Di malam pernikahan mantan pacar, aku hamil. Ya, aku hamil anak dari seorang pria yang saat ini sedang mencium lembut kening wanitanya di atas pelaminan. Mereka berdiri gagah dan anggun, menjelma bak Raja dan Ratu sehari.
Kulihat senyum bahagia keduanya terpancar di sana. Senyum tulus seolah tak ada sedikit pun kemunafikan. Seolah tak ada kecacatan dalam kenyataan yang sedang mereka hadapi.
Sesaat hati ini sakit. Netraku berkaca, mengaburkan pemandangan indah yang begitu menusuk mata.
Detik berikutnya, aku sudah tak tahan lagi. Bulir kesedihan telah luruh begitu saja. Kuseka dan kuputuskan untuk pergi. Meninggalkan kerumunan yang terus saja menyorot keduanya.
Sesak ... aku sungguh sesak.
...
Satu bulan yang lalu, kenyataan pahit baru saja kuterima. Kabar yang seharusnya membawa decak bahagia justru menjadi luka karena datang di saat yang bukan semestinya.
Dua garis merah samar tercetak pada alat tes kehamilan yang ku beli secara sembunyi-sembunyi. Derai air mata langsung membasahi pipiku. Takut, kalut, dan segala jenis perasaan buruk mengikis diriku. Dengan raut masam penuh penyesalan, tubuhku berangsur jatuh, lalu berakhir tersungkur di lantai. Aku terisak tak berdaya dengan suara tertahan.
Dalam kegalauan, muncul wajah ayah dan ibu yang menahan sendu ketika melepasku bekerja di kota perantauan ini. Segala nasihat baik terlontar saat itu. Tapi kini aku membuktikan bahwa aku tidak sekalipun menuruti perintah mereka.
Ibu, ayah, maaf!
Hari berikutnya, kuputuskan pergi ke sebuah rumah sakit yang jauh dari tempat asalku. Semua itu kulakukan untuk menghindari pertemuan dengan orang yang kukenal. Aku, yang baru 23 tahun, terbilang awam untuk datang menemui seorang dokter kandungan. Ditambah dengan ketiadaan pendamping, membuatku gugup menghadapi pertanyaan dokter nantinya.
"Ibu Diandra Safitri. Dua puluh tiga tahun, benar?" tanya dokter yang menangani saat itu.
"Iya, Dokter," jawabku singkat.
Berbagai pertanyaan diajukan. Hingga pemeriksaan USG dini pun dilakukan untuk memantau perkembangan janin tak diharapkan ini.
"Berdasar HPHT kandungan Ibu Diandra sudah memasuki 9 minggu 2 hari. Tapi pada hasil USG menunjukkan usia janin 8 minggu 6 hari. Normalnya HPHT dan hasil USG harusnya sama, tapi jangan terlalu dikhawatirkan. Selisih 3 hari tidak terlalu jauh. Tapi juga jangan dianggap sepele. Tolong lebih diperhatikan lagi nutrisinya agar janin bisa berkembang lebih baik." Begitulah ucapan panjang dokter yang sama sekali tak ku mengerti.
"Jadi, apa kandungan saya sehat, Dok?" tanyaku menuntut kepastian.
"Sehat. Detak jantung janinnya sudah ada, tapi nutrisinya harus diperhatikan lagi ya, dan jauhi stress berlebih." Sebuah jawaban yang membuatku justru tak senang. Aku pun hanya mengangguk dan tersenyum getir saat menerima resep obat yang harus kutebus.
Langkahku gontai. Bingung antara harus menebus deretan resep obat yang tak kupahami isinya, atau harus ku abaikan saja. Toh, ini bukan sesuatu yang kuharapkan. Merawatnya menjadi lebih baik justru akan menjadi duri di hidupku.
