Suasana rumah tanpa kegaduhan? Kurasa itu mustahil.
Keberesikan yang disebabkan oleh suami istri yang bertengkar.
Hanya gara-gara masalah kecil, Mereka berdua sudah bertengkar hebat yang membuat telingaku risih.
Terkadang aku bingung, Apa gunanya mereka menikah jika yang terjadi akan seperti ini? Yah kata orang, Suami istri bertengkar itu sudah biasa.
Aku mengerti, itu wajar. tapi apa mungkin bertengkar hebat, hingga terkadang saat aku ingin mengambil minum keluar kamar, melihat tangan mereka menggenggam pisau, apakah itu normal? Siapa yang bisa menjawabnya?
Aku sendiri mungkin bisa dibilang anak broken home, keluar hanya untuk ke warung atau kesekolah.
Menurutku sendiri, diluar rasanya tidak nyaman. Tidak peduli orang-orang bodoh itu membuat rumor apa tentangku.
Terkadang juga teman sekelelasku, ah bukan, mungkin bisa dibilang.. hanya kenalan. Mereka membicarakanku, entah apa yang mereka bicarakan, aku tidak peduli.
Aku hanya ingin pulang.
*pulang sekolah*
aku menunggu kakakku (laki-laki) datang menjemputku.
"ecaa..!"
dia datang sambil tersenyum yang membuatku senang setiap dia mengeluarkan senyumnya.
"Gimana tadi sekolahnya?"
"tidak ada yang berubah, seperti biasanya"
"begitu ya"
*Di perjalanan*
"Aku merasa ini bukan arah kerumah"
"I-iya, kamu benar. Gimana kalo kita jalan-jalan dulu, kamu tahu? kata temen Kaka, di Deket alun-alun ada jajanan yang sedang booming. Mau coba?"
"ah..ya"
Mungkin dirumah, suami istri itu sedang bertengkar.
Biasanya memang begitu, dari kecil hanya kakak-ku lah yang menghiburku.
Sepertinya dia tidak ingin melihatkan ku keadaan dirumah sekarang.
Dia juga pernah memesan hotel untuk membawaku menginap karna dirumah, orang tua kami bertengkar, saat pulang-pulang hanya pecahan kaca yang berserakan.
Aku tidak begitu mengerti, karna pada saat itu aku sendiri masih kecil, kurang mengerti suasana.
Kakak-ku adalah satu-satu nya orang yang sangat mencintaiku, begitupun denganku yang bersyukur mempunyai kakak sepertinya.
"papah mamah berantem lagi kak?"
"sudah lah, buat apa membahasnya sekarang kan.
Sekarang lebih baik kita menikmati waktu kita berdua ini"
"aku mengerti."
*Sampai alun-alun*
Kakak-ku menggenggam tanganku.
"Bukankah ini terlalu ramai?" kataku sambil
menarik-narik jarinya.
"Tidak terlalu tuh. Tidak apa. Lebih ramai lebih bagus"
"Tapi jadinya tidak bisa tenang kan kak? Berisik."
Dia memegangi wajahku, dan meyakin ku bahwa..
"eca.. kalau kamu mau terus tenang, ditempat yang sepi, tidak ada orang. Lalu eca sedang terpuruk, lantas siapa yang bisa menemukan eca?
Siapa yang akan membantu eca bangkit dari keterpurukan itu?
eca tidak bisa melakukan segalanya sendiri, keyakinan eca memang lebih memilih sendiri.
Tapi kaka yakin, jauh di di dalam pemikiran eca atau di hati eca.. eca butuh orang buat nemenin eca.
Kaka juga ga selalu bisa nyelametin eca.
Maka dari itu, eca harus meminta pertolongan sama orang lain.
jawaban nya adalah.. eca harus keluar dari kegelapan, lalu mencari tempat yang membuat eca nyaman.
Seolah-olah dia tempat berpulang eca.
tenang itu ga harus sendiri nak"
Dia mengusap rambutku perlahan.
Aku hanya diam tidak bisa menjawabnya, sebenar nya aku benci dengan jawabannya itu.
Kalo bisa melakukannya dan berusaha keras sendiri, kenapa tidak? gagal? coba lagi sendiri hingga berhasil.
Tapi aku juga merasa perkataan nya itu benar.
