Di malam pernikahan mantan pacar, aku hamil...
Kau tau bagaimana perasaan ku? Hancur.
Kriett..
“Van, kamu ngapain disini? Ikhlaskan saja Dava bersama pasangannya, lagian masih banyak laki-laki yang tulus denganmu,” saran Fani menatap penuh sayang Vanya, sahabatnya.
“Ka-kamu nggak tau Fan.” lirihnya, Fani menajamkan pendengarannya seraya melangkah mendekati Vanya dengan raut muka penasaran, “Apa yang nggak aku tau, Van... Aku sahabat sedari kecilmu..kita selalu bersam-”
“Aku hamil.” sela Vanya memotong pembicaraan Fani, Fani terdiam kaku ditempat, raut wajah Syok tidak bisa ia tahan lagi mendengarnya, “Van, kapan kalian melakukannya?” Fani menatap tak percaya Vanya. Ia harus memikirkan ini. Bila sahabatnya hamil. Kemungkinan besar anak dari Dava. Dan Dava sekarang.....
“2 minggu yang lalu saat Dava mabuk dan tanpa sadar melakukannya denganku, selama kita berpacaran aku juga pernah melakukannya. Namun, kali ini aku lupa tak meminum obat itu.” jelasnya panjang lebar.
Netra hitam pekat Vanya melirih takut-takut kearah Fani yang menampilkan raut muka datar, ia takut dijauhi sahabatnya dan mengatainya murahan. Ia takut sungguh.
Fani menatap Vanya tanpa ekspresi, melihat itu Vanya menghela nafas pasrah, “Aku akan merawat anak ini bersama kedua orangtuaku, kalau kamu malu bersahabat denganku...pergilah,” Vanya menahan isakan tangisnya dengan lirihan di akhir kalimat.
Fani tersenyum lebar seraya menatap Vanya lembut, “Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, dan aku akan selalu bersamamu. Kamu seperti pengganti orang tua ku, Vanya.” selorohnya.
Vanya menunduk enggan menatap Fani yang begitu baik padanya, ia menyesal, ia kecewa pada dirinya sendiri. Mengapa ia sungguh tak bisa menjaga diri.
Fani dengan lembut menarik Vanya dalam pelukan hangatnya, ia mengelus lembut punggung bergetar sahabatnya, ia juga tak memusingkan perihal bajunya yang basah karena air mata Vanya.
'Kamu itu orang baik Vanya, hanya keadaan lah yang memaksamu menjadi seperti ini, aku akan mengurus sisanya.' batin Fani menyeringai tanpa sepengetahuan Vanya.
“Aku tidak mungkin membiarkan sahabatku menderita,” gumamnya tersenyum lebar.
***
Shela menatap suaminya yang juga menatapnya, keduanya berpandangan beberapa detik seolah berkomunikasi setelahnya menatap Vanya dan Fani dengan senyuman lebarnya.
“Tidak masalah, mama dan papa akan menjagamu, Anya. Kita akan selalu menjadi keluarga. Humm? Kamu tidak sendirian,” hibur mama Shela, ibu kandung Vanya.
“Benar perkataan mama mu Anya, papa tidak kecewa denganmu, kita akan menghadapi semuanya bersama-sama.” sahut papa Andi dengan senyuman tipisnya membenarkan perkataan Shela.
Vanya yang semula menunduk merasa bersalah mulai mendongak dan menatap keduanya bergantian, “Tetap saja Anya merasa bersalah, Anya merasa tak berguna menjadi anak mama dan papa,” Netra hitam pekat tersebut meredup seolah kehilangan cahayanya.
Fani menoleh, “Ya kamu memang bersalah,” ucapnya, Vanya menatap Fani, “Tapi kami tetap menyayangimu, kami akan selalu mendukungmu. Sekalipun kamu akan melakukan kesalahan yang fatal sekalipun,” timpal Fani menatap Vanya tersenyum simpul.
Kebahagiaan bersinar di mata Vanya, arti keluarga dan sahabat yang sebenarnya membuatnya merasa senang, dan tenang. Ia merasa senang karena ada yang mendukungnya. Ia juga merasa semakin bersalah karena itu juga.
“Fani....” rengek Vanya, bibirnya melengkung kebawah dengan manik matanya yang mulai berkaca-kaca, “Huaaa.. Aku terharu...Fani aku sangat menyayangimu..” pujinya memekik senang.
“Kami juga sangat menyayangimu,” Fani menatap Vanya lembut, Vanya menatap Fani dalam, ia merasakan ketulusan dalam bola mata indah itu.
