'Sudah ada sebelum waktu kita lahir'
'Segalanya terlupakan'
'Kebohongan jadi kebenaran'
'Waktu seperti sungai yang deras'
'Tak ada yang akan terlewatkan'
'Dia menunggu lama'
'Dalam pakaian yang serba putih'
'Seperti ditakdirkan beristirahat berhias kain putih'
'Lonceng pernikahan dibunyikan'
'Ambil! Datanglah! Terbanglah!'
.
.
.
"Kakak sudah aku katakan berapa kali mereka sudah tidak ada" ucapku sembari duduk untuk menunggu kakakku yang sedang menata rambut panjangku.
"Memang benar Lily, aku hanya bercerita saja, apakah ada yang salah?" jawab kakakku yang bernama Liore
"Tidak salah....tapi aku bosan mendengar cerita lama itu" ucapku dengan nada marah, Karna kak Liore sudah sering sekali bercerita tentang cerita lama itu.
"Naga belum tentu mati, mungkin dia sedang tidur" ucap kak Liore
"Benarkah? bagaimana kakak yakin dengan hal yang belum pasti seperti itu" ucapku
"Ntah lah, ini hanya sekedar menurutku saja" jawab kak Liore dengan nada santai
"Hari ini hari pernikahan mu, jangan gugup" ucap kak Liore lagi
"Baiklah, aku sedikit gugup" ucapku sembari menggenggam kedua tanganku
"Apakah kalian sudah siap?" tiba-tiba ayah datang dan bertanya mengenai persiapan ku
"Tunggu...kenapa Lily masih berpakaian seperti tadi?" tanya ayah yang sedikit terkejut melihatku belum berganti pakaian
"Seperti biasa ayah, kami berdebat sebentar" jawabku sembari menghela nafas
"Kalian ini ya" ucap ayah sembari menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua anaknya yang masih sempat berdebat
"Ayah apa kau yakin untuk mengikuti saran Simon?" tanya Liore kepada ayah
"Tentu saja yakin, ada apa? apa kau berubah pikiran anakku Liore?" tanya ayah
"Tidak..aku hanya khawatir saja" jawab kak Liore
"Sudah sudah aku mau berganti pakaian dulu. Kak Liore juga tidak perlu khawatir, naga sudah tidak ada dia sudah mati" ucapku dengan panjang lebar untuk meyakinkan kak Liore bahwa semuanya akan baik-baik saja
"Baiklah adikku" ucap kak Liore sembari tersenyum hangat kepadaku
"Lily ayah akan menunggu diluar" ucap Ayah sebelum dia keluar dari kamarku
"Baik ayah" jawabku sembari sedikit membungkuk sebagai tanda menghormati yang lebih tua
.
.
.
Hari ini hari pernikahan ku dengan pangeran Simon. Pangeran dari kerajaan timur, kami sudah kenal sejak lama lalu ayah Simon mengajukan pernikahan dan aku pun menerimanya. Sebenarnya Simon ingin menikah dengan kakakku Liore, tetapi Kak Liore menolak dengan alasan 'mereka tidak saling mencintai, Simon hanya mengincar gelar Raja' sebagai gantinya aku lah yang menikah dengan Simon, untungnya aku menyukainya tetapi aku tidak tahu bagaimana perasaan Simon kepadaku.
100 tahun yang lalu, Nenek moyang dan orang sesepuh zaman dulu sering bercerita soal Naga atau Dragon. Naga adalah hewan raksasa yang bisa terbang hingga ke langit. Di zaman dulu mereka melakukan semacam ritual untuk mengamankan wilayah mereka. Setiap 10 tahun sekali Naga akan datang kepada mereka saat ritual itu dimulai. Namanya adalah ritual pernikahan naga. Wanita perawan muda akan dijadikan tumbal untuk naga atau bisa dibilang mereka lah yang akan menjadi pengantin naga. Calon pengantin memakai gaun putih dan dihiasi oleh beberapa kain, mereka dibaringkan di sebuah perahu lalu di dorong ke danau yang luas, para sesepuh menyayikan lagu ritual sampai naga itu datang dan mengambil para pengantin. Kabarnya seorang ksatria mengejar naga itu karna naga itu telah membawa kekasihnya, kstaria itu membawa beberapa pasukan, mereka menjelajahi lautan yang luas untuk menemukan sebuah pulau yang menjadi tempat tinggal naga. Semakin lama berita itu semakin tidak dipercaya oleh orang orang karna naga sudah tidak pernah muncul lagi.