Namun, ini juga bukan salah makhluk kecil yang bersemayan di rahimku. Tak adil jika aku justru menghukumnya dengan membiarkan dia berjuang sendiri. Rasa iba tiba-tiba menggerogoti, mungkin inilah ikatan batin antara ibu dan anak. Akhirnya ku putuskan untuk menebus resep obat tersebut.
Tak ingin menanggung semuanya sendiri, aku menyampaikan kabar ini pada Pram, pria yang membuatku mengandung. Meski hubungan kami dulu hanya sebatas pelampiasan belaka baginya, namun berarti bagiku.
Tanpa diduga, Pram membalasnya santai. Ia bahkan menunjuk suatu lokasi untuk kami bertemu. Tanpa tawar menawar, akupun menyetujui sarannya dan langsung pergi menuju lokasi tersebut.
"Berapa bulan?" tanyanya datar. Raut tak bersalah nyata kulihat. Bodohnya aku telah luluh padanya saat itu.
"Dua bulan. Kau harus bertanggung jawab, Pram!" tekanku lugas. Netraku mulai terasa panas dan berkaca-kaca.
"Huft!" Pria itu menghembus napasnya kasar. Ia membenarkan posisi duduknya dan menatapku dalam. "Di, begini saja, kau rawat janin itu sendiri dan aku akan menjamin hidup kalian dengan mentransfer uang bulanan. Asal kau ... mampu menjaga rahasia dan nama baikku. Atau kau ingin melakukan a-bor ...." Kata-kata Pram tercekat saat mendapat sorotan tajam dariku. Mengetahui maksud kata yang tak usai dari mulutnya, aku sudah mengetahui ketidakbersediaan lelaki ini.
"Tidak. Aku tidak akan menyakiti bayi tak berdosa ini. Kau laki-laki kep*arat, Pram! Baj*ingan! Sampai kapanpun kau tak akan layak dipanggil Ayah." Aku menagis dan reflek menumpahkan minuman ke bajunya. Pram tak melakukan perlawanan apapun yang membuatku semakin jengkel.
"Aku ngak mungkin menikah dengan mu, Diandra. Aku seorang bos. Dan aku layak mencari yang sepadan denganku," tekan Pram sembari menahan tanganku, berusaha mencegahku kabur sebelum mendengar lengkap keinginannya. "Tolong jangan merusak reputasiku. Lalu aku tidak akan melakukan kekerasan pada kalian berdua," ancamnya dibalut dengan kata-katanya yang lembut. Aku tercekat seketika. Aku tak ingin mati mengenaskan di kota orang.
Sejak saat itu aku memutuskan diam. Menyimpan semua kebenaran di dalam lubuk hati yang terdalam. Berusaha menerima meski rasanya ingin berteriak lantang dan mengumpat kejam.
Hingga satu bulan berlalu, kini aku menyaksikan Pram bersanding dengan wanita lain. Mereka tampak bahagia dalam acara pernikahan yang sedang berlangsung.
Tak sanggup lagi berada lebih lama, aku memutuskan pergi. Dengan sekuat tenaga aku berlari. Hingga aku melupakan, bahwa di rahimku ada makhluk kecil yang hidup dengan mengandalkan kehati-hatianku.
...
Aku telah kembali ke kampung halamanku setelah menyaksikan pernikahan Pram tujuh tahun lalu. Kini aku telah bersuami, tepatnya sejak dua tahun aku menetap disini. Namun, sekarang aku harus ikut pergi ke luar kota tempat suamiku berdinas. Sekaligus kota yang menyimpan kenangan pahitku bersama Pram.
"Sayang, kau baik-baik saja kan?" tanya Mas Aris memastikan di sela atensinya yang tetap terpaku ke arah jalan. Mungkin sekilas dia menyadari ketegangan di wajahku.
"Aku baik-baik saja, Mas." Seutas senyum menyimpul bibirku. Berusaha menyembunyikan kekhawatiran yang tiba-tiba tak bisa kutepis.
