Di malam pernikahan mantan pacar, aku hamil .... dunia seakan runtuh, begitu aku melihat dua garis merah yang membuat sekujur tubuhku lemas. Aku meremas perut yang masih rata lalu berteriak sekencang-kencangnya, "Aaaaaarrrrggghhh ...." Aku menangis, meratapi nasib yang tak pernah kubayangkan.
Bagaimana ini? Aku saja hidup sebatang kara. Sebenarnya aku masih memiliki papa, tapi semenjak papa menikah dengan tante Desi, hidupku seakan seperti tak punya siapa-siapa. Tante Desi dan putrinya selalu saja menghina dan berbuat kasar padaku hingga aku memutuskan untuk tinggal sendiri di sebuah kost, kalau sampai berita kehamilanku terdengar oleh papa pasti dia akan shock. Aku benar-benar tidak tahu ....
Roy, lelaki yang seharusnya bertanggung jawab atas diriku malah akan melangsungkan pernikahan besok, tapi aku tak punya pilihan, bagaimanapun dia harus tahu bahwa aku hamil.
Kuambil benda pipih dari dalam tas, jariku bergerak ke atas dan ke bawah menggeser layar mencari nama yang dulunya setiap hari menelpon hanya untuk menanyakan kabar, 'Aku sudah makan'. Setelah dua minggu yang lalu saat dia memutuskan hubungan kami, dia seperti menghilang. Aku sendiri bingung ntah mengapa dia tiba-tiba memutuskan hubungan ini tanpa alasan yang jelas, hingga sebuah kabar sampai padaku bahwa besok dia akan menikah.
Aku memencet tombol hijau saat namanya muncul dari layar ponsel.
"Halo ...."
Suara itu, suara yang membuatku terbuai hingga begitu saja menyerahkan mahkota yang paling berharga. Suara yang membuat impianku terbang tinggi lalu menjatuhkannya ke dasar jurang paling dalam.
"Halo .... Kiara. Kau baik-baik saja?" tanyanya membuatku tersadar dari lamunan.
"R-roy ...." mulutku seakan bergetar saat menyebut namanya, "Roy, bisakah kita bertemu. hiks ... hiks ...." lanjutku tanpa bisa aku menahan isak tangis yang membendung di pelupuk mata.
" Kiara, apa yang terjadi? Baiklah Kita bertemu di tempat biasa," ucapnya, membuatku merasa senang setidaknya dia mau bertemu denganku. Setelah mematikan telepon, aku segera bergegas pergi.
****
Aku menunggu di taman, tempat biasa kami bertemu. Aku menunggunya dengan sebuah tespeck di tanganku, aku ingin memberitahunya bahwa ada buah cinta kami di dalam rahimku. Sejenak aku tersenyum membayangkan bagaimana wajahnya yang bahagia dengan kehadiran anak ini.
"Kiara."
Roy memanggil namaku dari belakang, sontak saja aku langsung membalikkan badan untuk memeluknya, tapi ... kulihat Roy datang dengan menggandeng seorang wanita.
Seperti di sambar petir, aku melihat wanita tak asing yang berada di sampingnya. Maya, dia Maya saudara tiriku, anak dari tante Desi. Begitu sempitkah dunia ini, mengapa harus Maya?
"Hai, Kiara. Lama tak berjumpa, diam-diam kau bertemu dengan calon suamiku, dasar jal*ng!" ucapnya sinis
Aku tak peduli dengan kata-kata Maya, aku hanya memandang wajah Roy. Ya, hanya ini kesempatan terakhirku untuk memberitahunya sebelum semuanya berakhir.
Aku berjalan selang demi langkah meski terasa berat, aku berjalan mendekati Roy. Kuberanikan diri menyerahkan testpeck itu kepadanya.
"Roy ... Aku hamil ...." lirihku, air mataku jatuh membasahi pipi.
"Apa!"
Roy kaget mendengar pernyataanku, dengan emosi dia ingin mengambil testpack dari tanganku, tapi sudah keduluan Maya mengambilnya. Maya kaget melihat dua garis merah itu terlihat dari ekspresinya dengan mulut menganga dan matanya yang membulat. Akan tetapi itu hanya ekspresi sejenak karena sesaat kemudian dia tertawa dan bertepuk tangan, "Prok ... prok ... prok."
Awalnya aku tak peduli dengan sikap Maya, tapi yang membuatku heran adalah mengapa Roy bersikap sama. Roy tersenyum, seakan mengejekku dengan menyilangkan kedua tangannya di dada. Ada apa ini?
"Ha ... ha ... ha, Kiara ... Kiara. Kau benar-benar bodoh," ucap Maya yang membuatku semakin bingung lalu dia lanjut berkata, "Kau tahu! Roy sejak dulu adalah pacarku, dan dia mendekatimu karena Aku yang menyuruhnya."