.
.
.
"Ayah aku sudah siap" ucapku
"Lily, kau akan menikah dengan Simon dan ayah yakin kau pasti akan menyukainya" ucap ayah
"Dia akan mencintaimu, percayalah kepada kata hati ayah" ucap ayah lagi
"Aku percaya kepada ayah" ucapku yang berusaha meyakinkan ayah bahwa aku akan percaya sepenuhnya kepada ayah
Ritual pernikahanku pun dimulai. Gaun putih dan beberapa perhiasan, rambut panjangku yang ditutup oleh kain berwarna putih ke perakan, itulah penampilanku pagi ini. Aku berjalan dijalan yang telah ditebari beberapa kelopak bunga mawar mewar, dan ayah mendampingiku. Lalu ayah memakaikan ku sebuah kalung berwarna merah. Beberapa orang membantuku berbaring diatas perahu kecil yang telah disediakan oleh Simon, lalu perahu kecil itu diangkat oleh mereka. Para tamu yang lain memberiku hiasan yang terbuat dari bunga dan lilin yang menyala disebuah tempat kecil sebagai tanda penghormatan atas pernikahan ku.
'Jika ada cinta semuanya akan baik baik saja' itulah yang Rakyat dari kerajaan ayah percayai.
Mereka mendorong perahu kecilku ke sebuah danau yang berada tepat di depan kerajaan. Banyak orang yang berteriak karna mereka bahagia. Ada yang menabur bunga mawar ke danau dan ada yang meniup terompet yang terbuat dari kerang.
"Hari ini ku berikan gadis kecilku, Lilyaire
kepada cucu dari pahlawan mulia yang menghancurkan si monster sekaligus pangeran dari kerajaan Timur" ucap ayah dengan lantang didepan para rakyat kerajaan Barat.
"Lihatlah sang naga, sama seperti kakeknya dulu" ucap salah satu rakyat disana yang melihat kedatangan Simon
Terdengar dari sini bahwa Prajurit Simon sedang menyayikan sebuah lagu ritual sembari menarik perahuku menggunakan tali.
'Waktu bagai sungai yang deras'
'Tak ada yang terlewatkan'
'Menunggu pengantin wanitanya'
'Dia menunggu lama'
'Dalam pakaian serba putih'
'Seperti ditakdirkan beristirahat berhias kain putih'
"Kenapa mereka menyayikan lagu Naga??!!" tanya seorang pria tua
"Katanya untuk mengingat/mengenang bahwa naga itu telah mati dan kakeknya yang membunuh naga itu" jawab salah satu ibu ibu disana
'Ambil! Ambil!'
'Datanglah! Terbanglah!'
perasaan gembira terukir dengan jelas diwajahku. Simon terlihat tersenyum sembari menarik tali yang mengarah ke perahu ku. Dan banyak anak kecil yang ikut bertepuk tangan.
Tiba-tiba angin berhembus kencang dan langit yang awalnya cerah menjadi gelap. Bulan ini musim salju, saat angin berhembus kencang sekitar menjadi tidak jelas karna salju yang berhamburan.