Sebuah ketakutan muncul, mengingat kemungkinan aku bisa bertemu Pram di kota ini. Namun melihat pria yang sedang duduk mengemudi di sebelahku, aku merasa tenang. Jauh melampaui kata amat sangat tenang.
Sebelum bersedia dipersunting, secara pribadi tentu aku membuka kebenaran diriku. Membeberkan aib yang justru sampai saat ini tak diketahui oleh orang lain maupun orang tuaku sendiri. Aku tak ingin menjalani hubungan dengan banyak fakta besar tersembunyi. Aku tak ingin memikul beban besar di samping beban-beban penting di kemudian hari.
Tentu, rasa kecewa dan tak menyangka jelas terlihat dari kebisuannya yang begitu lama. Namun tanpa kuduga, Mas Aris lantas memaafkan dengan lapang. Menerima segala kesalahanku yang telah menjadi kisah masa lalu. Bahkan rasanya, kini aku sangat bersyukur karena saat itu Pram menolak bersedia menikahiku.
"Sayang, kamu lapar gak? Kita cari rumah makan dulu ya." Memang sangat beruntung aku dipertemukan dengannya. Bahkan dia tau aku sangat lapar sebelum mengatakannya.
"Iya, Mas, aku lapar. Lebih baik kita makan dulu," ucapku menyetujui.
"Bunda ... Bunda, Devan nanti mau makan ayam goreng upin-ipin ya. Soalnya Devan suka." celotehnya berusaha mengingatkanku akan makanan favoritnya yang berawal dari tontonannya di rumah. Aku pun mengusap rambutnya gemas.
"Oke jagoan Bunda, Devan boleh makan ayam goreng upin-ipin."
"Yeee! Asikk!" Devan berteriak girang. Mas Aris pun mencubit gemas pipi chubby bocah di pangkuanku ini.
Setelah beberapa saat, kami memutuskan berhenti di sebuah rumah makan. Beberaa saat setelah menunngu, semua menu pesanan telah terhidang di meja. Devan melahap paha ayam kesukaannya. Begitupun aku dan Mas Aris.
"Sayang, aku ke toilet dulu. Kamu mau sekalian ke toilet juga gak?" tanya Mas Aris setelah menghabiskan santapannya.
"Nanti aja, Mas. Kamu duluan aja. Aku sekalian nunggu Devan selesai makan dulu." Aku menatap bocah bulat di sebelahku. Dia tampak tak terganggu dengan pembicaraan kami. Devan terus saja mengunyah paha ayam di tangannya.
"Yasudah, tunggu ya. Aku ke toilet sebentar." Aku mengangguk mengiyakan ucapan Mas Aris.
Aku sibuk menyeka kedua sudut bibir Devan yang penuh sisa makanan. Kedua belah pipinya yang chubby membuatku ingin selalu mencubitnya.
"Diandra?"
Suara itu. Suara yang sangat familiar di telingaku. Suara yang sama persis dengan suara seseorang yang melontar ucapan tak bertanggung jawabnya beberapa tahun lalu.
"Pram!" Netraku membelalak sempurna. Tak kusangka, apa yang ku khawatirkan sejak awal terjadi begitu cepat. "Untuk apa kau kesini?"
"Diandra, apa ini anak kita?" Pram menatap Devan dengan binar penuh harap. Menyadari hal itu Devan melepas paha ayam di tangannya dan merangkul lenganku takut.
"Bukan! Anakmu sudah mati!" Ketusku dengan penuh emosi. Seketika, seluruh pengunjung menatap kami sebagai pusat perhatian.
"Diandra, Aku minta maaf. Aku salah telah menyia-nyiakan kau dan anak kita." Aku mendekap Devan dan menjauhkannya dari Pram yang berusaha menyentuh putraku.
"Jangan sentuh. Dia bukan putramu!" teriakku kencang.
