Di malam pernikahan mantan pacar, aku hamil...
Aku memberanikan diri untuk menatap dunia yang tengah tersenyum sinis meremehkan. Aku tahu saat itu berpasang-pasang mata tengah memperhatikan dan menyoroti derap langkahku.
Bibir-bibir bergincu mulai berbisik-bisik, menjadikan aku buah bibir untuk mereka pergunjingkan. Namun, aku tetap berjalan dengan langkah yang pasti. Mataku berbinar bercahaya, kutebarkan senyuman indah untuk semua orang. Termasuk untuk pria yang kini telah sah menjadi pasangan sahabatku.
Ya... sahabatku menjadi duri dalam daging, merebut apa yang aku miliki dengan cara licik dan kotor. Kini dia menang. Namun, aku tidak ingin menyatakan kalah.
Perlahan tapi pasti, aku menaiki panggung pelaminan. Seharusnya aku yang duduk di sana bersanding dengannya dan bukan dia. Tapi takdir berkata lain, satu minggu sebelum ijab kabul diucapkan, fakta menyakitkan harus aku ketahui dari mulut sahabatku sendiri. Bahwa dia tengah mengandung anak dari pacarku, calon imamku. Namun, ternyata ucapannya itu bohong, sahabatku berdusta. Dia menjebak mantan pacarku.
"Hai... selamat ya. Semoga pernikahan kamu dengannya langgeng," ucapku pada wanita pengkhianat berbalut kata sahabat. Aku mengulurkan tangan. Namun, dia bergeming memasang raut jengah dan juga merendahkan.
"Punya nyali juga kamu. Aku acungkan dua jempol!" ucap Mirna seraya mengacungkan kedua ibu jarinya ke arah mukaku. Dia tiba-tiba berteriak lantang, mengalihkan semua perhatian orang-orang padanya juga padaku.
"Dengarkan ini semua baik-baik, perempuan yang berdiri di hadapanku ini hanya mantan pacar suamiku. Lebih tepatnya bekas suamiku. Kalian ada yang mau dengan barang bekas?" cibirnya di tengah-tengah hiruk pikuk tamu undangan yang kini mendadak sunyi dan senyap.
Mirna belum puas mempermalukan diriku, dia kembali berteriak dan melontarkan kalimat-kalimat yang tidak pantas untuk diucapkan. "Kasihan sekali perempuan jalangg ini, datang di hari pernikahan mantan pacarnya. Biar viral kali ya? Sungguh menyedihkan!"
Mirna terbahak-bahak, sementara Bagas... dia hanya diam mematung. Begitu pun juga dengan para tamu undangan, semua diam seribu bahasa.
Aku melanjutkan langkahku dengan menahan deraian kesedihan yang mengembun di iris mata. Senyuman aku ukir semanis mungkin, tangan kuulur, Bagas membalasnya.
"Selamat ya Bagas. Semoga hidupmu selalu bahagia," ucapku basa-basi.
Mata dalam mantan pacarku tidak lepas dari menatapku. Hingga wajah ayuku membayang di antara pupil matanya. Kami berdua bersitatap, saling berkata dari mata ke mata.
Mirna cemburu, api amarah mulai membakar diri. Tangannya diangkat hendak melayangkan sebuah tamparan. Akan tetapi, tangan lembut seseorang menahan pergerakannya. Mirna mendengus kesal lantaran sang ibu mertua mencekal tangannya dari menyakitiku.
Mungkin di mata orang-orang aku sangat menjijikkan, aku sudah tidak punya harga diri. Dan memang iya, aku telah kehilangan harga diri karena pernikahanku kandas sebelum berkembang.
Di pikiranku saat ini, aku ingin memberikan kenang-kenangan yang tidak akan terlupakan. Sama halnya dengan yang Mirna lakukan kepadaku, rasa malu dan terhina.
Selangkah demi selangkah, tubuhku mendekat lantas merapat. Tubuh Bagas gemetar, akan tetapi dia tidak ingin menghindar. Aku mengucapkan kalimat yang membuat kedua matanya terbelalak. "Aku hamil anakmu...."
Bagas termangu mendengar rahasia besar yang aku ungkap. Wajahnya berubah pasi, keringat dingin membasahi pelipis. Aku berjinjit, lalu meraup wajah tampan mantan pacarku. Mataku terpejam saat bibirku mengecup lembut bibir Bagas di depan semua orang.
Mantan pacarku terdiam sesaat, lalu dia membalas cumbuanku dengan amat dahsyat. Melupakan statusnya saat ini, bahwa dia telah menjadi milik wanita lain.
Mirna memekik, dia nampak histeris karena suami kebanggaannya tengah menikmati ciuman dengan wanita lain di hari pernikahan. Suami yang dia dapatkan dari hasil merebut milik orang lain, suatu saat akan mengkhianatinya juga.
"Terimakasih, Lara ... untuk kado pernikahan terindah ini," ucap Bagas padaku tanpa merasa bersalah sedikit pun.