Lalu naga datang dan terlihat di langit langit. Orang orang berteriak karna ketakutan, Simon dan prajuritnya ingin menyelamatkan ku dari perahu kecil ini. Ayah berteriak dengan keras saat melihat naga itu terbang mengarah kepadaku, lilin yang berada di pinggir perahu tadi sudah padam. Aku ikut berteriak saat melihat naga berada tepat diatas ku dan langsung mencengkeram perahu kecilku. Aku sempat tenggelam di danau lalu naga itu membawa perahu itu dan aku terbang ntah kemana. Simon sempat menyerang tetapi usahanya gagal. Ayah juga sempat menarik perahuku disaat aku berteriak tetapi gagal, perahu itu memang lepas dari genggaman naga lalu aku terlempar tetapi dengan cepat naga itu mencengkram tubuhku.
"LILYYYYYYY!!"
"PUTRIKUUU!!"
ayah berteriak memanggil namaku saat naga itu membawa ku terbang jauh dari mereka. Sedangkan aku hanya bisa menangis dan kesakitan.
"Akhhhhhh" aku berteriak karna naga itu membawaku pergi jauh kerajaan
"Lepaskan!!" Ucapku dengan keras, tetapi percuma saja naga itu tidak bisa mendengar suaraku
BRUKK
BRUGH
Naga itu melempar ku kedalam lubang sebanyak 2 kali. Aku hanya bisa berteriak kesakitan sambil berusaha memegang sesuatu untuk bertahan hidup. Dan akhirnya naga itu pergi ntah kemana. Disaat itu juga pengelihatan ku tiba tiba buram dan pingsan.
Perlahan aku membuka mataku, dan aku sangat terkejut saat sadar bahwa saat ini aku sedang berada di dalam lubang yang besar dan dalam. Aku berusaha untuk keluar dari lubang ini tetapi punggung ku terluka karna terkena cakaran naga.
Aku berusaha untuk naik melalui dinding batu itu. Lalu ada seekor binatang seperti semacam monyet tetapi bulunya berwarna abu abu dan mata kuning yang menyala. Binatang itu mendekat ke arahku, dengan secepat kilat aku mengambil batu dan bersiap untuk melempar ke arah binatang itu jika dia mulai menyerang. Aku kira binatang itu akan takut tapi ternyata binatang itu semakin galak dan marah.
"Jangan. Dia hanya akan marah" ucap seorang pria yang ntah dimana keberadaannya, yang bisa kudengar hanyalah suaranya
"Letakkan batunya" ucapnya lagi.
Aku mencoba untuk menuruti perkataannya, aku meletakkan batunya begitu saja tetapi binatang itu masih menatapku
"Jangan lihat matanya, berbaringlah" ucap pria misterius itu lagi dan lagi.
Dan aku menurutinya, aku berbaring dengan perlahan agar tidak menimbulkan suara yang keras. Benar saja, binatang yang tidak jelas itu pergi meninggalkan ku.
"Hewan apa itu tadi?" ucapku yang keluar tanpa aku sadari
"Penjaga disini" jawab pria misterius itu
"Hei apa kau orang yang dikirim Simon?" Tanya ku sekali lagi
"Simon? Aku tidak kenal dia" jawab pria itu
"Tunggu..bisakah kau mengeluarkan ku dari sini? Aku anak raja, ayah ku akan membayar mu" ucap ku yang berusaha membuat kesepakatan dengan pria itu.
"Aku tidak bisa membantu mu. Lebih baik diam dan jangan bertanya apapun lagi" jawab pria itu dengan memunculkan wajahnya dari sela sela batu besar.
"Kau juga terkurung disini?" Tanya ku Karna semakin penasaran
"Aku akan meninggalkan mu disini" ucap pria itu dengan suara dingin
"Hey mau kemana?! Jangan tinggalkan aku sendiri!! Apa kau mendengar ku!!"
Aku mencari celah batu yang menunjukkan dimana keberadaannya, sampai aku kesakitan karna punggung dan pinggang ku yang tergores kuku naga tadi lalu aku terjatuh. Aku rasa pria itu juga mendengar ku merintih kesakitan.
