Ada sebuah tempat yang tidak pernah ada yang tahu nama yang pantas untuk tempat itu. Kalian bisa menemukan sepasang bayangan yang sering dianggap tabu secara logis atau secara umum. Ketiadaan dan benda yang berjiwa murni.
"Sudah kubilang aku takkan pernah mendengar apapun yang kau katakan!" Benda tersebut berteriak dan dengan suaranya yang tegas bisa membuat siapa saja mengalah atau bisa jadi ketakutan.
"Apa itu penting untuk dibicarakan? Dengar. Kita disini bukan untuk apa-apa, lantas apakah kau itu berguna bagi orang lain?" Dengan suara kesombongan dan nada merendahkannya itu dapat terdengar seperti suara memuakkan bagi siapa saja.
"Lalu apa kau sendiri berguna?! Aku sudah bilang aku ini lebih penting darimu! Jangan pernah meremehkan ku lagi!" Sikap yang tidak bisa disetujui oleh si ketiadaan.
"Tentu saja aku berguna! Apa yang kau pikirkan selama ini?! Kau tidak pernah melihat sudut pandang orang lain! Kau harusnya belajar!" Sekarang si ketiadaan lah yang mulai berteriak.
"Lalu apa yang harus aku lakukan untuk keluar dari tempat tanpa nama ini?! Mendengar kebohongan mu saja membuatku yakin kau juga tidak bisa keluar!"
"Aku sudah bekerjasama denganmu! Hanya saja kau tidak mendengar perkataan ku dengan baik! Harusnya kau tahu itu!"
"Yang aku inginkan hanyalah keluar dari sini dan tidak mendengar kebohongan!"
Benda itu mulai memukul dan menggali apa saja yang menurutnya bisa mengeluarkan dirinya dari tempat itu.
"Jiwa kesombongan. Rendah hati yang kotor tidak layak digunakan." Gumam si ketiadaan.
"Apa kau bilang?!" Tentu hal itu dapat didengar hanya mereka berdua. Dia lalu menghentikan aktivitasnya dan berbalik menghadap si ketiadaan.
"Aku bilang, jiwa kesombongan. Rendah hati yang kotor tidak layak digunakan! Sudah kubilang berkali-kali! Apa kau tuli?! Aku mengatakan ini saat tiga menit yang lalu!"
"Lantas jika aku tuli, apa kau juga tuli?" Sekarang nada merendahkan itu berbalik ke benda yang berjiwa murni itu.
"Apa?!" Nada yang dikeluarkan cukup tinggi.
"Ya! Aku sudah bilang, berlagak seperti orang yang mengetahui segalanya dan pembohong dari kalangan sampah! Aku mencoba mempercayai dan hasilnya...! Aku tidak keluar dari arah manapun!"
"Kau bodoh dalam berkata dan berlagak naif saat pertama kali bertemu. Apa itu tidak disebut sebagai sampah?"
"Kau...!" Lalu dia melayangkan tamparan di wajahnya. Namun sayangnya itu dicegah dengan cepat oleh si ketiadaan.
"Apa kau tidak sadar semua ini perumpamaan? Apa kau sekarang menjadi lebih bodoh saat aku berkata bahwa kau itu bodoh? Coba katakan padaku,"
Dia melepaskan tangannya dan melanjutkan pembicaraannya.
"Seharusnya ini disebut sebagai perumpamaan yang manis dan kesialan yang paling menarik perhatian pandangan iblis." Si ketiadaan mulai menurunkan nadanya menjadi sedikit lebih tenang.
"Hah! Ini pantas disebut sebagai hukuman! Hukuman yang pantas bagimu yang tidak tahu apapun!"
"Ingat~ Kau juga masih ada disini. Artinya kita sama. Lalu apa salahku jika aku mendapat hukuman? Apa yang telah aku lakukan sampai hukuman manis ini diberikan padaku?"
Pertanyaan itu membuat benda berjiwa murni kebingungan. Membuatnya berpikir keras dan frustasi. Dia tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Tanyakan padamu sendiri!" Putusnya mengusulkan tersebut.
"Hah... Sudah aku bilang ini seperti labirin pikiran kita sendiri. Kau tidak pernah mendengar. Kita mungkin telah melakukan sesuatu yang diluar dugaan. Sampai kita berjumpa disini." Si ketiadaan menghela nafas panjang dan mulai duduk sila membelakangi benda itu.
"Memangnya apa salahku? Aku hanya tidak tahu orang-orang yang aku tolong mengkhianati ku sampai aku hampir bunuh diri! Apa aku terlalu banyak menyimpan rahasia? Memang apa pentingnya aku membongkar rahasia ku?!" Benda berjiwa murni itu ikut duduk membelakanginya.
"Apa yang kau lakukan tidak salah. Tapi berapa kali kau melakukan kebaikan pada mereka?" Dia mulai bertanya dengan perasaan iba.
"Aku sudah melakukan itu selama 10 kali terlahir kembali. Apa itu tidak masuk akal?"
