baik, dia membersihkan orang untukku tapi masih menabur kotoran di depan mukaku.
"Ah, Gabby aku dengar kamu sedang hamil?" Mataku seketika membola.
Darimana dia tahu ini?
"Sepertinya kamu memiliki pekerjaan untuk membuntutiku ya, Zeina." Terangku mencoba mengalihkan perhatian.
Tiba-tiba tanganku sedikit nyeri, "Kamu hamil dengan siapa By?" Bentak Ronald saat itu padaku.
Aku sangat terkejut sekaligus merasa sakit di pergelangan tangan. Aku menatapnya dengan sorot mata tajam. Ekspresiku mendatar seketika saat dia semakin mengeratkan cengkramannya.
Namun tiba-tiba tangannya di tepis kasar, siapa?. Aku memusatkan perhatianku pada setelan jasnya.
"Wendy!"
Dia memandangku sekilas lalu merangkul pinggang, aku sedikit tersentak namun tak berpikir apa-apa. Rahang Ronald mengeras melihat pemandangan ini.
Aku maju selangkah, "Apa urusannya denganmu jika aku hamil Tuan Hamingston!" Seruku kemudian.
Saat dia akan membuka mulut aku lebih dulu menyela, "Ingatlah bahwa anda sekarang sedang menikah." Ujarku sembari tersenyum.
Wendy menarikku pergi namun Ronald dengan tak tahu malu menghadang kami. Wendy mempererat memeluk pinggangku.
Ronald terkekeh, "Bukankah dia sekretarismu? Sepertinya kamu menggantiku dengan orang rendahan sepertinya." Tiba-tiba dia memajukan wajahnya. "Gabby, pandanganmu sedikit menurun!" Serunya membuatku geram.
"Menurutku pangkat itu tak penting, yang penting dia memiliki otak dibandingkan anda Tuan." Ujarku dengan senyum mengejek.
"Kamu!" Ronald mengangkat tangannya namun dengan cepat ditepis oleh Wendy.
"Sudah cukup Tuan, kamu terlalu banyak omong!" Ku akui Wendy sanggat berani membuatku mengulum senyum.
"Hahaha" tiba-tiba Wendy tertawa.
"Apa hak mu memerintahku. Tanpa kekuasan kamu tidak ada hak." Ujarnya kemudian.
Wendy tersenyum dibalik maskernya. Dengan perlahan Wendy membuka masker hitamnya. Aku kaget, baru kali ini dia mau membuka maskernya di muka umum.
"Marga saya Argata, apa anda tau marga itu?" Bisik Wendy pada Ronald.
Ronald terlihat kaget, "Jangan bermain-main denganku!" Ujarnya emosi namun tercetak raut Khawatir.
Aku sama sekali tak mendengar bisikan Wendy pada Ronald membuatku hanya diam.
Wendy menelepon seseorang yang ntah siapa, lalu dia kembali menghadapi Ronald. Semua orang di buat penasaran olehnya. Bahkan terasa angin sama sekali tak berhembus.
Semua orang diam menonton adu mulut antara Wendy dan Ronald. Dari mulut pintu datang beberapa orang berpakaian jas setelan hitam. Ku pikir itu para bodyguardku, tapi ternyata mereka bawahan Wendy ketika aku mendengar perkataan mereka.
"Kami sudah datang Tuan Muda Argata!" Seru seorang pemuda yang ada di posisi paling depan.
Pernyataannya membuat semua orang yang ada di sini menutup mulut. Akupun juga sama seperti mereka. Aku sangat kaget namun mencoba untuk tetap tenang.
Ronald dengan cepat berlari tetapi sayangnya terkejar oleh bawahan Wendy. Di lain sisi aku mendekati Wendy perlahan dan menarik lengannya.
"Aku butuh penjelasan." Dia mengulas senyum tipis sembari mengelus pucuk kepalaku.
"Kamu sudah mendengarnya sayang, apa yang perlu dijelaskan?" Bisiknya bertanya.
"Tapi kamu tidak boleh seenaknya padaku." Ujarku berbisik juga.
"Jujur saja," aku menaikkan alisku penuh tanda tanya.
Tiba-tiba tangannya merayap ke perutku dan mengelusnya lembut. Aku ingin menepisnya namun lebih dulu dia tahan.
"Aku adalah ayah anak ini. Ini ada saat malam itu kamu minum karena ulah lelaki bajingan itu." Mataku membola.
"Aku tak menyinggungnya, karena aku berpikir kamu akan menjauhiku. Tapi setelah aku mendengar kabarmu dari bawahanku, aku sangat bahagia. Adanya anak ini bisa membuat aku memilikimu Gabby!"
Air mataku seketika jatuh. Tak pernah terfikirkan bahwa ada orang yang menyayangi aku. Tak pernah terpikirkan bahwa ada hari ini.
Dia merengkuhku masuk kedalam pelukannya. Aku ikut mendekapnya seraya menangis di dalam dada bidangnya.
"Aku mencintaimu sudah lama. Tapi saat aku tahu kamu memiliki kekasih aku memilih mundur, semua itu asalkan kamu bahagia." Aku semakin mengeratkan pelukanku.
Aku sedikit mendongak, "Tapi sekarang kamu ada kesempatan." Ujarku berharap dia mau hidup bersama.
Wendy tersenyum, dengan tiba-tiba menciumku lembut.
"Hiduplah bersamaku Gabby." Aku segera mengangguk sembari memeluknya erat.
Sungguh tak terbayangkan untuk hari ini. Terimakasih Tuhan, kamu telah menjawab doa-doaku.