"Akkhh sshhh" tiba-tiba luka yang ada di pinggang ku terasa sakit dan membuat ku hilang keseimbangan
"Kenapa kau menyayikan lagu Naga?" Tanya pria itu secara tiba-tiba
"Kupikir naga itu sudah tidak ada" jawabku dengan suara rendah yang menandakan sedang menahan air mata
"Kau sendiri yang memanggilnya" ucap pria itu
"Simon yang mendesak ku" jawabku
"Simon?" Ucap pria itu yang terdengar sedang bingung dengan nama Simon
"Tunangan ku" aku memperjelas nya
"Aku tidak tau apa pun, yang aku tau aku akan menikah!" Ucapku sambil menangis pelan
"Ambil ini" ucap pria misterius itu sambil mengeluarkan tangannya melalui celah batu sempit
"Ini untuk lukamu, balurkan di lukamu dan lukamu akan segera sembuh" tambahnya
Aku berjalan mendekat ke arah pria itu, lalu aku melihat sedikit wajah nya memang tidak terlalu jelas karna disana gelap tetapi dia terlihat aneh.
"Kau tidak terlihat seperti seorang tahanan" ucapku
"Apa aku tidak terlihat seperti itu?" Tanya pria itu
"Ku pikir kau terlihat seperti...ah tidak maksud ku kau terlihat berbeda" jawabku yang hampir saja menjawab bahwa dia seperti orang aneh.
Pria itu diam dan tidak menunjukkan reaksi apapun. Lalu aku segera mengambil obat itu dari tangannya
"Terimakasih" ucapku dengan sedikit ragu
Aku kembali ke tempat tadi dimana aku bersembunyi dari binatang seperti monyet tadi.
"Ambil sebagian obat itu, Jika kau mengambil sedikit dan membalurkannya maka lukamu akan segera sembuh" jelas pria itu
Sebenarnya aku sedikit ragu untuk membalurkan obat itu ke lukaku tapi tidak ada cara lain selain percaya kepada pria misterius itu. Aku membalurkannya keseluruh luka yang ada di tubuh ku.
"Kau tau apa yang aku pikirkan?" Aku tiba-tiba bertanya untuk mencair kan suasana
"Apa?" Tanya pria itu
"Kita belum kenalan. Namaku Lily dan kau?"
"Aku tidak ingat namaku."
"Kenapa begitu? Bagaimana mungkin lupa nama sendiri" aku heran dengan pria itu yang bisa bisanya melupakan namanya sendiri
"Mungkin saja" jawabnya dengan singkat
"Kau..sangat cantik Lily" ucap pria itu
"Kau melihatku?!" aku langsung memakai pakaian ku kembali, sebenarnya aku belum selesai membalurkan obatnya tetapi pria itu melihatku.
'Bagaimana bisa dia melihatku saat keadaan ku seperti ini?!!'
"Ya" jawab pria itu dengan singkat
"Jangan melihat ku!" Ucapku dengan nada kesal setelah mendengar suara pria itu yang tak merasa bersalah
"Kenapa?" Tanya pria itu
"Kenapa!? Apa kau tak mengerti?" Tanya ku dengan eskpresi wajah terkejut
'Dia benar benar tidak tau apa bagaimana?!!'
"Tidak, aku biasa melihat burung, ikan. Kenapa aku tak boleh melihat mu?"
'oh ya ampun ternyata dia memang tidak mengerti. Ntah dari mana asalnya bisa bisanya ada orang seperti ini.'
.
.
.
'Aku harus segera kabur disini!'