Bak di sambar petir, aku mendengar kata-kata Maya. Aku sudah biasa dibohongi oleh Maya, tapi ini benar-benar keterlaluan.
"Kau bohong May! Roy ... tolonglah jawab aku, dia bohong 'kan Roy. Kamu bener-bener mencintaiku 'kan Roy," rengekku sambil berurai air mata.
Aku memeluk Roy, memohon agar yang kudengar dari Maya adalah kebohongan untuk menjatuhkanku, tapi Roy malah mendorong tubuhku kuat hingga aku tersungkur ke tanah. Aku melihat Roy memeluk Maya lalu mereka tertawa melihat betapa mengenaskannya keadaanku.
"Oh ya, kalau sampai Papa tahu berita ini, gimana ya? Papa 'kan punya penyakit jantung. Wah ... Aku kasih tahu Papa gak ya!" ancam Maya.
"Jangan May! Aku mohon. Jangan beritahu Papa tentang ini. Aku akan melakukan hal apapun, asalkan Kau jangan beritahu Papa," pintaku pada Maya, Aku bersujud di bawah kakinya agar dia tak memberitahukan pada Papa. Aku tak tahu lagi betapa bodohnya aku sampai terjebak dengan permainan busuk mereka.
Maya membungkukkan badannya kemudian berbisik, "Aku mau ... Kau aborsi dan pergi jauh dari sini atau lebih baik, Kau mati."
Maya tersenyum penuh kemenangan kemudian melemparkan sebuah kertas kecil padaku, lalu pergi bersama Roy meninggalkanku yang sudah hancur. Aku melihat kertas kecil itu, kartu nama sebuah klinik. Benarkah aku harus ke sini, lalu mengakhirinya.
Aku berdiri perlahan lalu berjalan membawa rasa sakit yang tak tertahan, kemana? Entahlah ... aku hanya ingin melangkah, terus melangkah tak ingin berhenti sampai raga ini seakan mati.
"Tuttttttt ...." bunyi klakson kereta api.
Bagiku itu adalah suara Ibu yang sedang memanggilku, mengajakku bersamanya menjadi penghuni surga, "Ibu ... aku datang, Bu." Aku memejamkan mata saat ibu sedekat ini dan ingin memelukku.
"Brugh ...." badanku terhempas ketika kereta api lewat, tapi mengapa aku tidak merasakan apa-apa.
"Hei, gadis gila! Kau mau mati ya!" bentak seseorang
Aku membuka mata, ternyata aku masih hidup. Huh ... ternyata mati tak segampang yang kupikirkan.
"Kenapa Kau menolongku, biarkan Aku mati. Gak ada gunanya Aku hidup, hiks ... hiks ...," tangisku pecah, dadaku seperti disayat pisau.
"Gadis bodoh! Memangnya bunuh diri bakalan masuk surga, yang ada tuh api neraka lagi manggil-manggil, habis tabrak kereta api badan lo berserak. Nah, malaikat tinggal barbequean di neraka, bikin sate tuh daging lo," ucapnya sukses membuat bulu kuduk berdiri.
"Kenapa?" dia bertanya padaku, namun aku hanya terdiam. Aku tak tahu apa yang harus kujawab pada orang asing.
Tanpa menunggu jawaban dariku, dia berjalan meninggalkanku.
"Hei, tunggu!" teriakku.
Dia berhenti lalu berbalik berjalan ke arahku, di ulurkan tangannya membantuku berdiri dari tempatku terjatuh tadi, dan aku menerima uluran tangannya.
"Namaku Bima Anugrah, Kau bisa memanggilku Bima. Boleh Aku tahu siapa dirimu gadis cantik tapi bodoh," sindirnya tapi itu sedikit menghiburku.
"Aku Kiara, maaf atas ucapanku tadi."
"Apa kau hamil?" Aku tersentak dengan pertanyaannya, bagaimana dia bisa tahu, apa dia punya mata batin, "Biasanya gadis bodoh selalu melakukan bunuh diri karena hamil di luar nikah terus cowoknya cemen gak mau tanggung jawab, benar 'kan?" lanjutnya.
Aku hanya terdiam menundukkan wajah karena semua yang dikatakannya benar. Aku memang bodoh.
"Apa kau pernah berpikir bahwa ada malaikat kecil yang berhak hidup, dengan bunuh diri apa semua selesai. C'mon girl, kau mati sia-sia bila lelaki brengsek itu bahagia. Apa Kau tak ingin balas dendam?"
Kata-katanya membuka pikiranku, benar ... ada malaikat kecil yang berhak hidup di rahimku. Mengapa aku ingin merampasnya, sungguh aku calon ibu yang tak berguna bukannya memperjuangkannya malah ingin membunuhnya. 'Oh ... Tuhan, maafkan atas dosa-dosaku.'
