Saat ini umurku 27 tahun.
Aku sedang pergi ke luar kota karena bos memberiku tugas di luar kota. Di perjalanan, aku melihat sebuah rumah berwarna biru yang sangat indah, rumah itu membuat ku déjà vu. Sesaat aku teringat dengan sebuah rumah di kampung halaman rumah nenekku.
Kisah ini bermula saat aku berusia 15 tahun dan pada saat itu aku sedang duduk di kelas satu Sekolah Menengah Atas. Libur musim panas telah tiba, ibuku berencana untuk berlibur ke rumah nenek. Jarak rumahku dan rumah nenek cukup jauh, aku tinggal di perkotaan sedangkan nenekku tinggal di sebuah desa. Aku tak sabar ingin bertemu dengan nenekku karena hanya saat waktu libur saja aku bisa bertemu dengannya. Nenekku tinggal dengan adik ibuku, kakekku sudah meninggal dua tahun yang lalu.
"Cepatlah mandi, hari ini kita akan ke rumah nenek" Ucap ibu padaku
"Baik bu" Ucapku
Setelah selesai mandi dan siap-siap untuk berangkat, aku dan ibuku pergi ke rumah nenekku berdua dengan menggunakan kereta api. Ayahku tidak bisa ikut karena dia sedang bekerja dan tidak bisa mengambil cuti.
Untuk bisa sampai di stasiun kereta api aku dan ibuku menaiki bus terlebih dahulu sekitar sepuluh menit. Setelah sampai di stasiun, aku membeli tiket kereta api ke arah desa rumah nenekku tinggal.
Sepanjang perjalanan, aku melihat pemandangan yang indah dan membuatku rileks dengan membuatku lupa dengan tugas-tugas sekolahku yang diberikan ketika libur musim panas.
Setelah tiga jam di perjalanan, aku dan ibuku pun sampai di stasiun kereta api dekat rumah nenekku. Aku dan ibuku menaiki bus kembali untuk sampai ke rumah nenekku, itupun aku harus jalan lagi agar bisa sampai ke rumahnya.
Setelah satu jam di dalam bus, aku dan ibuku akhirnya sampai ke terminal desa nenekku. Aku sangat tak sabar untuk bertemu dengannya. Aku dan ibuku berjalan sekitar sepuluh menit dan sampai di rumah nenek.
"Akhirnya kita sampai! Aku sangat merindukan nenek" Ucapku pada ibu
"Iya" Ucap ibuku dengan singkat
Aku dan ibuku disambut dengan hangat oleh nenek dan keluarga adik ibuku. Aku sangat senang karena setelah sekian lama akhirnya aku bisa bertemu dengan nenekku. Hari semakin gelap, aku tak sabar dengan esok hari karena ingin mengelilingi desa.
Keesokan harinya di pagi hari, aku pergi dari rumah nenekku dan mengelilingi seisi desa serta berolahraga. Cuaca disini sangat dingin karena desa nenekku berada di kaki gunung. Saat aku mengelilingi desa, aku melihat seorang gadis cantik di rumah berwarna biru, sepertinya dia berusia 15 tahun sama dengaku. Aku melihatnya dan dia menyapaku, aku menyapanya balik.
Akhirnya aku dan dia berkenalan, namanya adalah Mia. Aku dan Mia semakin dekat, setiap hari ia mengajakku berkeliling dan mengunjungi tempat-tempat yang sebelumnya belum pernah kukunjungi.
Mia mengajakku untuk mendaki gunung di desa. Gunung itu memang tidak terlalu tinggi dan disediakan jalan untuk mendaki ke puncaknya.
"Aku ada ide, ayo kita mendaki gunung" Ucap Mia mengajakku
"Mendaki gunung? Aku tidak pernah mendaki" Jawab aku
"Tenang saja, di gunung ini tersedia jalan khusus agar bisa mendaki dengan mudah" Ucap Mia
"Hm...., baiklah ayo kita mendaki" Ucap aku kepada Mia
Aku dan Mia memutuskan untuk mendaki gunung esok hari.
Mentari telah datang, aku dan Mia pergi ke gunung hari ini. Saat mendaki, aku merasa sangat segar berada gunung. Tak terasa aku sudah sampai di puncak gunung, pemandangan disana sangat indah, desa nenekku terlihat hijau dan cantik dari sini.
Saat itu adalah kali pertamaku mendaki gunung, sungguh senang aku berada di desa ini. Setelah selesai mendaki, aku dan Mia memutuskan untuk pulang.
Saat aku masih tidur, sekitar pukul empat pagi, aku merasakan adanya gempa. Aku terbangun dan lari keluar rumah, begitu juga dengan ibu, nenek, dan keluarga adik ibuku. Betapa terkejutnya mereka karena disini jarang terjadi gempa. Aku tak tidur lagi saat gempa telah hilang.
Di pagi hari, gempa terasa kembali. Seluruh warga di desa keluar dari rumahnya. Kali ini gempa terasa lebih kuat dari sebelumnya. Semuanya panik berharap tidak terjadi apa-apa.
Gempa berhenti. Setelah beberapa jam, tanah di gunung longsor akibat guncangan gempa. Tanah itu menimpa bangunan yang ada di desa. Siapa sangka bangunan itu akan menimpa rumah Mia. Betapa terkejutnya aku mendengar bahwa rumah Mia tertimbun tanah longsor.
Aku pergi ke rumahnya untuk memastikan apakah Mia baik-baik saja atau tidak. Sesampainya disana, aku mendengar bahwa Mia tidak ada dan kemungkinan besar dia tertimbun tanah longsor.
Kepala desa segera menghubungi bantuan. Setelah berjam-jam akhirnya Mia yang tertimbun tanah longsor berhasil ditemukan. Napasnya tidak stabil dan pelan, Mia segera dilarikan ke rumah sakit terdekat. Aku hanya bisa berharap dan berdoa semoga tidak terjadi apa-apa pada Mia.
Dua jam berlalu, karena alat-alat medis yang tersedia di rumah sakit desa tidak memadai, Mia dinyatakan meninggal pada pukul sebelas siang.
Aku sangat sedih dan terkejut mendengar kabar itu. Mia adalah warga desa yang pertama kali aku kenal selain nenek dan keluarga adik ibuku. Mia cantik, baik, dan sangat ramah.
Berhari-hari aku memikirkannya karena aku tak mengira dia akan pergi secepat ini, mungkin tuhan lebih menyayanginya.
Ibuku memutuskan untuk kembali ke kota. Aku masih saja memikirkan Mia, aku masih tidak menyangka bahwa dia telah tidak ada lagi di dunia ini.
Ketika aku melihat rumah berwarna biru, aku selalu ingat dengan rumah Mia begitu juga dengan Mia.