Tiba-tiba muncul ide di otakku. Aku mencari batu besar dan batu yang runcing untuk memotong rambutku yang panjang seperti Rapunzel ini. Walaupun keadaan nya gelap tetapi aku tetap berusaha, untungnya masih ada cahaya bulan dari atas. Aku mengikat rambutku di batu besar tadi yang rencananya akan aku lempar ke atas untuk alat panjatan.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya pria itu. Ku pikir dia sudah pergi tetapi ternyata dia masih disana
"Aku sedang berusaha untuk kabur dari sini." Jawabku
"Kau tidak akan bisa kabur dari sini" ucap pria itu
"Kenapa? Apakah naga mengawasi kita?" Tanyaku
"Iya, naga itu selalu mengawasi kita" jawabnya
"Dia akan marah jika melihatmu mencoba kabur" tambahnya
"Hey kau ini terlalu penakut. Aku harus segera pergi dari tempat ini karna mereka sedang menungguku..." Ucap ku
"Hentikan rencana mu ini, naga bisa marah!" Pria itu terlihat serius saat sedang mengatakan kalimat ini
"Tidak!" Aku membantah perintah pria itu. Aku tidak bisa terus-terusan tinggal disini
"Ini sebuah pulau, jika kau berhasil keluar kau akan dimakan laut"
"Aku harus keluar dari sini" aku melanjutkan mencari batu besar dan mengikatnya ke rambut yang sudah ku potong tadi
"Lily menurutmu siapa namaku?" Tiba-tiba pria itu bertanya kepadaku
"Hmm....Armand" jawabku
"Armand? Nama yang bagus. Kenapa kau memberiku nama itu?" Tanya pria yang sekarang namanya adalah Armand
"Karna kau orangnya aneh dan misterius" jawabku
"Lalu apa artinya nama Armand?"
"Mimpi" jawabku sambil berjalan menuju Armand
"Namaku Lily, salam kenal" ucapku sambil menyodorkan tangan sebagai tanda salam kenal. Armand terlihat bingung.
"Saat berkenalan mereka akan bersalaman" jelasku
Dan kita saling salaman. Tiba-tiba Armand menarik tanganku ke lubang kecil itu, aku meringis kesakitan dan dia mengucapkan kata kata aneh.
"Lily jangan pernah keluar dari tempat ini! Naga akan marah! Dia mengawasi kita! Berjanjilah kepadaku!" Ucap Armand dengan suara terburu-buru.
"Akhhh lepaskan!" Aku menarik tanganku dan terjatuh.
Disaat itu juga naga muncul tepat di lubang yang berada diatas kepalaku. Naga itu terlihat marah dan aku bersembunyi di tempat yang menurutku aman. Beberapa detik kemudian naga itu terbang dan pergi ntah kemana. Karna aku ingin keluar dari tempat gelap ini, aku melempar batu yang diikatkan di rambut yang telah aku potong tadi. Awalnya sudah menyangkut di batu lain dan bisa dipanjat tapi rambutnya putus saat aku baru naik, sepertinya rambutku kurang kuat. Sayang sekali rencanaku satu satunya telah gagal.
Aku baru sadar bahwa Armand menghilang dari tempatnya, tidak ada suara apapun dari sana. Aku pergi melihatnya tetapi tidak ada Armand. Aku mencoba untuk menjatuhkan bebatuan itu untuk mencari Armand, batu pun runtuh, aku langsung masuk ke dalam dan mulai mencari Armand tapi tetap waspada dengan naga.
.
.
.
"Armand..." Aku terkejut setengah mati mengetahui bahwa Armand adalah naga
"Lily tolong jangan mundur lagi" ucap Armand untuk menghentikan aku yang terus mundur
#saat ini mereka sedang di tepi jurang yang dibawahnya adalah laut#
"Kau membohongiku!" Ucapku
"Aku tidak pernah berniat menyakiti mu"
"Berhenti disana atau kau akan jatuh" ucap Armand
"Bagaimana aku bisa mempercayai mu lagi" ucapku sambil melangkah mundur
DUGHH
Aku tersandung batu saat melangkah mundur dan hasilnya aku terjatuh dari jurang
"KYAAAAAAA" Aku berteriak sekencang mungkin. Lalu aku melihat pria itu.. ya Armand, dia meloncat begitu saja dan menarik tubuhku tetapi kami masih terjun bersama. Aku berusaha melepaskan tangan Armand dari pinggang ku tapi dia tidak mau melepaskannya. Aku melihat tubuhnya ada api yang membentuk garis dan dada nya juga berbentuk seperti bentuk kristal tetapi dalamnya seperti api. Ntah apa yang aku lihat intinya aku syok dan sangat sangat takut. Mata Armand berubah hingga seluruh tubuhnya menjadi naga dan tubuhku di cengkrama dengan lembut beda sekali saat awal awal bertemu.