"Bima, terima kasih sudah menolongku. Aku akan berjuang demi anak ini, tapi untuk balas dendam kurasa aku belum memikirkanya. Pria brengsek itu adalah orang kuat, keluarganya kaya raya dan Maya ...." aku sempat berhenti berkata karena Maya adalah orang yang kejam, dia bisa berbuat apa saja. Aku takut sesuatu terjadi pada Papa.
"Aku akan membantumu," ucap Bima tegas.
Aku menelisik wajahnya, mengapa dia mau membantuku padahal kami baru saja bertemu.
"Aku akan membantumu asal Kau juga mau membantuku," lanjutnya.
"Caranya?" tanyaku. Jujur, aku tak tahu bantuan apa yang bisa ku berikan padanya. Aku tak punya apa-apa.
"Menikahlah denganku!"
Deg ... jantungku seakan berhenti. Menikah dengannya? Apa dia sudah gila.
"Besok adalah hari pernikahanku tapi sayang, calon istriku pergi dengan lelaki lain. Aku tak mau membuat malu keluarga, jadi besok Kau harus menikah denganku. Sebagai gantinya, Aku akan membantumu membalaskan dendam dan anakmu mendapatkan hak atas namaku dan harta warisku, bagaimana?" lanjutnya.
Oh, jadi ternyata dia juga ditinggal kekasihnya. Cukup menarik.
"Deal!" aku menjabat tangannya tanda kesepakatan.
****
Hari ini aku memakai pakaian pengantin, gaun putih yang sangat indah. Gaun yang kuimpikan sejak dulu, 'SAH' kata yang keluar dari penghulu kini membuatku menjadi seorang istri Bima Anugrah, seorang penyelamat yang dihadirkan oleh Tuhan.
Miris rasanya bila aku mengingat bahwa kemarin aku memohon pada Roy tapi dia malah menghianatiku dan menikah dengan Maya hari ini, sama dengan hari aku menikah dengan Bima.
Tamu yang hadir sangat banyak, sepertinya orang-orang besar. Pesta juga sangat meriah, sebenarnya siapa Bima, nampaknya dia bukan orang sembarangan.
Satu minggu berlalu, aku tinggal di sebuah penthouse yang sangat mewah tapi Bima tak pernah datang menemuiku, entah apa yang dilakukannya, aku tak tahu. Tiba-tiba sosoknya ada didepanku bersama seorang lelaki membawa tumpukan map ditangannya. Bima meletakkan map itu di hadapanku.
"Apa ini?" tanyaku.
"Hadiah pernikahan untukmu, bacalah!" jawabnya.
Aku mengambil sebuah map lalu aku membukanya, "Apa! ini 'kan perusahaan Papa, Kau?"
"Perusahaan Papamu bangkrut dan aku membeli 75 persen sahamnya. Kini, Kau adalah salah satu CEO di perusahanmu," jawabnya.
Ini benar-benar mustahil, bagaimana bisa? Aku memandang Bima, ternyata selain tampan dia juga pintar.
"Berhentilah mematapku, Aku tahu ... Kau sangat terpesona padaku tapi aku bukan lelaki gampangan," narsisnya Bima membuatku menjadi salah tingkah.
"Ayo, bersiaplah. Hari ini kita ke perusahaanmu dan membuat kejutan kecil," lanjut Bima.
****
Perusahaan sedang ramai menunggu CEO baru yang akan datang untuk menggantikan Bramantyo, karena keadaan perusahan yang sulit membuat Bramantyo sakit dan dirawat sehingga penyambutan CEO baru di hadiri oleh istrinya Desi beserta putrinya Maya.
Aku melangkah bersama Bima dan juga sekretarisnya, Galang. Semua karyawan menatapku berjalan, beberapa dari mereka sudah ada yang mengenalku karena ini bukan pertama kalinya aku menginjakkan kaki di perusahaan ini. Dulu aku sering di ajak Bunda untuk mengantar makan siang Papa, bayangan jelas terlintas di ingatanku bagaimana Papa bermesraan dengan tante Desi saat itu. Orang yang berhasil merebut Papa dariku juga Bunda hingga membuat Bunda meninggal.
Galang membuka pintu sebuah ruangan, di sana sudah berdiri wajah-wajah yang dulu sering menyiksaku. Dengan sedikit angkuh aku berjalan di belakang Bima. Terlihat ekspresi terkejut dari wajah mereka.
"Ehem ... Sebelumnya terima kasih kepada kalian semua yang sudah hadir pada rapat kali ini. Di sini Aku hanya ingin mengumumkan bahwa CEO perusahaan yang baru adalah KIARA NESSA BRAMANTYO." Bima mengucapkan namaku dengan lantang.