Vanya juga menatap kedua orang tuanya yang mengangguk meng-iyakan dan tersenyum lebar menatap Vanya.
“Dan kami akan membalas siapapun yang membuat seorang princess menjadi seperti ini.” lirih Fani beserta kedua orang tua Vanya. Ketiganya saling pandang setelahnya menyeringai.
Sedangkan Vanya tersenyum senang sambil menunduk mengelus lembut perutnya yang semakin membesar.
***
Tut...tutt..
“Iyaa! Sebentar!” teriak Vanya berjalan sedikit cepat menuju ponselnya berada, “Halo? Siapa ya?” tanyanya menatap nomor tak dikenal itu bingung.
Terdengar isakan tangis dari seberang telephone membuat Vanya semakin dibuat penasaran karenanya, “Nak, kami orang tua Dava. Kami mau memberitahu kalau Dava telah meninggal kemarin malam karena kecelakaan mobil nak. Hiks..” beritahunya sembari semakin menangis.
Vanya menjatuhkan ponsel dengan hiasan hello kitty di casing ponselnya. Ia menganga tak percaya. Matanya melebar dengan pupil mata yang bergetar.
Air matanya menggenang di matanya, ia menggeleng secara brutal, “T-tidak mungkin! Dava! Hikss...?!” Vanya meracau seraya menangis histeris memanggil nama Dava, pria yang masih detik ini ia cintai.
BRAK
Vanya menoleh ke asal suara dengan tangisan histerisnya, di ambang pintu terpampang Fani dengan kedua orang tua Vanya menatap penuh tanya Vanya yang menangis.
Drap..drap..
Dengan tergesa mereka menghampiri Vanya, Fani menangkup wajah Vanya seraya berkata, “Mengapa kau menangis Van? Apa terjadi sesuatu..” tanya Fani. Raut khawatir tak bisa disembunyikan lagi oleh Fani dan kedua orangtua Vanya.
Vanya mengangguk kecil ditangan Fani, tangan Vanya terangkat menyentuh tangan Fani dan menatap Fani dengan sorot mata terluka, “Fani...Dava meninggal,” lontarnya semakin menangis.
Hingga ia mengaduh kesakitan membuat keluarganya panik.
***
Suara tetesan air hujan yang hampir mereda menggema di ruangan sempit tersebut.
Keempat manusia beserta sang korban yang telah di ikat di kursi oleh mereka, “Bagaimana kabar Vanya? Bukannya ini akan menjadi kabar bahagia. Dengan ini pasti ia akan bisa dengan mudah melupakan Dava.” suara seorang wanita memecah keheningan yang ada.
Sedangkan kedua wanita beserta satu orang pria yang masih bersedekap dada memandang datar pemuda yang tak lain Dava, sebagai korbannya. Tak ada setitikpun rasa iba menatap kedaannya yang mengenaskan.
“Benar, aku setuju. Aku sangat merindukan senyuman tulus Vanya lagi. Aku selalu melihat ia memasang senyum palsunya. Membuatku muak.” timpal seorang gadis belia dengan menatap ketiganya sendu.
“Baiklah. Kita bisa memulainya.” putus seorang pria dengan tegas.
Suara teriakan penuh kesakitan menggema di ruangan itu, jeritan, tangisan, dan rasa tak berdaya seakan menambah kesan tersendiri untuk hal tersebut.
Ketiganya pun menusuk, menendang, dan menjambak Dava sampai ia menghembuskan nafas terakhirnya, tanpa mengetahui alasan dibalik ini semua.
Wanita itu memasukkan kembali mayat Dava ke dalam mobil dan menghidupan mobil dengan kecepatan tinggi. Mobil itu hilang kendali hingga menabrak pohon di depannya dengan keras. Suara benturan menambah kesan ngeri pada malam itu.
Keempatnya menatap datar dan dingin hal tersebut. Mereka mengenakan jubah berwarna hitam yang tak mencolok. Hingga keempatnya serempak menghirup aroma bensin disekitar Dava.
Dengan langkah riang dan ringan keempatnya meninggalkan tempat tersebut.
Setelahnya terdengar dentuman keras dari arah mereka memalsukan kecelakaan Dava. Mereka tersenyum penuh kepuasan.
Manik mata keempatnya memancarkan kilatan penuh kegilaan, “See? Kita tahu tidak akan ada yang bisa membuat Sahabatku, menangis.” desisnya tersenyum smirk.