"Tentu saja itu tidak masuk akal! Bisa-bisanya kau melakukan hal itu! Aku saja jika terlahir kembali tentu akan membalaskan dendam pada orang yang telah menyakiti barang atau tubuh dan jiwaku! Itulah yang namanya naif dan kepolosan. Sementara kesombongan... Kau terlalu memandang tinggi kebiasaan polos mu itu." Itu membuat mereka terdiam sejenak.
Suasana menjadi hening. Akhirnya benda berjiwa murni itu mengerti perkataan yang dia anggap sebuah kebohongan itu memiliki arti yang berbeda. Dan untuk si ketiadaan, dia mengerti betapa menyakitkannya kehidupan yang benda itu miliki.
"Kau sendiri? Telah melakukan kesalahan seperti itu maka kau dikirim ke sini?"
"Tidak tentu saja bukan!"
"Lalu?"
"Itu karna aku... Hanya ingin memberitahukan sebuah takdir dengan teka-teki yang mudah dipecahkan! Dan kau tahu pasti seperti apa rasanya teka-teki itu. Dan ini karna kau pemula."
"Ya, ya. Aku memang bodoh... Tunggu, hanya itu saja?!"
"Lalu aku harus cerita apa?"
Mereka mulai berbincang-bincang tentang kehidupan mereka yang cukup ironis. Mereka hanya berada di sana selama dua setengah jam untuk mengerti satu sama lain dan menjadi akrab. Adanya perselisihan tadi itu karena benda berjiwa murni tahu bahwa rumor mengatakan dia seorang sampah yang tahu segalanya. Dan itu pasti sudah diketahui oleh si ketiadaan.
"Sebenarnya kau siapa? Jika selama ini kau dipanggil ketiadaan, kau ini bukankah tidak terwujud dan tidak ada?"
"Kau memang benar. Tapi kau bisa menganggap aku hanyalah kumpulan ketiadaan yang memberi teka-teki pada orang hebat. Sayangnya mereka tidak hebat dalam memecah teka-teki yang aku berikan."
"Yah, mereka hampir sama sepertiku. Hanya memperoleh pujian dengan sesuatu yang tidak disangka dan menjadikan pujian itu sebagai tempurung kura-kura mereka untuk melindungi mereka dari berbagai masalah."
"Tidak, kau tidak sama. Mereka tahu cara memanfaatkan apa yang mereka miliki baik dari sudut pandang iblis atau hal yang positif. Tapi kau? Pfft... Kau hanya tidak pernah belajar dengan baik apa yang harus kau miliki dan gunakan dalam sudut pandang manapun. Bisa dibilang seri atau seimbang. Kau rugi dan kau juga untung. Apalagi 10 kali terlahir kembali? khukuku... haha..." Tawa yang terbahak-bahak itu membuatnya merasa sangat jengkel.
"Ya! Jika kau kumpulan ketiadaan, itu berarti kau itu ilusi!" Ejeknya yang sangat tepat sesuai fakta.
"Dan jika kau terlahir kembali, kau pasti akan berbuat seperti itu lagi." Dan niat dari benda berjiwa murni itu mudah sekali ditebak oleh si ketiadaan.
"Tunggu, jika aku seperti itu... Tidak mungkin aku ada bukan? Maksudku, tidak mungkin ada mahluk hidup yang seperti diriku. Atau bahkan aku ini tidak ada selama ini."
"Jadi sekarang, apa kau sudah mengerti?"
Mereka seperti termenung untuk waktu yang cukup lama. Dan akhirnya mereka menemukan jalan keluar mereka sendiri. Dan sadar akan siapa mereka sendiri. Mereka cukup muak untuk tinggal sangat lama di sana. Dan tentunya mereka memutuskan untuk mengetahui siapa mereka sebenarnya.
"Jadi aku dan kau adalah ilusi." Ucap mereka bersamaan.
Si ketiadaan menghela nafas dan benda berjiwa murni hanya tersenyum.
Senyuman terakhir dari benda berjiwa murni dan si ketiadaan yang menghela nafas pun itu untuk terakhir kalinya.
Ruangan itu mulai terlihat seperti akan retak dan hancur lebur. Sementara wujud mereka pudar dan berpisah layaknya partikel meninggalkan tempat mereka berasal.
"Hei, sampai jumpa." Ucap benda berjiwa murni itu.
"Jangan ucapkan 'sampai jumpa', tapi ucapkan 'selamat tinggal'. Aku tidak ingin kita bertemu disini lagi."
"Baiklah! Selamat tinggal, hitam!" Katanya dengan senyuman terakhirnya.
"Selamat tinggal juga, putih!" Ucap si ketiadaan dengan nada tidak rela.
Mereka tahu bahwa mereka itu bukanlah apa-apa. Tapi mereka hanya tahu tiga hal. Satu, mereka disatukan oleh cinta, sakit dan makna. Dua, mereka mengerti satu sama lain. Tiga, mereka tahu mereka itu ilusi. Lantas apa kalian tahu jati diri kalian?
~Sekian terimakasih sudah membaca ^^