"Apa! Pak Bima, ma-maksud Pak Bima ... Kiara?" tanya tante Desi.
"Ya, Kiara. Istriku." Bima memperkenalkanku sebagai istrinya, sungguh ini membuatku tersenyum padanya.
"Kau! Dasar jal*ng pasti kau yang menyuruhnya melakukan ini pada kami 'kan!" teriak tante Desi, "Plak ..." sebuah tamparan keras mendarat di pipiku hingga membekas merah.
"Plak ...." Aku membalas tamparannya entah keberanian darimana dengan refleks aku menampar tante Desi, "Kau, beraninya Kau menamparku. Kau tahu semua yang Kau lakukan padaku selalu kuingat, dan sekarang aku tak akan segan lagi. Sebagai CEO aku ingin tahu semua pengeluaran perusahan. Aku tak akan segan bila ada yang melakukan penyelewengan, maka bersiaplah." Aku menatap kedua mata tante Desi dengan tajam.
"Kiara! jangan Kau pikir Kau bisa menang. Dengar! Jika aku beritahu Roy, dia pasti akan membalasmu. Lihat saja nanti!" ancam Maya.
Mereka berdua pergi meninggalkan ruangan, aku duduk di kursi sambil memejamkan mata, tubuhku lemas, entahlah keberanian darimana tadi.
"Kau hebat Kiara," ucap Bima menggenggam tanganku, "Kita lihat bagaimana satu per satu kehancuran mereka," lanjutnya.
"Bim, Kau tidak tahu siapa Roy. Dia sangat licik," Aku takut sesuatu terjadi karena aku sangat mengenal Roy.
"Kau tidak tahu siapa suamimu Kiara,"
Ya, aku memang belum mengenal siapa dirimu, Bima Anugrah.
****
Keesokan harinya aku harus ke dokter kandungan, Bima memaksaku untuk cek kehamilan. Aku mengendarai sendiri mobil ke Rumah Sakit karena nanti kami bertemu di sana.
Awalnya aku biasa saja, tapi saat menuju belokan di jalan yang tampak sepi, sebuah truk besar mealaju kencang. Aku sedikit menepi untuk memberinya jalan, tapi tiba-tiba truk itu dengan cepat menabrak mobilku hingga mobil menabrak pembatas jalan. Semuanya terjadi begitu cepat, aku merasa badanku sakit dan ada bayak darah hingga kepala terasa berat dan gelap.
Akibat kecelakaan itu aku harus kehilangan bayiku, Oh ... Tuhan maafkan aku yang tak bisa menjagamu, Nak. Berhari-hari aku menangis tak ingin makan atau minum, sungguh menyedihkan. Bima setiap hari datang menemuiku, menghiburku, dan memberikan perhatian. Akan tetapi aku belum bisa melupakan kejadian itu.
Tengah malam tiba-tiba Bima membangunkanku lalu membawaku ke dalam mobil. Aku bertanya padanya, "Bima, kita mau kemana?" tapi dia hanya diam saja.
Mobil berjalan sangat jauh meninggalkan kota dan memasuki sebuah hutan yang sangat terpencil, hingga berhenti di sebuah pondok kayu. Bima mengajakku turun dan memasuki pondok. Hawa dingin terasa di tengkukku, 'tempat apa ini' pikirku.
Ada beberapa orang berbadan tegap lengkap dengan senjata api mengeliling dua orang yang sedang duduk di atas kursi kayu, mulut dan tangan mereka terikat, badannya juga penuh luka. Kuperhatikan wajahnya secara detail, 'Oh ... Tuhan' aku menutup mulutku dan beralih menatap Bima. Malam ini Bima terasa berbeda, terlihat sangar dan dingin.
"Buka mulut mereka," ucap Bima pada anak buahnya.
"Kiara, aku mohon lepaskan aku bukan aku yang melakukannya, semua ini ide Maya," ucap Roy.
"Hei, kenapa Kau menuduhku. Kau sendiri yang melakukannya," elak Maya.
Aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, aku melihat Bima untuk meminta penjelasan.
"Mereka yang menabrak mobilmu," ucap Bima, seperti disambar petir rasanya, ini benar-benar tak bisa dimaafkan.
Dadaku terasa sesak penuh emosi, kilatan amarah seakan memuncah, seperti kesetanan aku mengambil pistol dari orang di sampingku dan kutembakkan pada Roy juga Maya secara membabi buta sampai pelurunya habis.
"Dor ... dor ... dor ...dor."
Kakiku lemas tak menyangka mereka sekejam itu, aku menangis lalu berteriak,"Aaarggghhh ...." Bima menghampiriku dan memelukku erat.
Sejak saat itu aku tak punya siapa-siapa yang kupercaya selain Bima. Aku memutuskan akan mencintai Bima selamanya. ❤❤❤