"Diandra, aku menyesal menyia-nyiakan kau dan putra kita. Sekarang aku belum memiliki keturunan. Bahkan mungkin tak akan bisa karena istriku mandul. Perkataanmu benar terjadi ... aku tak layak dipanggil Ayah. Selamanya tak akan ada yang memanggilku Ayah. Tapi, ijinkan aku memeluk putraku sekali ini saja."
Aku terpaku mendengar ucapan Pram yang memohon sembari berlinang air mata. Ada rasa bersalah mengingat kemarahan yang terlontar begitu saja. Dan tanpa sadar menjadi sebuah petaka nyata untuknya yang tak pernah ku pikirkan sekalipun.
Benarkah ini?
Tuhan, berdosakah aku?
"Ayah!" Devan melepaskan dirinya dari pelukanku dan menghambur ke arah Mas Aris.
Melihat sorot matanya yang mengandung emosi, kupikir Mas Aris sudah mengerti apa yang telah terjadi. "Dia memang bukan putramu, Pak Pram. Jika saja putramu masih hidup, usianya sudah lebih besar dua tahun dari putraku. Masalah ini saja kau tidak paham, masih mau menganggap putraku ini sebagai putramu?"
"Ap-apa maksudnya? Putraku ... tidak hidup?" Pram tercekat. Kini harapan di matanya surut, berganti pertanyaan yang semakin jauh terbesit. "Diandra ...."
Ingatanku berputar. Sakit rasanya saat mengingat hari dimana aku harus kehilangan anak yang kukandung pertama kali. Saat aku berlari meninggalkan lokasi pernikahan Pram dan istrinya tujuh tahun lalu, aku berlari tanpa peduli situasi. Hingga sebuah kecelakaan terjadi dan membuatku harus mengalami keguguran. Aku kehilangan janinku yang baru berusia tiga bulan.
"Kau sudah menolaknya sejak awal. Jadi kau tidak perlu lagi menanyakannya." Kuseka bulir-bulir air mata di pipiku. Bahkan rasanya muak saat menatap wajah pria menyedihkan di hadapanku.
Aku dan Mas Aris beserta Devan meninggalkan Pram yang terduduk lemas. Tak bisa kupungkiri, hatiku masih terlampau sakit. Bukan karena penolakan Pram saat itu, tapi saat dimana aku menggengam janin seukuran ibu jari yang gagal bertahan dalam rahimku.
Mungkin ada kalanya aku bersyukur atas situasi tujuh tahun lalu. Mungkin saja Tuhan masih mengasihaniku. Tuhan tak ingin melihatku menderita seorang diri. Atau, mungkin saja memang aku tak layak menjadi ibu dari janin malang itu.
"Maafkan aku, Mas Aris. Aku bukan wanita baik." ucapku yang masih terisak di dalam mobil.
"Tidak papa, Sayang. Semua manusia memiliki masa lalunya sendiri. Dan aku sudah menerima masa lalu mu." Mas Aris mengecup kepalaku lembut, sembari mendekap Devan yang masih syok atas kejadian tadi.
Kupikir, sejak hari itu tak akan ada takdir baik melingkupi. Ku pikir nasib buruk akan menjadi ekor dari kesalahan fatal yang kulakukan di masa lalu. Kesalahan dari buah nafsu masa muda. Masa dimana aku, dan mungkin segelintir dari mereka di luar sana juga labil dan mudah tergoyahkan.
Jika waktu bisa berputar kembali, aku akan lebih menjaga diriku. Menjunjung kehormatanku. Menjaga nama baik keluargaku. Tidak terbuai nafsu dan abai pada akal sehat.
Tetapi, Tuhan sungguh Maha Pemurah. Dia masih memberiku pendamping terbaik dari yang terbaik. Dan melengkapi keluarga kecilku dengan hadirnya malaikat kecil kami.
Terimakasih Tuhan.
Dan maafkan aku.
-TAMAT-