.
.
.
"Ughhh" kepalaku terasa pusing sebentar. Aku menoleh ke arah kanan dan melihat Armand yang berbentuk naga. Dia terlihat seperti pingsan, aku memanfaatkan waktu untuk mencari bantuan, siapa tau ada orang lain disekitar sana yang bisa membantuku, tetapi hasilnya sia sia. Selama 1 jam aku berdiri di pinggir pulau untuk mencari bantuan, lalu aku bertemu binatang yang seperti monyet tadi. Dia membawa pakaian ke arah Armand. Karna aku penasaran aku mengikuti binatang itu, ternyata Armand keadaan nya sudah menjadi manusia dan tentu saja tanpa pakaian. Sebenarnya aku berpikiran untuk membunuh Armand saat itu juga, bahkan aku sudah memegang batu besar tetapi lagi lagi binatang itu menatap ku seolah ingin menerkamku. Tapi disisi lain binatang itu juga seperti meminta bantuan kepadaku.
.
.
.
"Arghhh....ya ampun kenapa aku harus membantunya" aku menarik tubuh Armand yang sedang pingsan ke tempat awal... Yaps di atas tebing tadi.
'kenapa aku harus membantu naga ini dan lagi kenapa monyet ini tidak membantuku!'
"Armand sepertinya kau harus diet!! Tubuhmu sangat berat" aku mengomel ngomel sendiri saat menyeretnya sedangkan monyet itu hanya jalan sambil mengawasi ku
"Mengapa dia menyelamatkan aku?"
"Dia menculik ku!"
"Selama ini dia membantuku dan ternyata dia adalah naga?!"
"Berapa lama lagi aku harus menariknya? Matahari sudah hampir muncul"
"Kau tau semua ini sudah berakhir! Biarkan aku pulang!"
"Ayolah tinggal sedikit lagi"
"Hah...aku tidak peduli kau tidur dimana, aku akan tidur disini." Menghela nafas berat lalu membaringkan Armand. Ntah sudah berapa jam aku menyeret tubuh Armand. Aku tidur di samping Armand begitu saja karna sudah lelah tidak ada tenaga sama sekali yang tersisa.
.
.
.
#Keesokan paginya#
"Hey apa kau tidak mendengarkan aku??" Tanyaku kepada Armand yang dari tadi sibuk menangkap ikan padahal aku sedang berbicara kepadanya.
"Bicara padaku atau aku akan meninggalkan mu disini! Tidak perlu mencari ku lagi!" Ucapku dengan nada kesal.
"Kau tidak akan mengerti Lily" Armand tiba-tiba mau bicara lagi
"Bagaimana aku mau mengerti jika kau tidak menjelaskan kepadaku" ucapku
"Hah... baiklah. Dengar baik baik" Armand mengajakku duduk di batu besar.
Armand menceritakan segalanya tentang kisahnya dan kisah naga zaman dulu yang membunuh para pengantin wanita. Setelah menceritakan segalanya, aku menjadi mengerti bahwa Armand sebenarnya tidak ingin menjadi naga. Naga yang ada di dalam tubuhnya tidak menyatu dengannya itu penyebab dia tidak bisa mengendalikan naga dan api yang ada didalam tubuhnya.
