Malam yang gelap. Sunyi tanpa sinar rembulan. Wahai Sang Bulan dimanakah dirimu. Mengapa malam ini aku tidak bisa melihat wajah mu yang bersinar terang itu?
Angin malam bertiup dari utara. Malam ini angin bertiup dari arah utara, tidak seperti dahulu yang bertiup dari arah selatan.
Kenapa kau berasal dari dataran utara, bukankah dulu kau menemani setiap malamku dari arah selatan?
Su Ling Hua tengah duduk melamun di depan jendela kamarnya. Dia memandang ke atas langit yang gelap gulita.
Saat ini para Tuan Bintang tidak muncul untuk menyapa ku. Mungkin kah para Tuan Bintang marah kepada ku, karena kemarin aku tidak menyapa mereka?
Termenung gadis belia 20 tahun ini di depan jendela kamarnya. Wajahnya yang ayu tertutup tipis rambut panjang nya. Poni tebal menutupi dahinya yang lebar.
Pakaian berbahan sutra berwarna merah menutupi seluruh tubuh yang mu gil itu.
Su Ling Hua adalah salah satu murid di perguruan persilatan Wu Dang. Dia meurid yang terkenal dan cukup pintar diantara murid-murid yang lain.
Sekarang sudah hampir tengah malam. Memang sudah menjadi kewajiban dari murid bermarga Su ini, berdiri termenung di depan jendela.
Namun, sebelum dia hendak pergi tidur. Tiba-tiba Su Ling Hua di kejutkan dengan sesuatu yang sedang berlari cepat diatas atap salah satu kamar.
Tuk! Tuk! berlari cepat tanpa hambatan diatas atap sana.
Su Ling Hua melihat sosok aneh yang berpakaian hitam itu. Terlihat orang itu berlari sambil memegang sesuatu di tangan kanannya.
"Siapa itu?" teriang Su Ling Hua.
Su Ling Hua menaruh curiga dan was-was kepada sosok misterius tersebut. Karena tidak ingin sesuatu terjadi pada perguruan ini, Su Ling Hua pun memberanikan diri untuk mengejar sosok misterius tersebut.
Hub!
Su Ling Hua meloncat saja langsung dari dalam kamarnya itu. Dia segera melayang ringan di udara untuk mengejar sosok misterius tersebut.
Tek! Tek! Ling Hua berlari tanpa hambatan diatas atap.
Dia pergi mengikuti kemana sosok misterius tersebut pergi. Lajunya sangat cepat, tanpa rasa takut Su Ling Hua pun melangkah saja diatas sana.
Sampai lah di ujung perbatasan menuju gerbang utama perguruan. Jika sosok itu berlanjut meloncati gerbang utama itu, maka dia akan lolos dari kejaran Su Ling Hua, dan berhasil membawa sebuah kitab pusaka yang di curinya tadi.
Sosok hitam yang memakai kain hitam di wajah nya itu, menoleh dan melihat-lihat ke sekitar perguruan.
Dia tahu bahwa sejak tadi dirinya di kejar-kejar oleh murid Wu Dang, tapi mengapa sekarang yang mengejar dirinya itu tidak kunjung datang?
Kemana Su Ling Hua tadi? Bukankah tadi dia sangat bersemangat untuk mengejar sosok yang bercadar hitam tersebut?
...
"Yaaa! teriakan keras terdengar.
Dari udara, dengan latar belakang bulan sabit. Su Ling Hua berteriak. Dia yang menggenggam sebuah pedang pun mengayunkannya dengan cepat kearah sosok misterius tersebut.
" Cling! " beradu kedua pedang.
Ternyata makhluk bercadar ini sudah tahu bahwa Su Ling Hua akan datang, dan membuat serangan mendadak dari udara.
Kedua orang yang sama-sama seorang pendekar ini saling menatap satu sama lain. Tatapan itu sangat serius dan banyak menyiratkan banyak arti. Bahwa mereka saling menaruh dendam satu sama lain.
Dengan kedua pedang mereka yang saling beradu. Mereka tidak ingin saling mengalah. Dan ingin menunjukan kekuatan terhebat mereka masing-masing.