"Eca gak ngerti maksud Kaka? kalo eca ga ngerti, eca jangan lupain perkataan Kaka ini ya.
Karna suatu saat nanti, Kaka yakin, kalo eca sudah mengerti, eca akan bilang bahwa perkataan Kaka benar"
"Tapi bukan nya eca sudah dewasa kak? harusnya sudah mengerti. 2 bulan lagi eca sudah mau umur 15, apa itu masih kurang ya?"
"Dewasa itu di akui, bukan mengakui. Dan umurnya yang sudah tua juga tidak menjamin dia sudah dewasa, terkadang juga ada orang tua yang umurnya 40 beli mainan Barbie"
"pfftt.."
"haha.. jadi, dewasa itu dari pemikiran,perilaku dan anggapan nya.
maka dari itu nanti eca juga mengerti. Kaka yakin kok eca sudah dewasa, eca mampu bertahan sendiri sampai sekarang, dengan keadaan yang seperti ini."
"terima kasih kak, eca bakal selalu inget kata-kata Kaka sekarang"
"Pinter, yaudah ayo nanti keburu tutup"
Aku ingin bilang bahwa aku sangat menyayangi kaka.
Dan sekarang aku juga mengerti, bahwa bahagia itu sederhana.
Kaka membuat senyumku dengan mudah.
Aku ingin menjadi orang seperti kakak.
"Yah keburu tutup dulu ya"
"yaudah gapapa kak, jajanan lain masih banyak"
"iya ya. Eca mau beli apa?"
"Pop ice sama hotang aja"
"yakin?"
"iya"
Dia tersenyum sebentar sambil melihat ke arahku.
"yaudah ayo"
*sesudah dibeli*
setelah itu, kami mencari tempat untuk berteduh.
"kenapa ga langsung pulang aja kak?"
"hmm.. mumpung disini, pemandangan nya juga bagus, jadi kita sedikit berlama dulu disini ya"
"..ya"
kami duduk di kursi tepat dibawah pohon, kebetulan alun-alun ini lumayan luas. jadi kami bisa merasakan angin.
"saat kamu masih di dalam perut mamah.."
dia memulai pembicaraan.
"..Kaka selalu penasaran, bagaimana wajahmu.
Apa yang akan terjadi setelah beberapa tahun nanti. pikir kakak saat Kaka kecil.
Sampai saat mamah dibawa ke rumah sakit, buat tes kehamilannya.
mamah sering ke rumah sakit karena mamah juga sedang sakit-sakitan, maka dari itu biasanya minimal 1 bulan 3 kali ke rumah sakit buat cek keadaan mamah.
karna kaka anak satu-satunya mamah, kaka jagain mamah di rumah sakit sambil mainan sama kamu yang masih di dalam perut mamah.
karna papah juga lagi kerja di luar kota, jadi Kaka yang nemenin mamah.
nah pada saat itu juga, tes USG keluar yang menunjukan bahwa kamu perempuan.
Saat tahu itu, Kaka langsung berpikir membayangimu seperti seorang putri di dongeng.
dan Kaka jadi tidak sabar ingin melihatmu.
setelah berbulan-bulan, rasa penasaran itu terbongkar.
saat 14 Maret, kamu lahir sebagai gadis kecil yang sangat manis.
Setiap waktu yang membuat Kaka ingin menggigit pipimu, tapi.. tak lama dari itu.. mamah meninggalkanmu saat masih kecil.."
"eh? a-apa yang Kaka katakan sih?!"
"Kaka berkata yang sebenarnya eca"
"Hahh?!"
apa yang dia katakan? siapa yang meninggal? lalu siapa yang selama ini membesarkanku? lantas siapa yang dirumahku bersama papah?
"Tapi aku saranin, seperti nya itu tidak baik untuk candaan deh kak"
"Kaka serius eca!"
"eh?"
Dia menundukkan kepalanya, melihat ke-bawah.
"apa maksud kaka?"
Dia tidak biasanya berkata seperti ini. dan sekarang juga perlahan keringatku turun, rasa gelisah seolah aku menolak perkataan nya.
"ayah dan Kaka selama ini merahasiakannya dari kamu, ini lah kebenaranya. ma-mamah.."
terlihat jelas air matanya jatuh, mengenai celananya. yang membuatku semakin takut, sampai aku tidak bisa berkata lagi sepatah kata pun.