"Lubang itu bukan kurungan, tetapi tempat berlindung mu dari naga" ucap Armand
"Aku minta maaf pernah mengatakan hal yang tidak tidak" ucapku yang merasa bersalah dengan apa yang aku lakukan sebelumnya
"Tidak masalah, aku tau manusia takut dengan naga" ucapnya
"Kalau begitu aku tidak bisa pulang?" Tanyaku
"Bisa, jika seseorang menjemput mu kesini" jawab Armand
"Tetapi kau harus mencintai orang itu agar dia tidak tersesat dalam kabut" jelasnya
"Bagimana kalau dia terjebak di dalam kabut?"
"Dia akan tetap didalam sana sampai mati"
Jawaban Armand benar benar membuatku merinding. Aku hanya berharap Simon atau siapapun menjemput ku dari pulau ini.
.
.
.
Hari hari demi hari berlalu. Tetap saja belum ada yang menjemput ku, tetapi aku berusaha untuk bersabar menunggu mereka dan tetap positif thinking. Armand begitu baik, dia membiarkan aku tinggal di tempat yang aman agar naga tidak bisa menyakiti aku. Kami selalu bersama, emm..hampir setiap saat kami bersama Karna tidak ada kerjaan untuk ku jadi yang bisa aku lakukan hanyalah membantu Armand menumpulkan benda benda dari kapal yang tenggelam disekitar pulau. Aku menemukan banyak kain, bantal, peti, senjata tajam, peta bahkan perahu kecil ada disana. Aku sangat senang menemukan benda benda itu, saat ini aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk pergi berlayar.
#Malam hari#
"Armand. Aku menemukan benda ini"
Terompet yang terbuat dari kerang.
"Apa ini?" Tanya Armand
"Di tempatku benda ini adalah mainan. Biasanya anak anak kecil meniup ini untuk bermain dengan teman atau ibunya" jelasku
"Aku tidak tau benda semacam ini"
"Kalau begitu ini untukmu" aku memberikan benda itu ke Armand
"Terimakasih" ucap Armand sambil tersenyum hangat kepadaku. Jujur saja itu pertama kalinya aku melihat Armand tersenyum. Satu kata yang ada dipikiran ku 'sangat tampan'
#2 hari berlalu#
Keadaan masih sama, aku masih di pulau itu. Dan pikiran ku mulai kesana kemari. Aku bertengkar dengan Armand kemarin malam, dia mengetahui bahwa aku akan berlayar dan diam diam mengumpulkan senjata tajam. Jujur saja aku mengumpulkan benda benda tajam itu untuk berjaga-jaga, Karna aku masih takut dengan naga.
#Flashback Kemarin malam#
"Maaf kan aku Armand, aku takut naga" ucapku
"Lily, naga tidak akan menyakitimu"
"Diam diam aku juga mengumpulkan..."
"Besok pagi pulanglah"
"Kau sudah menemukan perahu dan angin akan berhembus dari arah timur" ucap Armand
-Oke skip karna saya kehabisan ide ๐-
Akhirnya aku diusir oleh naga itu sendiri lalu aku berlayar sampai malam hari tiba, sampai aku bertemu kapal milik Simon. Lalu kami pulang bersama dan mengatakan kepada Simon bahwa naga itu sudah tidak ada. Untung saja Simon percaya dengan perkataan ku.
Sesampai di kerajaan ayah, kakak dan ayahku melangsungkan pernikahan lagi. Kali ini mereka tidak akan menyayikan lagu Naga. Ayah dan kakak terlihat lega dan bahagia.
"Lily ikuti kata hatimu, siapa yang kau pilih ayah akan mendukung mu"
.
.
.
Ritual pernikahan dilangsungkan hari ini.
Aku berbaring di sebuah perahu kecil yang posisinya saat ini di tengah tengah danau, lalu Simon menarik perahuku. Jujur saja setelah aku pergi dari pulau naga aku tidak berhenti memikirkan Armand. Armand tinggal sendiri dipulau itu, membuatku ingin menemani nya tapi disisi lain kami sedang tidak akur, aku takut dia akan marah dan berubah menjadi naga. Pikiran ku tidak bisa tenang, aku merasa bersalah kepada Armand aku ingin meminta maaf dan ingin bersamanya.