"Siapa kau? ...
"Kitab apa yang ada ditangan mu itu? Apa kau mencurinya dari perpustakan Wu Dang?" tanya Su Ling Hua dengan ketus.
Het! bergeser kedua pedang yang sedang beradu itu kearah bawah.
Ling Hua mengikuti setiap gerakan perlawanan dari sosok misterius yang ada di hadapan nya tersebut.
Tatapan panas Ling Hua tidak ingin lepas dari sorot mata berwarna hijau tersebut. Su Ling Hua tidak mau kalau pencuri kitab ini lolos dari dirinya.
Maka dari itu Su Ling Hua sangat menjaga ketat setiap pergerakan dari sosok misterius yang memiliki postur tutuh gagah tersebut.
"Ini adalah milik ku. Kitab sakti ini milik perguruan ku!" jawab Si Hitam bercadar ini.
Kata-katanya terpatah karena cadar ditam yang yang menutupi mulutnya. Suara lembut terdengar dari balik cadar hitam transparan itu.
Su Ling Hua mungkin tidak mengenal sosok ini, tetapi sosok yang ada di balik cadar hitam tersebut tahu siapa Su Ling Hua itu.
"Jangan coba-coba kau mengakuinya..." ketus Su Ling Hua, untuk menggambarkan kemarahan nya itu.
" Kau tidak berhak memiliki kitab ini. Kitab ini milik perguruan ku, bukan milik perguruan siapa pun!" lanjut tegas Ling Hua.
Tiba-tiba Raut wajahnya berubah lagi. Sebelumnya Su Ling Hua sudah terlihat marah, tapi sekarang dia semakin marah dan cenderung kelabu.
Ssst! terlepas kedua pedang ini.
Keduanya saling terpisah. Ling Hua mundur beberapa langkah kebelakang, dan begitu pula dengan Sang cadar hitam itu yang juga melangkah mundur kebelakang.
Apa yang akan di lakukan selanjutnya? Mungkin kah akan terjadi pertarungan?
...
Mata indah yang berwarna hitam berubah menjadi merah menyala, menyorot tajam kepada pencuri kitab bercadar itu. Ling Hua sudah sangat geram, dia tidak ingin berlama-lama memberi kesempatan kepada orang itu untuk bernafas lebih lama lagi.
"Serahkan kitab itu kepada ku! Kau tidak berhak memiliki kitab pusaka itu... Kembali kan kitab itu baik-baik kepada ku," kata lanjut Su Ling Hua, sambil tangan kirinya meminta dengan baik-baik kitab perguruan nya itu.
"Hm...Lewati dulu mayat ku! Setelah itu baru kau bisa memiliki kitab sakit ini kembali." jawab cadar hitam.
Sosok ini berbalik menantang Su Ling Hua. Dia tidak sedikit pun menaruh takut kepada murid wanita Wu Dang ini. Dan sebaliknya dia lebih memilih untuk menjajal kehebatan dari Su Ling Hua tersebut.
"Jadi... Kau menantang ku, pencuri kitab!" marah semakin meledak kepala Ling Hua ketika mendengar bahwa dirinya di tantang untuk bertarung satu lawan satu.
"Baiklah. Aku akan merebut kembali kitab itu...
" Dan aku akan membuatmu menyesali keputusan mu ini!" tuntas Su Ling Hua.
Seriusnya Su Ling Hua bertutur. Dia tidak akan diam saja jika ada yang ingin mengajaknya bertarung, terutama orang yang akan di lawannya itu adalah seorang pencuri kitab.
Pergelangan tangan masing-masing di perkuat. Ssst! Ling Hua mengekuarkan pedangnya yang lain. Yang sebelumnya berada di sabuk pinggang kirinya.
Di simpan dahulu kitab sakti kedalam pakaian nya. Sosok ini menguatkan Kuda-kuda nya. Genggaman tangan pun telah erat pada pedang nya.
Posisi siap bertarung sudah diancang-ancang. Musuh sudah berada di hadapan mata. Kemarahan akan segera meledak. Emosi telah berada di ujung kepala, dan sekarang tunggu apa lagi.
Siaplah bertarung.