"..mamah meninggal tanggal 17 Maret karna melahirkanmu yang membuatnya mengeluarkan banyak tenaga nya, dan setelah kamu lahir, mamah pingsan.
Kata dokter hanya ada cara untuk di operasi.
saat itu aku tidak mengerti! papah... bukan, si laki laki brengsek itu belum juga datang!
Hanya ada saya yang menemani mamah disitu. walau dokter bilang kemungkinannya kecil, saya.. saya tidak tahu harus berbuat apa!
saya hanya menerima karna pada saat itu yang saya tahu, saya hanya ingin mamah cepat ditangani.
tapi.."
air matanya berjatuhan lebih banyak, seolah dia telah mengumpulkan itu dan menahan itu agar tidak keluar.
"..tapi karna tindakan saya itu mamah jadi meninggal!!
itu salah saya..itu semua salah saya.
Jika saya bisa merawat mamah lebih lagi, mamah tidak akan meninggal!!
harusnya dia sekarang menemanimu! saat aku melihatmu, rasanya aku ingin menangis karena kejadian itu.
Aku tidak ingin melihatmu mendengar pertengkaran laki-laki dengan wanita brengs*k itu!
Aku tidak ingin kamu mempunyai trauma.
Aku.. AKU INGIN MELIHATMU TUMBUH SEPERTI WANITA YANG ANGGUN!!
Tapi aku sadar bahwa aku adalah pendosa yang membunuh mamah.
Sudah jelaskan, sekarang kamu hanya perlu membenciku sepuasmu.
Aku akan menerima itu"
Apa ini? detak jantung ku semakin cepat.
Aku hanya diam melihat air mata Kaka. dan tidak disangka juga, air mataku juga perlahan jatuh, semakin banyak, membasahi pipiku.
"Aku memang sudah pantas dibenci dari awal"
Suaranya rapuh.
Untuk pertama kalinya, aku memeluknya.
"tapi aku tidak membencimu, kak"
"mengapa kamu tidak membenci ku?
seharusnya kamu membenci-ku"
"karna tidak ada alasan aku harus membenci-mu.
justru saat ini, aku sangat membenci diriku sendiri"
"eh..?"
dia menatapku dengan kebingungan.
"Benar. Kaka sudah bertahan sangat keras untuku,
jika aku mengetahui penderitaan Kaka selama ini.
aku ingin terus memeluk Kaka, mengusap air mata Kaka.
Aku mengerti sekarang kak.
kakak mengajarkan saya untuk pergi dari kegelapan, tapi saya tidak ingin meninggalkan Kaka sendirian di dalam kegelapan itu.
dan Aku juga tidak akan membiarkan orang lain membantu Kaka selain-ku.
walau kita masih terjebak dalam kegelapan, setidaknya kita saling menemani.
kita saling membantu untuk pergi dari kegelapan tersebut.
Tempat berpulang saya paling nyaman adalah.. bersama kakak."
"Terima kasih. Tapi kaka ga bakal biarin putri manis ini berada dalam kegelapan juga.
Kaka akan jaga putri ini sampai jadi ratu nanti.
Bahkan sampai sekarang, kamu tumbuh dengan cantik. kau tahu?
Kaka sangat bangga padamu".
..
kenangan-kenangan itu yang masih saya ingat, bahkan saya masih memegang kata-kata yang Kaka sampaikan.
Saya sebenarnya sangat malu menangis di depan Kaka, tapi juga rasanya nyaman.
saya sudah berhasil keluar dari kegelapan, meraih cita-cita saya sebagai penulis.
Andai Kaka bisa lihat putri yang Kaka banggakan ini sudah besar.
Saya sangat rindu pelukan hangat dari kaka.
Tapi sekarang, saya hanya bisa menangis di depan makam kaka, apa jika Kaka masih hidup, Kaka akan mengatakan "bangga dengan putri manis ini"
saya benar-benar rindu Kaka.
sekarang saya akan terus berkembang menjadi penulis,
Kaka juga, Kaka sudah bersama mamah disana.
Saya harap Kaka dan mamah bisa melihat perkembangan saya
Terimakasih Kak Riffan.