"Aku tidak ingin menikah dengan Simon" kalimat ini tiba-tiba keluar dari mulutku begitu saja.
Aku bangun lalu semua orang terkejut karna menurut aturannya calon pengantin wanita tidak boleh bangun sebelum perahu itu sampai ke calon pengantin pria. Semua orang berbisik-bisik melihatku tiba-tiba bangun.
"Lily ada apa?" Tanya Simon dari seberang danau
"Aku tidak ingin menikah dengan mu!" Ucapku dengan keras
Dan lagi lagi semua orang terkejut dengan perkataan ku, bahkan ayah dan kak Liore.
"Apa yang kau katakan?!" Simon terlihat terkejut campur bingung. Lalu dia menyuruh asisten nya untuk membantunya menarik tali perahuku. Dengan cepat aku melepaskan tali perahuku agar tidak ada yang bisa menarik perahuku.
Aku pelan pelan berdiri diatas perahu itu.
"Aku tidak mencintaimu" ucapku
"Lily cepat duduk kembali!" Ucap Simon yang terlihat kesal
"Aku mencintai Naga!!" Teriak ku
"Tunggu..apa? Putri mencintai Naga?" Ucap salah satu rakyat disana
"Naga seorang manusia?"
"Apa yang dia katakan?"
"Apa dia sakit?"
"Jadi ini pilihan hatimu, Lily" gumam ayah
Aku merentangkan tanganku dan menyayikan lagu Naga untuk memanggil Armand. Karna itu satu satunya cara agar dapat bertemu dengannya.
"Waktu bagai sungai yang deras"
"Tak ada yang terlewatkan"
"Menunggu pengantin wanitanya"
"Dia menunggu lama"
"Dalam pakaian serba putih"
"Seperti ditakdirkan beristirahat berhias kain putih"
"Ambil! Ambil!"
"Datanglah! Terbanglah!"
Semua orang terdiam saat aku menyayikan lagu itu. Selesai menyanyikan lagu Naga....tetap tidak terjadi apa apa. Ini berbeda dari sebelumnya, aku tidak tau apa yang terjadi dengan Armand dan naga.
"kenapa tidak terjadi apa-apa?" Gumam ku
"Armand....kumohon datanglah kali ini" gumamku
Wushhhh~
Angin berhembus kencang, langit langit menjadi gelap karna salju yang berhamburan. Lalu aku melihat ada seekor naga, ya dia naga yang aku kenal...Armand. Aku merentangkan tangan ku sambil tersenyum senang.
"Akhirnya kau datang" ucapku
Naga itu atau Armand membawaku ketempat dia tinggal. Dia mencengkram tubuhku tetapi kali ini dengan lembut tidak kasar seperti saat pertama kali.
.
.
.
#Pulau Naga#
Sesampai disana dia melemparku ke altar. Naga itu terlihat marah dan ingin menyemburkan api ke wajahku. Sebelum api itu keluar dari mulutnya, aku mengelus kepalanya agar dia tenang. Beberapa saat kemudian dia kembali menjadi manusia, ke wujud Armand.
"Aku minta maaf tentang sebelumnya" ucapku
"Kumohon biarkan aku hidup bersamamu" ucapku lagi
Armand terlihat terkejut dengan ucapanku. Wajar saja dia terkejut karna yang Armand tau aku takut dengan Naga.
"Bukankah kau takut denganku?" Tanya Armand
"Aku sudah tidak takut lagi denganmu maupun naga yang ada didalam tubuhmu" jawabku sambil tersenyum hangat.
Aku rasa Armand percaya dengan ucapanku. Lalu Armand memeluk ku dan mengelus kepala ku dan dia berkata.."Aku memaafkan mu. Ayo hidup bersama". Kata kata itu terdengar jelas di telingaku.
-END-
Sekian dari author,,, terimakasih bagi yang sudah membaca cerpen ini :)